19. Peduli

1768 Kata
"Tikus kalo kelindes tronton bunyinya gimana?" Kalau disuruh memilih, mungkin Kasa akan lebih suka kalau mengobrol dengan sepuluh Dora dibanding dengan seorang Badrol. Betulan deh, bicara sama Badrol satu menit saja sudah bisa bikin dia vertigo alias pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, cowok itu terus membombardirnya tanpa henti dengan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar yang tidak berfaedah sama sekali. Sejak cabut dari kelas sampai mereka yang kini rencananya mau pergi ke perpustakaan, Badrol pantang menyerah bertanya hal-hal super random pada Kasa layaknya balita yang lagi aktif-aktifnya belajar hal baru. "Ikan kalo gue tenggelamin di laut mati gak ya?" "...." "Cacing kalo gue kubur hidup-hidup di tanah masih bisa hidup gak ya?" "...." "Ratu Elizabeth kalo makan ayam kampung apa boleh disebut kampungan?" "Heh!" Badrol yang sedari tadi lagi asyik-asyiknya berjalan sambil mengoceh ria dengan pertanyaan absurdnya dibikin ngeri ketika Kasa di depannya tiba-tiba menghentikan langkah kemudian berbalik sambil memasang tatapan super sinis. Kalau bisa, tatapan Kasa mungkin mampu menusuk benda apa pun di sekitarnya karena tatapannya benar-benar setajam ujung samurai bukan setajam silet lagi. "Apa?" Badrol mencoba untuk tak terintimidasi dengan tatapan Kasa. "Sini deketan!" Badrol sontak mengernyit. Dia agak waspada ketika Kasa menyuruhnya mendekat dengan randomnya. Tapi, dia tidak salah dengar, kan? Atau jangan-jangan Kasa mau cosplay adegan romantis di drama-drama Korea itu?! Bagaimana kalau Kasa tiba-tiba menciumnya? Sungguh itu tidak lucu soalnya badung-badung begitu, iman Badrol cukup kuat untuk menghindari melakukan silaturahmi bibir. "Mau ngapain lo?" "Sini deketan!" Badrol melangkahkan kakinya. "Kurang deket." Badrol melangkahkan kakinya lagi sampai jaraknya dengan Kasa benar-benar dekat. Dan apa yang terjadi? "Udah deket, terus lo mau ngapain?" "Biar gampang gue ngegaploknya!" PLAK!!! "Aaaaahhh!!!!" Terdengar suara kesakitan Badrol menggema di seluruh semesta akibat kepalanya yang habis digeplak Kasa. Cowok itu kini meringis sambil memegangi kepalanya yang nyeri. "Lo bener-bener gak ada adab ya main geplak kepala orang?!" Kasa berdecak. "Ck. Lo yang gak ada adab! Itu mulut lo dari tadi nyerocos mulu kayak merecon, tau gak? Berisik gue dengernya." "Lagian gue kan gak ngomong ke elo." "Mau lo ngomong sama tembok sekalipun kuping gue tetep bisa denger." "Lo kan bisa tutup telinga." "Lo mau digeplak lagi?! Lagian mending sana deh lo pergi, ngapain masih ngikutin gue?!" "Gue juga kalo gak disuruh sama bu guru buat nemenin lo ke perpustakaan gue juga ogah kali. Jangan geer lo mentang-mentang gue disuruh jagain lo." "Idih, lo secakep Song Joong-ki emang bisa bikin gue geer?" Badrol berdecih. "Gue emang gak seganteng Song Joong-ki atau sejenisnya, tapi suatu hari gue jamin lo bakal baper sama gue." "PLIS, JANGAN NGIMPI DI SIANG BOLONG!!!" Suara cewek itu menggelegar mengalahkan highnote Ningning aespa di lagu Black Mamba. Saking menggelegarnya, Badrol sampai terjengkang. "Lo gak waras apa? Gue baper sama lo? Huh! Gak dulu." "Ck. Sok jual mahal. Cakep kayak Song Hye-kyo juga kagak." Kasa sontak melotot. "Bener kan gue?" "Serah lo!" Ngomong-ngomong, berhubung Kasa tidak lagi PMS jadi dia tidak bisa mengeluarkan seluruh emosinya untuk mencerca Badrol. Emosi yang barusan itu mungkin cuma seperempatnya saja. Lagipula dia lagi malas buat sekadar adu bacot atau berkelahi dengan Badrol apalagi pasal suara tikus yang kelindes tronton, ikan yang ditenggelamin, cacing yang dikubur hidup-hidup atau Ratu Elizabeth yang makan ayam kampung. Rasanya buang-buang waktu saja. "Kas!" "Jangan panggil nama gue setengah-setengah ya. Gue paling gak suka! Ntar kalo ada yang ngira nama gue Kasur, Kaset, Kasbon atau Kas—" "Shhhttttt." Kasa tersentak lalu melotot kaget ketika Badrol tiba-tiba membekap mulutnya dengan telunjuk sampai cewek itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. "Ada apaan?" "Shhhtttt. Diem. Lo gak denger suara