"Uh, pakaian baru?"
Arata muncul dengan tampilan baru. Walau kimono pria itu masih serba hitam, corak lama yang terlihat terkesan sedikit memudar. Mia menoleh karena mendengar suara semangat Liana mengusiknya.
"Ini milik guru Saito?"
"Hem, kurasa." Liana berujar setelah menghampiri Arata dengan serius. "Bagian belakang sedikit sempit. Tapi pakaian ini masih sempurna. Guru memang yang terbaik."
"Arata perlu mencuci pakaiannya sendiri dan dia melakukannya. Aku bisa memberikan pakaian lama untuknya selama tinggal di sini."
Saito muncul untuk sarapan saat semua orang berkumpul di dapur. Saat Arata membungkuk, menatap Saito dengan rasa terima kasih, pria itu mengibaskan tangan sambil lalu dan duduk sembari mendengarkan Liana bercerita.
Mia sibuk seorang diri di sana. Sang tabib berulang kali memeriksa sup ayam rebus buatannya dengan tambahan ginseng dan akar tanaman lain. Sup ini dipercaya bisa menambah stamina yang menyantapnya. Rasa hangat dan kuah yang tercampur akar ginseng membuat mereka lebih siap menjalani hari.
"Aku bisa membantu sesuatu."
Kepalanya menoleh hanya untuk melihat Arata mendekat, menawarkan bantuan tanpa ekspresi. "Kau tidak perlu melakukan apa pun."
"Kau bisa menjemur bantalmu sekarang, Liana." Mia menegur gadis kecil itu dan Liana bangun untuk membawa bantal serta selimut miliknya ke depan, merebahkannya setelah meraih bangku agar lebih tinggi menjangkau tali.
Saito melirik gadis kecil tersebut sebelum berpindah pada Mia yang bersandar, menunggu sarapan mereka siap dan pada Arata yang ikut diam, sesekali memberi lirikan ke arah gadis itu.
Pemandangan yang canggung.
"Kau tidak apa?"
Iris hijau gadis itu menyapunya sebentar saat menggeleng pelan, mengusap belakang tengkuknya yang berat.
"Kenapa kau berdiri di sana, Arata? Kemari, kau bisa bergabung dengan kami. Mia yang memasak. Dia tidak suka seseorang menyentuhnya saat berkreasi. Panci itu bisa melayang ke arahmu nanti."
Setelah menyelipkan godaan, Liana malah terkekeh geli. Melihat senyum guru Saito mengembang wajah gadis kecil itu menghangat. Arata menghela napas pendek, menatap Mia sekali lagi sebelum bergeser untuk bergabung dan mendengarkan Liana berceloteh tentang Yuda, temannya di dojo.
"Aku akan pergi berbelanja setelah ini."
Liana turun untuk membantu menata meja makan. "Sendirian?"
"Kau bisa menjaga tempat ini sebentar, kan?" tanya Mia setelah menyusun mangkuk dan sumpit. "Aku tidak akan lama."
"Percayakan saja padaku."
Saito menengadah menatap langit saat dirasa cuaca tidak begitu bersahabat hari ini. "Kau perlu membawa payung untuk berjaga. Lihat, awannya bergerak ke sebelah timur. Aku rasa hujan turun karena cuaca tidak cerah sama sekali."
Mia mengangguk. Membawa beberapa gelas dan Liana menuangkan air untuk mereka. Gadis kecil itu membantu dengan baik, mengurus mereka semua selagi Mia sibuk dengan lainnya.
"Kau tak apa, Mia?"
Sahutan itu nyaris dilewatkan Mia saat matanya bergulir memandang sang paman yang serius. Saat maniknya melirik, Arata ikut menatapnya. Ia berdeham menggeleng kecil dan meminta mereka melanjutkan makan.
"Dia sepertinya kurang tidur," sahut Liana ikut cemas, menyentuhkan telunjuk kecilnya ke arah pipi pucat Mia. "Kau tidak perlu pergi ke pasar. Aku bisa membeli semua bahannya untukmu."
"Kau baik sekali," ucapnya setengah tersenyum.
Arata menatap sekelilingnya yang sibuk makan. Sorot matanya tidak bisa lepas dari gadis yang mengambil tempat tepat di seberangnya. Mia menyantap makanannya setengah hati. Seolah menahan sesuatu dan Arata tidak tahu apa yang coba disembunyikan.
"Selamat makan."
Suara Liana memulai sarapan sebelum dari mereka memutuskan untuk diam, menghabiskan makanan tanpa lagi bicara.
***
Arata mengalihkan pandangannya dari bekas luka di punggung tangan ke arah dojo yang riuh. Suara murid sedang berlatih dan gesekan antara alat kayu bergema sampai tempatnya bersantai.
Saat dirinya bangun untuk melihat, mendapati Saito duduk dengan tenang sembari menilai perkembangan para murid asuhnya dalam berlatih ilmu. Mereka mengadakan tantangan satu sama lain, membuktikan siapa yang menyerap pengetahuan lebih banyak sekaligus mengukur kemampun satu individu dengan lainnya.
Liana duduk dengan wajah berbinar. Gadis itu yang paling bersemangat saat urusan ini satu sama lain terjadi. Seakan tidak mau kalah, tangannya bergerak untuk mengayunkan kayu. Mengikuti arah mereka dari tempat duduknya.
Suara tepuk tangan bergema saat salah satunya berhasil menjatuhkan teman. Kemudian membungkuk dalam, saling memberikan pujian karena sudah berusaha keras.
Mata Saito bertemu pandang dengannya. Arata mengangguk singkat, berjalan masuk saat melihat seisi dojo senyap karena melihatnya tiba.
"Apa dia hebat?" tanya Yuda pada rekannya.
"Siapa yang bisa mengalahkan guru Saito sekarang?" Liana menyahut dengan wajah pongah. "Arata hanya pengembara biasa. Kemampuannya juga tidak bagus. Lumayan tetapi tidak sehebat guru."
Yuda tersenyum lebar. "Guru Saito yang terhebat."
"Silakan, Arata. Kau bisa melihat mereka dari dekat."
Arata hadir tanpa membawa apa pun. Sementara para murid memegang benda tersebut. Ketika Saito bangun, memberikan salah satu miliknya kepada anak yang paling besar, isyarat matanya seolah memberitahu bahwa dia harus mengejutkan Arata secara singkat.
"Kau bisa melihat Arata sebagai orang asing yang secara mendadak hadir dan membuatmu gelisah," ujar Saito padanya dan Liana tersentak begitu pula murid lain yang tercekat.
Tanpa pikir panjang kejadian itu hadir. Bertubi dari para murid yang lebih besar. Sedangkan yang muda memilih mundur, merapat untuk melihat persaingan panas antara mereka.
Liana segera bangun. Membawa kayunya saat dia ikut mendekat, mengayunkan untuk menahan langkah Arata ke depan.
Saito mengamati dari kejauhan. Menilai semua kebolehan muridnya yang hadir ke dojo untuk membuktikan kemampuan mereka yang berkembang. Arata sama sekali tidak bergerak, melainkan hanya berupaya menghindari. Mereka mulai menunjukkan teknik baru dan pria itu mengulurkan tangan hanya untuk menepis, menangkis serta tidak memutar balik.
"Dia hebat sekali," gumam Liana saat dirinya berguling rebah di atas lantai kayu. "Bagaimana bisa dia menahan semua kayu ini hanya dengan dua tangan kosong?"
Saito menunduk pada murid perempuannya. "Kau sudah menyerah, Liana?"
"Belum, guru. Aku tidak mau berhenti."
Liana mencoba berdiri sekali lagi saat para rekannya mengaku tidak kuat dan beristirahat. Saito memberi salah satu alat kepada Arata, mengendik agar dia menghadapi Liana yang masih belum menyerah dan antusias.
Ada dua murid lain yang masih sanggup bangun untuknya. Arata menatap kayu di tangan, menggerakkanya ketika Liana dan dua lainnya mengejar dari titik buta, mengacaukan perhatiannya dalam gerakan cepat.
Bunyi suara benda terjatuh berdengung di dalam dojo. Semua orang menahan napas saat Arata mengarahkan ujungnya, meminta keduanya yang tersudut untuk mundur dan tidak lagi membuang tenaga karena ini.
Kecuali Liana yang masih merasa belum berhasil. Gadis itu berjalan sembarangan dan tanpa teknik. Kemudian berhasil terbaca saat Arata menekan langkah kecilnya, Liana tersandung sebelum akhirnya terhempas pelan ke lantai kayu.
"Sudah cukup."
Saito mengulurkan kedua tangan ketika Arata menunduk tanpa suara. Mengembalikan benda itu ke tempat semula dan para anak bergeser, membentuk lingkaran untuk duduk secara rapi untuk mendengarkan.
"Ini sebagai peringatan kepada kalian bahwa siapa pun orangnya, tidak boleh meremehkan. Kalian harus tahu bagaimana caranya menahan dengan mencari titik lemahnya."
Semua murid mengangguk setuju. Lalu Saito melirik tatapannya sekali lagi pada Arata bersama sebaris kalimat penuh tanya yang mengundang.
"Melihat dari gerakan tangan dan kakimu, aku berasumsi kau berlatih dengan sosok yang sangat kuat di masa lalu."