Saat Mia kembali, Liana sedang sibuk membersihkan kamarnya sendiri sedangkan Saito mengepel dojo tempatnya melatih para murid. Ia pergi ke dapur, melihat Arata sedang menyalakan api dari kayu bakar dan memeriksanya agar tetap hidup.
"Kau sedang apa?"
Pria itu melirik singkat. "Liana bilang ini harus dihangatkan. Aku membantu menyalakannya selagi dia membereskan kamarnya sendiri."
"Itu sudah cukup. Terima kasih."
Arata menggeleng. "Tidak apa. Aku seharusnya bisa membantu apa pun karena sudah menumpang di rumahmu. Kau tidak perlu merasa sungkan."
Kedua tangannya terulur untuk memindahkan wadah ramuan, menunggu sampai matang dan memindahkannya ke tempat lain. Memastikan semua bahan harus siap untuk dinikmati kapan saja jika ada yang meminta.
"Apa kau terluka?"
Alis Arata terangkat naik. "Tidak."
Gadis itu menggeser dirinya untuk mencuci tangan dari ember bersih, memeriksa beberapa bahan herbal yang sudah kering dan siap diolah. "Temanmu tetap akan membebani Hiro karena banyak membantu bisnis mertuanya. Aku harus pergi untuk melihat putri kepala desa nanti."
"Sendirian saja?"
"Ya," katanya seraya berbalik. "Dia sedang sakit keras, kan? Insiden itu tidak hanya membuat kulitnya memerah dan berbekas, kondisinya semakin parah setiap hari."
"Tanaman itu pada dasarnya membantu sebagai dasar mengobati penyakit. Tetapi karena penggunaannya berlebihan dan memiliki efek luar biasa, manusia telah sengaja menyalahi aturannya. Tuan Sagara melihatnya sebagai peluang bisnis. Ini yang membuat dokter Kaza merasa bersalah." Mia melanjutkan kalimatnya dengan gelengan muram. "Ladang uang yang merugikan banyak orang termasuk para penduduk sekitar."
"Mengapa kau mau menolongnya?"
Manik teduhnya menatap Arata lekat. "Aku tidak bisa berbuat sebaliknya walau dia pernah berbuat sesukanya padaku sebelumnya. Kau bisa membayangkan? Tinggal seorang diri dalam keadaan tidak berdaya dan lemah? Siapa yang akan mengurus? Kau pasrah begitu saja tanpa siapa pun tahu. Dia hanya punya Hiro dan suaminya telah ditahan untuk menyerahkan semua kesalahannya."
Arata mengambil napas, memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat Saito datang dan turun untuk menaruh gelasnya sendiri. Mia memerhatikan sang paman yang mampu melakukannya setelah mengeringkan tangan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Belum berubah," balas Mia dan Saito mengangguk. "Aku akan melihat Emi sebentar setelah membawa beberapa obat tambahan."
"Hiro mendapatkan apa?"
Arata meneleng. "Aku tidak tahu."
"Asakusa akan berubah sebentar lagi," ujar Saito setelah duduk, mengamati keduanya dengan pandangan datar. "Kacaunya bisnis Sagara bisa menimbulkan pertanyaan banyak pihak, termasuk dari kubu lain itu sendiri. Tempat ini pasti berubah dari damai menjadi gelap. Neraka baru karena seseorang berani mengusiknya."
"Kita tidak bisa diam saja?" Mia bertanya serius. "Melihat warga yang tidak berdaya harus menghadapi tingkah buruk para petinggi selama beberapa dekade. Aku juga baru memiliki keberanian setelah sekian lama bungkam."
Mata Saito menatap Arata sekilas. "Kau juga harus menjaga diri, anak muda. Kelompok pusat tidak akan tinggal diam terhadap pendekar hebat yang masih aktif, bukan? Terutama karena ketidakstabilan ini membuat mereka harus turun tangan untuk menyingkirkan sisa pahlawannya sendiri. Kau harus bertindak sesuatu sebagai pencegahan."
Mia melirik pria itu sesaat. Tidak ada reaksi saat Arata memilih diam, memutuskan untuk tak bersuara.
***
"Arata sudah datang."
Geto membuang bekas permennya dan meminta Arata mengikutinya sampai ke sel paling ujung. Sebuah tempat rahasia Asakusa yang hanya diketahui oleh beberapa orang. Kepentingan serta koneksi Geto tidaklah bercanda hingga dia mendapatkan akses untuk membiarkan Sagara di dalam tempat yang sempit dan pengap.
"Apa yang kau lakukan pada pria itu?"
"Dia memang perlu diberi pelajaran," balas Geto dingin. "Karena dia masih tak mau bicara dan selalu diam. Juga satu hal secara pasti, dia tidak pernah peduli pada putrinya sendiri. Dasar manusia aneh."
Sagara mendengus dengan wajah kacau memandang Geto. Ketika matanya bertemu tatap dengan sorot gelap Arata, senyumnya melebar angkuh. "Sang pejuang yang telah kembali. Aku banyak mendengar kabar tentangmu dan bertanya kapan sosok hebat ini hadir di Asakusa."
"Apa kau punya mimpi buruk di tempat ini, Arata?" tanya Sagara sinis. "Kota ini tidak seharusnya tersentuh dirimu. Sama halnya dengan Saito yang berubah, apa orang sepertimu juga akan berbalik arah? Kenapa kau merasa haus? Apa bedanya denganku yang haus uang?"
"Bicaramu mulai melantur."
Geto mengepalkan tangan dan mengejutkan Sagara sekali lagi sampai terbatuk. Saat Arata melamun dan membiarkan pintu itu kembali terkunci dan Sagara tertawa karenanya. Entah, bagian mana yang terlihat lucu.
"Kalau kau tetap tidak ingin bicara, bukan perkara besar. Aku masih akan mendapatkan informasinya secara mudah. Kau tahu dirimu hanyalah umpan biasa. Apa kau pikir sehebat itu?" kata Geto dingin sebelum berpindah, meninggalkan Arata sendiri di depan sel.
"Aku menahan menantunya di tempat asing. Keterangannya sangat membantu memuluskan pencarian yang lain. Saat kita bicara, pusat memang telah mendengarnya."
Geto melirik Arata yang mendekat. Tidak ada yang berubah dari raut dingin tersebut. "Penjelasan Hiro bisa sangat membantu, sama halnya dengan putrinya. Tetapi aku tidak bisa ketika keadaannya masih selemah itu."
"Mia yang mengurusnya."
"Tabib muda itu?" tanya Geto dengan alis terangkat bingung. "Aku sejujurnya penasaran karena dia terlihat tidak asing. Dilihat dari bentuk wajah dan cara bicaranya, dia dibesarkan dari keluarga terpandang. Hiro bilang kalau keluarganya sangat berkuasa di Asakusa sebelum kejadian itu datang."
Iris gelap Arata menatapnya sebentar. "Salah satu pemilik tujuh legendaris pernah mengabdi pada keluarganya. Kau bisa bertanya jika penasaran."
"Aku bisa bertanya sebab itu padamu," sela Geto cepat setelah menatap Arata datar. "Kepergianmu ke Asakusa bukan tanpa alasan, benar? Kau bekerja untuk mereka lagi?"
"Tidak."
Geto mendengus. "Kau tahu sosok sebenarnya ada pada siapa, kan? Apa kita akan membahasnya sekarang?"
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Arata menghela napas. "Tidak ada."
"Kau sudah bebas. Bukan milik siapa pun, tidak mentaati perintah apa pun. Kau bukan lagi manusia serupa seperti dulu," tambah Geto pahit. "Kini kau menjadi individu merdeka. Tetapi rasanya mustahil karena kau hidup dalam pelarian selama ini. Mengapa kali ini memutuskan untuk terlihat?"
"Aku akan kembali kalau urusannya sudah selesai."
Arata memilih untuk berbalik, memutar tubuhnya dan bersiap pergi membiarkan Geto bersama anak buahnya.
"Lambat laun mereka akan mendengar tentangmu, Arata. Segala upayaku akan percuma. Sebelum itu terjadi kau harus mempersiapkan dirimu sendiri. Berusahalah untuk terbuka. Kau tidak bisa terus kabur tanpa tujuan, kawan."
Kepala Arata menoleh, memandang Geto dingin tak tersentuh. "Aku akan berusaha mencari jalan terbaik."
"Jangan libatkan gadis itu lagi. Kau bisa menginap di rumahnya, tetapi dalam duniamu yang pelik, kau tidak bisa membawanya ke sana. Itu bukan bagian atau sesuatu yang perlu ditanggung."
Geto melihat sosok itu perlahan menjauh.
***
Mia memeriksa selimut di setiap kamar, menggantinya dengan yang baru dan lebih bersih. Dimulai dari kamar Saito, berpindah ke Liana dan Arata yang terakhir.
Malam semakin larut dan Arata yang masih terjaga. Saat Liana sudah pulas dan Saito sudah terlarut dalam alam mimpinya sendiri, pria itu masih setia menatap malam tanpa bintang dalam senyap.
"Aku berniat mengganti selimutnya dengan yang baru," kata Mia membuka suara karena melihat pria itu melamun, tampak berpikir sesuatu.
"Apa kau pernah berpikir sekali saja untuk membalas kehilangan keluargamu?"
Gerakan tangan Mia berhenti saat kalimat itu meluncur bebas. Kain bersih itu masih setia berada dalam genggamannya.
"Tidak."
"Sama sekali?" tanya Arata kaku.
"Tidak ada dan itu tak penting."
"Saito yang mengajarkanmu untuk merelakan?"
"Bukan," balasnya sendu.
Arata menoleh sembari mengerutkan keningnya. "Lantas?"
"Mendiang ibuku yang mengajarkan bagaimana caranya memaafkan dan mengikhlaskan sikap seseorang semasa hidupnya," balasnya getir. Mengusap selimut bersih itu sebelum menaruhnya ke lemari. "Tidak ada pembalasan, tak ada rasa sakit yang berlebihan di masa lalu. Kematian dan kehidupan adalah hal yang mutlak, sesuatu yang wajar karena berasal dari takdir."
Arata terdiam.
"Dia seseorang yang penuh kasih. Ibuku penyayang dan dia baik terhadap semua orang. Aku tak pernah tahu alasannya pergi malam itu. Saat itu semuanya gelap, dunia yang kulihat masih tetap sama seperti sebelumnya dan terasa semakin pekat."
Kepalanya tertunduk dan Mia merasakan sengatan panas menyentuh kedua matanya. Ini sudah lama berlalu dan mengenangnya hanya membuka lembaran luka lama.
"Ini alasanku tidak terlalu peduli dengan era baru atau apa pun di masa depan. Aku hidup untuk diriku sendiri dan orang lain. Ibu selalu bilang kalau diriku sama berharganya dengan manusia lain."
Suara gemerisik katana mengalihkan perhatian Mia. Gadis itu terburu bangun, menutup lemari dan bersiap mundur dari kamar Arata.
Suara Arata yang dingin menahan langkahnya diam di tempat.
"Aku sebatang kara saat ditemukan. Sama seperti kisah para pendekar pada umumnya, aku juga berlatih agar kuat dan dipercaya untuk bekerja demi uang dan sesuap nasi. Aku sangat membutuhkannya untuk bertahan hidup dari segala kesulitan."
Mia menoleh menatap pria itu lekat. "Kau punya kerabat?"
"Ya, kami dua bersaudara. Saat itu terjadi, kami berdua terpisah satu sama lain. Aku mendengar kabarnya yang telah tiada dan tak pernah menemukan makamnya."
"Apa ini penyebab kau mengembara? Mencari makam saudaramu di kota lain?"
Arata memutuskan untuk bergeming, tak lagi bersuara saat kepalanya menoleh memandang langit malam tanpa bintang.
Melihat mimik wajah itu dari samping, banyak spekulasi yang membanjiri kepala Mia saat ini. Termasuk luka dan bagian masa lalu Arata yang membuatnya mendapat julukan bertangan dingin, pejuang yang tidak kenal ampun. Tuan Sagara mengenalnya dan orang berkuasa juga tahu siapa dirinya. Masa lalu pria itu pastilah gelap, kelam yang tidak terjamah siapa pun.
"Asakusa tidak akan sama lagi setelah mereka tahu siapa diriku."
"Kurasa penduduk akan bergosip tentangmu. Tetapi di sisi lain, kau menolong mereka semua dengan menghentikan tindakan tidak bermoral Tuan Sagara. Kepala desa itu kini ditahan dan semua orang merasa gembira karena dirimu."
Mia melihat ada piring dan gelas kotor di atas meja. Gadis itu menghampiri, merapikan meja dan berjalan pergi saat Arata memegang tangannya, meminta untuk menetap sebentar.
"Terima kasih."
"Karena mengganti selimut kamarmu?"
Kepala Arata tertunduk, tercekat saat menyadari dia menyentuh gadis itu. Setelah hampir menggoreskan katana pada Mia secara refleks, tidak sepantasnya dia menyentuhnya.
"Kebaikanmu."
"Itu semua setimpal," balas Mia dengan senyum setelah bangun. Membiarkan pintu itu bergeser dan dirinya masuk ke dapur, merendam bekas kotor dalam diam.
"Bagaimana warna langit?"
"Kau penasaran? Hm, coba kau tebak. Biru, oranye atau kuning. Mia mau mencobanya?"
"Apakah berwarna biru?"
Sang ibu tertawa ringan. "Tepat sekali. Birunya serupa dengan warna air laut. Langit adalah pantulan cermin samudera yang lepas dan bebas. Luas sekali, bentuknya indah dan tak terbatas. Mia bisa merasakannya, kan?"
"Aku bisa memeluknya."
Keduanya tertawa bersama, melepas canda satu sama lain saat merasakan pelukan itu mengencang. Mia kecil hanya mampu meringkuk, membalas dekapan sang ibu sama eratnya.
Kenangan itu mendadak muncul, menguras hatinya. Mia berdiri setelah membersihkan piring dan gelas, menyingkir untuk menenangkan debaran pahit. Saat sebisa mungkin membekap mulutnya yang terbuka, mulai mengeluarkan isakan. Ia merindukan ibunya.
Rasanya berat dan melelahkan pasca kehilangan keluarga mengguncang kehidupannya. Mia merasa dunia tidak lagi sama. Berbeda dan jalan yang ditempuh semakin terjal dan berliku. Namun Saito selalu bersamanya. Sang paman yang baik hati mau mengurusnya, mendengarkan rasa sakitnya dan membawa Mia pada kehidupan lebih baik. Mengamalkan semua ajaran sang ibu dengan serius demi kepentingan orang lain.
Air matanya tumpah, tidak lagi tertahankan.