Entah kenapa belakangan ini Dara jadi jarang terlihat. Sudah satu hari Akriel tidak menjumpai gadis itu di kelas. Di asramanya pun dia tidak ada. Ah, mungkin dia sedang izin libur pulang ke rumahnya. Akriel masuh belum tahu masalah antara Dara dan gadis bernama Sheryl. Dia ingin mencari tahu, tapi koneksinya terlalu terbatas. Tidak heran karena sirkelnya di sekolah itu hanya Dara, Saka, Kasa, dan Kisa.
Lagi satu, sekarang mie ayam j****y juga tersedia dia kantin sekolah. Jadi, Akriel tidak usah jauh-jauh makan ke warung aslinya alias warungnya Mang j****y di ujung jalan sana. Yah, meskipun rasanya agak berbeda tapi tetap enak kok.
"Badrol itu siapa?"
Pertanyaan Akriel berhasil menyita perhatian ketiga bocah yang lagi asyik makan di sana. Ketiganya kompak mengernyit. Kasa yang paling sebal.
Akriel daritadi dibikin bingung karena Saka, Kasa dan Kisa terus membicarakan Badrol yang entah siapa itu menurut Akriel. Katanya sih cowok itu digadang-gadang sedang PDKT sama Kasa. Setelah ada seorang oknum tak dikenal yang secara misterius mengirimkan selampir foto Badrol yang kedapatan sedang menarik jepit rambut yang nyangsang di rambutnya Kasa. Dan entah kenapa si oknum itu malah mengirimkan foto itu ke Saka lewat dm i********:. Saka shock, Kisa kaget, Kasa panik sampai mau meninggal, sedangkan Akriel malah cengo. Dari situ, jadilah Saka menyimpulkan kalau Badrol sedang PDKT dengan Kasa.
"Aja kepo." Kisa menimpal. (Jangan kepo)
"Ck. Masih aja dibahas." Kasa langsung sebal sendiri. "Gak usah dibahas lagi. Gak penting amat."
"Badrol itu cucunya Tok Dalang." Saka drngan PD-nya menjawab bikin Kasa yang lagi minum nyaris muncrat.
Begonya, Akriel malah manggut-manggut percaya. Maklum, di dunianya kan gak ada yang namanya animasi Upin & Ipin. "Terus PDKT itu apa?"
"Jadi gini..." Saka berlagak macam orang banyak pengetahuan yang siap memaparkan ilmunya, "ketika lo suka sama seseorang hal yang harus lo lakuin pertama-pertama itu ngedeketin dia dulu. Lebih singkatnya sih kenalan atau pendekatan yang disingkat PDKT. Sampe sini paham?"
"Memang harus PDKT dahulu?"
"Eumm... gak juga sih. PDKT tuh cuman langkah awal supaya lo bisa lebih gampang aja deketin orang yang lagi lo suka dengan cara kenalan. Bisa dibilang PDKT itu tahap basa-basi. Nah, kalo lo gak mau PDKT lo bisa kok ambil langkah lain alias jalur ta'aruf namanya." Saka sebetulnya cuma menjawab asal-asalan tapi Akriel serius mendengarkan.
"Ngomong kok sama keong kopong. Kayak dia ngerti aja lo ngomong apa."
Saka melirik Kasa. "Diam pacarnya Badrol!"
Kasa sontak melotot. Pengin dia mengabsen nama hewan sekebun binatang sekarang juga. "Ngomong tuh difilter dulu dong, anj—"
"Eitss.. cewek gak boleh ngomong kasar nanti gak dapet tiket surga."
Kasa masih di level cukup sabar. Jadilah dia menahan segala t***k bengek amarahnya dalam-dalam meskipun dia pengin banget menylepet mulut Saka.
Di samping itu, Akriel tanpa sengaja menangkap sosok Dara melalui pandangannya, cewek itu sedang berjalan keluar kantin. Awalnya dia pikir dia salah mengira, tapi setelah diperhatikan dengan detail ternyata itu betulan Dara. Akriel dapat dengan mudah memastikannya dari rambut pendek sebahu cewek itu yang tampak khas. Dia tidak tahu kalau Dara ternyata sudah kembali lagi ke sekolah.
Akriel berdiri membuat Saka, Kasa dan Kisa kompak menengadah.
"Mau ke mana lo?"
"Saya ada urusan." Ucapnya lalu pergi begitu saja dan beralih menghampiri Dara. Akriel hampir kehilangan jejak cewek itu, setelah melalui proses clingak-clinguk, ternyata Dara sedang menuju ruang guru. Anehnya dia tidak pakai seragam sekolah seperti biasanya.
"Dara!"
Yang dipanggil segera menoleh.
"Kamu dari mana?"
"Harusnya lo tanya gue mau ke mana."
"Kamu mau ke mana?"
Dara tak bisa untuk tak memutar bola matanya ketika melihat kepolosan Akriel. Tapi, cewek itu lanjut berjalan mengabaikan laki-laki jangkung itu di sana.
"Kalau ada orang bertanya itu dijawab!"
Akriel berhasil menghentikan langkah cewek itu. Dia pun berbalik menatap Akriel lagi.
