20. Tesla Pegasus

1761 Kata
Orang berkuasa bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Termasuk memanipulasi kebenaran dengan sesuatu yang palsu. Seperti yang orang tua Sheryl lakukan baru-baru ini membuat Dara seolah merasa hanya seonggok sampah tak berguna. Mau bicara pun, percuma bagi Dara yang merupakan orang biasa saja dan tak punya kekuasaan. Yang ada omongannya hanya akan dipandang sebelah mata dan tidak akan memengaruhi apa pun. Dara terancam dikeluarkan dari sekolah dan yang lebih parah dia bisa saja diboikot dari semua sekolah di seluruh Indonesia karena kasus tindak kekerasan yang dia lakukan. Begitu kata guru BK-nya beberapa waktu lalu. 'Pihak keluarga Sheryl mengajukan tuntutan sidang kepada kamu. Jika kamu kalah dalam sidang itu maka kamu tidak akan bisa lulus apalagi mendapat ijazah SMA.' Dara merasa dunia ini sudah terlalu keterlaluan kepadanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia benar-benar tak berdaya. Tadi saja dia mendapat telepon dari suster kalau ibunya sedang kritis. Sekarang di sekolah dia mendapat masalah besar. Baru kali ini Dara ingin mengutuk Tuhan. Cewek itu baru saja keluar dari ruangan guru BK-nya namun dia langsung tercekat ketika sebuah tangan kekar melingkari pergelangan tangannya. Tangan itu tak lain dan tak bukan adalah milik Akriel. "Apa kamu bisa ceritakan apa yang sedang menimpa kamu sekarang pada saya?" Kata Akriel dengan datarnya. Dara menghela napas lelah lantas mengibaskan lengannya sampai genggaman Akriel pada tangannya lepas. "Gue gak punya banyak waktu buat jelasin. Gue harus ke rumah sakit. Lagian ini gak penting buat lo tau." "Tapi saya memaksa ingin tahu. Saya akan membantu kamu untuk membuktikan kalau kamu tidak bersalah—" "Lo gak usah ikut campur!" Akriel belum sempat mengkhatamkan kalimatnya namun Dara sudah lebih dulu menyela membuat Akriel tercekat terlebih karena nada gadis itu yang meninggi. "Tolong kali ini aja gak usah lakuin apa-apa buat gue. Jangan coba-coba buat terlibat ke dalam masalah gue. Gue gak mau ada orang lain yang celaka lagi cuma gara-gara gue." Akriel bisa melihat Dara menundukkan kepala dengan raut wajah yang teramat sedih. Sepersekian detik kemudian air matanya terlihat menetes satu per satu. Gadis itu menangis. "Tapi kenapa?" "Jauhin gue, Akriel!" "Saya tidak bisa." "Kenapa?" "Karena saya peduli pada kamu." 'Karena gue peduli sama lo.' Batin Dara terasa teremat ketika kalimat itu terus menggaung memenuhi isi kepalanya. Kalimat yang diucapkan Akriel barusan dan kalimat yang pernah ia dengar di masa lalu entah kenapa bisa menggema secara bersamaan. Bolehkah Dara mengutuk Tuhan? Dia tidak berharap Akriel adalah orang kedua yang sengaja dikirim Tuhan kepadanya sebagai ganti seseorang di masa lalu yang pernah hadir di dalam hidup Dara. Sungguh demi apa pun dia ingin menyangkal hal itu. Dara menatap Akriel dengan nanar. Kenapa dia baru menyadari sekarang kalau ternyata Akriel punya banyak kesamaan dengan Karan? Setiap melihat Akriel saban hari, dia selalu teringat sosok Karan. Tapi egoisnya, Dara sangat tidak ingin menyadari hal itu. Dia tidak ingin Akriel disebut-sebut sebagai Karan kedua. Rentang beberapa menit, Akriel dibuat tercekat ketika dengan tiba-tiba Dara menyambar dan beralih memeluknya. Akriel bisa merasakan dadanya mulai basah karena air mata Dara yang merembes ke dalam bajunya. Dengan samar-samar, Akriel bisa mendengar gadis itu bersuara, "Cukup hanya Karan. Gue gak mau kehilangan lo, Akriel." Namun, perkataan pertama Dara membuat Akriel sedikit kebingungan. *** Konon katanya kekayaan itu cuma bisa bertahan sampai tujuh turunan. Saka percaya hal itu. Setahu dia, dulu keluarganya adalah kumpulan pengusaha. Kakek dari kakek-kakek buyutnya diketahui seorang pengusaha martabak yang cabangnya sudah menyebar dari Sabang sampai Merauke. Menurut cerita ayahnya, kakeknya di generasi pertama sempat menjadi orang terkaya di lingkungan tempat tinggalnya kala itu karena kesuksesannya sebagai pengusaha martabak memang tak main-main. Meskipun hanya pengusaha martabak, mereka bisa membuktikan bahwa kekayaan yang mereka dapatkan tak pernah habis sampai keturunan ketujuh. Namun sesampainya di keturunan kedelapan, usaha martabak itu bangkrut mendadak. Dan apesnya Saka adalah salah satu orang yang lahir di keturunan kedelapan yang mana secara harfiah dia termasuk 'keturunan yang gak kebagian harta warisan tujuh turunan' tersebut karena keburu bangkrut. Sekarang, ayah Saka memang masih bergelut di bidang permartabakan, tapi keberhasilannya dalam berdagang martabak tak sesukses kakeknya di generasi pertama sampai ketujuh. Dan semenjak tahu hal itu, Saka jadi punya keinginan saat dia besar nanti dia akan menekuni bidang permartabakan juga dan membuktikan kalau dia bisa mengembalikan kejayaan usaha martabak warisan keluarganya lagi. Siang itu, Saka lagi asyik-asyiknya ngorek-ngorek rumput di depan sekolah. Saat mau beli batagor yang dijual mamang-mamang di pinggir jalan, uang koin seribuan Saka jatuh menggelinding dan terpaksa dia harus ngorek-ngorek rumput di sana untuk mencari uangnya yang hilang. Cowok itu hampir putus asa mencari uang koinnya karena tidak kunjung ketemu, padahal dia pengin banget makan batagor tapi gara-gara uang koinnya yang pakai acara hilang segala rencana makan batagor manja terpaksa terpending. "Nyari apa, Dik?" Tanya si mamang-mamang batagor. "Nyari duitlah, Bang." "Nyari duit ngapain di situ? Nyari duit mah kerjalah." Saka beristighfar di dalam hati ketika mamang-mamang batagor itu bikin dia sedikit terpancing urat emosinya. Di situasi begini, Saka mencoba untuk tidak emosi. Ngorek-ngorek rumput saja sudah cukup bikin dia kesal dan gerah body, jangan sampai dia kebablasan gelut dengan mamang-mamang batagor ini cuma gara-gara hal sepele. "Saya tau nyari duit tuh harus kerja, Bang. Saya ngorek-ngorek rumput di sini lagi nyari duit saya yang jatuh tadi." "Oohhh...." Mamang-mamang itu ber-oh panjang sampai Saka melongo di tempat. "Astagfirullahaladzim." Mamang-mamang itu refleks kaget ketika melihat Saka beristighfar dengan ekspresi yang membingungkan. "Loh, Dik. Kamu barusan meng-istighfar-in saya gara-gara saya bilang oooohhhhh tadi, ya? Ya ampun, saya tahu saya jelek, muka saya item mirip p****t panci karena kerja sambil panas-panasan tapi kenapa kamu meng-istighfari ekspresi wajah saya? Saya manusia, Dik, bukan setan." Saka malah mengernyit lantas bingung dengan perkataan mamang-mamang batagor itu. "Siapa yang nge-istighfarin Abang sih?" "Lah terus tadi kamu ngapain bilang Astagfirullahaladzim?" "Saya istighfar karena di siang bolong gini tiba-tiba ada mobil Tesla berhenti depan sekolah tuh." Si mamang-mamang mengikuti arah pandangan Saka yang merujuk pada mobil berwarna putih yang kini lagi berhenti di pinggir jalan tak jauh dari gerobak batagornya. "Oooohhhh.... jadi nu kitu teh ngarana mobil Tesla?" "Iya, Bang. Mobil para orang kaya itu." "Wah, mobil orang kaya bagus pisan ya ada sayap Pegasusnya segala." Terlihat mamang-mamang itu tak henti-hentinya kagum pada mobil Tesla bersayap Pegasus itu bikin Saka geleng-geleng kepala. Daripada menyaksikan tukang batagor yang lagi sibuk mengagumi mobil Tesla, Saka akhirnya berdiri lalu beranjak dari sana. Persetan dengan uang koinnya yang hilang entah ke mana, dia berencana untuk kembali ke kelas. Dari kedekatan, Saka bisa melihat si pemilik Tesla itu baru saja turun dari mobilnya diikuti kedua sopirnya. Jangankan Saka, semua orang yang ada di sana waktu itu dibuat ternganga oleh kehadiran si cewek yang dikira Bidadari Kayangan tersebut. Saka yang lagi jalan sampai tak sengaja menabrak pot tanaman Janda Bolong dan berakhir terjungkal. Betulan deh, baru pertama kali Saka melihat orang secantik itu dengan jarak kurang dari dua meter. "Excuse me!" Saka masih geming sambil bersimpuh di aspal dengan tidak elitnya. Dia tidak sadar ketika orang yang dikira semua orang sebagai Bidadari Kayangan itu sedang berseru padanya. Bahkan dia tidak bisa merasakan apa pun padahal dia habis tersungkur ke aspal karena menabrak pot. "Excuse me!" Kedua kalinya Liura berseru dan akhirnya Saka terperanjat juga sampai dia sedikit gelagapan ketika Liura nyaris menggebraknya. Cowok itu buru-buru berdiri. Pandangan mereka pun bertemu. Saka bertanya-tanya kala itu, cewek di depannya ini sejenis artis film atau apa sih? Bisa-bisanya dia datang ke sekolahnya dan berhasil membuat semua orang tersita perhatiannya, termasuk Saka sendiri. "Kamu menghalangi jalan saya." Liura berbicara lagi namun Saka masih terbengong-bengong bikin cewek itu kebingungan untuk kesekian kalinya. "K-kamu... berbicara dengan... s-saya?" ucap Saka sedikit terbata-bata saking groginya. "Yes. Bisa kamu minggir? Kamu menghalangi jalan, saya mau lewat." Sepersekian detik Saka sadar dan akhirnya cowok itu menepi membiarkan si Dewi Kayangan itu lewat bersama kedua bodyguardsnya. Namun tiba-tiba gadis itu berhenti lagi lalu menoleh pada Saka bikin Saka kian grogi. "Tangan kamu kotor, kamu bisa pakai sapu tangan aku buat bersihinnya." Saka luar biasa grogi. Tangannya tremor ketika mengambil sapu tangan cewek itu. Dan tanpa dia sadari, Saka telah membuat semua orang iri. *** Dari tadi Kasa perhatikan, sepertinya Kisa lagi risih dengan handphonenya. Iya, sejak tadi pagi cewek itu terus mendapat panggilan dari nomor-nomor togel. Berasa jadi artis dia diteror begitu. Kisa sampai harus menon-aktifkan handphonenya sepanjang hari agar dia tidak mendapat miss call random dari orang gabut. Bukan cuma lewat panggilan telepon, ada pula yang sampai mengiriminya pesan singkat yang berbunyi: 'woi, lo ada hubungan apa sama si bule itu?' 'heh cewek tomboy, kok lo bisa deket sama bule korea itu woy? minta nomor whatsappnya lha. 'bule yang deket sama lo siapa namanya oy?' 'permisi kak, lo pake pelet merk apa ya sampe bisa bikin bule nyantol sama lo?' 'bagi tips susuk lo dong kak.' "Buset!" Kasa yang lagi minum hampir muncrat ketika Kisa berseru. "Gila lu! Main gebrak gitu aja." "Sori, sister! Ini siapa sih yang neleponin gue dari tadi, gabut banget jadi orang." Kisa manyun sambil mereject panggilan masuk tersebut. "Lo diteror?" "Kayaknya gitu. Gara-gara gue keciduk lagi berduaan sama Rangga kemarin kali. Terus ada aja tuh oknum-oknum yang iri, padahal kan cuma jalan-jalan doang. Ribet emang deket sama orang good looking, apa-apa dikatain pake susuklah, peletlah, mbabik!" "Mampusin!" "Tapi gak apa-apa deh, diteror begini berasa jadi artis kan gue. Biasalah orang kayak gue tuh emang banyak fansnya hahahaha." "Serah lu dah." Kali ini Kasa mengalah karena kebetulan dia lagi malas meladeni. Di tengah itu, datanglah Saka menghampiri dua sejoli yang lagi nyantai sambil minum es tea jus khas kantin. Kedatangannya bikin Kasa maupun Kisa keheranan karena ekspresinya yang pucat seperti habis ketemu setan di jalan. Atau jangan-jangan Saka memang habis ketemu Mbak Kun di jalan? "Muka lo pucat amat kayak abis kesambet setan siang bolong aja." Kasa menyerobos. "Jangan-jangan dia emang beneran abis kesambet setan Cibaduyut." Kisa menyahut. "Ck! Gue gak kesambet!" Saka berdecak. "Terus?!" "Lo gak bakal percaya sama apa yang baru aja gue alami." Kasa maupun Kisa saling pandang. "Sesuatu yang lo alamin bukan sejenis kesurupan setan Cibaduyut, kan?" Saka tidak ingin marah tapi kedua temannya yang memaksa dia memantik amarahnya. "Bukanlah! Lo gak mau nebak apa gitu?!" "Lo kira gue cenayang apa bisa ngeramal?!" Saka menghela napas lelah. "Oke gue kasih tau. Tadi gue abis ketemu Dewi Aphrodite." Keduanya, Kasa dan Kisa, kompak memasang wajah geli ketika melihat Saka yang seolah lagi mengagumi Dewi Aphrodite yang ditemuinya tadi. "Dewi Aphrodite gimana maksudnya?" "Tadi ada cewek turun dari Tesla terus dia mirip banget sama Dewi Aphrodite. Mana cantik banget lagi. Terus dia ngasih sapu tangan dia ke gua karena tadi gue abis jatoh tangan gue jadi kotor kena tanah." Saka memerosotkan bahunya. "Sayangnya gue gak tau dia namanya siapa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN