twenty one - hilang bersama debu

2227 Kata
Mia pergi setelah urusannya dengan Geto selesai. Ia membuka pintu, mendapati Arata masih menunggunya. Pria itu tidak kembali lebih dulu. Sinar matanya terlihat penasaran. Tetapi Arata masih setia mengunci mulutnya agar tetap rapat. Ketika Mia berjalan melewatinya, pria itu menarik napas dingin. "Geto bicara sesuatu padamu?" "Bukan hal buruk," balasnya singkat. "Dia membahas tentang Hiro dan Emi?" Mia menggeleng lagi. "Dia meminta pamanmu untuk kembali maju ke baris depan?" Gadis itu diam dan kemungkinan besar jawabannya adalah iya. Geto tidak mungkin meminta Saito bertemu tanpa alasan. Pria itu hanya tidak suka berbasa-basi dan lebih suka membahasnya secara langsung. Namun karena kepribadian Saito yang tidak lagi peduli terhadap apa pun, Arata menduga memang mantan pejuang itu tahu maksud tersembunyi. "Paman tidak punya keinginan untuk berbuat seperti itu lagi. Dia sudah tidak menaruh minat ke arah sana," kata Mia setelah mereka berjalan bersama menjauhi markas. "Geto memintanya untuk turun tangan mengatasi kekacauan yang sebentar lagi tiba. Saat aku bertanya, dia tidak menjawab apa pun." "Ibukota sedang tidak stabil." Arata menyembunyikan wajahnya saat menunduk. "Kekacauan terjadi karena beberapa ronin memilih untuk kembali atas perintah seseorang. Ini kejadian yang bisa meluas ke berbagai tempat." "Apa mereka menginginkanmu hadir?" Arata terdiam, berpaling menatap gadis itu yang turut berhenti berjalan, menunggunya membuka suara. "Seseorang mengirimkan pejuang terbaik mereka ke Asakusa." "Untukmu?" "Geto sedang memantaunya. Kemungkinan besar dia tahu dirimu dan keluargamu." Arata mengambil napas, membuangnya perlahan. "Kau harus pergi?" Pria itu hanya diam. Arata tidak memberi jawaban atau Mia yang mendesaknya berbicara. Saat sang tabib berbalik, berjalan lebih dulu tanpa berniat membuka percakapan. "Aku tidak pergi. Tidak berniat meninggalkan kota ini." Arata berdeham. "Belum memutuskan." "Apa bedanya Tokyo dan Asakusa? Kau akan sendirian di sana tanpa siapa pun." Mia memutar tubuhnya, seakan menaruh sesuatu di atas kepala pria itu sekarang. "Mereka memintamu pulang dan berjuang. Kau bilang tidak lagi menjadi pesuruh orang lain. Kau tidak lagi menjadi milik mereka. Mengapa harus peduli?" Arata termangu sesaat sebelum mengangguk. "Kau benar." Mia melepas satu dengusan, berjalan menjauh saat melihat lurus ke depan. Markas ini cukup terpencil dan letaknya tidak sama dengan permukiman penduduk lain. Seakan Geto dan anak buahnya menginginkan ketenangan dalam bertugas, memindai segalanya tanpa membuat keributan. "Apa kau percaya tentang penghakiman manusia?" "Tidak." "Apa?" Arata membeo kebingungan. "Biasanya itu datang dari langit dan bukan manusia. Mereka hanya perantara dan tidak seperlunya merasa berbangga diri," papar Mia menerangkan. "Kalau pun ada dari mereka yang menjadikan dirinya sebagai hakim atas kesalahan manusia, mereka semua sudah keliru." Mia berhenti melangkah saat melihat ada dua gang sempit yang menjorok menuju ke rumah penduduk. "Aku akan pergi ke rumah salah satu warga. Kau bisa pulang lebih dulu." "Apa yang harus aku katakan pada pamanmu?" "Tidak ada. Dia sudah tahu alasan Geto memintanya bertemu." Mia serius pergi untuk memeriksa seseorang yang sakit. Kemudian Arata kembali maju melewati jalan yang tidak terlalu padat seorang diri. Mendengar suara pedagang yang menjajakan barangnya, anak-anak yang bermain dan kehidupan normal lainnya. Ini yang dia inginkan, perdamaian sejati tanpa ketakutan. Tidak semua orang mampu mengecap kebebasan setelah beberapa tahun berlalu. Salah satunya adalah dirinya, Arata seorang. *** Liana baru saja selesai mencuci pakaiannya sendiri dan mengisi ember yang kosong saat melihat Arata melamun sendirian. Gadis itu tersenyum kecil, mengambil tempat untuk duduk saat Arata hanya meliriknya singkat. "Mia pergi untuk melihat penduduk yang sakit," kata Liana membuka percakapan. "Kau tidak pergi beristirahat?" Arata menggeleng