Kasa yakin banget kalau sebetulnya Kisa pas masih dalam bentukkan zigot itu dia udah mau jadi laki-laki cuma enggak jadi terus tahu-tahu pas dilahirin malah jadi perempuan. Kisa itu tipe-tipe cewek yang kalau mau pakai body lotion saja sudah Alhamdulillah. Dalam kesehariannya, Kisa tidak pernah kelihatan pakai rok— selain seragam sekolah— atau celana-celana pendek macam yang Kasa selalu pakai. Gaya berpakaian Kisa tak jauh dari celana training dan kaus oblong polos.
Sekarang Kasa yang dibikin pusing dan hampir encok buat mencari dress yang sekiranya cocok buat dipakai Kisa ke pesta ulang tahun Rangga. Dia udah bolak-balik seribu kali dari gerai mall sana ke gerai mall sini dan setelah perjuangannya selama kurang lebih tiga jam akhirnya mereka menemukan dress yang cocok.
Sekarang mereka lagi di salon. Kisa sedang dimake-over mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tenang, duit dari Pak Bondan setiap hari ngalir terus kok. Jadi, mereka tidak perlu risau pasal biaya. Kejam ya mereka, itu kan jatah Akriel.
"Ini rambut gue kenapa dikeriting-keriting dah?"
Kisa sempat panik sepanjang dia dimake-over apalagi ketika hairstylist yang tidak berhenti memotong rambutnya sampai cewek itu pikir rambutnya sudah botak tapi ternyata tidak kok. Sekarang rambutnya jadi curly ditambah poni tipis ala-ala artis Korea gitu. Kukunya pun dicat dengan berbagai warna dan ditambah gambar-gambar imut nan lucu.
"Lo diem aja gak usah cerewet." Kasa menyergah pada Kisa yang tidak berhenti ngomong dari tadi.
"Make up gue jangan menor-menor amat tar dikira ondel-ondel kan gak lucu." Kisa tak berhenti mengoceh.
Kasa berdecak. "Gak bakal mirip ondel-ondel, paling mirip hantu Taman Lawang doang."
"Jangan sampe gue lempar ini catokan biar mendarat di kepala lo, Kasa!"
"Sok aja kalo berani."
Kisa pengin dong lemparin catokan itu ke kepala Kasa sampe benjol, tapi aksinya buru-buru dicegat mbak-mbak hairstylist dan hampir dimarahi. Kasa terngikik-ngikik saja di pojokan sana.
"Aduh, ini lama banget sih udah encok leher saya nih."
"Sebentar lagi, Mbak." Kata mbak hairstylist pada Kisa yang kayaknya sudah sekarat akibat pegal duduk terlalu lama.
Setelah memakan waktu bermenit-menit, akhirnya Kisa selesai didandani. Penampilannya kini benar-benar bisa bikin semua orang panggling. Jangankan Kasa, Saka yang baru datang di sana yang habis melanglang mall beberapa waktu lalu dibikin tercengang hebat ketika melihat Kisa yang sekarang. Dia tidak menyangka Kisa yang notabene-nya cewek tomboy, sekali dimake-over sudah bisa saingan sama Catriona Gray. Kisa benar-benar cantik, berbeda jauh dari penampilan tomboynya dalam kesehariannya.
"Gue gak salah liat itu Kisa, kan?!" Saka sesekali mengucek-ngucek matanya memastikan kalau yang dilihatnya betulan Kisa.
"Lo jangan ngejek dong!" Kisa malah bersungut-sungut.
"Apanya yang ngejek? Justru gue nih muji karena liat penampilan lo yang bikin panggling udah gak kayak tampang preman lagi."
"Itu barusan lo ngejek!"
"Sori, sori. Khilaf gue."
"Sekarang lo buruan pergi deh ke pestanya." Suruh Kasa.
"Tapi, gue kok tiba-tiba gak yakin ya?" Cewek itu menggaruk-garuk leher yang tidak gatal.
"Jangan coba-coba lo ngebatalin. Udah capek-capek gue muter-muter se-mall buat nyari dress buat lo belum lagi gue dibikin encok nungguin lo didandan." Kasa sudah mulai mengeluarkan jurus rapper-nya bikin Kisa ciut.
"Iya deh, nih gue berangkat sekarang juga." Final Kisa. "Tapi, tolong doain gue ya semoga sepulang dari pesta gak ada yang kepincut sama kecantikan gue."
"Sialan!" Kompak Saka dan Kasa.
***
Sesuai ekspektasi Kisa, di pestanya Rangga penuh sama bule-bule. Dia sempat salah kira aula hotel mana yang dipakai Rangga untuk menggelar pestanya, soalnya sepanjang dia masuk kayaknya tamu-tamunya dominan bule. Meskipun ada sih orang Indonesia tapi tak seberapa.
Kisa sedikit kesusahan saat berjalan, itu karena high heels yang dia pakai membuatnya luar biasa menderita. Kakinya sakit sekarang, rasanya dia pengin ganti pakai sendal jepit saja. Tapi, di sisi lain dia takut dihabrik sama bule-bule itu, nanti dikira gembel yang salah masuk kalau pakai sendal jepit 10 rebuan. Belum lagi dress yang dia pakai dirasa terlalu kependekan dan kembennya berkali-kali nyaris melorot.
Penampilannya kini memang bikin banyak orang panggling, dress berawarna hitam setinggi lutut itu tampak melekat sempurna di tubuhnya membuat tampilannya kian elegant. Rambutnya dibiarkan tergerai serta poni tipis yang menutupi dahinya tak kalah bikin dia tambah imut. Dia bukan Kisa yang berpenampilan tomboy lagi, dia adalah Kisa yang baru.
Kisa agak clingak-clinguk selama di sana, pasalnya tidak ada orang yang dia kenal untuk diajak bicara. Tahu begini, dia datang agak telat saja biar tidak usai menunggu karena pestanya kayaknya masih lama untuk dimulai.
"Hey!"
Cewek itu menoleh pada yang berseru. Ternyata itu Rangga. Cowok itu tampak luar biasa gagah, ganteng dan memesona dengan setelan jas hitam putih dengan dasi kupu-kupu yang melilit imut di lehernya.
Kisa balik tersenyum menatap Rangga. "Hai!"
"Udah dateng dari tadi?"
Kisa menggeleng. "Baru aja sampe kok. Oh iya, tamu-tamu lo kayaknya bule Amerika semua, ya?"
Rangga tak bisa menahan tawanya. Memang betul sih tamunya kebanyakan bule dan orang luar negeri semua. "Ada orang Korea juga. Yang Amerika itu temen-temen bisnisnya Papa gue."
Kisa manggut-manggut. "Kenapa lo gak ngundang temen sekelas lo?"
Rangga tampak mengedikkan bahu. "Orang yang gue kenal cuman lo doang."
Kisa mengernyit. "Lo gak ada gitu punya temen di kelas?"
"Gak ada."
Kisa sedikit heran. Dilihat dari penampilannya, sepertinya Rangga itu anak orang kaya tajir melintir. Dia tinggalnya saja di apartemen ala-ala orang tajir kebanyakan, bukan di asrama kayak Kisa. Belum lagi pesta ulang tahunnya yang digelar di hotel bintang lima yang luar biasa megahnya. Tapi, bagaimana Rangga tidak punya teman, serius? Ah, mungkin dia tipe-tipe pemilih dalam berteman.
"Liura di mana? Dari tadi belum keliatan."
"Dia baru aja balik ke Amerika."
"Secepet itu?"
"Dia harus sekolah juga."
"Jadi, dia sekolahnya di Amerika?"
"Gitu deh."
Kisa sadar latar belakang Rangga maupun Liura sangat berbeda jauh dengannya. Bisa dilihat, keluarga Rangga gaulnya saja dengan bule-bule sekelas Donald Trump atau Song Joong-ki, sedangkan keluarga Kisa paling gaulnya tak jauh dari persirkelan tetangga yang suka ngerumpi di pos ronda saban hari sambil ngerujak mangga muda.
"Lee Joo-young!"
Rangga menoleh, begitu pun dengan Kisa.
"Ne, Appa!" (Iya, Papa.)
"Patileul balo sijaghago sipji anh-euseyo? Sonnim-eun gidalineun geos-e jichyeossseubnida." Kata pria yang disebut Rangga sebagai papanya tersebut. (Kamu tidak ingin segera memulai pestanya? Tamu sudah lelah menunggu.)
"Jigeum balo sijaghagessseubnida." Jawab Rangga. (Aku akan segera memulainya sekarang.)
"Joh-a, geuleom. Geugeon geuleohgo geuneun nugu-ibnikka?" Pria itu melirik Kisa. (Baiklah, kalau begitu. Ngomong-ngomong, siapa dia?)
Kisa gelagapan. Tidak mengerti apa yang Rangga dan pria itu bicarakan.
"Geuneun naui saeloun chingu." (Dia teman baruku.)
Rangga menoleh ke arah Kisa bikin cewek itu kian bingung. "Kisa, kenalin ini Papa gue."
Kisa dari tadi dibikin cengo dengan percakapan Rangga dengan seorang pria yang digadang-gadang adalah papanya Rangga. Entah mereka ngomongin apa dan pakai bahasa apa, Kisa pusing sendiri mendengarnya sejak tadi.
"Aleumdaun sonyeo." (Gadis yang cantik.)
Pria itu bersuara sepertinya merujuk ke Kisa, cewek itu hanya bisa tersenyum sambil sesekali membungkukkan punggungnya sebagai tanda hormat ala orang Korea.
"Appaga meonjeoga." (Papa pergi dulu ke sana.) Pria itu pamit setelah menepuk pundak Rangga lalu berjalan pergi dari sana.
"Dia Papa lo?" Kisa tiba-tiba bertanya setelah pria berusia lebih dari setengah abad itu cabut dari sana.
Rangga mengangguk.
"Namanya siapa?"
"Lee Soo-man."
Kisa serasa deja vu. Rasanya dia pernah mendengar nama itu sekali tapi dia lupa kapan. Kisa berpikir keras dan setelah bergelut dengan pikirannya dia baru tersedar.
"Lo beneran anaknya Lee Soo-man?!" Kisa luar bisa kaget.
Rangga mengernyit. "Emang kenapa?"
Kisa pernah dengar nama Lee Soo-man itu dari Kasa. Itu lho yang katanya pemilik agensi hiburan paling gede dan tersohor se-Korea Selatan yang menaungi grup-grup K-pop kesukaan Kasa.
"Jadi, dia beneran Lee Soo-man yang punya agensi apa tuh namanya?"
"ESEM Entertainment."
Kisa bukan cewek yang suka Kokoreaan kayak Kasa, tapi dia tahu sedikit-sedikit soal boyband atau girlband K-pop yang suka diceritakan Kasa saban hari kepadanya termasuk Lee Soo-man yang merupakan bos perusahaan ESEM Entertainment yang mana adalah agensi yang menaungi EKSO, ENSITI, WI-FI dan lainnya.
Ngomong-ngomong, Kasa tuh ngefans banget sama grup-grup itu apalagi ENSITI. Itu lho boyband yang membernya sekecamatan, katanya sih jumlahnya sekarang ada dua puluh tiga orang.
"Lo gak lagi ngeprank, kan?"
"Ngeprank gimana maksudnya?" Rangga bingung sendiri.
"Papa lo bukan Lee Soo-man palsu, kan?"
"Ya nggak lah."
"Wah, kalo Kasa tahu lo anaknya Lee Soo-man, bisa heboh dia."
"Kasa?"
"Temen gue. Dia demen banget tuh sama Kokoreaan. Apalagi sama yang namanya ENSITI itu. Biasnya namanya Teyong atau Tiyong dah itu gua lupa."
"Maksud lo Taeyong? Itu mah gue akrab banget sama dia."
"Serius? Pasti seru punya kenalan orang-orang ganteng."
"Ya gitu deh." Rangga menyeringai. "Pestanya udah mau dimulai. Eum...Kisa?"
"Iya?"
"Lo mau jadi pasangan dansa gue, ya?"
***
Dara lahir di keluarga yang cukup berada. Ayahnya dulu adalah seorang direktur sebuah rumah produksi film lokal. Sedangkan ibunya mempunyai toko butik yang sudah tersebar lebih dari lima cabang di Jakarta.
Dua tahun lalu, kedua orang tuanya bercerai. Kemudian Dara memilih tinggal bersama ibunya yang kini menderita gangguan kejiwaan usai ayahnya diketahui telah menikah lagi seminggu setelah perceraian mereka.
Sudah sekitar satu bulan Dara tidak menjenguk ibunya di rumah sakit. Malam ini, dia berniat untuk menengok ibunya karena dia mendapat kabar dari suster yang merawat kalau kondisi ibunya kian memburuk. Dara panik ketika mengetahui ibunya terpaksa disuntik tidur karena memberontak. Sekarang, wanita itu terbaring lemah di ranjang bangsalnya sambil melihat sayu atas kedatangan Dara di sana.
Usai meletakkan buah-buahan yang sengaja ia beli saat di jalan ke atas nakas, cewek itu menarik kursi lalu duduk di samping ranjang bangsal ibunya. Ibunya masih tak bereskpresi, Dara merasa tersayat hatinya ketika melihat kondisi ibunya yang tak kunjung membaik. Ada banyak selang dan jarum infus yang menempel di sekujur badan wanita itu.
"Ibu mau ngomong sesuatu?" Tanya Dara.
Ibunya masih geming dengan tatapan kosong nan sayu.
"Sebentar lagi aku lulus. Ibu harus sembuh biar bisa liat kelulusan aku. Ibu juga harus liat hari pertama aku masuk universitas nanti." Dara mencoba menahan tangis agar tidak pecah.
"Aku kesepian kalo di rumah. Jadi, aku pindah dan tinggal di asrama meskipun gak jauh beda dan aku tetep sendirian. Tapi, sekarang aku punya temen. Dia lucu. Kadang ngeselin juga. Meskipun aku gak yakin dia nganggap aku temen juga." Dara menyunggingkan senyum. "Namanya Akriel. Agak aneh tapi orangnya seru."
Sekarang, di dunia ini yang Dara punya hanya ibunya. Tidak ada siapa pun lagi selain wanita itu. Baik ayahnya yanh sudah tidak ada lagi bersamanya atau semua temannya yang perlahan menjauh. Dara hanya sendirian.
"Ibu punya janji setelah aku lulus SMA, Ibu bakal nemenin aku pilih-pilih univeraitas, kan? Iya, janjinya emang udah lama pas aku SD dulu. Tapi, aku pengen janji itu terwujud. Meskipun Ayah—"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, ibunya malah memberontak membuat Dara terkejut. Dara yak tahu harus melakukan apa. Cewek itu hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak menyangka ibunya akan sehisteris itu. Tak lama para suster dan dokter bergegas berdatangan untuk menenangkannya.