Saito menahan kunyahan ikan bakar dalam mulutnya dengan alis tertaut. Sementara Liana terbatuk, terburu menepuk dirinya sendiri karena terkejut.
"Mereka akan pergi ke rumah kepala desa malam ini?"
Mia mengangguk menatap Saito yang diam. Kemudian pria itu meneguk air dalam gelas, meminumnya perlahan masih tanpa suara.
"Aku berniat mengajukan diri untuk ikut dan mereka melarangku." Mia mengakui dengan malu. "Aku tahu kemampuan ini tidak terlalu bagus tapi sekiranya dapat membantu cukup melegakan, kan?"
"Ke mana pun kau pergi, aku harus ikut." Liana menyahut dengan serius.
"Aku tidak bisa," balas Mia masam. "Mereka tidak membutuhkanku ada di sana. Arata akan berangkat bersama anggota itu ke rumah Sagara secepatnya."
"Siapa yang kau sebut dengan anggota?"
"Tidak semua dari bagian petinggi itu berhati hitam," Saito membalas dengan kedua mata terpejam. "Sebagian dari mereka berpikiran waras dan adil. Hanya saja lebih banyak menutup mulut. Kebanyakan karena menyukai uang dan berubah menjadi pengkhianat. Harta ternyata membutakan segalanya."
"Kau tetap di rumah?" tanya Liana pada Mia.
Gadis itu mengangguk, membereskan sisa makan siang mereka dengan Liana yang bergerak mencuci piring. Sementara Saito memindahkan meja kembali duduk setelah Mia memberinya segelas air minum baru.
"Salah satu dari mereka mengenalmu, paman."
Saito terlihat tidak terkejut. "Aku cukup populer rupanya," sahutnya lelah. "Sebagai mantan pemegang julukan legendaris, apa aku seharusnya berbangga diri?"
"Aku merasa senang, guru!"
Liana berlari dengan kedua tangan terangkat ke atas. Cengirannya terlihat segar dan berbinar. "Sebagai penerus pendekar Asakusa, aku serius menjadikan guru Saito sebagai panutan terbaik yang pernah ada."
Saito mendengus kecil. "Dasar gadis cilik. Kau berlebihan sekali."
"Dia bahkan tidak pernah memujiku sejauh itu," sungut Mia sebal dan Liana tertawa pelan.
"Liana, kemarilah."
Salah seorang murid dojo memanggilnya. Gadis kecil itu turun setelah melambai, menghampiri temannya untuk kembali berlatih. Saito bersandar dengan santai menghela napas berat.
"Ini tidak akan menjadi terakhir kalinya, Mia."
"Maaf, aku tidak mengerti?"
"Penderitaan ini," Saito menatap Mia dengan serius. "Satu timbul, berbagai perkara lain juga akan muncul. Aku menghormati keputusanmu menahan Arata tetap di rumah ini. Kau juga harus melihat risikonya."
"Aku paham, paman. Terima kasih atas sarannya."
"Aku dan Arata berbeda, begitu pula kau dan pria itu. Aliran yang kalian anut berkebalikan. Arata memilih jalannya sendiri dan begitu juga dirimu." Saito tersenyum setelah menepuk kepala gadis itu hangat. "Kau sudah cukup dewasa untuk memutuskan saat memilih melindungi manusia dengan cara medis dari pada belajar ilmuku lebih serius. Liana yang akan meneruskan mimpi itu."
Senyum Mia melebar tulus. "Aku percaya padanya. Dia mampu menjadi pejuang perempuan hebat di masa depan."
"Guru, di sini kami sudah siap."
Saito bangun dengan tarikan napas. Mendengar suara semangat Liana disusul murid lainnya membuatnya ikut terharu. Saat Mia menyusul, melihat Liana yang mengangkat kayu ke arahnya dengan berbinar.
Pagar kayu terbuka. Liana dengan senyum misterius menghampiri Arata secara mendadak, teknik sembarangan hanya untuk membuat pria itu terjatuh. Namun yang terlihat malah sebaliknya. Ketika benda itu terbang dan Liana yang terduduk, semua orang tercengang diam.
"Oh, ya ampun kau mengalahkanku."
Arata bisa menepisnya dengan mudah, menangkis kejutan hanya dengan satu tangan saat refleks Liana tidak bisa mengimbanginya. Saat gadis itu memberi cengiran, sama sekali tidak merasa menyesal atau tersinggung.
"Wah kau hebat sekali," puji murid lainnya.
Sorot gelap Arata turun untuk melihat tawa gadis kecil itu. Sudut bibirnya tertarik naik, menatap Liana dengan senyum tipis tak kentara.
***
Liana menatap Arata dengan sorot kagum. Mata cokelat gadis itu tidak bisa berbohong saat Mia mendengus, mencibir karena mengerti arti tatapan penuh minat Liana yang tidak biasa.
"Kau tidak mendengar paman memanggil namamu tadi?" tegur Mia dan Liana terkesiap, berjengit untuk menatap Saito yang berbalik. Memikirkan kalau dia baru saja mengecewakan guru terbaiknya, gadis kecil itu berlalu pergi untuk menghadap.
"Geto berasal dari Kyoto?"
"Hokkaido tetapi besar di Tokyo," Arata menatap katana miliknya dan melihat pantulan matanya yang gelap nan dingin dari sisi kanan. "Impiannya memang menjadi bagian dari petinggi era baru. Dia dulu pendekar sama sepertiku dan berhasil selamat."
Mia menautkan alis, menatap benda itu dengan menahan ringisan. Selama belajar dengan Saito, sang paman tidak pernah memakai apa pun yang bisa melukai mereka berdua. Sang guru selalu memberinya alat yang terbuat dari kayu, karya tangan Saito sendiri.
"Apa kau pernah kalah dari seseorang?"
"Ya, bukan pengecualian."
"Hingga nyaris menyerah?" tanya Mia lagi.
"Benar," balas Arata datar. "Sudah lama terjadi."
"Karena tenagamu tidak cukup lagi untuk berjuang?" Mia kembali penasaran. "Kau kelelahan hebat?"
"Karena merasa terkhianati."
Seharusnya jawaban itu cukup menahan rasa antusiasnya. Namun melihat ekspresi Arata yang berubah dingin dan kecewa, minat untuk tertarik tidak lagi terbendung. Mia membuka mulut berniat bertanya dan mengurungkan niatnya untuk membahas masa lalu.
"Apa kau tahu alasan keluargamu pergi malam itu?"
Mia menggeleng lirih. "Selama ini mereka selalu bersuara tentang masa depan tanpa berkompromi dengan penguasa lain. Menyingkirkan keluarga bangsawan adalah kunci utama. Aku tidak pernah tahu alasannya dan bagaimana caraku bertahan sejauh ini."
"Tidak hanya satu atau dua keluarga bangsawan yang menentang, tetapi puluhan dan mungkin ratusan karena tidak sejalan." Arata menjelaskan setelah memasukkannya ke dalam sarung. "Kekayaan mereka diambil, penerus ditiadakan dan hilang tanpa jejak. Cara mereka menyembunyikan kebenaran adalah dengan diam. Selayaknya dokter Kaza dan mungkin selanjutnya dirimu."
"Aku mungkin perlu bersyukur karena masih bernapas sampai detik ini?" Mia meneleng menatap pria itu dengan senyum lemah. "Kita bisa menganggapnya selamat dari petaka berulang kali."
Arata meliriknya singkat. "Mungkin saja besar karena harapan mendiang keluargamu. Kadang kekuatan dari keajaiban melebihi ekspetasi manusia itu sendiri."
"Apa pihak pusat tahu kau di Asakusa?"
"Mereka sadar dan berpura abai karena aku sedang tidak melakukan apa pun," Arata menatap bekas lukanya yang semakin membaik. "Dan mereka merasa lega karena aku tidak bergerak dan hanya duduk sebagai penonton."
"Setidaknya mereka tidak membawa atau merahasiakanmu di tempat lain." Mia menghela napas panjang bangun dari tempat duduknya untuk menimba air saat Liana muncul, membantunya mengangkat ember.
"Warna airnya berubah."
Mia membeku. Saat Arata bergerak turun dan mendekat lalu melihat warna yang seharusnya jernih sedikit pekat keunguan. Sang tabib gemetar, mendengar suara riuh dari balik pintu ketika Liana bergegas membuka dan mereka semua datang bersamaan meminta pertolongan.
Sagara sudah selangkah lebih depan dari mereka sejauh ini saat lengah.
***
Air bersih yang tersisa hanya di sungai. Para penduduk yang masih mampu berdiri dan memiliki kekuatan segera membawa air ke rumah Mia untuk mengobati penduduk lainnya. Keruhnya telah mencemari perairan rumah penduduk dengan cara aneh. Warna dan aroma yang tidak sedap memenuhi semua sumur. Arata meraih penutup sumur agar baunya tidak mencemari udara dan membuat pasien kembali sesak.
Liana membantu menyusun kain baru, mengompres para pasien muda yang kepayahan dan pucat. Saat Mia membantu meminumkan rebusan herbal dan tambahan cengkeh. Saito menuangkan air hangat ke dalam gelas memberikannya pada penduduk lain yang kelelahan setelah mengambil air sebagai cadangan utama.
"Biar aku yang mengantarnya, Anda bisa duduk untuk beristirahat sebentar."
Arata menghampiri salah seorang yang kelelahan karena keringat membuat bajunya basah. Pria paruh baya itu berbaring dan Saito langsung memberikan minum secara gratis, menepuk bahunya bermaksud menyemangati.
Arata mengisi seluruh ember kosong dengan air sungai. Memastikan semua pasokan sudah terpenuhi, dia melihat Liana yang berbincang menemani pasien kecil dengan ramah. Gadis itu mendengarkan cerita dengan baik, keluhan serta rasa sakit karena air itu membuat mereka kesulitan bernapas dan pingsan.
Geto datang bersama dua anak buahnya ke tempat praktik. Melihat pasien yang kebanyakan berasal dari golongan anak kecil dan lansia sedang berbaring dengan alas seadanya. Ada ruam kemerahan yang muncul setelah demam tinggi.
"Aku tidak tahu bagaimana menyebut manusia itu," sahut Geto tanpa senyum lagi. "Aku tidak bisa tetap di sini. Kita harus memberinya pelajaran malam ini."
"Apa pihak luar tahu tentang ini?"
"Aku sebisa mungkin memendam informasi. Mereka tidak perlu sadar atas apa pun. Peduli sekali dengan bayaran," geramnya.
Pandangan Geto tertambat pada Mia yang masih mencoba menyelamatkan pasien lain dengan susah payah. Membantu mereka tanpa lelah karena mulai menunjukkan perubahan. Tetapi penduduk masih terus berdatangan dan menguras sebagian tenaganya.
"Aku harus menyiapkan beberapa hal. Kau juga harus melakukannya," tatapan Geto beralih pada Saito yang memandangnya. Legenda dari Tokyo yang terkenal, Saito Yada.
Liana membantu Mia untuk meminumkan ramuan herbal pada mereka yang masih mengeluh sakit dan batuk. Meminta mereka untuk beristirahat selagi menunggu obatnya bekerja. Tak ada yang bisa menolong warga selain Mia dan kemampuannya. Mereka sangat bergantung kali ini dengan harapan cepat sembuh.
Saito menghela napas ketika melihat Geto berbalik untuk pulang bersama dua yang lain. Kemudian membantu memindahkan air untuk Mia di dapur.
Arata bangun untuk pergi melihat bagian belakang. Saito masih sibuk dengan ember, sedangkan Liana masih mendengarkan cerita penduduk Asakusa. Mia duduk sembari mencuci alat untuk ramuan herbalnya karena semua sudah terpakai. Semua orang menekuni kegiatannya sendiri.
Ketika gadis itu ingin menggeser sisanya yang telah kering, Arata lekas mengambil alih. Melihat kedua tangan kurus itu bergetar, Mia tampak panik dengan kejadian yang dengan cepat nyaris mengambil pihak tak bersalah dari Asakusa.
"Kau tak apa?"
Mia menggeleng, mencari tempat untuk duduk barang sebentar. Mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan. "Aku beruntung karena menemukan bahan lebih cepat."
"Bagaimana jika aku terlambat? Mereka dan warga lainnya tidak akan selamat, kan?"
Kedua matanya basah saat memandang Arata yang membisu. "Melihat mereka pucat sekali membuat seluruh tubuhku kaku."
Arata berbalik, menuangkan minuman ke dalam gelas dan memberikannya pada Mia. "Kau sudah mengatasi mereka semua dengan baik. Istirahatlah dulu sebentar."
Mia menerima uluran tangan itu dengan kepala terangguk kecil. Tidak bisa menahan lagi air matanya yang hampir tumpah. Ia menghapus sudut matanya yang berair dengan cepat, mengambil napas sedih.
***
"Kita harus melihat dengan yang memakai alat di tangan mereka."
Anggota Geto berhasil meloloskan penjaga di depan pintu. Mereka bisa ke dalam leluasa saat Geto membiarkan anggotanya mencari alasan dengan memicu Sagara dan lainnya untuk hadir. Ketika Arata menjadi yang paling akhir terlihat, matanya yang dingin mengamati Sagara sedang tertawa keras dari balkon lantai dua.
"Urusanmu selesai sampai di sini."
Geto tidak menahan lagi di hadapan Sagara yang pongah. Pria itu mendesis, memandang Sagara dengan sorot kekesalan pekat. "Kau manusia paling tidak tahu diri," celanya.
"Silakan, Tuan Geto. Aku akan menjamu Anda dengan senang hati."
Tepat setelah Sagara mengatakannya, puluhan pendekar muncul dari rimbunan semak yang tidak terduga. Geto bergerak, begitu pula anggota lain yang telah siap untuk membantu kelompok mereka.
Arata menghitung jarak untuk maju saat mereka semua mengacungkan tangan ke arahnya. Matanya yang gelap menilai pergerakan para pejuang sebelum mengambil sarung katana dan berlari melalui mereka dalam satu kali ayunan, membuat empat orang seketika mundur.
Geto mengeluarkan benda itu dengan serius. Ia tidak akan menghadapi mereka dengan alat baru miliknya. Isinya hanya sedikit dan tidak bisa membuang waktu di halaman rumah begitu saja.
Arata mendengar suara mesin dari pintu utama. Saat kedua matanya melebar, langsung berlari karena mendapat kejutan dari sebuah baranf besar di depan jendela. Sagara sungguh menyukai kekacauan ini.
"Jangan sampai ada yang terluka."
Geto menyemangati mereka saat Arata mengejar untuk melewati siapa pun yang menghalangi jalannya. Teknik sulit yang mengharuskan dia menepis banyak orang. Bukan ilmu kelas bawah sebagai bentuk pertahanan diri.
Arata membuka jalan setelah mengayunkan tangannya dan berhasil menahan mereka semua terhempas hingga berhamburan kabur. Kemudian berguling untuk masuk melalui jendela, berlari kencang demi memutus suara bising ke arah Geto dan anggotanya.
Ketiga pria itu terbaring tak berdaya. Arata membawa kedua kakinya pergi menaiki tangga. Mengingat denah yang Mia berikan sore ini sebelum dirinya berangkat.
Ruang rahasia. Gudang yang disebutkan Kaza dalam tulisan terakhirnya.
Dua orang lainnya membawa alat khusus yang sengaja mengarah padanya. Arata bersembunyi, mencari tempat kosong setelah meraih guci dan menjatuhkan dirinya dengan cepat untuk melesat bebas.
Keduanya berhenti dengan ringisan kecil. Arata berputar arah, menemukan pria bertopeng misterius tengah terkekeh pahit ke arahnya.
"Halo, Arata yang terbaik di kelasnya."
"Aku berharap ini dirimu yang asli dan tidak lagi bersembunyi dalam bayangan."
Pria itu tertawa semakin keras. Sorot matanya terpancar kemuakkan. Ketika menurunkan topengnya sendiri, melepasnya setelah mendengus pahit. "Kau melihatnya? Wajahku sudah tidak lagi berbentuk sama. Apa aku setampan dan sehebat dirimu? Aku beruntung karena Tuan Sagara menyelamatkanku dua tahun lalu."
"Usahamu akan berhenti detik ini juga."
Satu kejutan lain melesat tertuju pada dirinya. Arata bergerak, membiarkan benda itu mencium pada pintu kayu saat yang lain hadir. Tangkisannya mampu menepis dengan mudah, membuat beberapa lagi berakhir menjadi dua bagian.
"Julukan itu masih melekat sempurna ternyata."
Arata berpindah cepat, merebut busur dan membaginya dengan katan miliknya. Ketika melalui tubuh itu menjauh, mengulurkan tangan untuk berhenti. "Aku tidak akan terkecoh trik yang sama dua kali."
Ada benda mungil yang keluar dari mulutnya saat tertiup. Arata menunduk, terhuyung karena terbang mengenai sisi rambutnya dalam hitungan singkat. Saat lengan lain terulur, mencoba menjatuhkan katana dan Arata membungkuk berusaha menahan dengan cepat menyentuh titik penting, membuatnya mematung selama beberapa menit.
"Tidak akan kubiarkan."
Bahkan tangan itu tidak bisa menyentuhnya. Pria yang sebagian wajahnya telah kacau berkata keras, frustrasi karena gerakannya terbatas setelah Arata menekan nadinya. Dia masih mencoba maju, membuat Arata kepayahan dan kesulitan karena teknik sang pendekar lebih lihai darinya.
"Bagaimana bisa kau lolos dari neraka Kyoto pada saat itu?" pria malang itu terbatuk saat ujung tangan Arata mendekat. "Kau selamat dan berhasil hidup secara sempurna. Ini terasa tidak nyata."
"Aku masih merasa kosong sampai detik ini."
"Benarkah?" si pria muda itu kembali terkekeh karena merasakan ujung milik Arata semakin dalam. "Mengapa rasanya konyol bagiku? Kau seharusnya merasakan tempat yang sama denganku, kakak tertua."
Geto membuka pintu dan melihat keadaan yang kacau saat Arata berhasil menangani segalanya dengan sempurna. "Kita harus pergi untuk mencari Sagara sebelum dia berhasil keluar."
"Kau akan selamanya hidup sesuai gelarmu. Kegelapan pasti menantimu di masa mendatang."
Tangan Arata berhenti untuk menekannya. Ketika dia membawa tangan itu ke atas, mendengar suara yang lirih dan dengusan, lantai berubah warna dengan cepat.
"Kita harus berada di neraka yang sama, kakak."
Katana itu kotor saat pria itu akhirnya mengembuskan napas terakhir menyadari kekalahan dan malaikat maut di depan mata. Arata mematung selama beberapa menit, memandang sosok yang terbaring lemah dalam senyap.
Sepasang kakinya bergerak menjauh dengan bekas yang tercetak pada alas sandalnya. Arata termangu, kehilangan suara saat genggamannya pada pintu bergetar.
Lalu mendengar suara aneh berhamburan datang dari arah kamar berbeda, ia kembali meraih alam sadarnya kembali untuk segera berlari. Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu untuk saat ini.