Mia mengaduk sup ayamnya dengan senandung ringan. Semalam saat Asakusa dilanda hujan deras, dirinya sempat berpikir akan memasak sesuatu yang panas untuk membuat tubuh tetap hangat. Malam panjang nan dingin telah terlewati terganti dengan langit yang lebih cerah serta kicauan burung indah di pagi hari.
Memeriksa nasi kali ini, Mia memindahkan sisa nasi buatan Liana untuk dirinya sendiri dan memasak beras baru untuk yang lain. Suara lirih Liana terdengar saat gadis itu menyapanya.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Liana penasaran setelah duduk. "Kepalamu tidak sakit lagi? Aku pergi ke kamar karena Arata bersedia menjagamu."
Mia berdeham saat nama pria itu disebut. Pipinya terasa panas kala matanya melirik Liana, berpura tidak peduli. "Aku sudah merasa lebih sehat pagi ini. Siapkan meja makannya, aku harus membereskan sarapannya sebentar lagi."
Liana membawa kedua kakinya untuk pergi menyiapkan meja makan. Seperti rutinitas pagi biasa yang selalu berjalan tenang, kali ini Liana juga melakukannya dengan santai. Merasa lega karena mendapati Mia sudah lebih pulih.
Saat Mia berbalik, pemandangan sosok tinggi besar nan tegap menghalangi pandangannya. Kepalanya terdongak, melihat Arata yang berhenti untuk menatapnya.
"Kau memasak sarapan?" tanya Arata datar.
"Ya," cicitnya pelan.
Alis pria itu tertaut manakala matanya melirik dapur yang sedikit kacau pagi ini. "Aku yang mengurus sisanya. Kau bisa duduk di sana sembari menunggu," sahutnya setelah mengambil mangkuk dari tangan Mia dan berjalan lebih dalam ke dapur.
Liana melihat Mia berjalan mendekati meja. Kemudian pada sosok Saito yang baru membersihkan diri ikut bergabung di meja makan bersama. Arata mengambil alih untuk menata segalanya dan Liana membantu.
"Aku akan memakan nasi sisa kemarin," kata Mia sebelum pria itu mengambil nasi yang baru masak untuknya. "Itu masih bagus dan sedikit lembek. Liana sudah bersusah payah membuatkannya untukku."
Arata hanya mengangguk, memindahkan tangannya untuk membersihkan sisa kemarin ke dalam mangkuk kecil.
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Kau sudah merasa cukup sehat?" tanya Saito saat mendapati pipi Mia masih sedikit pucat walau tidak separah sebelumnya.
"Ini terasa jauh lebih bagus," balasnya setelah meja terpenuhi oleh lauk dan sayuran. "Tidur paman nyenyak semalam?"
"Hujan membantuku tetap rileks. Suaranya seperti pengantar senandung terbaik." Saito tersenyum ketika Mia menuangkan air minum untuknya.
"Bekasnya belum memudar."
Liana bersuara ketika melihat bekas kebiruan yang terlihat kontras dengan bersihnya kulit Mia. Gadis itu mencoba menyentuh, kemudian mendengar ringisan kecil, mengurungkan niatnya. "Lain kali hati-hati. Biasanya kau bisa menghadang mundur mereka semua. Pengacau pasar memang sudah bersikap keterlaluan."
"Aku tidak bisa menghadapi mereka karena sedang sakit." Mia membalas dan Liana memutar bola mata bosan.
"Kalau saja tidak ada Arata saat itu, bagaimana dirimu? Kau mungkin sudah babak belur. Mereka tidak peduli siapa pun itu. Perempuan sama saja harus mendapatkannya," gerutu Liana sedikit kesal setelah menyantap lauk dan supnya. "Kau membuat kami semua cemas."
"Itu untuk yang terakhir kali," ujarnya penuh janji.
"Jadi, kau apakan mereka? Ketua kelompok pasar itu menyebalkan dan suka seenaknya. Dia harus diberi pelajaran setimpal."
