18. Tetangga Raffi Ahmad

1744 Kata
Rangga tinggal di salah satu apartemen mewah yang ada di Jalan Raya Casablanca yang diketahui bernama Casa Grande. Sudah jelas itu adalah hunian mewah orang-orang kaya sekelas Bella Shofie. Selain apartemen, Rangga katanya juga habis beli rumah baru di Andara. Kisa sempat luar biasa heboh saking dusunnya ketika tahu Rangga tetanggaan sama Raffi Ahmad. Rangga betulan bukan orang biasa ternyata. Di sisi lain, Kisa tidak bisa untuk tidak overthinking, seperti yang pernah dibilang Kasa semalam, kalau Rangga adalah orang kaya sekelas Nik Young kenapa bisa-bisanya dia bersekolah di sekolah b****k ini? Memang sih, orang kaya bisa melakukan apa saja termasuk Rangga. Tidak salah kalau Rangga bersekolah di sekolah yang jauh dari kata elit seperti sekolah ini. Tapi, apa iya kalau Rangga itu sejenis orang kaya kudet yang tidak tahu keberadaan Institut Le Rosey, itu lho sekolah termahal dan terbaik di dunia. Kisa masih berpikir keras, kalau Rangga betulan sejenis orang yang banyak duitnya kenapa dia tidak sekolah di sana saja? Kisa berencana mengembalikan sandal Chanel 10 juta itu ke Rangga. Jujur sih dalam hatinya Kisa enggan mengembalikannya, berharap ia jadi pikun sehingga dia bakal terus lupa buat mengembalikan sandal itu ke pemiliknya sehingga berakhirlah sandal itu bakal jadi milik Kisa sepenuhnya. Tapi karena itu punya Liura, Kisa tidak bisa egois. Akhirnya dengan setengah hati dia mau mengikhlaskan sandal yang harganya setara dengan satu truk kerupuk j****y bahkan mungkin lebih. Di luar ekspektasi, Kisa berpapasan dengan Rangga saat cowok itu habis dari ruang kepala sekolah katanya. "Hai!" Rangga menyapa lebih dulu. "Pas banget, gue baru aja mau ke kelas lo." "Mau ngapain?" Kisa menujukkan paper bag yang dia bawa sedari tadi, diketahui isinya tak lain dan tak bukan adalah sandal Chanel 10 juta. "Nih gue balikin sendalnya. Makasih ya udah minjemin gue." Rangga agak mengernyit. "Kenapa dibalikin?" "Lho? Kan gue minjem jadi harus dibalikin." "Gak usah. Itu buat lo aja." "Kok malah buat gue sih? Lagian ini kan punya Liura." Kisa berlagak sok kebingungan padahal dalam hatinya dia sudah segembira Dora yang baru saja berhasil mengusir Swiper si pencuri. "Gak pa-pa. Gue bisa beliin Liura sepatu yang baru." "Beneran nih?" Rangga mengangguk saja. Ngasih barang seharga 10 juta berasa lagi ngasih gorengan kali ya. Gak ada harganya. "Makasih ya." Ucap Kisa kemudian. "Oh, iya. Lo gak mau gitu ajak gue jalan-jalan ngelilingin sekolah ini? Gue masih belum terlalu hapal sama tempat ini soalnya." "Kenapa harus gue?" "Karena gue gak punya temen lagi." "Emang gak ada yang mau temenan sama lo gitu?" "Bukan gak ada yang mau, gue cuma gak mau temenan sama sembarang orang." Kisa sedikit tercengang. "Lho jadi gue—" "Lo bukan orang sembarangan." "Terserah deh." Final cewek itu. "Jadi gak nih jalan-jalannya?" "Kenapa harus gak jadi?" Kisa akhirnya setuju dan mengabdikan dirinya buat menemani Rangga jalan-jalan. Sepanjang berjalan mengitari sekolah, mereka tentu menjadi pusat perhatian seantero warga sekolah. Mereka sama-sama belum mengetahui ternyata ada seorang bule Korea yang bersekolah di sekolah mereka. Apalagi kehadirannya yang lagi jalan-jalan siang itu bersama cewek tomboy bernama Markisa Firaya langsung membuat heboh semua kalangan. Mereka tercengang berjamaah ketika mengetahui keahlian Kisa dalam hal mempelet bule Korea itu sampai kesemsem lumayan juga. Padahal Kisa tidak pakai pelet atau sejenisnya pun Rangga lengket-lengket aja tuh. "Gimana rasanya jadi orang kaya?" "Maksudnya?" "Gampang, susah, seneng, atau ngeribetin?" Rangga malah tertawa pelan. "Emang apa bedanya?" "Gue pikir jadi orang kaya itu hidupnya udah pasti terjamin. Gak ada yang namanya pusing mikirin keadaan ekonomi, apa yang lo mau langsung terkabul, terus hidup lo jauh dari kata beban." "Menurut lo gitu?" "Emang menurut lo gimana?" "Kadang orang yang kelihatannya punya segalanya justru gak punya apa-apa." Oke, Kisa merasa otaknya lemot seketika. "Maksudnya?" "Lo tau apa yang lebih berharga dari harta? Teman, sahabat, dan seseorang yang lo cintai dari hati. Gue gak punya satu pun dari itu. Malah gue pengen hidup normal kayak anak-anak lain, bukannya dikekang sama aturan yang bikin gue stres sendiri." "Ternyata gitu ya. Kehidupan orang kaya jauh dari ekspektasi gue rupanya." Rangga terkekeh sedikit. "Malah gue pengen hidup di dunia yang sama kaya lo, Kisa." Cewek itu spontan melotot. "Di dunia gue?" "Iya." "Apa bagusnya?" "Gue gak mentingin bagus atau enggaknya. Gue cuma pengen ngerasain gimana hidup kayak orang biasa. Bisa lo ceritain pengalaman lo sedikit?" Kisa berpikir-pikir sebentar mencoba mengolah otaknya dan mengingat-ingat pengalamannya yang layak untuk diceritakan kepada Rangga. "Jadi orang biasa tuh ada susah ada senengnya. Lo pasti gak pernah pake pasta gigi yang udah sekarat mau habis terus lo potong bungkusnya dan ambil sisa-sisa odol itu buat sikat gigi. Atau saat botol shampo lo udah kosong melompong tapi lo tetep maksain pake jadi lo masukkin air ke botolnya dan lo ambil busanya buat keramas. Pernah gak?" Tentu saja Rangga menggeleng. "Kurang lebih kayak gitu. Yang paling gue inget pas gue masih di rumah, saat itu gue lagi nonton tv sekeluarga dan acara yang kami tonton itu lagi seru-serunya eh malah pulsa listriknya abis." Kisa terkekeh mengingat momen itu juga sedikit haru karena kerinduan pada keluarganya tak disangka ikut muncul. "Dan senengnya jadi orang biasa itu ketika lo punya temen baik yang selalu nemenin lo kapan pun dan di mana pun, punya tetangga seperghibahan yang sefrekuensi meskipun kadang bikin rempong karena kerjaannya ngerumpiin orang terus, juga kehadiran keluarga di mana lo bisa ngerasain senang maupun susahnya hidup." "Maka dari itu, gue iri." "Iri sama hidup gue?" "Iya." "Apa yang bikin lo iri?" "Lo punya temen, tetangga dan keluarga yang hangat. Berbeda jauh sama keluarga gue yang setiap harinya selalu sibuk sama pekerjaan. Sejak gue kecil, mereka gak pernah punya waktu buat nemenin gue main. Apalagi temen, gue gak punya satu pun." Kisa merasa empati dengan curahan Rangga. "Jadi itu alasan kenapa lo milih sekolah di sini dibanding di sekolah elit lain cuma karena lo mau ngerasain jadi orang biasa dan sekadar nyari temen?" Rangga mengernyit agak kebingungan. "Mungkin." "Ada-ada aja kelakuan orang kaya. Kalo gue jadi lo sih gue bakal sekolah di sekolah paling mahaaaaal sedunia." Rangga merasa gemas sendiri ketika cewek itu berkata mahaaaaal yang sengaja dibikin panjang sepanjang jembatan Grand Danyang. "Sebetulnya bukan cuma itu sih." "Ada lagi emangnya?" "Yang jelas ada. Lo gak perlu tau sekarang." "Kalau nanti?" "Tunggu aja." "Tunggu buat apa?" "Tunggu kebenaran kenapa gue bersekolah di sini. Karena suatu saat lo juga bakal tau." Oke, Kisa sekarang merinding. *** Sheryl pingsan. Semua orang jadi panik termasuk guru-guru yang mulai berdatangan ke lokasi kejadian. Semua murid kompak melayangkan tatapan sinis pada Dara yang nyatanya masih mematung sambil menyaksikan Sheryl yang baru saja dipangku menuju UKS. Tak sedikit pula Dara mendengar gunjingan dan bisikkan teman sekelasnya tentang dirinya kala itu. Mereka tak segan mengatai Dara seorang penjahat. Gadis itu hanya bisa pasrah ketika dirinya disidang oleh guru BK. Dia menatap layar komputer yang menampilkan rekaman CCTV di mana Dara kedapatan sedang menjambak rambut Sheryl sampai gadis itu tersungkur ke lantai. Dara memejamkan matanya sambil mengehal napas lelah. "Kenapa kamu melakukan ini?" Tatapan mata Dara tampak kosong. "Saya dijebak." Guru itu agak kebingungan. "Dijebak? Tapi kamu menyerang Sheryl begitu saja." "Saya dijebak. Apa Bapak tidak sadar kalau Sheryl hanya pura-pura pingsan?" Tiba-tiba datanglah seseorang dari arah pintu membuat perhatian Dara dan gurunya kian tersita. Itu teman sekelas Dara, sebut saja namanya Mira. Tanpa basa-basi Mira langsung duduk di sebelah Dara. "Saya mau memberi kesaksian apa yang terjadi sebenarnya." Kata Mira membuat Dara setengah penasaran. Ia menaruh harap bahwa Mira akan mengatakan kebenaran dari kejadian Dara dan Sheryl beberapa waktu lalu. Tapi Dara tidak begitu yakin sekarang. "Silakan." Dara dapat melihat Mira agak ragu untuk berkata. "Dara yang menyerang Sheryl lebih dulu." Dara menghela napas berat. Ia sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi. Rupanya Mira sudah berada di bawah pengaruh pihak Sheryl. "Bisa katakan lebih jelas?" "Saya berada di kelas sejak pukul 10.45 WIB. Sheryl dan teman-temannya juga ada di sana saat itu. Lalu pukul 10.55 WIB Dara tiba-tiba datang. Dan tanpa alasan dia langsung menyerang Sheryl begitu saja—" "Itu tidak benar!" Dara segera menangkis. "Tidak mungkin saya tiba-tiba menyerangnya begitu saja. Saya juga punya alasan kenapa." "Dara, diam dulu! Kita dengarkan penjelasan dari Mira." "Tapi—" "Setahu saya Sheryl berniat memberikan hadiah pada Dara." Gadis itu lalu menaruh sebuah kotak ke atas meja. "Ini hadiah yang ingin diberikan Sheryl tadinya untuk ulang tahun Dara beberapa minggu lalu. Tapi belum sempat dia memberikannya, dia malah dihajar oleh Dara." Dara tersenyum miring. Dia tahu mungkin Sheryl atau orang tuanya sudah merencanakkan hal ini sebelumnya. Fakta palsu yang dikatakan Mira itu seolah membunuh Dara sekarang. "Alibi apa lagi ini?!" "Hanya itu yang saya ketahui. Saya tidak berniat berbohong atau menyanggah fakta kalau Sheryl benar-benar ingin memberikan hadiah itu pada Dara. Dia orang yang baik hati tapi malah mendapat perlakuan buruk." "Itu sama sekali bohong! Tidak ada yang benar dari ucapannya!" Dara mencoba membela diri. "Cukup!" Sang guru menyela. "Saya akan mengumpulkan fakta lainnya dan segera mencari tahu kebenarannya." Orang-orang berkuasa bisa melakukan apa saja termasuk kedua orang tua Sheryl yang merupakan orang terpandang dan punya banyak kekuasaan. Hal mudah bagi mereka untuk membuat alibi seperti ini. Dara yakin akan hal itu. Semuanya adalah sandiwara yang dibuat Sheryl. Dibanding Dara yang termasuk orang lemah dan tak punya kekuasaan besar, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Percuma dia menceritakan fakta tanpa bukti, dia akan tetap kalah dengan kebohongan yang sudah dimanipulasi. *** Wajah gadis itu tampak gelisah. Ada beberapa keringat dingin yang menghiasi dahinya. Bahkan telapak tangannya sudah sedingin es saking gugupnya. Dia baru saja keluar dari sebuah ruangan yang diketahui adalah ruang BK. Mira langsung bergegas cabut dari sana dengan perasaan luar biasa risau. Dia berniat kembali ke kelas, namun tepat di lorong yang sepi dia dibuat tercekat oleh kehadiran seorang wanita. Mira menelan salivanya penuh ketakutan ketika wanita itu mulai mendekatinya. Terdengar suara langkah sepatu yang menggema kian membuat suasana kala itu terasa makin horor. Kini wanita itu yang merupakan ibunya Sheryl berada tepat di depan Mira. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikan benda yang dibungkus kertas berwarna cokelat itu pada gadis di depannya. Pandangannya sedikit melirik ke sana kemari seolah mengawasi kalau tempat itu tidak ada orang lain selain mereka. "Kamu sudah mengatakan apa yang saya suruh, bukan?" Mira mengangguk masih dalam keadaan ketakutan dan gelisah yang bercampur abstrak. "Saya sudah mengatakan kalau Daralah yang bersalah dalam kejadian ini." Wanita itu menghela napas lega. "Bagus. Bawalah uang ini, tapi tutup mulutmu dan jangan katakan kepada siapa pun soal hal ini. Mengerti?" Mira mengangguk patuh lalu gadis itu melenggang pergi begitu saja setelah membawa bungkusan berwarna cokelat dari wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN