Liana menghabiskan sisa sarapannya dalam diam. Melirik mangkuk Saito yang telah tandas, gadis itu terburu menyantap sisa nasi dan lauknya.
"Kau tidak perlu begitu, Liana." Saito menegurnya dengan senyum tipis.
Sedangkan Mia berpaling, memandang kamar Arata dari dapurnya saat jendela itu belum terbuka. Sang pengembara belum bangun dari tidurnya dan Mia sudah menyisakan bagian sarapan untuknya.
"Kau tidak memakai gelang pemberian mendiang ibumu, Mia."
Gadis itu tersentak, terkesiap dan lantas menunduk menatap kedua tangannya sendiri. Menyadari bahwa Saito memerhatikan gelang perak hadiah dari sang ibu dulu. "Aku memilih menyimpannya."
"Mia pernah menjatuhkan gelangnya dan yang menemukannya adalah Arata," sahut Liana setelah menghabiskan nasi dan lauknya. "Dia sangat ceroboh dan tidak akan mengulanginya lagi."
"Diam," sahutnya. Liana terkekeh.
Mia menghampiri meja makan. Melihat Liana yang bangun dan membereskan bekas alat makan mereka. Gadis kecil itu juga mengambil tugas untuk mencuci piring seperti biasa. Memberikan dua gelas air minum kepada Mia dan Saito secara bersamaan.
"Kau semakin mahir dari hari ke hari." Saito memujinya dan Liana tersenyum malu, salah tingkah.
"Liana, kemarilah bergabung."
Seseorang memanggil namanya. Gadis itu bergegas dari dapur, berlari untuk mencari sumber suara dan menemukan lelaki bernama Yuda melambai, membawakan satu batang untuknya. Dia mengajak Liana bermain sebelum mereka berlatih.
"Kau datang lebih pagi hanya untuk ini?" tanya Liana terperangah. "Luar biasa. Aku butuh waktu lima menit untuk menarik napas sejenak."
Yuda tertawa malu. "Aku tidak akan kalah lagi darimu."
Mia menatap keduanya dengan hangat. Menelusuri pemandangan bagian depan rumahnya dalam diam. Saat Saito menghabiskan air minumnya, ikut memejamkan mata santai.
"Kau hendak pergi melihat putri kepala desa?"
"Ya, aku harus melihatnya sebentar setelah ini." Mia berkata setelah menatap Saito sekilas. "Lukanya nyaris tujuh puluh persen dan Emi tidak bisa berbuat banyak. Aku tidak ingin memikirkan masa lalu kami yang sempat berselisih paham, dia sudah meminta maaf berulang kali tanpa jeda."
"Suaminya ditahan?"
Kepala itu menggeleng. "Katanya hanya untuk dimintai keterangan. Aku tidak tahu secara pasti."
Pintu bergeser dan Mia menahan napas saat melihat pria itu telah bangun dari tidurnya. Arata menatap sekitar, mengambil napas dalam dan matanya bertemu pandang dengan mata teduh Mia. "Arata sudah di sini."
Saito ikut menoleh, menatap pemuda yang singgah di Asakusa dan mendapat tempat untuk tidur sekaligus berteduh dari seorang tabib terkenal. "Kemarilah, Arata. Kau harus duduk dan sarapan sebelum memulai hari."
"Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu."
Tatapan Mia masih setia mengikuti. Sampai satu waktu Saito melihat jelas gadis itu dengan kuluman senyum samar. "Kau terlihat sangat kasihan padanya."
"Dia pasti punya alasan melarikan diri dari satu kota ke tempat lain," kata Mia lirih, menghela napas pendek. "Masa lalu yang tidak terlupakan. Mengapa aku melihatnya sebagai rasa bersalah? Ini sebagai bentuk penebusan dosanya?"
Saito mengulas satu senyum hangat kala tangannya terjulur untuk mengusap kepala gadis itu. "Kau tidak perlu memikirkan apa pun tentang Arata. Penebusan atau perjalanan mencari jati diri dan jawaban bukan urusanmu. Kau tidak perlu terlibat dengan bagian kelam dirinya."
Mia tertunduk, memejamkan mata dan mengakui kesalahannya setelah mengangguk.
"Dia juga tidak akan membiarkanmu masuk. Begitulah para pendekar memilih melanjutkan hidup. Kami sekarang sebagai ronin, pejuang tanpa tuan. Aku dan Arata serupa tetapi jalan kami jelas berbeda."
Setelah mengatakannya, Saito memutuskan untuk bangun dari tempat duduknya dan menyusul Liana di dojo tempat berlatih, kembali beraktivitas seperti biasa.
***
Mia berhenti berjalan, menoleh pada Arata yang ikut menahan kedua kakinya untuk diam saat gadis itu mendadak berbalik ke arahnya. "Kau tidak perlu pergi bersamaku melihat Emi."
"Aku penasaran dengannya."
"Kau sudah melihat sebelumnya," balas Mia santai. "Kenapa mau bertemu lagi?"
"Aku melihatnya saat masih bersama suaminya dan sekarang dia sendirian." Arata menukas dengan pendapatnya yang membuat Mia terdiam seribu bahasa.
Gubuk itu cukup jauh dari permukiman penduduk. Kalau Emi membutuhkan bantuan, dia harus berjalan sedikit lebih jauh. Semenjak kejadian tersebut, banyak dari warga Asakusa memilih untuk tidak peduli dengannya lagi. Siapa pun yang menjadi bagian dari Sagara akan dikucilkan. Sanksi sosial yang harus Emi dan Hiro jalani selama dalam pelarian mereka sementara waktu.
Arata mengamati hutan bebas di sekitar rumah lebih serius. Saat Mia menurunkan tubuhnya sedikit, mengetuk pintu dan membukanya secara bersamaan. Ruangan yang kecil dan gelap menjadi objek perhatian Arata kali ini.
Putri Sagara terbaring lemah, tidak berdaya dan tersenyum pucat melihat kehadiran Mia. Rautnya melunak, melembut dan penuh rasa haru karena seseorang mau berbuat baik untuknya. "Kau kembali, Mia. Terima kasih banyak karena mau datang."
Mata cokelat madu Emi melirik Arata yang berdiri di dekat pintu masuk. Sudut bibirnya tertarik untuk menyapa lemah. "Kau datang bersama seseorang, Mia."
"Dia juga ingin melihatmu."
Emi menangis dengan senyum menyesal. "Aku sudah merasa lebih baik. Aku terharu karena kau telah mencemaskanku."
"Kau tidak perlu memikirkan apa pun," kata Mia setelah membasuh wajah Emi dengan kain hangat yang telah direndam sebelumnya. Mia membawanya dari rumah, mempersiapkan kebutuhan Emi sebelum pergi menjenguknya. "Hiro akan kembali. Kau hanya perlu menunggunya sebentar lagi."
"Hiro akan kembali? Syukurlah." Air mata Emi kembali menetes. "Mereka tidak akan melukainya, kan? Hiro tidak melakukan apa pun. Dia selama ini bekerja untuk ayah hanya karena keadaan. Ayah sengaja menekan dirinya dengan cara tak pantas."
"Aku tahu," jawab Mia ramah.
Kondisi wanita itu jauh lebih menyedihkan. Emi tidak seperti mempelai pengantin perempuan yang memakai gaun mahal sebelumnya. Saat pertama kali Arata melihat iringan pengantin dan para penduduk berpesta. Wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih terpuruk. Kondisi luka, tubuh yang kurus seolah hanya terbalut kulit dan tulang.
"Aku membuat sarapan untukmu. Kau perlu mencoba menelannya dengan perlahan. Ini sedikit lembek dari sebelumnya. Aku masih berlatih membuat bubur dengan sempurna," kata Mia membuka wadah tempat makan dari kayu. Arata mengamati interaksi keduanya dalam diam. Selama percakapan di antara mereka, Mia yang lebih aktif berbicara. Gadis itu beberapa kali membuka topik teranyar dan Emi hanya menanggapi sekenanya. Tetapi sorot mata wanita itu tidak mampu berbohong. Emi merasa senang dan bersyukur karena Mia menemaninya. Mau merawatnya selagi Hiro dalam masa tahanan.
Emi melirik Arata yang membawa tubuhnya untuk pergi. Sinar matanya meredup saat menatap Mia yang menunduk, mempersiapkan ramuan obat untuknya.
"Kau membiarkan seorang seperti dia tidur di rumahmu?"
Mia mengembuskan napas, mendongak menatap Emi yang penasaran. "Aku tidak tahu siapa dia sebelumnya. Saat kami pertama kali bertemu, dia menyebut dirinya sebagai pengembara biasa. Dia berkeliling tanpa tujuan."
"Dia pendekar tanpa tuan?" Emi mengulang pertanyaannya. "Seorang ronin terlatih. Sama seperti guru Saito, pamanmu."
Lagi Mia hanya mengangguk kecil.
"Kau orang baik, Mia. Semoga semesta melindungimu dari mereka yang berniat buruk padamu." Emi berkata tulus, menerima ramuan obatnya dan tersenyum manis.
***
Arata memutuskan untuk pergi ke ladang tempat tanaman itu ditanam. Saat melihat Geto dan anak buahnya, mereka memasang kawat hitam agar siapa pun tidak bisa menyentuh tempat kotor ini lagi. Geto membuatnya sebaik mungkin sebagai himbauan terhadap penduduk Asakusa yang berniat membuka lahan baru bagi kepentingan pribadi atas nama bisnis.
"Sebelah sana. Kau juga harus memasangnya dengan benar," Geto meminta anak buahnya untuk memasang pagar itu dengan baik dan erat. Tidak ada celah yang bisa membuat siapa pun masuk, kecuali orang itu sangat berbakat.
"Kami mengambil semua barang milik kepala desa. Rumah itu dikunci selamanya dan siapa pun tidak akan datang. Aku menginginkan agar rumah itu habis tanpa sisa."
Arata menatap Geto yang menggeser tempatnya berdiri. "Bagaimana dengan Hiro?"
"Oh, aku belum memberitahumu itu. Dia memberikan banyak keterangan tentang bisnis mertuanya sendiri. Sedangkan perihal kejadian sebelumnya yang ternyata disengaja. Sagara memang berotak licik. Dia rubah sebenarnya."
"Putrinya terluka karena itu. Bekasnya nyaris tujuh puluh persen parah. Selama ini Kaza yang mengurusnya," kata Arata memberi penjelasan.
"Kaza dan Hiro, suaminya sendiri. Pemuda itu cukup setia dengan keadaan mengenaskan istrinya sendiri." Geto berkacak pinggang, mendengus menatap ladang besar yang menjadi tempat uang bagi Sagara dan pebisnis lain dari luar kota. "Aku menahan tempat ini sebagai lahan pusat. Tidak akan ada tanaman atau bahan aneh itu lagi. Sagara akan dituntut keras atas penyalahgunaan kekuasaan. Dia harus mendapatkannya."
Arata melihat sawah itu kini telah mati. Tidak ada tanaman yang tersisa saat anak buah Geto bekerja keras membersihkan semua tempat setelah mendapat keterangan dari Hiro seutuhnya. Tidak menyisakan apa pun untuk dipetik. Mereka menyapu bersih semua ruangan termasuk rumah kepala desa.
"Kau akan kembali ke Tokyo setelah ini?"
"Urusanku belum selesai di Asakusa," jawab Geto serius. Melirik Arata yang bergeming. "Aku perlu melihat beberapa hal yang terjadi termasuk kehidupan lain para pejuang yang mengacau di Asakusa. Apa mereka masih bekerja hanya untuk menjadi pesuruh pihak lain?"
"Aku tidak tahu," sahut Arata datar.
Geto menarik napas berat, menghadap Arata dengan raut yang lebih keras. "Aku seharusnya tidak perlu mencemaskan apa pun selama kau di sini menetap di Asakusa. Tetapi melihat dirimu dalam pelarian dan masih terus pergi menghindari seseorang, aku rasa ini akan menjadi tugas sulit."
Kedua mata Arata lekas memicing. "Aku tidak sedang berlari dari seseorang."
"Kau nyaris tiada sepuluh tahun lalu di Kyoto."
Ingatan itu kembali menghampiri kepala Arata bagai angin masa lalu. Geto tidak akan menepis kesempatan untuk kembali membuka luka lamanya.
"Siapa pun yang memiliki kekuasaan tertinggi, akan berlomba demi mendapatkanmu. Kau masih berguna untuk mereka, siapa pun dirimu saat ini dan bagaimana orang yang kau hadapi nanti."
Kepala Arata tertunduk, menatap sandalnya sendiri saat Geto memerintahkan anak buahnya untuk mundur dan kembali ke markas.
"Hingga kau memutuskan untuk tidak lagi memegang katana, mereka akan tetap mengejarmu selayaknya buruan. Era baru sudah terbentuk tetapi manusia sepertimu tetap menjadi singgungan. Negara ini tidak akan stabil dengan peringatan dari dalam seperti kalian."
Geto menautkan alis, memandang Arata yang balas memberikan tatapan datar ke arahnya. Seakan dirinya tidak terpicu atau terpengaruh atas kalimatnya.
"Sagara akan diberi balasan setimpal. Begitu juga dengan Hiro. Keputusannya telah dibuat. Kabari sang istri kalau suaminya akan mendapat kejutan sebentar lagi."
Tubuh Arata membeku sempurna.
***
Geto membiarkan sel bawah tanah itu terbuka dan melihat Hiro duduk di dalam ruangan yang sempit dan kurangnya ventilasi udara membuat tubuh kurus pria itu semakin tampak menyedihkan.
Pandangan Arata menyelimuti Hiro tanpa arti. Manik gelapnya termenung, melihat bekas yang cukup dalam nampak menakutkan. Sepertinya Hiro sudah dibungkam sebelum dirinya tertangkap oleh Geto dan anak buahnya.
Dia sungguh tidak mampu berbuat lebih.
"Kau di sini?"
Geto menunggu interaksi keduanya dalam lirikan. Saat Arata bicara ingin bertemu dengan Hiro sebelum tanggal, Geto memberi izin dan membawa sang pengembara untuk menemuinya.
"Bagaimana kabar Emi? Istriku, apa dia lebih baik dari kemarin?"
Arata seakan kehilangan suaranya. Sedangkan Hiro menatap sendu ke arahnya. Penderitaan ini seolah tidak cukup untuknya, dia perlu bertahan sebentar lagi sebelum berakhir.
"Tabib itu menjaganya. Selama kau di sini, dia yang merawatnya." Geto menyahut karena dirasa Arata tidak kunjung berbicara.
Hiro mengulum senyum haru, mengangguk tipis dengan kedua matanya berair basah. Bibir pucatnya bergetar, memandang Arata dan Geto dengan rasa haru yang kental.
"Terima kasih karena telah menjaganya selama aku masih di tempat ini."
"Kau ingin menyampaikan sesuatu padanya?" Geto mengendik pada Arata yang melamun. "Bicara apa pun dan dia akan bilang segalanya pada istrimu."
Hiro mencoba duduk lebih tegak, tidak peduli bagaimana rasa sakitnya sendiri. Ketika Arata menunduk, menghela napas datar. "Aku ingin sekali bertemu Emi untuk terakhir kalinya tapi jika tidak diberikan, aku tidak bisa menolak. Beritahu dia untuk tetap bertahan. Aku sangat mencintainya. Dia pantas untuk hidup lebih lama setelah semua ini. Dia harus bahagia bagaimana pun caranya."
Geto menautkan alis melihat permohonan pria itu teramat sederhana. Kedua matanya menatap Arata penuh harap, berharap kalau dia serius menyampaikan semua kalimat itu pada istrinya di rumah.
"Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaganya sebaik mungkin dan membuatnya semakin terguncang. Aku yang harus menanggung segalanya. Biarkan dia terbang dan menjalani hidupnya." Hiro membungkuk lebih dalam pada Arata. "Terima kasih atas segalanya. Sampaikan salamku pada Mia. Aku juga ingin bicara langsung dan meminta maaf."
Ekspresi wajah Arata tidak mampu terbaca. Anak rambut gelapnya turun menutupi sisi wajahnya yang dingin. Geto memejamkan mata, membuang napasnya perlahan saat mengulurkan tangan dan meminta Arata untuk pergi. Waktu pertemuan telah habis dan ini saatnya kembali.
Hiro melepas satu senyuman tulus padanya. Arata mengamati pria itu lekat sebelum berjalan menjauh, membiarkan pintu yang terbuat dari baja kuat itu terkunci rapat.
"Kau akan bicara pada istrinya nanti, bukan? Dia sudah menitipkan banyak pesan untukmu. Kau harus pergi sebelum cuaca berubah lagi."
"Bagaimana dengan Tuan Sagara?"
"Dia lebih parah dari menantunya sendiri. Aku membuatnya merasakan sakit sebelum hari itu tiba. Jika perlu dia memohon untuk segera saja dari pada terus mendapat cobaan," Geto membalas dengan ringisan kecil. "Pria tidak tahu diri itu layak mendapatkannya. Semua tindakannya telah tertulis dalam dokumen dan harta miliknya akan disita pusat."
Arata melirik tatapannya sekali lagi pada sel tempat Hiro tidur. Pria itu sama sekali tidak terlihat menyerah walau sorot matanya menunjukkan bahwa dia sangat lelah. Sudah berpasrah akan nasibnya sendiri.
***
Mia memandang punggung Arata yang mulai semakin jauh. Pria itu berjalan lebih dulu tanpa perlu menunggunya. Kemungkinan besar Arata sedang berpikir, melamunkan sesuatu sampai membiarkannya berjalan seorang diri.
Setelah Mia menemui Hiro, mengobati pria itu dan memberi kabar pada Emi bahwa suaminya akan kembali, wanita itu sangat bahagia. Rasa senang sekaligus lega terlihat jelas di wajahnya. Tetapi ketika melihat Arata, ada kontras yang melumuri wajahnya dan rasa asing itu membuat Mia bertanya.
Saat Geto membiarkan Hiro bebas dan kembali bersama istrinya, senja sudah tiba. Sebentar lagi malam dan Liana menunggunya dengan khawatir bersama Saito. Mia harus kembali, namun di sisi lain tak lagi mampu membendung rasa penasarannya.
"Kau mau ke mana?"
Langkah pria itu belum juga berhenti.
"Hei, jawab pertanyaanku."
Arata berhenti sejenak. Menoleh ke samping dan tidak melihat Mia ada di sana. Tubuhnya berputar, melihat gadis itu berhenti dan mengendik pada restoran murah yang ada di Asakusa.
Gadis itu masuk ke dalam restoran dengan senang. Sebelah alis Arata terangkat naik, memastikan bahwa Mia serius masuk dan membiarkannya sendiri di luar.
"Selamat datang kembali."
Arata mengamati seisi ruangan dan melihat Mia sudah duduk, menyediakan satu tempat kosong lain untuknya. Saat gadis itu tengah memesan, mata mereka bertemu.
"Kau lapar?"
"Ya, kau sendiri?"
"Tidak terlalu," akunya setelah mendapat tempat.
"Aku juga memesan untuk Liana dan paman. Kita bisa menyantapnya berdua." Mia melihat dapur yang terbuka dan kepulan asap muncul dari kayu rumahan. "Aku lumayan tidak bisa menahannya."
Arata hanya memandangnya. Beberapa menit menatap wajah gadis itu tanpa peduli pada apa pun. Seakan dunia yang bergerak di sekitarnya perlahan memudar, tergantikan dengan eksistensi lain yang lebih baru dan segar.
"Apa?"
"Tuan Sagara akan mendapatkan karmanya."
"Geto sudah bicara padaku. Dia juga mengambil semua aset milik kepala desa dan Emi tidak lagi peduli. Dia hanya ingin hidup tenang bersama suaminya." Mia menghela napas lelah. "Mereka berniat pergi sangat jauh dari Asakusa."
Pandangan Arata turun untuk menatap kedua tangan kurus gadis itu. "Kau tidak memakai gelang itu lagi."
"Aku menyimpannya. Setelah insiden benda itu terjatuh sembarangan, aku cemas jika tidak bisa melihatnya lagi. Gelang itu sangat berharga," balas Mia dengan senyum mengusap tangannya sendiri. "Akan lebih baik jika aku tetap membiarkannya ada di rumah."
Gadis bertubuh gempal agak pendek mendekat. Senyumnya yang ramah merekah saat mendekati meja Mia, menyusun mangkuk dan peralatan makan dengan cekatan.
"Senang melihatmu di sini, Mia."
"Ibumu sudah lebih baik?" tanya sang tabib hangat.
"Sudah. Terima kasih banyak karena telah membantunya. Dia sangat senang kembali pulih dan bisa bekerja." Gadis itu mengangguk pada Arata secara sekilas sebelum bangun dan membiarkan mereka menyantap makanan yang telah tersaji.
Pandangan Arata mengitari ruangan dan terpaut pada Mia yang menunduk, mengaduk panci yang penuh berisi dengan olahan, tofu, jamur enoki dan aneka sayuran tambahan lainnya sebagai pelengkap. Gadis itu menambahkan semua bahan dengan serius, menunggu sampai semua merata.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?"
Sang pengembara terlihat bingung. Tetapi terbantu berkat ekspresi wajahnya yang datar. "Tidak ada."
Mia menjauhkan sumpitnya dengan tarikan napas dingin. Memandang Arata cukup lama saat pria itu mengambil mangkuk, membuka sumpitnya sendiri dan menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Geto bilang kalau kau meminta padanya untuk melepaskan Hiro dari bayangan pembalasan. Karena yang bersalah atas segalanya adalah Sagara, dia juga tidak serius melakukannya."
Saat Arata menengadah Mia memberinya seulas senyum simpul. Kemudian menyadari bahwa gadis itu belum selesai bicara.
"Aku percaya kau orang baik sebenarnya."
***
Arata melamun memandang tulisan besar yang ada di dalam dojo milik Mia. Ukiran yang menjadi pedoman keluarga bangsawan itu hidup selama puluhan tahun. Ajaran yang kini diturunkan Saito kepada anak muridnya. Sebagai mantan pendekar hebat yang kehilangan tuannya, Saito memilih mengabdikan dirinya pada dojo keluarga bangsawan tersebut sembari mengurus Mia yang sebatang kara.
Dari lentera serta cahaya bulan yang menerangi malam, dojo bersih tersebut terlihat bersinar. Warisan keluarga bangsawan yang berguna bagi masa depan banyak orang. Saito benar, ilmu itu tidak akan pernah lekang oleh waktu. Kayu hanya sebagai alat, bukan kunci utama.
"Kau belum tidur," kata Saito setelah masuk menatap Arata yang masih setia berdiri menatap tulisan besar di depannya dalam diam. "Apa tidak lelah seharian ini?"
"Dia bilang tidak ingin membalas rasa sakitnya dari masa lalu."
Seolah tahu kalimat itu ditunjukkan kepada siapa, sang guru senior menghela napas lirih. "Itu hanya akan memperpanjang derita. Rasa sakit itu tidak mau bebas jika dirimu masih merasa kesal setiap saat. Mia terluka karena kehilangan keluarganya, tetapi dia harus tetap hidup untuk mereka yang sudah berpulang."
"Apa pun keputusannya, aku selalu mendukung."
Arata menoleh menatap Saito yang duduk bersila dalam remang. "Karena kau percaya padanya."
"Malam di saat aku tidak bisa melakukan apa pun. Keluarga itu juga tahu dengan takdir mereka sendiri setelah banyak konflik yang memanas terjadi di setiap kota."
Saito membuka mata, memandang Arata yang turut membalasnya tanpa suara. "Kau seorang pejuang berpengalaman. Tatanan baru membutuhkan sesuatu dari pemuda naif sepertimu."
Lama Arata bungkam sampai samar Saito mendengarnya bersuara lirih.
"Aku tidak akan melukainya."
Wajah renta itu perlahan melunak dengan senyum tipis tak terlihat. Saito menunduk, memejamkan kedua matanya saat berdoa dan merasakan Arata yang semakin menjauh. Berjalan pergi dari dojo untuk ke kamar.
Mia belum tidur saat mereka berpapasan di lorong menuju kamarnya sendiri. Gadis itu baru saja muncul dari dapur, mengerjakan sesuatu saat larut malam.
Arata berjalan pergi melewatinya. Sebelum pintu itu bergeser, Mia menegurnya. "Kau tak apa?"
"Tidak terlalu."
Ekspresinya berubah kala Arata menarik diri untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri, membiarkan pintu bergeser dan tertutup. Saat Mia mencoba mengejar langkahnya, dia sudah terlambat.
Saito menatap keduanya dalam hening. Ketika mata mereka bertatapan, Mia memilih untuk pergi dan santai di teras lalu bersandar pada tiang rumah. "Bulannya bersinar indah malam ini. Liana sudah pulas dan dia melewatkan malam sempurna."
Mia hanya termenung, ikut menatap rembulan yang bersinar sendiri tanpa bintang menemani. Bersama Saito yang mengambil tempat di sebelahnya. Sang paman yang memahami kegelisahan hatinya selalu ada, mengisi ruang yang kosong saat Mia tengah sendirian.
"Dia meminta pada Geto untuk membebaskan Hiro dengan jaminan bahwa Hiro dan Emi tidak akan berbuat aneh di masa depan. Arata, memilih memercayai Hiro."
Ada kerutan muncul pada kening Saito.
"Geto mengiyakan karena dia mengenal Arata. Saat melihat Hiro bertemu kembali dengan Emi, rautnya berubah. Aku yakin dia menyembunyikan masa lalunya dan itu terlihat berat. Membebaninya selama ini dan jangka panjang."
Mia mengembuskan napas berat. "Aku hanya merasa iba padanya tanpa bisa melakukan apa pun."
Saito memberikan senyum memaklumi ketika melihat Mia dengan sorot ramah. "Sebagai seorang manusia biasa yang memiliki perasaan, itu hal yang lumrah. Wajar jika kau merasa kasihan terhadapnya. Karena biasanya ekspresi atau sorot mata seseorang tidak bisa berbohong dan kau melihat itu dari wajah Arata tadi."
"Apa dia akan berbuat itu selamanya? Mengayunkan tangan sampai semua berakhir?" tanya Mia getir tidak lantas mendapatkan jawaban.
"Sebagai seorang ronin bebas tanpa tujuan, kita beruntung karena dia tidak berbuat kacau seperti mantan pejuang lainnya. Yang terlunta dan membiarkan diri mereka diremehkan hanya demi uang. Arata sangat berbeda. Dia pergi mengarungi negara ini hanya untuk berlari, mencari jawaban dan mungkin mendapatkannya di Asakusa."
Mia berpaling, menatap Saito yang memilih untuk memandang bulan dengan senyum. Ada kerutan yang nampak dari matanya yang pucat. Sang paman telah termakan usia dan rasanya tidak sama lagi seperti dulu. Saito juga menyadarinya.
Karena Arata tidak bisa lagi menahan dirinya untuk mengalihkan pandangan ke arah lain. Siluet Mia yang duduk membelakangi kamarnya terlihat sangat jelas. Gadis itu duduk bersama Saito tanpa tahu bahwa Arata melihatnya dari dalam.
Ia hanya tidak ingin gadis itu terlibat dengan urusan penuh kelamnya. Dunia gelap yang melibatkan kekacauan. Arata hanya hidup bersama kepingan dirinya yang berantakan, rata bersama masa lalu.
"Aku memohon padamu, kau tidak bisa pergi ke sana. Jangan. Tolong, berhenti melakukannya."
"Dia harus hidup. Aku akan memintanya untuk bernapas. Lepaskan dia."
Kemudian yang terbayang hanya genangan berbentuk sungai kecil. Arata tidak melihat adanya kehidupan dari sosok yang telah terbaring bersama tangisan pedih seseorang yang meringkuk, memanggil ibu dan ayahnya dalam pekat mengundang.
Bayangan itu akan selalu menjadi mimpi buruknya. Neraka abadi yang tercipta untuk memeluk tubuhnya dari dalam tanpa jarak.