Aku dan dia dulu terbiasa berbagi satu piring dan gelas yang sama. Terbiasa bergandengan tangan ke manapun kami pergi. Lalu satu keputusan itu, kurasa, mengubah hubunganku dan dia. Memberi jarak yang tidak pernah kuduga akan hadir di antara aku dan dia. Lebih tepatnya, sejak dia memutuskan untuk meninggalkan pulau kecil ini dan pergi bersekolah di kota. Sejujurnya, aku tahu dia selalu ingin pergi ke kota. Dia selalu memberitahuku akan keinginannya itu sedari dulu. Bermain dan bergaul di bangunan sekolah yang tinggi itu, layaknya adegan di film persahabatan remaja. Itulah mengapa aku tidak kaget saat dia mengungkapkan keinginannya itu. Meski sempat mendapat pertentangan, pada akhirnya ia berhasil mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Aku ingat sekali, keesokan harinya, ia menga