Sebelah alis Saito terangkat saat memeriksa ekspresi Arata yang berubah. Sang pengembara terlihat bingung, sedikit tidak nyaman ketika menurunkan sumpit makannya.
"Aku tidak berbuat lebih jauh."
Sebaris kalimat yang membuat Saito mengurungkan niat untuk bersuara. Kemudian melirik Mia yang menunduk, mengabaikan tidak mendengar.
"Tidak apa. Tapi kau berhasil membuat mereka semua ketakutan, kan? Itu sudah hebat. Mereka harus tahu diri." Liana mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.
***
Geto melihat Arata yang duduk tepat dari salah satu kursi tua dekat markas. Sebuah gedung tersembunyi milik petinggi untuk menjaga Asakusa yang menjorok ke hutan lepas.
Sang pengembara hanya duduk, menyandar pada batang pohon bersama katana di bahu. Saat Geto mencibir mengambil alih perhatiannya, Arata ikut melirik.
"Kami sudah menangkap semua orang yang kau beritahu kemarin siang. Atas laporan para penduduk yang resah karena kehadiran mereka," kata Geto membuka percakapan. "Tabib itu tidak apa?"
"Kondisinya sudah menuju pulih."
"Kau peduli padanya?"
Sebelah alis Arata terangkat naik. "Ya."
Geto meringis pelan sebelum mengalihkan tatapannya ke arah lain. Kedua tangannya terlipat, ekspresinya berubah serius.
"Asakusa memang menjadi tempat penyisihan para pendekar yang tidak memiliki ruang lagi di mana pun. Tokyo yang sekarang berbeda dengan dulu. Petinggi yang kurang stabil dan kekuasaan Kaisar yang sering terguncang. Era baru belum sungguh ada."
Arata menghela napas panjang. "Mereka hanya butuh kepastian untuk tetap bertahan setelah zaman tergantikan. Tidak semua memiliki kemampuan mengarungi kehidupan masa depan yang berat."
"Kau berencana akan menetap di Asakusa lebih lama, kan?" Geto bertanya datar. "Walau untuk beberapa hari ini tidak ada yang serius setelah Sagara ditahan."
"Aku tidak tahu," akunya.
"Asakusa memiliki Saito Yada sebagai pemilik salah satu legendaris. Tetapi menurut informasi yang kudapat, pria tua itu tidak ingin berjuang di garis depan. Dia tidak ingin memberikan kesempatan dirinya untuk mengayungkan itu demi menghadang siapa pun. Dia hanya menjadi seorang guru biasa."
"Prinsip hidupnya sudah berubah," balas Arata datar terlalu minim ekspresi. "Dia memutuskan untuk membagi ilmunya dengan penerus Asakusa yang baru agar berguna untuk orang lain di masa mendatang."
"Kalau saja kau melenyapkan semua orang itu, kami tidak perlu melepas tenaga membawa mereka ke sel dan hanya perlu memakamkan layak."
Arata mendengus kecil, melirik Geto yang memasang wajah muram. "Aku tidak berniat sejauh itu kepada mereka."
"Alat kayu lemah itu," gerutu Geto sinis. "Yang benar saja. Kau memakainya untuk menghalangi mundur mereka semua?"
Sunyi membentang luas di antara mereka berdua setelah Arata memilih untuk diam, belum menjawab pertanyaan apa pun.
"Aku tidak berniat melakukannya lagi setelah era baru tercipta. Jika mereka mau berjanji akan memberikan perdamaian dan kehidupan yang lebih baik, aku mundur."
Geto merenung.
"Aku tidak akan sama seperti dulu lagi."
Kepala sektor dua itu mencibir, matanya menyorot sinis serta ketidakpercayaan dingin terhadap rekannya. "Kau bicara apa sekarang?"
"Aku sudah berjanji," balasnya kaku.
"Kau berkata pada tabib itu?" Geto meringis tidak peduli. Begitu jelas mencemooh Arata yang diam. "Kau berjanji tidak memakai katana itu lagi?"
"Dia mengenalku sebagai sosok gelap di masa lalu dan tidak terpengaruh atas gelar tersebut." Arata mengambil napas menghelanya perlahan. "Aku tidak bersumpah padanya, tetapi pada diriku sendiri."
"Konyol. Bagaimana bisa kau memegang itu tanpa melukai mereka? Apa itu mungkin?"
"Aku tak yakin," akunya datar.
"Saito Yada mungkin sudah berhasil merubah isi kepalamu." Geto menggeleng dengan raut ketus, memandang Arata yang masih melamun menatap langit di atas sana. "Dia mungkin berperan besar merubah keputusanmu setelah era baru terbentuk. Bagaimana bisa katana bergerak tanpa meninggalkan bekas di orang lain? Kau memakai alat terbaik, bukan benda kayu aneh itu."
Seseorang masuk untuk menginterupsi percakapan mereka. Geto mendengus keras, menatap Arata yang membatu sekali lagi sebelum masuk ke dalam markas dan memeriksa laporan baru. Meninggalkan Arata sendiri tanpa bicara.
***
Percakapan antara Geto dan dirinya sudah berakhir. Arata tidak memperpanjang perdebatan setelah Geto mendapatkan laporan baru dan dia tidak ingin mengusiknya. Mantan rekan seperjuangan yang memilih jalan hidupnya sendiri, Arata tidak mau mengeluh.
Geto memang menginginkan tempat yang lebih pasti dan strategis. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai pelajaran di masa lalu hanya agar mendapatkan posisi yang dia mau. Geto sudah mendapatkannya saat ini. Dia bebas, walau masih terlibat dengan petinggi penting.
"Kincir angin barunya. Silakan mampir untuk membeli."
Seseorang menjual aneka kincir angin berbagai warna dan bentuk dalam gerobak. Arata terdiam, menatap separuh kincir angin yang telah tandas dan melihat dua anak kecil berlarian mendekat dan mencobanya. Membayar dengan beberapa koin perak sebelum berlari senang dengan tawa ceria satu sama lain.
"Silakan mendekat untuk melihat."
Sang pedagang dengan ramah mendekati calon pembeli yang sedang sibuk menilai. "Harga semuanya serupa. Kau bisa memilih mana pun yang disuka."
"Ini," ucapnya setelah mengambil benda itu dari wadah kayu dan mengeluarkan beberapa koin perak. "Aku akan mengambil yang ini."
"Tentu, terima kasih telah membeli."
Selama perjalanan, kedua baling pada kincir angin selalu terputar lembut. Arata termangu, menatap kincir angin miliknya sendiri dan membiarkan angin dalam perjalanan memberi sedikit hiburan di tengah penduduk yang ramai. Ia harus melewati pasar sebelum kembali ke rumah.
"Aku sudah tidak apa. Maaf merepotkan untuk kemarin," kata seseorang yang serta mengeluarkan dompetnya. "Berapa bahan barunya? Aku harus menutup sisanya."
"Kau ini kenapa, Mia? Sudah, ambil saja semua. Bagaimana bisa aku setega itu melihat seluruh bahan masakan yang jatuh dan kotor?" si pedagang dengan ramah mengembalikan lembaran uang itu kembali padanya. "Aku tidak mau menerimanya."
"Bibi, terima kasih sekali lagi. Tapi yang kemarin terlalu banyak. Kalian baik sekali padaku."
Mia masih bersikeras memberi lembaran untuk membayar dan pedagang itu sama keras kepalanya selalu menolak. "Aku sungguh tidak enak hati sekarang."
"Kau juga sering melakukannya," sahut perempuan paruh baya itu dengan senyuman. "Jangan lupa untuk melihat kebaikanmu sendiri pada kami."
Ekspresi gadis itu melunak dengan senyum.
Saat Arata menoleh, Mia juga ikut memandangnya. Gadis itu membawa barang bawaannya untuk pergi setelah mengucapkan terima kasih dengan sopan pada para pedagang di pasar yang berbaik hati membantunya kemarin. Mengganti bahan yang terjatuh dengan yang lebih bagus.
"Kau dari mana?"
"Geto," balas Arata singkat, menurunkan kincir angin miliknya dan melamun.
Pandangan Mia turun, mengamati isi tangan pria itu yang sedang memegang mainan baru. "Kau menemukannya di sana?"
"Aku juga harus menyimpan satu untuk Liana."
Mia berbalik, berjalan melewati beberapa orang untuk pergi ke penjual kincir angin yang masih setia memamerkan barang dagangannya. Sementara Arata bergeming, mengamati punggung gadis itu yang perlahan menjauh.
Balingnya kembali berputar. Sapuan angin yang lembut membawa kincir angin itu bergerak. Ketika Arata meraihnya lebih dekat, mengamati yang berputar dan merenung.
Lalu bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum singkat yang tak kentara.
***
Kali ini Mia duduk untuk melihat perkembangan Liana yang semakin baik setiap hari. Semangat gadis kecil itu sangat tinggi. Dia berjuang untuk berlatih, menyempurnakan teknik bela diri dan kemampuannya untuk menghadapi banyak kendala.
Kemudian sekarang Saito melihatnya sedang bersama Yuda. Si gesit yang ramping juga tak kalah hebat. Ketika murid lain bersorak, mendukung keduanya dengan antusias. Mia mendengus kecil melihat Liana yang tersengal dan Yuda yang berkeringat deras. Keduanya belum menyerah, masih berusaha untuk berhasil satu sama lain.
Saito berwajah kaku memandang keduanya. Sang guru yang terlihat ramah kini minim ekspresi. Ini semata hanya untuk membuat mereka sadar akan keterbatasan sebagai seorang guru yang menginginkan kemajuan bagus pada anak muridnya.
Mia berpaling, perhatiannya tertarik pada Arata yang duduk sendirian. Bersama satu kincir angin mungil di tangan, tatapan pria itu lekat memandang baling yang berputar lembut karena sentuhan angin. Udara terasa lebih sejuk setelah semalam dilanda hujan hingga pagi menjelang.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Arata mengernyit, melirik siapa yang mengambil tempat kosong di sebelahnya. "Tidak ada."
Mia mengambil napas. Rasanya berharap semalam tidak terjadi apa pun sedikit mustahil. Mungkin mereka berdua hanya refleks, spontan karena berada dalam kamar yang sama dan posisi yang terdesak. Mia hanya mencoba mengabaikannya, menjadikan semalam sebagai bagian dari mimpi indahnya dan masih merasa malu.
"Apa dia membahas tentang Hiro dan Emi?"
Sebelah alis Arata tertaut. "Geto menjaga mereka sampai perbatasan dan tidak lagi melihatnya. Mungkin saja mereka sudah sampai atau berteduh di suatu tempat. Aku tidak tahu kabarnya."
"Aku kesal pada Emi, tetapi aku tidak bisa terus seperti itu." Mia menekuk kedua lututnya untuk memeluknya. "Dia sudah merana karena memiliki keluarga seperti itu. Satunya orang yang dia percaya hanya Hiro, suaminya. Pria yang juga dicintainya. Kalau saja saat itu Hiro gagal, Emi tidak akan hidup lagi. Dia juga memilih untuk menyusul cintanya."
Bibir Arata terkatup rapat.
"Apa cinta memang selalu seperti itu?"
"Maksudnya?" tanya Mia bingung.
"Berkorban. Merelakan untuk meloloskan yang lain. Hiro sempat bilang bahwa dia ingin istrinya bahagia setelah dia tiada," balas Arata datar. "Dia menitipkan salam padanya dan juga rela menanggung segalanya hanya agar Emi bebas."
Mia menoleh, memandang sebelah wajah tak ada ekspresi pria itu dengan senyum tanpa dosa. "Aku sendiri juga tak mengerti. Namun ayah pernah bilang akan melakukan apa pun untuk kami, keluarga tercinta. Bukankah, itu juga sama saja? Keikhlasan untuk seseorang yang sangat berharga. Jika kau pergi untuk dia yang penting bagimu, kau tidak akan menanggung luka apa pun setelah kematian."
Raut dingin itu perlahan berubah, menggambarkan sakit yang dalam saat Arata menghela napas dan Mia bergeming, menahan napasnya sendiri.
"Liana belum melihat kincir barunya," kata Mia merubah topik percakapan dengan kekehan pelan. "Saat dia sering jatuh sakit dulu, aku membawakan banyak kincir angin untuknya. Liana sangat senang dan merasa terhibur walau teras ini penuh dengan benda miliknya. Tetapi dia melepasnya karena tua. Paman yang membantu membersihkan. Dia sangat menyebalkan."
Sorot kelam Arata terpaut pada kincir angin miliknya tanpa suara. Lalu secara mengejutkan memberikannya pada Mia, meminta gadis itu untuk memegangnya. "Kau bisa menyimpan benda itu."
"Ini untukku?"
Arata terdiam bingung sebentar sebelum mengangguk. "Ya, hadiah dariku."
***
Saito memandang bintang yang bersinar tanpa bulan. Malam ini cukup cerah dari malam sebelumnya yang dipenuhi hujan dan badai. Sekarang dirinya bisa duduk bersantai, merasakan malam nyaman tanpa takut badai tiba.
Arata muncul dari dapur setelah mengambil alih tugas untuk berbenah. Pria itu mengajukan diri agar berguna untuk Mia sebagai pemilik rumah yang berbaik hati memberikannya tempat untuk tidur dan beristirahat sementara waktu sebagai rumah untuk pulang.
"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, Arata."
Iris kelam pria itu meliriknya singkat. Arata bergeser untuk ikut beristirahat bersama Saito yang tengah bersantai. "Aku sebisa mungkin akan membantu. Itu membuatku terlihat lebih bermanfaat di sini."
"Apalah dayaku yang merepotkan semua orang," ujar Saito santai dengan kekehan ringan. "Mia pasti mengomel seandainya aku mengambil tugas itu dan kami akan berdebat sebentar. Lalu aku melakukan apa pun yang kumau. Dia tidak bisa menghentikannya."
Melihat Arata yang diam, Saito mengubah topik percakapan mereka ke arah yang lebih serius.
"Bagaimana dengan putri kepala desa?"
"Hiro berhasil membawanya pergi dari Asakusa. Mereka sangat merasa bersalah dengan para penduduk. Dia yang akan merawat istrinya sendiri di tempat lain," jawab Arata datar. "Geto menemani mereka sampai di perbatasan dan melepaskan keduanya keluar."
"Setelah Sagara dinyatakan tidak lagi ada di Asakusa," lanjut Saito bersama gelengan. "Urusan kepala desa bisa saja berbuntut panjang. Kau tahu, pedagang yang licik dan suka memainkan kepentingan demi pribadi. Keharusan yang akan selalu ada."
"Aku tidak bisa banyak berkomentar," sahut Arata dingin mimik wajahnya semakin datar.
Kepala Saito beralih, memandang kincir angin milik Liana yang terpasang setelah gadis itu menempatkannya di tempat terbaik. Itu ide Liana.
"Melihat seberapa rentan posisimu, aku yakin mereka masih mencari tahu keberadaanmu. Asakusa mungkin tempat yang aman, tetapi belum tentu selamanya. Julukan itu akan selalu melekat, benar? Apa kau bisa hidup tanpa katana itu lagi?"
Arata melamun sesaat sebelum bibirnya membuka untuk bersuara. "Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak akan meneruskannya setelah era baru ini terbentuk lebih sempurna."
"Jika kau belum menemukan titik kunci balik dalam kehidupanmu, kau tidak akan pernah bisa menepati janji tersebut."
Sinar matanya berubah lebih rapuh. Saito balas memandang pria itu, menggeleng singkat. "Kau mendengarnya dengan jelas, pejuang. Janji akan tetap menjadi kalimat tanpa berbentuk nyata. Katana itu haus, sama sepertimu. Dalam prinsip pendekar, kita harus tetap menjaganya tetap hidup. Benar, kan?"
"Apa yang membuatmu berubah?"
Sepasang bahu Saito bergerak turun. "Malam saat keluarga malang ini pergi. Aku bisa melihat hujan anyir dari dalam rumah yang besar. Saat itu semua berubah sebagai mimpi buruk, malam yang terlalu gelap. Aku hanya mendengar suara isakan lirih Mia dan untuk seterusnya, aku memutuskan berjanji di depan mendiang keluarga Mia."
"Berhenti. Jangan mendekatinya."
"Aku tidak tahu alasan seseorang membiarkan Mia kecil sendirian dan menduduk penuh ketakutan. Itu bukan miliknya, melainkan dari orang lain. Keluarganya sendiri. Mereka yang berusaha keras untuk melindunginya."
Saito menghela napas sedih. "Gadis itu yang tersisa. Hanya dia yang bernapas. Hujan itu membuat tubuhnya basah, begitu menggigil kedinginan."
Arata menunduk semakin dalam. Menatap kedua telapak tangannya yang kasar bersama napas lirih sebelum menghelanya perlahan. Pemandangan penuh arti yang tak bisa Saito lewatkan sedikit pun dari sosok pejuang yang terkenal.
***
Geto memadamkan cerutunya saat bangun, sedang tengah bersiap menemui seseorang menjengkelkan yang menggangu jam istirahatnya. Saat muncul dari kamar sosok angkuh itu duduk dengan santai, melihat berkas laporan tanpa ekspresi sungkan.
"Kau tidak tahu jam berapa ini?"
"Aku memang sengaja ingin menghentikan mimpi damaimu, Geto." Suara itu terdengar dingin walau bibirnya tersenyum. "Kedatanganku ke Asakusa bukan tanpa sebab. Aku sedang mencari seseorang."
Seolah tahu yang terjadi, Geto memutar matanya malas. "Kau mencari Arata? Pejuang yang melarikan diri sepuluh tahun lalu dari neraka Kyoto. Apa kau berpikir dia melarikan diri ke Asakusa?"
"Mengapa kau menyembunyikannya?"
"Aku tidak begitu," sahut Geto sinis.
"Apa Arata pantas hidup layak di tempat yang indah seperti ini?" seseorang mendengus jengkel ke arahnya dan Geto sama sekali tidak tersinggung. "Arata hidup damai di kota orang. Apa itu terdengar pantas, Geto?"
Berkas laporan itu terbang sesaat setelah pria itu menggesernya dengan pongah. Membiarkan kertas berantakan dan kedua mata Geto terpejam menahan diri.
"Apa kau berutang padanya, Geto? Pada Arata yang menyelamatkanmu sebelum insiden massal di Kyoto? Neraka itu tercipta karena dirinya. Kami hanya menjalani perintah atas dasar sesama manusia."
"Kau bersikap seolah langit memberimu petunjuk untuk memberinya balasan?" Geto bersuara sinis dan mendengus keras. "Dasar kaum tidak tahu diri."
"Kita ada di kubu yang sama, Geto. Apa kau lupa?"
"Aku tidak pernah merasa sejalan denganmu," balas Geto datar.
Si pria misterius itu tertawa. Suaranya yang keras serta membahana memenuhi seisi ruangan dengan unsur kegelapan. Rasanya seolah menyentuh lehernya. Geto terdiam, masih menilai pria itu tanpa mau membuka mulut.
"Kau dan aku pernah berjuang di tempat yang sama, Geto. Betapa munafiknya dirimu," sahut pria itu kaku. "Jelas sekali seorang anggota terhormat membela si manusia bertangan dingin. Arata adalah incaran negara ini dan kau membantunya? Apa kau tidak malu dengan pangkat dan gelarmu?"
"Sepuluh tahun bukan waktu sebentar untuk kau menyadari sesuatu."
Geto melangkah untuk memberi tatapan sinisnya ke arah pria itu. "Bahwa Arata tidak lagi berbuat lebih untuk orang lain. Dia tidak bergerak atas perintah siapa pun, melainkan karena keinginannya sendiri. Dia tidak melakukannya secara terencana."
Sorot mata mereka bertemu dan sang pria mendengus kesal. "Kau tidak merasa tersudut sama sekali, Geto? Dia yang pasti menjadi mimpi buruk kita semua. Kau dan aku. Dia yang menghancurkan kami dalam waktu yang sebentar. Sebelum Arata berhasil melakukannya, kau dan aku harus bertindak untuk menghadang langkahnya."
"Kau dan aku tidak akan bisa menahannya," sahut Geto cepat. "Sebagai pendekar terkuat, dia masih belum terkalahkan."
Sosok itu mengeluarkan sesuatu dari jubah hitamnya. Memberikan Geto selembar kertas yang terlipat dengan tali. Tatapan Geto terlihat bingung saat menerimanya, menaruh lembaran itu ke meja dengan cibiran. "Aku akan melihatnya nanti."
"Kau bisa membacanya sekarang," kata pria itu dengan kekehan. "Setelah itu kau bisa mencari ingatanmu lagi tentang Arata sepuluh tahun atau sebelumnya. Saat kalian masih sebagai rekan baik."
Geto menghela napas lelah. Hampir saja mendesis ke pria itu saat membuka talinya lepas dan mengintip gulungan kertas. Yang nampak hanya sebuah gambar dari coretan tinta. Ada sketsa sempurna yang sedikit menguning karena waktu.
"Kau tidak tahu alasannya kembali ke Asakusa untuk apa?"
"Dia mengembara tanpa tujuan," balas Geto pahit setelah mendalami potret itu dan melihat ujung kertasnya tertulis tahun serta nama. Sentuhan terakhir sebelum kertas ini berpindah tangan. "Dia pergi ke Asakusa hanya untuk melihat sebentar."
"Kau sangat percaya padanya. Terlalu aneh untuk sekadar bertahan." Si pria menyahut dingin setelah berjalan pergi. Melihat gestur tubuh Geto yang masih membeku.
"Kau harus bisa memilih, Geto. Mana pihak yang pantas kau lindungi dan yang tidak. Gambar itu seharusnya membuatmu tahu sesuatu, kan?"
Pintu lekas tertutup setelahnya. Dari pencahayaan yang remang dan minim, Geto menghela napas lirih. Sorot matanya yang dingin bertambah kaku saat sebelah tangannya mengepal kuat.
"Mereka itu," gumamnya sinis.
Geto memutar, memerintahkan anak buahnya untuk mengirimkan pesan darurat pada seluruh orang yang ada di Asakusa guna memantau tamu tak diundang tadi lebih dekat.
"Sampaikan semuanya secara berkala padaku. Dia berpotensi besar berbuat lain di Asakusa hanya untuk mencari perhatian Arata."
Seakan sketsa itu mengembalikan ingatannya lebih dari sepuluh tahun lalu, Geto mematung. Memandang gambar itu penuh perhatian saat tidak menemukan petunjuk apa pun. Kehadiran Arata kembali di Asakusa bukan tanpa maksud. Sang pendekar punya tujuan sendiri yang tidak diketahui siapa pun.
Mengapa semua orang gemar bermain-main?