Penyekapan Nami

2101 Kata
Kuletakan lagi ponsel di meja, lalu aku duduk di depan meja rias. Mengeringkan rambut basahku dengan hair dryer. Suara bising halus benda itu agaknya membangunkan tidur Takashi, karena kulihat melalui pantulan cermin, lelaki itu mulai terbangun. "Kau sudah bangun, sayang?" ucapku lalu mematikan hair dryer dan berganti menyisir rambutku.  "Jam berapa sekarang?"  "Jam sembilan, apa kau ingin pergi?" sahutku bernada memelas. Aku ingin mengahabiskan hari ini bersama dengannya sampai malam tiba. Pasti aku akan kecewa jika dia keluar dari apartemenku tanpa diriku.  Dan sepertinya dia memahami ekspresi wajahku, sehingga dia mengatakan. "Hari ini aku tidak ada kesibukan." Maka aku pun bersemringah, dan Takashi melanjutkan kata-katanya. "Aku akan menemanimu seharian." Hariku seketika menjadi secerah mentari meski di luar sedang berawan mendung.  *** Hati Sakura gelisah. Dia berdiri memandang ke luar jendela dengan tidak tenang. Dia ingin marah tapi tidak bisa. Rasa kesal ini harus dia apakan? Sebuah ketukan pintu segera menyadarkannya. Sakura mengizinkan seseorang itu masuk, dan seorang pelayan datang ke dalam sambil mendorong troli makanan. Pelayan itu lantas membuka penutup saji. Senyum penuh makna terbit di wajah Sakura setelah melihat menu makanannya.  "Aku menyukainya," bisik Sakura menatap tertarik pada selembar foto turut disajikan bersama makanannya. Sebuah foto yang memotret visual Nami.  *** Memanfaatkan kesempatan Takashi berada di apartemenku hari ini, siangnya aku memasak makanan untuk kami berdua. Aku sempat sarapan tadi dengan bubur yang dibelikan Takashi, namun sedikit kecewa karena dia mengaku sudah makan duluan di kedai sehingga aku harus sarapan sendirian. Marahku saat itu terhanyutkan oleh tatapannya selama menemaniku sarapan. Dia terus menatapku, membuatku merasa salah tingkah dibuatnya. Tidak hanya itu, godaannya kepadaku meluruhkan kekecewaanku padanya mengenai sarapan.  Tapi siang ini aku tak ingin membuang kesempatan. Takashi sekarang sedang menonton televisi. Berita tentang ghoul Historic masih dibahas oleh pembawa berita tersebut. Historic, siapa sebenarnya ghoul itu, kemana dia bersembunyi? Akankah aku dapat menemukannya? Kuharap umurku masih panjang agar bisa bersama dengan Takashi di masa depan. Sosok kekasih yang jarang makan bersama denganku. Tapi kali ini akan kupastikan kami berdua makan siang bersama! Dengan menu sayur-sayuran, aku memotong cepat aneka sayur di tanganku. Memotong adalah keahlianku.  "Aw!" pekikku. Langsung membuat Takashi berpaling dari televisinya. Aku meringis perih menatap jemariku teriris pisau sehingga kini darah segarku keluar semakin banyak.  Takashi berdiri di sampingku. Aku menoleh menatapnya, dengan menunjukan puppy eyes, aku menyodorkan jemari yang terluka padanya. "Bisakah kau menghisapnya untukku? Biasanya sepasang kekasih akan melakukannya." Aku meminta dengan manja.  Talashi seketika terlihat menegang. Apa dia canggung? Atau malu? Atau mungkin merasa jijik? "Apa kau merasa jijik?" tanyaku hati-hati. Takashi menggeleng. "Kalau begitu, cepat hisap darahku sebelum bertambah banyak," desakku mendekatkan jariku ke wajahnya. Takashi terdiam, dia menatap luka di jariku seolah sedang mempertimbangkan.  Tapi perlahan-lahan dia menyentuh tanganku dan mendekatkan bibirnya ke luka jariku. Hingga dapat kurasakan sentuhan kenyal bibirnya yang hangat saat menghisap darahku. Kuperhatikan dia sangat lembut dan manis. Aku jadi semakin menyukainya.  "Sudah, darahmu tidak keluar lagi," ujar Takashi menginterupsiku dari lamunan mengaguminya.  "Oh, terima kasih. Kembalilah duduk, makan siangnya sebentar lagi selesai," kataku.  "Makan .... Siang?" gumam Takashi. Aku masih dapat mendengarnya. Apa dia mau beralasan lagi untuk kabur dari acara makan bersamaku? Oh tidak, tidak akan kubiarkan.  "Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana okey? Dan jangan banyak alasan untuk menghindari makan bersamaku." Tiba-tiba aku merasa sedih sendiri saat mengingatnya. "Aku terkadang berpikir, apa kau tidak mau makan bersamaku karena aku terlihat menjijikan sehingga tidak membuatmu bisa makan dengan nyaman. Atau memang ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Aku mengatakannya sembari menuangkan seluruh potongan sayur ke dalam panci.  "Tidak, Kami. Itu sama sekali tidak benar. Aku sungguh sibuk untuk makan bersama." Takashi membela diri. Aku senang mendengarnya. Kini aku menghadap dirinya di dapur. Mengalungkan kedua lenganku ke lehernya sembari tersenyum ceria. "Coba katakan, makanan apa yang paling kau sukai?" Takashi telah mengonfirmasi bahwa dia tidak memiliki alergi terhadap makanan apapun. Sehingga aku berani memasak makanan apa saja tanpa perlu khawatir. "Hmm, dirimu." Satu kata dari Takashi, bagai panah cupid yang menusuk jantungku. Aku terkesima. Terkekeh kecil, aku mencubit pinggangnya dengan pelan, membuat Takashi berkelit. "Aku bukan makanan tahu!" Wajahku memanas seperti air sedang mendidih di panci. Aku malu. Bisa-bisanya dia menggodaku seperti itu.  "Aku berkata jujur. Kau sangat manis. Membuatku ingin sekali menerkammu, honey." Dia meraih pinggangku, menarikku mendekat saat dia merunduk dan berbisik ke telingaku. "Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku, ah bagaimana ini?" Kurasakan suhu tubuhku meninggi. Seolah ada gejolak larva yang meletup-letup. Aku tak kuasa memejamkan mata dengan lemah ketika bibirnya menempel di leherku.  Sampai kemudian aku disadarkan oleh suara panci di belakangku bahwa aku sedang memasak sayur! Seketika aku melepaskan pelukan mesra kami dengan terkejut, beralih pada panci berisi sup ayam dan mematikan kompor listriknya. "Sayurnya sudah matang!" riangku.  Lima menit kemudian kami sudah duduk berhadapan dengan beberapa piring makanan yang masih panas. "Kau harus mencoba daging ayamnya," kataku memberikan potongan daging ayam ke mangkuknya. Mangkuk Takashi sudah terisi penuh dengan nasi. Sama seperti mangkuk milikku. Ikan bakar tersaji menggiurkan di tengah meja.  "Itadakimasu~!" ucapku sebelum melahap satu suap makanan.  Kuperhatikan Takashi di depanku tampak ragu-ragu menyuapkan nasi ayamnya ke mulut. Aku melihatnya saat mengunyah. Menunggu komentar kekasihku terkait makan siang yang kubuat. "Bagaimana menurutmu?" tanyaku antusias.  Takashi menelan kunyahannya lalu bicara. "Aku tak menyangka kau bisa memasak makanan selezat ini." Aku tersenyum lebar. "Kalau begitu habiskan, jangan sampai ada sisa," peringatku. Lagi, Takashi terlihat kaget dengan reaksi yang menegang. *** Takashi telah kembali ke rumahnya sore itu, dan dia langsung berlari ke kamar mandi. Berlutut di kloset sambil berusaha memuntahkan isi perutnya melalui mulut. Hingga seluruh makanan yang dia makan tadi siang berhasil dikeluarkan lagi.  Takashi menghela napas panjang dengan lega. Lalu segera menyadari di belakangnya telah berdiri Sakura di ambang pintu kamar mandi. "Apa dia memaksamu makan?" Nada ucapannya terdengar sinis.  "Ada apa kau kemari?" Takashi mengelap bibirnya, lalu bangkit berdiri dengan sedikit lemas karena muntahan tadi. Takashi tidak heran bila melihat Sakura keluar masuk apartemennya dengan bebas. Karena dia belum mengganti password pintunya. Bukan karena itu juga. Tapi Takashi membiarkan Sakura masuk ke apartemennya -yang dia anggap sebagai keluarga sendiri- atas permintaan ayah Sakura. Takashi mengalah, dengan syarat pada Sakura untuk tidak ke apartemennya hanya sebulan sekali. Sakura menyetujui itu. Sebab, Takashi membutuhkan privasi.  "Dia tidak memaksaku makan. Akulah yang memaksakan diriku untuk makan," ucap Takashi membela Nami. Dia hanya ingin menyenangkan kekasihnya dengan makan di hadapannya. Walau sebenarnya hal itu sangat menyiksa Takashi.  Sakura mendengus tajam. "Mau sampai kapan kau tetap bersamanya? Suatu saat dia akan tahu siapa dirimu, dan pasti akan sangat kecewa padamu. Sekarang masih awal, berpisahlah dengannya sebelum dia membencimu," jelas Sakura. Lalu berbalik pergi. Meninggalkan Takahsi yang termenung diam.  *** Aku merasa tidak akan lagi melewati g**g sepi ini di malam hari. Terlebih malam ini aku sedang tidak bertugas dan tidak membawa koper kaguneku. Kupercepat langkahku. Berharap dapat kembali ke apartemen dengan selamat dan menikmati mie instan ini yang barusan kubeli di minimarket. Benakku tersentak seketika ketika pandanganku menangkap sekelebat bayangan melintas di belakang.  Siapa itu? Dalam hati kupanjatkan doa. Mengharapkan bukan seseorang yang mengikutiku itu, melainkan kucing atau hewan apa saja. Tetapi mencoba mensugestikan pikiran juga tetap tidak berpengaruh. Aku tahu sebagai insting seorang pemburu ghoul yang berpengalaman lebih dari dua tahun. Aku tahu bayangan itu bukan diciptakan oleh manusia. Namun, yah tebakanmu benar.  Aku menarik napas tajam ketika seseorang jatuh dari atap. Orang itu berdiri tanpa terluka dihadapanku. Topeng aneh menjadi ciri khas. Benar kan? Yang kekhawatiran akhirnya terjadi. Kini, aku harus berhadapan dengan seekor ghoul tanpa s*****a tajam. Apakah aku bisa melawannya?  "Kau tak perlu melawanku tanpa kopermu. Menurut saja padaku jika tak ingin terluka," kata suara sintetis di depanku.  "Mau apa kau?" balasku tak takut. Orang itu tidak menjawabku. Dia diam saja, mana mungkin aku menyerahkan diriku begitu saja. Aku harus melakukan perlawanan bila perlu. Tapi sungguh, situasi ini tidak menguntungkanku. Kalau begitu aku harus bersikap bijak. "Katakan tujuanmu?" kataku.  "Untuk ikut denganku. Jika kau menolak, terpaksa aku harus melukaimu agar menurut," jawabnya. s****n betul dia meremehkanku. Dadaku bergemuruh marah. Aku sangat tidak suka jika diremehkan. "Kalau begitu, berjuanglah untuk membawaku," ucapku mantap. Oh Nami, Nami! Kau sudah menyulut api peperangan di sini. Sekarang, kau harus menanggung resikonya sendiri! Aku tahu dan sadar betul bahwa keputusanku lebih besar membahayakan nyawaku. Kulihat wajah bertopeng itu menggeleng pelan. Entah bagaimana ekspresinya. Tapi aku merasa dia sedang menatap rendah kepadaku. Kalau saja aku membawa koper kaguneku, dia takkan berani bersikap sinis. Seketika aku menyadari seseorang mendarat di belakangku. Aku berbalik, tapi sedetik kemudian kegelapan menutup pandanganku. Berikutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.  *** Suara seseorang berbicara membuatku kembali mendapatkan kesadaran. Suara mereka terdengar samar-samar saat kubuka kelopak mataku yang terasa berat. Pandanganku masih kabur begitu kudapat bayangan dua orang pria dan wanita berbicara di sana. Jaraknya sedikit jauh dariku.  "Dia akan jadi kado istimewa untuknya," kata seorang wanita.  "Bagaimana kalau Takashi tahu kau melakukan sesuatu padanya? Dia sudah pasti akan marah," balas seorang pria bertubuh besar itu. "Oh! Dia sudah bangun!" serunya menemukanku yang berusaha mengumpulkan kesadaran penuhku.  Mereka mendekat ke arahku. Aku sudah merasa resah tentang mereka. Ingatanku masih berfungsi normal ketika menduga mereka adalah ghoul. Dua orang itu masih memakai topeng mereka yang tampak aneh itu. "Mau apa kalian padaku?" ujarku bersuara lemah. Entah apa yang telah mereka lakukan pada selama aku pingsan, sampai tubuhku terasa bagai tak makan dua hari.  "Tenang saja, kau takkan mati. Setidaknya untuk hari ini," kata wanita itu. "Banyak hal yang harus kuurus. Jadilah anak baik selama aku pergi, ya?" Kemudian dia melenggang angkuh menuju pintu. Diikuti pria berbadan bongsor yang segera menutup pintu dengan rapat.  Bahkan aku tidak tahu jam berapa sekarang, apakah masih malam atau sudah pagi, sudah berapa lama aku pingsan. Semua itu tidak kuketahui jawabannya. Karena ruangan tempatku duduk terikat ini sebuah ruangan tak memiliki jendela. Akses masuk hanya pintu satu itu. Mirip seperti ruangan pengasingan. Kalau aku terlalu lama di sini, bisa-bisa mereka akan mencariku. Bukankah itu bagus? Mereka akan segera mengeluarkanku dari tempat asing ini. Aku yakin itu dan hanya perlu menunggu. Setidaknya sampai aku merasa bosan di sini.  *** Aku terbangun lagi. Dan mendapati ruangan yang sepi seperti beberapa jam lalu. Harus berapa lama lagi aku menunggu seseorang datang? Aku mulai lapar dan mereka yang menculikku tidak memberiku makan apalagi air. Apa mereka bermaksud membuatku mati kelaparan di sini? Huh! Tidak bisa dibiarkan. Akan kugunakan rasa laparku untuk mengamuk.  Aku menggerak-gerakkan tanganku. Mencoba melepaskan diri dari tali menyebalkan ini yang membuat lenganku keram. Sepertinya aku tidak beruntung, ketika tidak kubawa pisah kecil disaku pakaianku. Jika saja ada, sudah dari tadi aku meninggalkan ruangan ini. "Argh! Menyebalkan!" geramku tidak berhasil melonggarkan tali di tanganku.  Tiba-tiba suara kunci terbuka di pintu itu. Aku reflek berpura-pura tidur. Tidak tahu mengapa. Aku hanya merasa penasaran apa yang akan mereka bicarakan lagi di saat aku tertidur.  "Kurasa obatnya berpengaruh lama," kata suara yang kuyakini milik pria gemuk itu lagi. Apa mereka lagi yang datang ke sini?  "Kita harus pindahkan dia dari sini, mereka sedang mencarinya. Tidak menutup kemungkinan, Takashi sudah menaruh curiga," timpal suara wanita itu.  Aku akan dipindahkan ke mana? Aku tak lebih berharap tempatnya jauh lebih baik. Hanya kebebasan yang terbaik.  "Tetapi, sebentar lagi dia akan datang ke sini," kata pria itu.  "Yang benar? Sudah kubilang untuk tidak mengatakannya dulu pada dia!" Suara wanita itu meninggi. Aku mendengar dia marah.  "Maaf..." lirih pria itu tak membela diri.  Kemudian suara jeritan menggema dari luar. "Siapa yang menemukan tempat ini?" Wanita itu berkata dengan nada yang heran. "Cepat hentikan dia!" gusarnya memerintah.  "Baik!" Pria itu patuh dengan bergegas pergi. Sehingga menyisakan kami berdua di sini. Terdengar suara pintu ditutup. Lalu suara langkah mendekat dan kurasakan keberadaan dia berhenti tepat di depanku. Mau apa dia?  "Aku penasaran, apa yang membuat Takashi tergila-gila kepadamu?" Kemudian kurasakan sentuhan jemari lentiknya menyusuri sisi wajahku seakan sedang mengamati wajahku. Jika aktingku dapat mengelabuinya, kupikir aku bisa mendapat penghargaan aktris. Hihihi.  Brak! Suara pintu berhasil didobrak. Aku mencoba mengintip. Tapi pandanganku terhalang oleh punggung wanita ini. Siapa yang datang? Apa dia adalah rekan timku? Dapat kulihat kemarahan pada wanita ini.  "Kau!" geram wanita ini. Kedua tangannya terkepal erat. Dia terlihat takut tapi berusaha terlihat berani.  Aku memilih tetap mempertahankan akting tidurku. Menunggu dan hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Itulah yang kulakukan selama disekap begini. Tidak ada salahnya bila aku menikmati sejenak saat-saat diriku diculik. Yah, selama mereka tidak menyiksaku, kurasa itu masih agak aman. Terlebih rekan timku pasti mencariku berhubung aku adalah ketua tim mereka.  Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku merasa menjadi manusia bodoh ketika tidak sadar betapa aku hidup diberkahi. Aku memiliki mereka dan juga Takashi yang berada di sisi hidupku. Bagaimana aku bisa melupakan tentang mereka? Aku tak boleh mati lebih cepat agar mereka tidak merasa kehilangan.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN