twenty - membiarkan harapan bersemu

1041 Kata
"Jadi, mereka serius menahan rumah kepala desa?" Liana bersuara setelah mereka berhenti dan gadis itu menatap kediaman sang mantan kepala desa dengan serius. Kedua tangan kecilnya terulur, menyentuh gerbang besar yang kini hanya tinggal nama. "Rumah ini tidak lagi ditempati siapa pun?" "Siapa yang menempati? Semua orang sudah pergi." "Emi dan suaminya sudah melarikan diri?" tanya Liana setelah berlari mengejar Mia yang lebih dulu berbalik, meninggalkannya. "Ya, aku tidak tahu ke mana mereka pergi. Hiro merasa bersalah dengan penduduk dan Emi merasa malu. Keduanya sudah memutuskan untuk pergi karena tidak lagi pantas menetap di Asakusa." Liana mengangkat sebelah alisnya tinggi. "Itu bagus. Mereka pada akhirnya merasa tahu diri." Mia menatap gadis cilik tersebut bersama satu helaan napas. Tidak ada gunanya mendebat Liana yang masih belum berpikiran matang tentang apa pun. Tugasnya sebagai seseorang yang lebih dewasa adalah memanfaatkan kesempatan emas ini untuk membimbingnya. "Saat kau sakit, Arata sangat menjagamu. Aku yang kelelahan sedikit merasa tidak enak padanya." Liana mundur untuk berbicara. Menilai ekspresi Mia yang tidak berubah. "Sebelum aku pergi, perasaanku malah berkata aneh." "Aneh bagaimana?" "Dia seperti merasa bersalah padamu? Kemungkinan besar dengan orang lain. Kenapa begitu?" Liana bertanya penasaran yang membuat Mia bergeming. "Dia pernah berbuat dosa di masa lalu?" "Aku tak tahu," akunya jujur. Bibir kecil itu berkerut maju. Mengamati ekspresi polos Mia lantas membuat gadis itu mengernyit. "Arata mungkin pernah berbuat kesalahan fatal dan terbawa sampai sekarang. Dia selalu memasang tampang murung terkadang." "Aku tidak berhak mencampuri urusannya." Kali ini Liana tidak membantah. Gadis itu berjalan, menyusuri jalan setapak yang kecil sebelum pergi dan melihat pagar rumah mereka, ia segera bergegas semakin cepat. "Aku yang akan membuat buburnya. Nasi buatanku tidak buruk, kan?" Mia mengulum senyum. "Tidak. Hanya saja kau kurang menambah garam. Lain kali periksa suhu apinya juga. Untuk sebelumnya sudah cukup sempurna." "Cukup sempurna yang artinya belum maksimal," gadis itu mempersilakan Mia masuk dan melihat Saito membersihkan lantai sementara Arata menjemur pakaiannya sendiri. "Kami pulang." Saito mendongak dengan senyum dan Arata beralih, mengangguk singkat sebelum melanjutkan pekerjaannya. "Aku akan membantu guru dulu," ujar gadis itu semangat saat mencuci kaki dan tangannya, berlari menghampiri Saito dan membantunya dengan cepat. Liana yang gesit dan tidak kenal lelah sangat amat membantu banyak. "Paman memberikan beberapa kimono miliknya padamu. Apa sekarang kau mencuci semuanya?" "Dia yang memintaku melakukannya. Pakaiannya belum kotor dan masih bersih. Untuk sekadar berjaga karena tersimpan terlalu lama," balas Arata setelah memindahkan ember dan menggeser tali lebih ke ujung. "Semoga hari ini tidak hujan." Arata mengangguk setuju. "Aku juga menjemur semua bahan ramuan herbalmu. Di sebelah sana, aku menaruhnya lebih dekat dengan sinar matahari." Telunjuknya menunjuk tampah yang terlihat besar. Arata benar melakukannya dengan sempurna. "Kau terlihat ahli sekarang?" Sudut bibirnya tertarik naik. "Aku merasa lega jika dapat membantu sesuatu di sini." "Dia bilang ingin merasa berguna," sahut Saito setelah menyerah karena Liana mengambil kain pel itu darinya. Gadis kecil itu membersihkan teras dan menyapu dojo sebelum mengelap debu yang menempel. "Arata juga sama keras kepalanya seperti dirimu." "Aku perlu melakukannya," ucapnya datar. "Mia sudah banyak menolongku sebelum ini." Mendengar Arata menyebut namanya lantas membuat merah pada pipi gadis itu terlihat. Sebuah dengusan