16. Sandal Chanel 10 Juta

1777 Kata
Gara-gara Rangga yang ngajakin Kisa dansa, cewek itu sampai harus beralasan sejuta kali untuk menolak tapi tetap saja Rangga memaksanya. Padahal kalau dipikir-pikir, Rangga bisa saja dansa sama bule-bule Amerika atau Korea di sana yang kelihatannya akan lebih cocok dibanding sama Kisa yang badannya saja lebih kaku dari tiang jemuran. Kisa tidak bisa dansa. Beberapa kali cewek itu menginjak kaki Rangga sampai membuat cowok itu meringis kesakitan saat berdansa tadi. Kisa jadi tidak enak hati dan lebih memilih keluar meninggalkan aula pesta. "Kisa!" Panggil Rangga pada Kisa yang kini terus berjalan memunggunginya di sepanjang koridor hotel. Cewek itu tetap tak menggubris meskipun sudah dipanggil semilyar kali. "Markisa!" Kisa langsung tercekat seolah kakinya ditarik oleh jutaan medan magnet yang membutnya kesusahan melangkah. Cewek itu menoleh pada Rangga. "Kenapa lo tau nama gue?" "Bukannnya lo yang ngasih tau?" Kisa mengernyit. "Gue cuman ngasih tau kalo nama gue tuh Kisa bukan Markisa." "Sama aja, kan?" "Tapi, dari mana lo tau? Gue kan gak ngasih tau nama lengkap gue." "Penting gitu kalo gue ngasih tau dari mananya?" Kisa pengin bertanya lebih banyak lagi, tapi sepertinya itu akan membuang-buang waktu saja. "Ah, udahlah. Gue gak bisa dansa, jangan paksa gue dansa lagi." Terlihat cewek itu cemberut yang bikin Rangga terkekeh. "Ya udah, iya. Gue gak bakal minta lo dansa lagi. Tapi, kenapa lo malah lari ke sini?" Kisa sontak linglung. Cewek itu berdecak. "Males ketemu bule." "Kalo gitu lo mau jalan-jalan?" Kisa mengernyit. "Jalan-jalan? Terus pestanya—" Belum mengkhatamkan kalimatnya, Kisa sudah lebih dulu ditarik oleh Rangga untuk berjalan ke luar hotel hingga sampailah mereka di pelataran. "Nanti kalo lo dicariin Bapak lo gimana? Ninggalin pesta gitu aja." Rangga berdecak. "Biarin, gak bakal kena marah lagian. Gue bosen juga di sana kalo gak ada lo." Kisa mengalah. "Terserah dah. Sekarang, kita mau ke mana?" "Jalan-jalan." "Iya ke mana? Kalo jalan-jalannya ke Afrika sih gue juga semangat." "Lo mau?" "Hah?" "Gue bisa bawa lo ke Afrika sekarang juga." "Ogah, kelamaan." "Gak, lima menit juga nyampe." Kening cewek itu mengernyit tak karuan. "Pake apaan? Jangan bilang pake pintu ke mana saja punya Doraemon." Rangga terkekeh sedikit. "Gue serius." "Apa-apa dah terserah." "Jadi, lo mau?" "Ke mana?" "Ck. Katanya ke Afrika elah." "Gak jadi. Suer ya gue gak tau orang yang suka gaul sama bule tuh susah juga diajak bercandanya. Gue kan cuman lagi lucu-lucuan aja pengen ke Afrika. Tapi malah dibawa serius. Biar gue kasih tau itu tuh jokesnya para rakjel." Padahal, Rangga betulan mau mengajak Kisa ke Afrika kalau mau. Rangga tidak pernah main-main soal ucapannya. Dia betulan punya jet pribadi yang bisa menghantarkannya ke Afrika dalam waktu lima menit. "Rakjel?" "Lo gak tau rakjel?" Rangga menggeleng. Kisa hampir menepuk jidat. Maklum, Rangga kan gaulnya sama para bule jelas dia tidak tahu istilah-istilah slang kekinian. Kisa berpikir-pikir sesaat sebelum menjelaskan apa itu rakjel. "Ehhmm.. Rakjel itu rakyat jeli." Rangga mengernyit "Jeli? Maksudnya kayak puding atau agar-agar gitu?" Kisa tergelak. "Iya, itu artinya." Ternyata Rangga betulan tidak tahu apa itu 'rakjel'. Meskipun arti yang sebenarnya bukanlah rakyat jeli, sengaja Kisa selewangkan sedikit biar tidak terlalu jleb kesannya. Selama berjalan tanpa tujuan di sepinggir jalanan yang sepi-sepi-ramai, kaki Kisa terasa semakin kram. Itu karena dia kelamaan pakai high heels. Jujur, kalau di sini ada yang jual sandal swallow, dia mau ganti pakai sandal swallow sekarang juga. Sayangnya, di tempat elit seperti ini Kisa belum menemukan ada warung klontong yang jual sandal sepuluh ribuan itu. "Lo gak pa-pa?" Kisa masih meringis. "Di sini gak ada yang jual sendal emang? Gue sengsara banget pake selop. Kaki gue sakit." "Okay, wait a minute. Gue mau telepon asisten pribadi gue buat bawain lo sendal." Entah apa yang Rangga bicarakan