“Menurut mas, pria berkemeja batik itu suka atau tidak sama perempuan di hadapannya itu? Tadi mereka datang berdua dan si pria datang menjemput si perempuan dari rumahnya.” Mas Adi sempat memerhatikan tingkah laku kelompok di seberang kami itu. Matanya, tidak sepertiku yang tadi sampai memicing-micing, dia hanya melihat biasa saja melalui lensa kacamatanya. Mungkin aku perlu membeli kacamata juga supaya bisa mengamati gerak-gerik orang lain tanpa terlihat mencurigakan. “Dia suka sama perempuan di depannya itu.” jawab Mas Adi dengan nada datar namun seakan-akan sudah tahu sejak lama. Aku cukup kaget mendengar jawabannya itu. “Tahu dari mana mas?” tanyaku penasaran. “Coba kamu perhatikan saja perlakuan pria itu ke perempuan di depannya.” ujar Mas Adi. Aku pun memperhatikan kelakukan

