Arata melamun, seorang diri bersama sepinya malam kala rintik menemani. Suara hujan tidak sebising sebelumnya, menyisakan gerimis sendu yang mengantarkan malam hingga pagi menjelang. Sorot matanya meredup, bayangan samar bersama lubang masa lalu kerap menghantui malamnya. Langit malam tidak mampu menandingi hitam tanpa dasar yang terbentuk jauh di lubuk hati. Kincir angin berputar lembut. Mengisi kosong dalam temaramnya ruangan. Kamar terasa sepi sesudahnya mereka menuntaskan hasrat satu sama lain. Arata tidak merasa hampa, melainkan berat karena rasa bersalah. Perasaannya tergores semakin dalam setiap kali menyentuhkan tangannya pada Mia. Hatinya menangis, sekeras apa pun dirinya mendamba. Kelembutan dan bagaimana cara wanita itu memperlakukannya layaknya memberi rumah adalah hal yang