barusan, Kisa gagu bahasa Inggris soalnya, cowok itu segera merogoh ponselnya lalu menempelkan benda elektronik itu ke telinganya. "Mr. Park, can you bring Liura's sandal here? I'm on the road near the hotel right now." Rangga menutup ponselnya. Cowok itu kemudian melakukan sesuatu yang membuat jantung Kisa nyaris meledak. Bagaimana tidak karena Kisa yang lagi duduk di kursi nganggur di sana tiba-tiba saja Rangga berjongkok lalu membuka sepatu Kisa membuat cewek itu tercengang setercengang-cengangnya. "Apa yang lo lakuin?" "Diem. Katanya kaki lo sakit." Kisa akhirnya menurut membiarkan Rangga melepaskan sepatunya dengan hati-hati. Tanpa disangka, batin cewek itu tiba-tiba terasa teremat ketika ada memori menyakitkan yang baru saja tersibak ke ingatannya. Rangga memiringkan kepalanya melihat Kisa yang lagi bengong. "Lo kenapa? Ngelamun?" "Entah kapan terakhir kali ada orang yang memperlakukan gue selayaknya perempuan pada umumnya," ucap Kisalirih. *** Tak sampai lima menit, orang yang disebut-sebut sebagai asisten pribadinya Rangga, Mr. Park, akhirnya datang sambil membawa sebuah kotak yang mana isinya adalah sandal. Katanya sih itu sandalnya Liura dan Kisa awalnya menolak untuk memakainya. Karena kelihatannya sandal itu belum pernah dipakai sekalipun soalnya masih ada label harga yang belum dicopot. Entah kenapa ketika melihat harga yang tertera di dalamnya bikin Kisa nyaris terjengkang dan sesak napas, padahal harga sandalnya sih biasa saja kok cuma Rp 10.000.000,00. "Tapi, itu kan sendalnya Liura." "Gue bisa beliin Liura sendal lagi. Lagian sendal sama sepatu Liura udah numpuk sama banyak yang gak kepake." "Tapi, gue gak bisa pake sendal mahal-mahal apalagi yang harganya sampe 10 juta. Kalo dituker sama swallow bisa ngeborong satu warung tuh." Sandalnya ada tulisan Chanel dan tentunya ini versi orginal yang harganya setara dengan uang jajan Kisa selama lima tahun, bukan versi imitating yang gampang dijumpai di pasar dengan harga berkali-kali lipat lebih murah. Tapi, Kisa lebih suka yang KW dibanding yang ori karena jauh lebih murah pastinya. Yah namanya juga sandal, mau yang mahal atau yang murah tetap saja dipakainya diinjak. Kalau Kisa sih duit 10 juta mending dipakai main ke Timezone selama sebulan daripada dipakai buat beli sandal doang. Sekarang, Kisa diantar pulang oleh Mr. Park atas suruhan Rangga. Padahal Kisa bisa saja naik ojek online buat pulang ke asrama. Tapi berhubung dia lagi ngirit saldo GoPay, jadilah dia tidak enak hati menolak tawaran emas itu. Sesampainya di asrama, dia langsung ngibrit menemui Kasa. Kebetulan ternyata Kasa lagi nonton drakor yang judulnya Gak Pa-pa Buat Gak Apa-apa dan dia kedapatan lagi mewek sampai habis tisu satu pack. Dia sampai baper ke dunia nyata. "KASA!" Kasa nyaris terjengkang dan hampir membanting laptopnya ketika Kisa tahu-tahu berteriak dengan kerasnya sampai saingan dengan bunyi toa di masjid. Bisa-bisanya cewek itu menganggu waktu berkualitasnya. "Ada hal yang mau gue kasuh tau!" Kasa memiringkan kepala melihat Kasa yang datang masih sambil ngos-ngosan kayak habis maraton di GBK dua belas kali. "Apaan?" Napasnya masih tak beraturan. "Gueh..hh" "Apa?!" Kasa penasaran "Punya sendal Chanel harga 10 juta." "Kampret." Kasa hampir melemparkan bantal. "Dapet dari mana? Nyolong ya lo?" "Sembarangan." Kisa sambil mendudukkan dirinya di samping Kasa. "Ini punya si Nawang Wulan sih sebenernya." "Nawang Wulan saha?" "Bojone Rangga." "Terus?" "Ini sendal chanel ori, anjayani banget gak sih? Sepuluh juta, sist. Bayangin! Gue dipinjemin gara-gara tadi gue keseleo pake sepatu hak tinggi itu. Sengsara banget gue tadi." Kisa mulai mendongeng. "Nah, jadi deh gue dipinjemin sendalnya so Nawang Wulan tapi masih ada label harganya berarti belum pernah dipake dong alias masih baru." Kasa memutar kedua bola matanya. "Cih, gak nanya. Dipinjeminin doang, kan? Berarti harus dibalikin." Kisa manyun. "Masa harus dibalikin sih? Dilihat-lihat si Nawang Wulan itu termasuk bule mahal kaya raya yang kayaknya gak bakal minta sendalnya dibalikin kalo udah dipinjem." "Idih, sok tau amat." "Tau lah. Wong dia beda sama orang Indonesia yang kalo punya hutang goceng aja ditagihnya bisa sampe ujung dunia. Dia kayaknya gak bakal nagih-nagih gitu. Yakali." Kasa mendengkus saja. "Eh, satu lagi nih ya. Siapa tuh bos artis K-pop yang artisnya lo suka? Lee Soomanto.." "Lee Soo-man." Kasa buru-buru meralat. "Nah, itu. Dia bapaknya Rangga!!" Kisa berekspektasi kalau reaksi Kasa bakal luar biasa terkejutnya sampai cewek itu bakal tanpa henti menanyainya tentang bagaimana sosok bapaknya Rangga. Tapi ternyata, TIDAK. Kasa malah menyipit geli melirik Kisa. "Gue serius. Rangga tuh anaknya Lee Soomanto." Kisa mencoba meyakinkan. "Oh." "Kok gitu doang?" "Gue males kalo harus kaget." Kasa memilih membenamkan dirinya di atas kasur sambil lanjut nonton drakor. "Lo gak percaya? Gue tuh ngomong beneran." "Eh..hm. Yakali Rangga anaknya Lee Soo-man." "Terserah deh kalo lo gak percaya." Kisa mulai sebal. Cewek itu memutuskan buat ganti baju. Tapi batal ketika Kasa memanggilnya. "Kisa?" "Opo?" "Rangga sekolah di sini?" "Iya, dia baru pindah beberapa hari lalu. Tapi dia gak tinggal di asrama, dia tinggalnya di apartemen katanya." Kasa manggut-manggut. "Rangga orang kaya?" "Kaya raya tajir melintir melebihi Raffi Ahmad." "Ck. Apa lo gak curiga sedikit pun?" Kisa mengernyit. "Curiga apa?" "Aisiah. Rangga kalo orang kaya sekelas JK. Rowling mana ada dia sekolah di sekolah b****k kayak sekolah kita." "Emang gak boleh?" "Bukan gak boleh, cuman aneh aja. Orang kaya tuh kebanyakan sekolahnya aja di tempat-tempat elit. Terus gue bingung kenapa Rangga bisa-bisanya sekolah di asrama ini yang jauh dari kata mewah dan elit. Mata dia kecocokan apa sih sampe milih sekolah b****k ini?" "Sekolah di mana pun tujuannya sama-sama nyari ilmu." Kasa berdecak. "Terserah lu deh." Kisa bengong. Dipikir-pikir, benar juga apa kata Kasa. Tapi, cewek itu buru-buru membuang pikiran-pikiran anehnya agar tidak overthinking. Nambah beban pikiran saja yang ada. *** Apa yang paling ditakutkan oleh seorang Akriel Zaphka Mihr? Selama hidupnya, dia hanya butuh mengabdi pada sang ayah, Mihr, apa pun yang terjadi nantinya. Castiel adalah orang pertama yang sepertinya akan mengkhianati ayahnya sendiri. Meskipun suatu saat nanti Bariel, Dariel, maupun Eremiel juga akan mengikuti langkah yang sama dengan Castiel. Dan Akriel berharap ia bisa tetap mengabdi pada ayahnya sampai akhir. Apa yang paling dia takutkan adalah ketika mimpi buruk itu mampir di bunga tidurnya. Akriel menghujam ayahnya sendiri dengan pedang sampai berlumuran darah. Keempat saudaranya hanya menonton, menyaksikan Akriel yang tengah membunuh ayahnya sendiri dengan sadis. Dan secara langsung Akriel telah ingkar pada pendiriannya untuk tetap mengabdi pada sang ayah. Sekarang, laki-laki itu terbangun di tengah malam disertai keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya. Akriel sangat berharap mimpinya barusan hanya sekadar mimpi buruk yang tidak akan terjadi sampai kapan pun. Akriel terduduk di atas tempat tidurnya. Di sampingnya Saka masih tidur sangat terlelap. Laki-laki itu kemudian beranjak sangat hati-hati takut membangunkan Saka yang berakhir akan mendapat tonjokan di rahangnya. Dia tak sengaja melihat sekelebat cahaya putih sangat terang dari balik jendela. Rasa penasaran berhasil menguasai pikirannya dan akhirnya ia memutuskan untuk memeriksa jendela itu. Benar saja, ada sehelai bulu halus berwarna putih beserta sepucuk pesan yang tertera di sana. Dari benda itu, Akriel langsung tahu kalau Bariel yang mengirimnya barusan. Kira-kira begini isi pesannya. 'Kapan kau akan pulang? Aku dan lainnya sedang menunggumu untuk berbalik mengkhianati Ayah. Segera berhenti dari misimu.' Deg Ada sesuatu yang begitu meremat raga Akriel. Laki-laki itu meneguk salivanya dengan kelu. Apa yang sedang dia takutkan apakah benar-benar akan segera terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN