Lorong itu sepi. Bukan sunyi yang membuat tenang, melainkan senyap yang menanti waktu hingga hancur. Geto memelankan langkahnya, melirik Arata yang diam sembari mengikutinya dari belakang.
"Kalau kau bisa melakukannya sekarang, itu lebih baik. Ada kemungkinan dia bisa melarikan diri. Aku juga akan menyingkirkan para pedagang picik itu."
Arata diam, tidak memilih bersuara.
Geto mengambil napas, mengintip ke dalam saat serbuan lain menghadangnya. Pria itu bergegas untuk berguling, menghindari kejutan baru dari alat manuver luar biasa milik Sagara. Pria menyebalkan itu telah menyiapkan diri untuk menghadapi mereka.
"Aku tidak akan kalah di sini."
Sagara memperbaiki cerutu dan rambutnya. Suara tawa yang membahana membuat geraman Geto terdengar semakin kasar.
"Aku yang akan masuk untuk memancingnya," kata Arata masih bersembunyi. "Kau bisa mengalihkan perhatian yang lain sembari bersembunyi."
"Apa kau mampu menghindari serbuan tadi?"
Arata menautkan alis tampak ragu. "Aku harus mencoba."
Kepala Geto terangguk. Setelah memberi instruksi untuk masuk, Arata menggeser langkahnya dan arah itu tepat pada perutnya. Pria itu menatap Sagara dan dua orang lainnya yang serupa memegang sesuatu berbentuk laras panjang tanpa ekspresi.
"Kau memutuskan menyerah saat ini, pengembara? Dasar lemah." Sagara menyelipkan kalimat celaan dan Arata tidak terkecoh.
"Aku baru pertama kali melihat jenis yang seperti itu," balasnya tanpa ekspresi. "Kau luar biasa karena memilikinya."
Salah satunya mendelik dingin ke arahnya. "Turunkan benda itu sekarang. Singkirkan alat aneh itu jauh dari dirimu. Kau harus membungkuk menyerah agar kami membebaskanmu dan tabib muda itu."
Arata menurutinya tanpa suara. Sementara Geto sudah bersiap untuk memberi kejutan mereka dari arah sebaliknya. Mendengar suara sarung yang mulai menjauh, senyum ketiganya melebar.
"Kau sungguh ingin menyerah? Ternyata semua pendekar sama saja. Hanya karena kalian tidak bisa menangkisnya, kalian mundur semudah ini?"
"Kau seharusnya meminta maaf kepada para penduduk." Arata mengangkat tangan saat ujung itu terangkat padanya. "Mereka tidak berbuat salah padamu."
Dalam gerakan singkat, Arata meraih satu guci besar ke arah ketiganya dan berlari menghindari seluruh halangan. Saat semua orang fokus padanya, Geto masuk dan melesat cepat untuk menghadiahi mereka dengan perlakuan yang sama. Tiga bunyi keras dan berhasil membuat dia ketiganya.
Sagara terbaring dan berniat bangun karena hanya melukai bagian bawah tubuhnya. Dia masih bisa bernapas dan berniat menyasar ke Geto saat tangan Arata terulur ke arahnya, menahan gerakan jari yang gemetar. "Pergi dari sini."
"Lepaskan dulu tanganmu."
Geto mendesis tepat di dua pria yang kalah telak. Kepala tim sektor dua memandang Sagara dengan datar, melewati pria itu sebelum mengarahkan ujungnya ke pelipis.
"Bergerak sedikit saja, kau sudah berakhir."
Sagara menepisnya dan Arata bergegas turun setelah menatap alat hebat milik kepala desa yang masih tersembunyi. Saat anak buah Geto memasuki ruangan, Arata memutuskan untuk pergi dan mencari tempat lain sesuai denah arahan dari Kaza yang ditulis untuk Mia.
Kedua kakinya berlari, menyusuri lorong yang besar dan membuka semua pintu yang ada. Sampai pada tepi yang gelap, mengambil seluruh perhatiannya.
Saat pintu terbuka, ada satu pria muda yang gemetar tengah memegang sebuah wadah. Arata mengerutkan alis, pintu itu semakin lebar dan melihat menantu Sagara sedang meminumkan sesuatu pada istrinya dengan perlahan.
"Kau sedang apa?"
"Ampuni kami," sang suami mengambil inisiatif untuk berlutut di depannya. "Aku akan ikut denganmu untuk menjelaskan sesuatu. Tetapi aku tidak bisa membiarkanmu menyentuh istriku. Dia sudah terluka karena tingkah ayahnya. Kumohon, lepaskan dia."
Sang pengantin wanita, putri dari Sagara ikut menangis histeris saat terbaring di tempat tidur sempit. Kedua matanya basah, menatap Arata dengan penuh permohonan. "Jangan sakiti suamiku. Aku meminta maaf padamu atas perlakuan keluargaku."
***
"Kami akan pulang ke rumah. Mia, terima kasih banyak atas bantuannya."
Mia menuntun perempuan paruh baya yang bersyal tebal dengan lembut saat sang cucu yang sudah besar membantunya. Keadaan para pasien yang terkena dampak dari air minum mereka sudah membaik dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah guna beristirahat. Mia memberikan ramuan untuk diminum rutin sampai keadaan mereka serius membaik.
"Tidak apa. Kau bisa mengurus nenekmu, kan? Jangan sampai dia melupakan obatnya."
"Aku yang memberikannya. Memastikan nenek cepat sembuh." Sang cucu memberi senyum manis sekali lagi, membungkuk berulang kali dan berbalik. Mia melihat mereka dari depan pagar dan melambai kecil. Itu pasien terakhir yang kembali hari ini. Dia bisa bernapas lega sekarang. Tempat praktiknya berubah kosong setelah kacau dan riuh.
Pintu kamar Arata bergeser dan pria itu muncul selepas membersihkan diri. Mia tidak tahu kapan dia kembali dan sudah berada di kamarnya. Semalam, ia juga cemas menanti.
"Aku mendengar kabar bahwa rumah Sagara kini ditutup." Mia membuka percakapan saat Arata duduk di teras, meluruskan punggungnya dengan kaku. "Semua orang sudah dibawa?"
"Geto menyembunyikan Sagara pergi ke suatu tempat."
Mia mengambil tempat cukup jauh dari pria itu untuk berbicara. "Bagaimana dengan yang lain? Putri dan menantunya?"
"Aku menemukan titik denah yang dokter Kaza tulis," kata Arata bersama kerutan pada keningnya. "Dia menyembunyikan sesuatu seperti gudang barang penting. Tanaman aneh itu ada di sana. Bertuliskan nama sesuai eksperimen. Geto bilang itu cukup signifikan dan pedagang kota besar mengambil pasokan dari Asakusa untuk didistribusikan ke wilayah lain. Sagara yang berbisnis tanaman tersebut."
Ekspresi Mia berubah sedih. "Lalu melakukan percobaan pada semua penduduk di Asakusa?"
"Ya, sebagian dari mereka telah tiada karena kelaparan dan kedinginan. Tak ada udara yang cukup dalam masuk ke sel tersebut. Tubuh mereka mulai berbau kurang sedap." Arata menghela napas panjang. "Kami tidak punya pilihan selain yang seharusnya. Ketakutan itu yang menghantui penduduk agar tetap diam. Mereka tidak berdaya dan tidak bisa bertindak lebih atas kepala desa itu sendiri."
"Tanaman itu bisa dijadikan obat pilihan di beberapa kondisi tertentu."
Mia menoleh, menautkan alis penuh tanya. "Apa maksudnya?"
Arata memutuskan untuk melamun. Saat Mia mengingat sesuatu, dirinya lekas tersentak. "Bagaimana dengan putri dan suaminya? Kau tahu di mana mereka?"
"Tidak," Arata menggeleng singkat, melepas tatapannya untuk melirik pintu yang terhubung ke dojo milik Saito. Liana dan temannya sedang berlatih.
"Di mana keduanya tinggal?"
Sorot kelam itu berpindah ke arahnya. Mia terlihat penasaran dengan keduanya. "Geto yang mengurusnya. Putri kepala desa tampak pucat setelah kejadian itu dan suaminya bicara jika dia memiliki penyakit dalam yang sulit disembuhkan. Selama ini ada dokter Kaza yang menanganinya. Apa itu benar?"
Yang mengherankan, Arata mengatakannya tanpa ekspresi apa pun. Mia menelan ludah resah, mengalihkan wajahnya ke objek lain karena gugup. "Kau benar. Aku percaya mereka berdua bukan orang yang sama seperti Sagara. Mereka diam saja karena Sagara sangat kuat dan memiliki banyak koneksi di dalam rumah. Istrinya meninggal karena selalu memikirkan tingkah suaminya."
Arata hanya mengangguk, tidak lagi menanggapi dan membiarkan Mia mengembuskan napas lelah.
***
"Permisi."
Geto mendengar suara riuh perempuan dari luar pintunya. Saat kepalanya menoleh pintu itu telah terbuka dan sang tabib muda muncul dengan wajah berseri. Gadis itu masuk setelah menyapa, mendekati seseorang dengan wajah iba. "Kau datang untuknya?"
"Ya," balas Mia cepat melihat menantu Sagara yang lusuh dan terlihat kurus membuatnya sedih. "Bagaimana kondisi Emi?"
"Dia lumayan sehat. Terima kasih untuk kalian karena membiarkannya tetap hidup," sang suami berkata dengan matanya yang berair. "Dia tidak bersalah. Selama ini dia melakukannya karena desakan Tuan Sagara. Bebaskan saja Emi, kalian bisa membawaku. Aku rela jika ini untuknya."
Geto menautkan alis tanpa ekspresi berarti. "Kau berkontribusi besar dalam bisnis mertuamu. Apa kau tahu kalau mereka dalang di balik hilangnya dokter Kaza?"
Kepala itu terangguk miris.
"Dia tidak melakukannya," kata Mia membuka suara setelah Geto menatapnya sinis. "Sang suami juga merasa takut dan dilema."
"Pekerjaan itu dijalankan secara tersembunyi dan penyebarannya sudah melampaui batas. Mereka mendapat bahan dari Asakusa dan mertuanya adalah pion," Geto menunjuk pria itu tanpa belas kasihan. "Dia yang mengurus sisanya bersama dokter Kaza dulu. Kau membelanya di depanku?"
Saat Mia menoleh, pria itu menunduk penuh rasa sakit. "Kau bisa memberinya balas setimpal, tapi bagaimana dengan Emi? Dia sedang sakit dan tak ada yang mengurus selain suaminya sendiri. Kau akan membiarkannya begitu saja di sana?"
"Kau harus tahu caranya bersikap, tabib."
Geto memperingatinya dengan dingin. "Permintaanmu atau kebaikanmu saat ini bisa menjadi bumerang bagi dirimu sendiri atau orang lain nanti," tegur sang anggota serius.
Mia membeku dan lidahnya mendadak kelu.
"Aku tidak apa, Mia. Terima kasih telah mengkhawatirkanku dan Emi." Sang suami menengadah menatapnya dengan senyum haru. "Emi menyesal karena telah menyakitimu. Dia sungguh ingin bertemu dan meminta maaf untuk segalanya."
Bibir gadis itu terkatup rapat. Saat Mia mendekat, memegang lengan pria itu dengan maksud menghibur. "Tenanglah, semua sudah berlalu."
"Kau tidak memiliki kerabat jauh? Istrimu bisa pergi ke mereka untuk sementara karena kami membutuhkanmu. Sagara harus melaksanakan prosedur atas kesalahannya."
"Hokkaido. Tapi terlalu jauh dan rentan. Aku menduga dia tak akan bertahan di perjalanan nanti," balas sang suami sedih. "Tidak ada pilihan bagus lain."
"Di mana dia?"
"Sebuah gubuk di tengah alas. Aku membawanya ke sana." Hiro, sang suami menjawabnya tanpa ragu. "Aku membuat tempat itu sebagai pelarian kami karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap seenaknya Tuan Sagara."
"Aku akan pergi untuk melihatnya setelah membawa beberapa obat dan makanan baru," Mia menunduk memberi pria itu senyum separuh. "Jangan cemas. Dia pasti kembali pilih. Kau akan pulang ke rumah setelah semua urusan ini selesai."
Geto menatap interaksi keduanya tanpa suara. Ekspresi wajahnya yang serius dan dalam memerhatikan secara rinci, mendetail tanpa melewatkan kode apa pun. Saat Mia memandangnya sang tabib membungkuk setelah mengucapkan terima kasih dan berlalu menjauh.
"Perlakuan mertuamu padanya sama sekali tidak beralasan. Hanya karena dia seorang tabib dan pandai dalam urusan herbal?" tanya Geto pada Hiro yang menunduk sendu.
"Ya, dulu keluarganya cukup berpengaruh. Saat hari massal besar itu, Tuan Sagara berhasil meloloskan diri dan melihat semua orang sudah tergeletak. Asakusa berubah menjadi awan merah. Semua orang kehilangan keluarga mereka dan menjadi kacau setelahnya."
"Generasinya berpengaruh?" Geto menekuk alisnya. "Seberapa kuat?"
"Sangat dan aku tidak bisa membahasnya saat ini."
Hiro menghela napas dengan gelengan meminta maaf yang dalam.