singkat meluncur, membuatnya terlihat salah tingkah. *** "Aku akan menetap di Asakusa lebih lama dari perkiraanmu." Arata menautkan alis, melirik Geto yang mengembuskan asap dari mulutnya bersama gelengan. "Apa yang terjadi?" "Kau tahu." Diamnya pria itu tidak membuat Geto banyak bersuara. Arata mengerti arah percakapan mereka dan tidak akan berbuat banyak untuk bertingkah. Pada dasarnya memang dia tidak banyak berulah. "Kedatanganmu di Asakusa bukan tanpa tujuan, benar?" Geto berbalik, bersandar pada tembok dengan cemoohan. "Kau serius ingin melakukan sesuatu terhadap seseorang di kota kecil ini?" "Aku tidak berniat melakukan apa pun." Geto menghela napas berat. "Aku percaya. Tetapi kau perlu siaga karena satu kabar beredar bisa mengejutkan dirimu." "Karena masa laluku?" Tidak ada yang berubah dari raut wajah keras itu. Geto menilai rautnya yang dingin, memandang datar pada Arata sebelum memalingkan wajahnya. "Tidak semua orang mengenalmu. Terlebih kau selalu pergi dengan identitas baru. Sebagian besar hanya tahu kau sudah tiada." Geto bergeser untuk duduk, memandang Arata lebih lekat saat melihat tidak ada yang berubah dari sang pengembara sedikit pun. Seolah dia tidak terpengaruh, seakan dirinya sudah terbiasa atas tuduhan apa pun. Arata telah membiasakan dirinya untuk menanggapi segalanya dengan tenang. Sepuluh tahun lalu, Geto masih mengenalnya dengan sangat baik. "Asakusa tidak separah Tokyo, tetapi kau harus menjaga diri." Geto memperingati. "Apa mereka akan mampir ke Asakusa karenaku?" Alis Geto tertaut sinis. "Kalau kau menyerahkan diri, mereka tidak akan melakukannya. Lain halnya jika kau kembali melarikan diri seperti biasa." Arata berbalik untuk pergi. Membawa kedua kakinya pergi saat mendengar gemerisik dari alat yang menahan kaki manusia. Ketika matanya melirik, seseorang yang sempat berulah pada Mia juga sedang menatapnya. "Jadi kau bertangan dingin," ucapnya dengan kekehan. "Seorang pendekar hebat yang terlunta tanpa tuan. Apa bedanya antara dirimu dan aku?" "Aku tidak menyakiti orang lain tanpa alasan." Arata menyela datar. "Juga tidak menakuti mereka hanya karena membutuhkan uang." "Kau pasti merasa menang karena para petinggi penting masih membutuhkanmu." Senyum sinis itu tampak jelas dan membuatnya kehilangan napas. Arata mendesis, memilih untuk menghela wajahnya saat berjalan pergi. "Kau akan selamanya menjadi bagian itu. Ronin tetap dengan julukannya. Kasta paling bawah seorang pejuang yang kehilangan pekerjaan dan jiwanya." Saat Arata mendorong pintu itu terbuka, matanya melebar melihat Mia berdiri di depan pagar besi markas. "Kenapa kau di sini?" "Geto mencari pamanku." "Guru Saito?" "Paman tidak mau datang," kata Mia setelah berjalan dan menyipit menatap pemandangan markas yang kotor dan penuh ilalang lebat. "Apa tempat ini tidak terurus? Menyedihkan sekali." "Ini hanya tempat biasa. Geto sengaja mengambil tempat ini untuk bersembunyi," balas Arata menjelaskan. "Kenapa Geto mencari guru?" Mia mengangkat bahu. "Aku tidak tahu alasannya. Karena paman tidak mau berurusan dengan siapa pun atau pihak seperti Geto, dia tidak berniat datang. Aku yang menggantikannya." "Dia tidak akan bicara padamu." "Begitu?" Mia mencibir. "Untuk apa aku kemari?" Seseorang membuka pintu dan Arata menoleh saat melihat Geto muncul, menyembunyikan kedua tangannya dengan gelengan kecil. "Aku menduganya. Saito Yada tidak lagi ingin berurusan dengan kami lagi," ucap Geto kaku. "Kau hadir ingin bicara mewakilkan dirinya?" "Kalau kau berkenan, tentu saja." Geto melirik Arata secara singkat sebelum mengendik pada pintu markas. "Kau bisa masuk. Kita bisa bicara di dalam tanpa terdengar pihak luar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN