"Aku tidak akan pernah bisa melupakan saat pertama kali kita bertemu." ujar Lili mengingat momen tersebut. Kedua telinga Adit memerah mendengar ucapan Lili. Ia menundukkan kepalanya, berharap Lili segera menyudahi topik tersebut. Tingkah Adit itu membuat Lili semakin ingin menggoda pria yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu. "Aku ingat, awalnya kau bersikap acuh tak acuh ..." Adit menyesal mengapa ia bersikap seperti itu. "Lalu saat kau mengatakan aku wangi teh ..." sambung Lili. Adit mengusap-usap wajahnya dengan tangan kirinya. Frustasi. 'Beri aku pintu ke mana saja. Sekarang.' batin Adit berharap keinginannya terkabul saat itu juga. Sayangnya, angan hanyalah sekadar angan. Sudah keinginannya tak terkabul, Lili menyadari hal yang sedari tadi ingin disembunyikannya. "Tung