singkat. "Apa kau terbiasa irit bicara?" Sorot gelap itu menatapnya sekilas sebelum menghela napas. "Aku sedang berusaha banyak bersuara." "Tidak, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Kau juga tidak perlu tersenyum kepada orang lain hanya untuk menyenangkan mereka." Liana menukas geli. "Mia yang mengajariku banyak hal tentang pentingnya mencintai diri sendiri. Dia bilang, kau harus mengutamakan hal yang baik lebih dulu. Jangan ceroboh dalam mengambil keputusan. Dia sebetulnya banyak membantu." "Ke mana perginya orang tuamu?" "Mereka tidak pernah kembali setelah menitipkanku pada seseorang. Karena aku tidak bisa menunggu dan tidak sabar, aku pergi tanpa berterima kasih. Saat aku kembali, wanita tua itu sudah tiada karena sakit parah." "Kau sendiri?" Liana balik bertanya dan Arata bergeming. "Aku hanya punya satu saudara, seorang kakak laki-laki." Arata mengerutkan kening saat menatap langit yang cerah. "Ketika insiden besar terjadi, kami terpisah karena ambisi satu sama lain. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya. Seseorang bicara padaku bahwa dia sudah pergi, kakak telah lama tiada." Liana terkejut. "Kau tahu pemakamannya?" "Tidak." "Kurasa mereka berbohong," ucap Liana sendu. "Begitukah?" Gadis kecil itu mengambil napas panjang. Ikut menatap langit dan bergulir memandang kincir anginnya yang tertiup lembut. "Ya, mereka berbohong hanya untuk membuatmu merasa sakit." "Usiamu masih muda dan kau bicara selayaknya orang dewasa," tegur Arata kaku. Tapi sama sekali tidak memperlihatkan wajah sinis. Gurat wajah pria itu terlihat lebih santai. "Kau sungguh belajar dari kehidupan ini." "Aku hanya tidak ingin tercebur ke dalam lubang yang sama dua kali." Liana menghela napas bersama satu kekehan ringan. "Rasanya tidak menyenangkan kembali hanya untuk mendapat kekesalan. Semua orang terlihat muak, sebal padaku. Sebatas ingin diperlakukan sebagai manusia biasa." "Kau juga begitu, kan?" tanya Liana setelah menatap Arata yang bergeming. "Kau ingin dilihat sebagai dirimu sendiri, bukan dari masa lalu." Lidahnya terasa kelu. Berguru bersama Saito dan tinggal bersama Mia membuat gadis kecil itu belajar banyak hal. Usianya hampir menginjak sebelas tahun dan Liana bergerak untuk dewasa lebih cepat. Arata tak mampu bicara lebih dan hanya mampu terdiam. "Aku juga tidak punya keluarga dan rumah. Bisa dibilang saat ini kau dan aku sama saja. Kita berdua menumpang di rumah Mia. Benar, kan?" Arata mengangguk kecil. Sementara Liana bangun, memindahkan kincir anginnya ketika meniupnya pelan. Membiarkan Arata melihatnya secara utuh, merasakan tubuhnya yang berubah kaku secara perlahan. Kedua matanya berubah redup. Ketika gadis itu menerbangkan kincir angin bersama sebelah tangannya, memberinya sentuhan ringan untuk membantu memutar baling, Arata terperosok jauh ke dalam kenangan yang kelam. Ini semua bersangkutan dengan mimpi buruknya. Arata membeku saat pemandangan Liana tergantikan dengan sosok lain, yang turut hadir membuat hidupnya berantakan. Ketika melihat sosok itu meniupkan baling kayu, lalu tersenyum dan membiarkan angin menerbangkan anak rambutnya. Kenangan yang membuatnya sesak, terjerat tanpa batas. Lalu Arata hanya mematung melihatnya tanpa mampu membiarkan kedua kakinya bergerak lebih jauh. *** "Apa ini saat yang tepat untuk merenung?" Saito melihat Mia sedang meracik ramuan dalam diam. Tangan itu sama sekali tidak bergerak dan hanya sesekali berayun saat Mia menemukan kewarasannya kembali. "Paman," tegurnya. "Belum tidur?" "Ini belum terlalu larut. Aku tidak melihat Arata ada dimana pun. Dia pergi ke suatu tempat?" "Hm, mungkin." Mia kembali meneruskan kegiatannya saat Saito menuangkan air dan duduk sembari mengawasi. "Paman mencarinya?" "Aku hanya bertanya." Saito menandaskan isi minumannya ketika melamun menatap rembulan yang terang. "Geto membahas sesuatu padamu? Aku sudah menebaknya. Kemungkinan besar tidak jauh dari malam penuh tangisan dan ketidakstabilan petinggi menjalankan pekerjaan." "Seseorang dari Tokyo datang ke Asakusa hanya untuk mencari Arata." Alis Saito terangkat naik. "Siapa?" "Aku tak tahu." "Kepala polisi itu memberitahumu?" tanya Saito serius. "Melihat dari masa lalunya yang belum selesai, kemungkinan besar Arata dan masalahnya belum berakhir. Tokyo membutuhkannya. Geto tidak bilang alasannya. Kalau mereka menginginkan Arata kembali, maka Asakusa akan baik saja. Tetapi selama Arata tidak mau pergi, tempat ini pasti menjadi sasarannya." "Dasar sekumpulan tikus," ujar Saito sinis. "Malam buruk keluarga bangsawan bahkan belum cukup menghentikan mereka untuk sadar." Mia berkata lemah setelah memindahkan isi wadah ke tempat yang lebih rapat dan mengeringkan alatnya sendiri. "Kau membiarkan Arata pergi?" Suara gemerisik air berhenti setelah Saito mengucapkan kalimat pamungkas dari kesimpulan obrolan mereka malam ini. Mia berpaling, menatap Saito sebentar sebelum menghela napas. "Aku tidak yakin dengan itu," akunya jujur. "Aku tahu kau peduli padanya." Saito menimpali dengan satu senyum singkat. "Kau menyadari masa lalunya yang tidak mudah, merasa jika Arata membutuhkan tempat untuk pulang dan beristirahat. Menyadari kalau pria itu layak diberi kesempatan. Aku sangat memahamimu." Mia mendekati sang paman untuk mencari tempat yang kosong, menekuk lututnya. "Aku merasa masa lalu itu tidak sepenuhnya salahnya. Liana bilang, dia melihatku dengan tatapan bersalah. Seakan dia ikut menanggung rasa sakit yang sama. Insiden keluargaku atau semua yang berkaitan masa lalu tidak ada kaitannya dengannya." Ekspresi Saito masih tetap datar saat Mia mengutarakan semua isi kepalanya. Gadis itu terbuka padanya dan akan selalu begitu. Saito terus meminta Mia berbicara, walau sesulit apa pun keadaannya. Pasca kehilangam seluruh keluarganya, Mia kecil lebih banyak diam dan menyendiri. Menjadi gadis pemurung yang memilih untuk mundur dari pada bermain. Saito berjuang keras untuk mengembalikan dunia gadis itu pada tempatnya semula. Mencari kehidupan baru bagi Mia yang berhasil selamat dari hujan pekat Asakusa beberapa tahun lalu. "Kalau pun Arata ingin pergi, kau tidak bisa menahannya. Demi kepentingan orang banyak, benar?" Saito memberi nasihat pada Mia yang sedih. "Meski kau punya sedikit perasaan lebih padanya, kau harus tahu kalau Arata memiliki urusannya sendiri." "Paman bicara apa?" Mia menyahut dengan cemas. "Apa itu perasaan?" "Kalau begitu, lebih banyak untuknya?" Mia mendengus kecil. "Paman bergurau. Tidak ada perasaan apa pun. Aku menganggapnya sebagai rekan, teman baik yang tidak kumiliki." "Dia lebih tua darimu," ujar Saito mengingatkan. "Dan dia seorang pria sejati. Kau tahu apa artinya? Paman tahu kau tidak pernah berkencan seumur hidupmu. Tidak ada salahnya menaruh perhatian pada pria. Kau tidak berbuat sesuatu yang salah." Mia nyaris tersedak karena Saito berhasil mengubah percakapan ke arah yang lebih santai. *** "Tolong kami." Arata mencium asap dari salah satu rumah penduduk. Saat mendengar suara lirih itu hadir dari ibu satu anak yang gemetar hebat, ia segera berlari mendekat. Dan benar saja. Melihat keduanya meringkuk di saat sang kepala keluarga mencoba mengusir salah satu orang yang mencoba mengambil brankas uang mereka. "Hentikan. Jangan sakiti suamiku lagi." Jeritan itu memancing orang lain untuk melihat dan tidak ada satu pun dari mereka datang melerai. Benda itu terlihat dingin, seperti bulan sabit dan tampak berkilau. Terutama saat penampilan sosok itu tersenyum. Ada lingkaran hitam seperti panda pada kedua matanya. Sebelum ayunan itu menyentuh pria malang tersebut, Arata berlari mengejar untuk menepis dengan katana miliknya. Meraih brankas itu menjauh dengan kakinya, membuat sang kepala keluarga merangkak untuk menjauh secepat mungkin. "Ayah," panggil putranya dengan tangisan. "Oh, siapa yang berhasil menangkisnya tadi?" Suara kekehan itu terdengar saat Arata mendengar suara atap terjatuh dan teriakan penduduk semakin keras. Mereka berusaha memadamkan api sebelum merambat ke rumah lainnya. Dan Arata mengulurkan katana, meminta agar pria itu menyerah. "Kau serius dengan memintaku menurunkan ini? Bagaimana dengan diriku yang telah tersulut kesal?" Mereka beradu dengan cepat. Arata harus menghentikan pihak asing yang mengganggu ketenangan penduduk Asakusa. Saat gerakan katana miliknya berhasil membuang salah satu alat aneh milik pria itu, Arata mendengus kecil. "Untuk siapa kau bekerja?" "Apa yang mereka janjikan padaku terlihat sangat luar biasa," kekehnya bersama sebulir cairan pekat yang mengalir dari kedua hidung dan mulutnya. "Kau akan berhenti karena dosa manusia, Arata. Pendekar hebat dari Kyoto." Arata membaliknya dengan menjadikan sisi yang tumpul mengenai bagian penting. Ketika dia turun, menghampiri dengan segenap kekuatan sebelum tubuh itu terbang jauh hingga terdiam ke dalam tumpukan kayu yang melebar. Semua orang menahan napas. Tercengang melihat adegan luar biasa dari keduanya. Dari pihak luar yang tidak mau menyerah membuat Arata terdiam, menilai sebatas mana kemampuannya bertahan. "Ini tidak akan terjadi hanya sekali," kata pria itu bersama kekehan pahit. "Asakusa harus menjadi neraka baru karena membiarkanmu tetap tinggal. Mereka pasti merasakannya, terbakar bersama panasnya asap karena telah melindungimu." Meski sudah terluka, bilur dengan segala macam luka pria itu tetap tidak mau menyerah. Sebelah tangannya mengulurkan benda miliknya, memberitahu Arata dengan sisa kekuatan yang ada. "Kau lebih baik pergi," ujarnya tersengal setelah kembali jatuh dan terbatuk hebat. Arata menonton dalam bisu. Tidak mengayunkan tangan ketika melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya, tertawa parau. "Semua ini tidak terjadi sekali, Arata. Kau harus melihat mimpi buruk yang serius nyata di masa mendatang." Dia sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna ketika kedua mata Arata melebar, berlari mundur untuk menghindari kejutan. Bersama dengan penduduk lain yang mencoba menyelamatkan diri setelah rumah itu berubah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa selain keluarga kecil yang saling berpelukan erat. Mereka hanya berhasil membawa pergi brankas milik pribadi, menyelamatkan diri meski harus tertatih. "Terima kasih telah menolong kami," kata sang kepala keluarga yang meraih kaki Arata, berlutut dengan air mata. "Terima kasih karena telah menyelamatkan keluargaku." Pasangan suami istri itu mendekat untuk memeluknya. Mengeluarkan air mata haru yang membuat perasaan Arata berubah kebas. Dia tidak membantu banyak, tak sama sekali. Semua kegaduhan ini bermula darinya. Dari seseorang yang sangat berkuasa menginginkannya pulang, berniat untuk menjadikan dirinya sosok penurut dan tidak melarikan diri demi mencari kebebasan. Arata bergeming. Terdiam selama beberapa saat sebelum anak buah Geto datang dan sang kepala tim mendadak hadir, melihatnya yang berantakan setelah berjuang lalu Geto menghampiri. "Aku baru mendapat laporannya sekarang." Geto melihat rumah yang tidak lagi tersisa dan pada pasangan suami istri yang menangis sembari berlutut. Mereka berhasil menyelamatkan diri dengan anak kecil yang gemetar. Saat Arata menunduk meminta mereka dalam bisikan lirih untuk melepasnya, ia meminta maaf. "Kenapa kau bicara seperti itu?" "Salahku. Ini semua karena diriku." Arata membawa kedua kakinya pergi setelah menyimpan katana miliknya. Kedua matanya memburam, bayangan pedih berkat asap hitam membuat sengatan itu bertambah panas. "Realita manusia yang seharusnya tidak pernah ada," sahut Geto dingin setelah memutar tubuhnya untuk menghadap Arata yang masih berjalan. "Mereka menginginkanmu hanya untuk membalas sepuluh tahun lalu. Misi itu belum usai." Sang pengembara tidak lagi peduli. Ia tetap berjalan dengan kedua kakinya pergi. Bersama tubuhnya yang terasa berat. Semua kalimat itu terngiang dalam kepalanya. Umpatan, segala jenis makian serta julukan kasar terarah padanya seorang tanpa henti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN