Geto memandang api yang melahap semua orang tanpa tersisa. Ia menumpuknya menjadi satu setelah berdoa, memohon agar raga mereka tenang. Mau bagaimana pun, anak buahnya sudah berjuang sejauh ini bersamanya. Takdir mengenaskan tidak pantas mereka dapatkan. Kedua matanya menyipit, menatap langit yang mendung dengan murung. Sepuluh tahun berlalu dan dunia masih tetap sama. Para penguasa menginginkan sesuatu yang lebih besar serta lebih banyak. Mereka tidak pernah merasa cukup. "Aku harus bicara denganmu." Sebuah suara datang dari balik punggungnya. Geto menghela napas panjang, berbalik untuk melihat siapa yang menemuinya sesore ini. "Kita bisa bicara di dalam," ungkap Geto setelah berjalan masuk dan Mia mengikuti, menatap para korban yang pergi dalam diam. Ruangan terlihat lebih sepi begi