sepatu selop?" Kasa kebingungan. "Sepatu selop?" "Biasanya pemilik suara sepatu yang kayak gini tuh orang jahat." "Lo kebanyakan nonton sinetron, ya?" "Shhtttt." Badrol lagi-lagi membekap mulut Kasa. Kini dengan kelima jarinya, Kasa sampai terjengkang. Keduanya menajamkan pendengaran masing-masing, suara langkah sepatu itu terdengar tak jauh dari tempat mereka berdiri dan terdengar semakin mendekat. Badrol menggiring Kasa untuk bersembunyi di balik pagar rumput. Dan benar saja, tak lama kemudian ada seorang wanita yang berjalan melewati lorong itu. Yang membuat Kasa serta Badrol keheranan adalah wanita itu tampak mengobrol dengan seorang seorang siswi yang baru saja datang dari arah yang berlawanan. Tak lain dan tak bukan dia adalah Mira, Kasa mengenalnya karena dia adalah anggota OSIS. Mira tampak mengobrol dengan wanita itu, Kasa dan Badrol masih menguping di balik pagar rumput meskipun percakapan yang mereka tangkap terdengar samar-samar. Tak lama kemudian wanita itu memberikan sesuatu pada Mira, Kasa maupun Badrol tak tahu apa itu karena benda itu dibungkus kertas berwarna cokelat. Setelahnya, Mira berjalan pergi, begitu juga dengan wanita itu. *** Dara terlibat skandal, hanya kalimat itu yang kini memenuhi isi pikiran Akriel sekarang. Sehabis dari ruangan Pak Bondan beberapa waktu lalu, Akriel dapat kabar dari teman-teman sekelasnya bahwa Dara baru saja dibawa ke ruang BK karena terkena masalah dengan Sheryl. Akriel benar-benar tak menyangka, dia sempat panik karena mendengar kabar tentang Dara. Kini, laki-laki itu tengah bergegas untuk menemui Dara. Entah bagaimana, tapi Akriel bisa sekhawatir itu padanya. Di tengah perjalanan, langkah Akriel terpaksa terhenti ketika menyadari ada dua orang yang menghadangnya. Ternyata itu Saka dan Kisa. Entah apa yang sedang dua anak itu lakukan di sini sampai berani-beraninya menghadang jalan Akriel. "Lo tau Kasa di mana?" Saka melontarkan pertanyaan. Akriel mengernyit. "Kenapa kalian bertanya pada saya?" "Karena gue pikir lo tau." "Saya tidak punya banyak waktu untuk berbicara dengan kalian. Saya harus pergi." Baru saja melangkahkan kakinya satu langkah, Akriel lagi-lagi dihadang oleh dua bocah itu. "Apa lagi?" Akriel berdecak. "Lo mau ke mana?" Kali ini Kisa yang bertanya. "Apa yang akan saya lakukan sekarang tidak ada urusannya dengan kalian. Kalian tidak perlu ikut campur." Saka maupun Kisa kompak mengernyit. Tidak seperti biasanya Akriel bersikap begitu. Padahal laki-laki itu suka blak-blakan dengan hal apa pun. Misalnya saja saat dia mendapat hukuman menjadi sukarelawan membersihkan taman sekolah selama tiga bulan bersama Dara. Selama satu hari satu malam dia mengeluh soal hukuman yang memberatkan itu pada Kasa, Kisa maupun Saka. Katanya manusia itu menyusahkan. Tapi kali ini, Akriel malah melarang Kisa dan Saka untuk ikut campur ke dalam urusannya. Mereka jadi curiga. "What?!" Kisa memiringkan kepalanya sambil menatap Akriel heran. "Lo gak bikin masalah lagi, kan?" Akriel menghela napas lelah. "Tidak. Ini bukan tentang saya. Saya sudah peringatkan kalian tidak perlu ikut campur masalah saya yang sekarang ini." Nada laki-laki itu terdengar tegas di akhir, Saka dan Kisa sampai dibuat melongo karenanya. "Saya harus pergi sekarang." Pamitnya. Akriel berjalan melalui Saka dan Kisa begitu saja, kini laki-laki itu semakin menjauh dari sana. Namun, lagi-lagi langkahnya berhasil terhenti ketika Saka melontarkan kata. "Dara?" Kini Akriel tercekat. Dengan perlahan kepalanya menoleh ke belakang menatap Saka di ujung sana. "Apa maksud kamu?" "Lo mau jadi pahlawan buat Dara?" Akriel menyipit. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, bagaimana Saka bisa tahu? "Urusan yang lo maksud itu urusan tentang Dara, kan?" lanjutnya. "Bagaimana kamu tahu?" "Skandal tentang Dara udah menyebar satu sekolah. Dan kayaknya, lo satu-satunya orang yang masih peduli sama dia." Akriel geming dan tertegun selama beberapa saat. "Disaat semua orang ngejauhin Dara, lo malah deketin dan nyoba peduli sama dia. Gue gak ngelarang lo buat berbuat baik, tapi kalau soal Dara yang gue tau kalo lo nyoba buat ngebela dia, lo juga bakal kena masalah." Akriel masih setengah mengerti tentang ucapan Saka. "Jadi gue saranan lo jauhin Dara sekarang juga." "Kenapa begitu?" "Lo belum tau soal Dara secara detail. Tapi, gue gak bohong kalo lo nyoba buat memihak Dara sekarang, lo bakal ikut kena masalah juga. Dia pembawa sial." Akriel tidak mengerti, makin hari makin banyak orang yang suka menjelek-jelekkan Dara. Sejauh yang Akriel tahu, Dara bukanlah orang yang seperti itu. Meskipun Akriel belum mengenal Dara lebih lama dari mereka, tapi Akriel tahu yang mereka katakan tidak ada yang benar. "Saya tidak peduli. Saya hanya ingin membantu Dara. Saya tahu dia tidak bersalah." "Percuma! Salah atau nggak itu cuman bakal sia-sia. Gue peringatin lo sekali lagi, jadi lo mau berhenti atau lanjut peduli sama Dara?" Akriel menatap Saka dalam-dalam. Tatapan Akriel kali ini benar-benar baru pertama kali Saka lihat dan membuatnya nyaris merinding. Begitu juga dengan Kisa, dia benar-benar tidak menyangka rupanya Akriel punya tatapan tajam setajam ujung pedang samurai. "Saya juga memperingatkan kamu sekali lagi, untuk kali ini kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan saya. Apa yang akan saya lakukan dan apa pun akibatnya nanti, saya sendiri yang akan menanggung. Dan saya tetap akan menolong Dara." Akriel berbalik lantas pergi begitu saja setelah berhasil membungkam mulut Saka dan Kisa. Sementara Saka, cowok itu menatap muak pada punggung Akriel yang semakin menjauh, seolah ada emosi yang sedikit demi sedikit mulai tersulut di ujung kepalanya. Emosinya terhadap Akriel Zaphka Mihr. *** "Kami benar-benar mohon maaf sekali lagi atas kejadian ini." "Anda tidak perlu meminta maaf lagi. Anda sudah puluhan kali mengatakan hal yang sama." "Kami pastikan kejadian ini tidak akan terjadi lagi nantinya. Saya benar-benar merasa bersalah terhadap apa yang terjadi pada Sheryl dan Dara, anak didik saya sendiri." Wanita itu, Renita, hanya mengangguk-anggukkan kepala merespon perkataan lawan bicaranya yang merupakan wali kelasnya Dara. Ibu guru itu datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sheryl yang masih dirawat sekaligus untuk meminta maaf. "Kalau begitu saya pamit. Semoga hari Anda menyenangkan, Bu Renita." "Terima kasih." Renita, ibu Sheryl, menutup pintu ruangan rumah sakit usai ibu guru itu keluar dari sana. Di ruangan itu kini menyisakan dirinya, Sheryl yang masih tertidur di ranjang bangsal, serta suaminya yang sedari tadi bersandar di tembok sambil melipat kedua lengannya di depan d**a. Menyadari ibu guru itu sudah tidak ada di sana, Sheryl refleks membuka mata. Cewek itu berdecak sambil mencoba merogoh handphonenya di atas nakas. Melihat putrinya begitu, Renita lantas memutar kedua bola matanya. "Gimana soal sidangnya, Ma?" Tanya Sheryl sambil asyik memainkan ponselnya. Renita kemudian berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang bangsal Sheryl. "Mama akan berusaha sebisa mungkin biar sidang itu terlaksana dan Dara akan dikeluarkan dari sekolah." "Dikeluarkan dari sekolah doang?" "Am I wrong?" Sheryl memutar kedua bola matanya. "Buat dia diboikot dari semua sekolah, Ma. Aku bakal lebih seneng kalo Dara gak bisa lulus terus dia gak bakal punya ijazah." "Iya, Sayang. Apa pun yang bikin kamu seneng, Mama sama Papa akan lakuin. Iya kan, Pa?" Renita menoleh ke arah suaminya, Dimas, yang masih setia bersandar di tembok. Dimas yang terperanjat langsung balas menoleh ke arah istrinya serta Sheryl di ujung sana. Rupanya dia kedapatan sedang melamun sampai seruan dari istrinya barusan membuatnya gelagapan. "I-iya?" Renita mengernyit, begitu pun dengan Sheryl. "Papa janji kan bakal bikin Dara diboikot dari semua sekolah?" Tanya Sheryl pada papa tirinya tersebut. Dimas menarik kedua sudut bibirnya sampai terlukis senyum pasi di wajahnya. "Iya, Sayang. Apa pun yang kamu mau akan Papa lakuin." Jawab Dimas, meskipun dengan setengah hati namun Sheryl tampak bahagia mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN