Asakusa, 29 Oktober 1912. Saito bisa mendengar cemasnya sang istri yang sibuk berdiri. Gelisahnya sampai ke sofa tempat mereka duduk. Ada sang suami yang turut menggeleng, merasakan kegelisahan sang istri. "Dia mencemaskan Izumi," kata sang suami lirih. "Meski dia bukan putri kandung kami, aku dan istriku menganggap Izumi sebagai bagian dari keluarga. Dia seperti anak sulungku. Kakak tertua Mia." Ekspresi Saito tidak berubah. Menelisik masa lalu Izumi yang mengenaskan turut membuatnya iba. Dia hanya anak perempuan tak bersalah yang mendapat banyak cacian. Malang hidupnya membuat keluarga bangsawan Asakusa memutuskan untuk merawatnya. Setelah Mia lahir, Izumi dengan senang menjaganya. Gadis itu memberi banyak perhatian dan curah kasih sayang untuk Mia, adiknya. "Tidak semua orang menyuk