"Emang penting kalo gue kasih jawaban gue mau ke mana? Gak ada urusannya buat lo lagian."
"Penting. Saya tidak lihat kamu sejak kemarin. Kamu ke mana saja?"
"Gue udah bilang, Akriel. Gak ada manfaatnya buat lo kalaupun gue ngejawab."
Akriel terdiam.
"Satu lagi, mungkin ini bakal jadi terakhir kalinya lo ngeliat gue di sini sekarang."
Kening laki-laki itu mengernyit. "Terakhir?"
"Setelah itu lo gak bakal ketemu gue lagi. Gue bakal pindah dari sekolah ini. Makasih udah temenan sama gue."
"Kenapa memangnya? Ada apa dengan kamu? Kamu tidak bisa pergi."
"Tapi gue mau pergi."
"Tidak bisa!"
"Kenapa lo yang ngatur?"
"Karena saya tidak mau membersihkan taman itu kalau sendirian. Kita masih dihukum, ingat?"
Oke, Dara mulai kesal. "Itu nasib lo."
"Dara!"
Lagi-lagi Dara batal melangkah. "Apa lagi?"
"Jangan tinggalkan saya."
"Kenapa?"
"Saya belum sempat PDKT sama kamu."
Dara melotot.
***
Dara akan pindah sekolah.
Begitu sekiranya ringkasan keputusan Dara tadi siang. Dan Akriel tak bisa untuk tak berhenti memikirkannya. Kalau boleh jujur, Akriel betulan tidak rela kalau Dara pergi apalagi sampai pindah dari sekolah asrama itu. Yang bikin hatinya nyelekit sampai ngilu adalah ketika Dara bilang kalau hari ini adalah pertemuan terakhir mereka.
Dara tak menggubris ketika Akriel bilang kalau dia mau PDKT dengannya. Dia sempat berpikir kalau laki-laki itu sudah setengah waras. Sudah puluhan kali Akriel melarang Dara untuk tidak pergi tapi usahanya tidak mengubah seinci pun keputusan Dara.
Usai menyelesaikan urusannya di ruang guru, Dara berniat mengambil barang-barangnya di loker kelas. Sesampainya di sana, ada pemandangan yang bikin dia luar biasa muaknya. Siapa lagi kalau bukan karena kelakuan Sheryl?
Cewek itu mematung di ambang pintu sebentar. Sementara Sheryl duduk di kursi guru tampak sumringah melihat kedatangan Dara. Ditambah orang-orang di kelas tampak sesekali berbisik ketika melihat kedatangan Dara. Cewek itu jadi merasa makin tersudutkan.
Satu hal yang membuatnya lagi-lagi tercekat. Dia baru menyadari kalau ternyata ada beberapa kalimat yang tertulis di papan tulis. Jelas itu ulah Sheryl beberapa waktu lalu.
Dara adalah anak dari ibu yang menderita sakit jiwa. Ayah Dara adalah seorang pebinor. Begitu kira-kira kalimat yang terpampang nyata di sana.
Sheryl menyeringai sambil melipat kedua lengannya di depan d**a lalu berjalan menghampiri Dara. Dara luar biasa marah sambil melirik kesal dan emosi yang bercampur abstrak pada Sheryl.
"Akhirnya lo datang juga. Kayaknya semua orang udah tau semua rahasia lo." Sheryl sok terkejut sambil membekap mulutnya sendiri dengan tangan. "Jadi sebenarnya lo itu anak dari pebinor alias perebut bini orang, iya?"
Dara tak bisa untuk tetap menahan sabarnya. Ibarat berondong di dalam wadah yang ditaruh di sisi meja yang sudah sekarat mau jatuh, kesenggol dikit pun akhirnya berserakan aur-auran di lantai. Begitulah kiranya kesabaran Dara dan kini amarahnya kian aur-auran.
Tanpa disangka, Dara tiba-tiba menjambak rambut Sheryl sampai cewek itu mundur beberapa langkah dan tindakannya bikin semua orang di sana tercekat. Sheryl balas menjambak rambut Dara tak mau kalah dan perkelahian antara dua cewek itu pun kian menjadi-jadi ditambah suasana yang makin riuh dan tak terkendalikan.
Belum ada orang yang mau turun langsung untuk sekadar memisahkan dua orang yang masih bergelut itu. Sampai beberapa waktu, akhirnya dua orang guru datang ke tempat kejadian perkara tersebut.
Dara maupun Sheryl tampak kacau, rambut mereka saling berantakan ditambah ada beberapa luka cakar di bagian tubuh masing-masing. Tatapan keduanya masih nyalang penuh emosi.
Sampai kemudian, Sheryl tiba-tiba jatuh terbaring di lantai usai kejadian tersebut. Sheryl pingsan. Semua orang langsung panik tapi Dara yakin cewek itu cuma bersandiwara agar mendapat simpati dari banyak orang.
***
Pak Bondan itu orang yang kelewat baik. Akriel sudah beberapa kali mengatakan kalau tidak usah memberinya uang mingguan lagi. Tapi beliau tetap ngotot katanya dia betulan ikhlas soalnya duit dia banyak yang nganggur kan jadi sayang kalau tidak dipakai. Beliau hanya punya satu anak laki-laki yang kini sudah jadi pengusaha sukses di Amerika, sedangkan istrinya sudah lama meninggal puluhan tahun lalu. Jadi, tidak heran duitnya sulit menipis wong jarang dipakai dan pengeluarannya pun sedikit.
Akriel berharap Pak Bondan masih baik karena dia lagi butuh banget bantuannya sekarang. Tapi dia bukan bermaksud mau menguras duitnya melainkan kekuasaannya. Pak Bondan yang merupakan kepala sekolah sekaligus direktur utama asrama itu pasti bisa melakukan apa pun sesuai kehendaknya.
Kebetulan ketika Akriel sampai di ruangannya, Pak Bondan cuma lagi ngopi santai. Kopinya bukan kopi ABC atau Kapal Api, tapi kopi berlogo ikan mermaid alias Starbuck ala-ala anak muda.
"Ada apa gerangan?" Pak Bondan bertanya.
"Saya butuh bantuan."
"Langsung saja. Apa itu, Anak Muda?"
"Saya ingin tahu apa benar Dara berencana pindah dari sekolah ini?"
Pak Bondan berpikir-pikir sesaat sampai akhirnya ia baru ingat. Pria itu mengambil map di atas mejanya, itu adalah surat laporan pengajuan pindah sekolah Dara. "Maksud kamu Addara Ghassani?"
Akriel mengangguk.
Pria itu sesekali membuka isi map. "Dara memang mau pindah. Rencananya begitu."
Akriel sudah bisa mengiranya. "Bapak bisa melakukan apa pun, kan?"
"Kalo ngehidupin orang mati saya gak bisa, saya bukan Tuhan. Hehehe."
Akriel cengo, wajahnya super datar. "Saya tidak meminta Bapak untuk melakukan itu."
"Lalu kamu ingin saya melakukan apa?"
"Saya ingin Dara tetap tinggal di sekolah ini. Tolong lakukan segala cara agar Dara tidak diterima di sekolah mana pun kecuali sekolah ini."
Pak Bondan terlonjak kaget. "Lho? Emangnya bisa? Dara kan mau pindah."
"Kenapa tidak bisa? Bapak keberatan?"
Akriel mungkin egois sekarang. Dia tidak ingin Dara pergi tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa supaya gadis itu tetap di sini. Kini, dia malah melibatkan orang lain ke dalam urusan itu.
"Bukan begitu. Kalau saya melakukannya, itu sama saja saya memboikot Dara tanpa alasan."
"Memboikot?"
"Pemboikotan murid terjadi karena si murid tersebut melakukan kesalahan fatal yang membuat dia tidak akan diterima di sekolah mana pun."
Akriel terdiam. "Jadi, kalau Dara melakukan kesalahan itu bisa dijadikan alasan agar Dara diboikot?"
"Tergantung kesalahannya seperti apa. Kalau kesalahannya fatal dia bisa dengan mudah diboikot dari berbagai sekolah. Lagipula Dara tidak mungkin berbuat kesalahan wong dia anak baik sejauh yang saya lihat." Pak Bondan berujar.
Akriel menghela napas berat. "Apa saya harus membuat Dara melakukan kriminal?"
Pak Bondan tercengang. "Saya gak ngerti anak jaman sekarang. Ada ya orang yang mau mendorong temannya supaya berbuat kriminal?"
"Jadi, saya tidak boleh melakukannya?"
"Ya enggak boleh lah. Pake nanya segala." Pak Bondan geleng-geleng kepala.
"Bapak gak punya cara lain lagi?"
"Cara seperti apa ya, Nak Akriel? Kalau ada murid mau pindah sekolah, saya pun tidak bisa mencegah atau melarang. Soalnya itu kan hak murid itu sendiri."
Akriel mengedikkan bahu. "Kalau begitu terima kasih. Maaf selalu merepotkan Bapak."
Pak Bondan tersenyum. Di saat Akriel hendak berdiri dan berniat cabut dari sana, Pak Bondan tiba-tiba bersuara membuat Akriel menoleh. "Kamu mirip anak saya."
Akriel kebingungan. "Kenapa begitu?"
"Namanya Bisma, saat seusia kamu dia suka sekali minta hal yang aneh-aneh. Kayak kamu. Mau tidak mau harus saya turutin, tapi saya senang."
Akriel manggut-manggut pelan.
"Sekarang dia di Amerika. Sudah jadi orang sukses dan berkeluarga di sana serta punya anak kembar." Pak Bondan sedikit terharu saat menceritakannya. "Terakhir dia berkunjung ke Indonesia saat tahun baru lalu sambil memboyong keluarganya. Sekarang saya kangen apalagi sosok kamu ini selalu mengingatkan saya sama dia."
"Saya tahu bagaimana rasanya jauh dari orang-orang terdekat. Karena saya juga merasakannya."
Pak Bondan hanya membalas dengan senyuman. Tanpa memberi tahu Akriel, Pak Bondan sudah menganggap Akriel sebagai anak angkatnya sendiri.