Asta tersenyum saat menyadari jika tulisan tersebut tentang mendiang ibu Hani. Tadi pagi, saat berjalan ke halte busway, aku mendengar suara teriakan melengking anak perempuan. Aku menengok dan menemukan dia sedang sedang digelitiki oleh perempuan dewasa yang sepertinya adalah ibunya. Aku jadi teringat dengan ibu yang dulu kerap memelukku setelah aku mandi sore. Aku merindukannya. Senyum di wajah Asta masih ada, tetapi kali ini berbeda dari senyumnya sebelumnya. Kali ini yang muncul di raut mukanya ada senyum simpati. Melirik Hani, Asta bersyukur Hani masih mengingat memori indah dengan mendiang ibunya itu. “Kau teringat ibumu.” kata Asta. Ia tidak merasa perlu mendiskusikan tulisan Hani yang satu ini. Jikapun ada, ia ingin Hani menumpahkan emosinya lebih banyak lagi dan berdiskusi bers

