Rayuan Mautnya

2061 Kata
"Kami melihat gelang itu."  Satu kalimat mereka langsung menghentikan langkah Takashi. "Gelang itu dipakai seorang gadis. Dia bekerja di kafe bersama Yuna," jelasnya lagi.  Takashi tahu. Dia memilih diam. Mendengarkan percakapan mereka tanpa ada yang tahu perubahan hati Takashi. Mereka terus membicarakan Nami dengan diskusi rencana-rencana untuk merebut gelang. Takashi mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dia menggertakkan gigi. Rahangnya terkatup menahan amarah. "Bisakah kalian berhenti!" teriak Takashi. Seketika ruangan jadi hening. Mereka menatap kaget padanya.  "Aku butuh istirahat," lanjut Takashi secara tidak langsung mengusir mereka. "Dan, jangan ada yang bergerak mengenai gelang itu kecuali atas perintahku." Takashi menegaskan tanpa mau bantahan. Akhirnya mereka hanya bisa pergi tanpa melakukan apa pun. Perubahan pada Takashi mengejutkan mereka. Dalam perjalanan ke luar gedung pun mereka membahas sikap Takashi. "Dia sedang sensitif..." "Kupikir dia sudah cukup istirahat." "Mungkin ada sesuatu yang dia simpan dari kita." "Entahlah. Aku tidak mengharapkan dia membelot." *** "Nona!" seru pelayan itu tergopoh. "Tolong jangan pergi ke luar. Kondisi anda belum cukup pulih untuk jalan-jalan di luar." Pelayan itu gusar saat mencoba menghentikan nona mudanya. Rasa segan menahan usahanya.  "Aku bisa berjalan, Maya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal kecil." Wanita anggun itu tersenyum lembut. Tampak membuatnya cantik meski dengan wajah tirus yang pucat.  "Anda akan pergi ke mana?" Pelayannya menyerah.  "Ke toko buku." Lantas dia berbalik. Kimono bermotif sakura membuatnya terlihat makin anggun dengan aura bangsawan menguar. Jelas saja dia bukan wanita sembarangan.  *** Hari ini aku tidak mau ketinggalan minta tanda tangan pada penulis novel kesukaanku. Karena siang ini ada peluncuran buku novelnya di toko buku. Antriannya lumayan panjang untuk meminta tanda tangan. Ketika itu pesan masuk muncul di ponselku. Dari Takashi yang menanyakan keberadaan diriku. Aku lantas membalasnya bahwa aku sedang di toko buku. Setelah itu tidak ada balasan darinya. Kusimpan ponselku lagi ke saku.  Hingga tiba giliranku, aku menyodorkan buku novel ke seorang gadis manis itu yang tak bukan adalah penulisnya. Dia kelihatan sebaya denganku. Penampilannya menarik dengan senyuman yang dapat menarik perhatian pria. "Siapa namamu?" tanya gadis itu. Kusebutkan namaku dan kulihat dia membubuhi namaku di samping tanda tangannya. "Aku tidak tahu kalau kau menyukai novelku. Kau menarik, Nami-san. Aku jadi ingin mengobrol denganmu," katanya.  Aku mengerjap terkejut. "Aku dengan senang hati bisa mengobrol denganmu, Sakura-san," sahutku senang. Aku tak tahu nama aslinya, jadi kugunakan nama penanya untuk memanggilnya.  Sakura melihat jam tangannya. "Siang ini, jam dua kita bertemu di kafe kucing," ujar Sakura.  Kuukir senyum lebarku. "Baik, aku akan menunggumu di sana," kataku mantap. Jantungku berdegup gugup. Tidak kusangka mendapat kesempatan berbicara berdua dengan Sakura.  Usai dari toko buku itu, aku menelepon Takashi. Ralat. Takashi yang meneleponku lebih dulu dan sejenak aku berbicara sambil berjalan di trotoar. "Hari ini kau libur kerja kan? Aku ingin menghabiskan waktuku untuk bersamamu seharian ini," kata Takashi di telepon. Perlahan aku merasa jika kekasihku ini mulai posesif padaku. Entah sejak kapan. Karena belakangan ini dia sering menanyakan di mana aku, dan sedang bersama siapa. Kalau dipikirkan lagi, Takashi seperti itu semenjak kejadian di basement saat aku mengantarkan buku milik seorang pelanggan yang ternyata adalah saudaranya.  Dan aku tak pernah merasa terusik dengan perubahan sikap Takashi. Justru aku merasa senang sebab dia menjadi lebih perhatian kepadaku. Jika dibandingkan sebelumnya, kami nyaris jarang berkomunikasi lantaran sibuk masing-masing, dan hanya bertemu di akhir pekan. Terkadang Takashi ke apartemenku di pagi hari tanpa memberitahuku. Tahu-tahu saja sarapan sudah siap. Selebihnya kami hanya mengobrol biasa melalui chat atau video call saat malam. Tetapi, belakangan juga dia sudah jarang mengunjungi apartemenku di pagi hari. Ah, aku jadi rindu masa-masa itu.  "Takashi, aku merindukanmu," ucapku manja.  "Aku juga merindukanmu sangat. Kau di mana? Aku ke sana sekarang," sahut Takashi. Aku tak bisa menahan senyumku. "Mari kita bertemu di taman," ucapku. Lalu sambungan telepon kami berakhir. Ah, sudah lama aku tidak merasa gugup untuk bertemu dengan kekasihku sendiri. Aku jadi terkenang dengan taman yang kumaksudkan. Akhirnya aku melangkah sambil tersenyum sendiri. Dunia hari ini terlihat sangat indah. Aku merasa kembali ke masa awal aku jatuh cinta.  Aku duduk menunggunya di kursi taman. Duduk dengan tak sabar menanti dia datang. Tiba-tiba saja seseorang mencium pipiku. Aku tersentak kaget. Inginku marah, siapa yang lancang menciumku, tapi kemudian kemarahanku berubah senang saat kuketahui Takashi yang melakukannya. "Takashi!" Aku menghambur ke pelukannya. Dia membalas pelukanku erat.  Lalu aku mengurai pelukan kami dan menatap matanya dengan penuh kasih. "Kau sudah lama menungguku?" kata Takashi. Aku menggeleng. "Tidak, kok. Malah kau datang lebih cepat," ucapku. Takashi mengusap pipiku dengan ibu jarinya sambil tersenyum. "Aku tidak sabar ingin bertemu belahan jiwaku," katanya. Yang membuatku hanya bisa tersenyum malu.  Kemudian kami berjalan bergandengan tangan. Bahagia itu sederhana. Dapat bersama dengan orang terkasih saja sudah membuat perasaan merekah bak musim semi. Aku berharap waktu berjalan dengan lambat. Karena aku ingin berlama-lama menikmati momen kami. Obrolan ringan mengiringi langkah kaki kami, dengan sesekali aku bergelayut manja di lengannya.  Takashi membawaku ke bioskop. Kami harus mengantre sejenak untuk membeli tiket. Di saat kami mengantre, aku mendengar suara tidak asing di sekitarku. Sampai suara itu memanggil namaku. "Nami-san?" ucap Sakura. Terlihat terkejut bertemu denganku di sini. Aku juga begitu. "Kita bertemu di sini rupanya," kataku kaget.  Lalu Sakura melirik ke belakangku di mana Takashi berdiri di sana. "Sedang kencan, ya?" kata Sakura kepadaku.  "Wah, bagaimana kau bisa tahu?" pukauku.  Sakura hanya tersenyum. "Kita akan bertemu di lain waktu saja, ya. Aku ada pertemuan mendadak siang ini," kata Sakura sebelum pamit. Ah, aku jadi merasa tidak enak. Apakah dia membatalkan rencana mengobrol kami di kafe karena melihat aku sedang berkencan? Kuharap bukan karena hal itu. "Baiklah, Sakura-san. Aku senang bisa bertemu denganmu," kataku. Kemudian gadis itu berbalik dan melenggang bersama seorang pria, yang kupikir adalah manajernya.  "Dia gadis yang manis dan cantik," komentarku.  "Sejak kapan kau mengenal dia?" Pertanyaan dari suara Takashi membuatku sedikit berbalik untuk menatapnya. "Sebelum kau meneleponku hari ini," jawabku. "Dia adalah penulis novel kesukaanku. Aku meminta tanda tangannya." "Oh, begitu? Apa yang kalian obrolkan?" sahutnya.  "Tidak banyak. Dia berencana ingin mengobrol denganku siang ini jam dua, tapi kini dia membatalkannya. Apakah karena dia melihat aku sedang kencan denganmu, ya?" kataku menyimpulkan dengan ragu-ragu.  "Malam ini, aku ingin menginap di apartemenmu," ucap Takashi. Mendadak aku gugup. "Okey," balasku. Aku harus mempersiapkan diri saat membayangkan kami akan tidur semalaman. Oh, Nami! Hentikan pikiran kotormu! Dan jika kami melakukannya malam ini, maka itu artinya malam ini adalah pengalaman pertama kami sebagai sepasang kekasih. Karena sebelumnya kami belum pernah benar-benar tidur bersama. Ouh, memikirkannya saja sudah membuat wajahku memanas. Tunggu, bagaimana kalau ternyata Takashi hanya tidur seperti biasanya?  Apakah aku terlalu mengharap itu? Ya ampun, Nami! Enyahlah pikiranku ini!  Akhirnya aku berusaha keras mengalihkan pikiranku pada tontonan film yang sedang diputar. Agak tidak fokus memang, dan terkadang aku menggigit bibir bawah. Kesalahan fatal aku menonton film romantis sekarang. Karena rasa gugupku kian meningkat. Terlebih saat melihat adegan di film sedang berciuman intim. Aku hanya bisa berpura-pura tak melihat dengan merotasikan pandanganku ke sekitar. Hingga tatapanku terhenti pada Takashi. Pria ini terlihat tenang menonton film. Sementara kekasihnya justru sedang berkonflik dengan batinnya. Apakah Takashi tak pernah merasa gugup sepertiku?  Terlalu lama memandangnya, aku tercekat saat mata kami bertemu. Takashi menoleh kepadaku, dan aku merasa tertangkap basah memperhatikannya. Perlahan, aku dalam kesadaran penuh ketika wajah Takashi terlihat jadi lebih dekat. Aku terpaku tanpa bisa bergerak apalagi mengalihkan tatapanku dari sepasang mata teduhnya. Hingga dapat kurasakan sentuhan ringan menekan di bibirku.  Takashi menciumku!  Oh ya Tuhan! Okey, benakku yang berteriak-teriak heboh ini seolah belum pernah berciuman saja. Kami pernah berciuman. Tapi terbilang sangat jarang. Bagaimana pun, hatiku seperti meledak sekarang. Kupu-kupu seakan sedang berterbangan di perutku. Aku senang sekali.  *** Usai menghabiskan waktu sampai malam, kami telah kembali ke apartemenku. Pukul delapan malam ketika aku sedang perawatan wajah di depan cermin rias. Kaos kebesaran dan celana tidur selutut kukenakan. Aku tidak tahu maksud ucapan Takashi dengan menginap di apartemenku. Tetapi, sejak tadi pikiranku tidak bisa jauh-jauh dari hubungan badan. Karena, kami belum pernah melakukan hal itu bersama sebagai pasangan kekasih. Huft! Aku menelan ludah dengan gugup. Kulirik pantulan pintu kamar mandi dari cermin. Takashi masih di dalam.  Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Dari cermin, sambil terus sok sibuk mengoles krim wajah, sudut mataku mengetahui dia keluar hanya dengan handuk ke pinggang. Seketika wajahku memanas. Dia memiliki enam pack yang menggoda kaum wanita. Sekilaa tubuhnya begitu kekar dan menggairahkan. Gawat, aku bisa-bisa mimisan! Argh Nami!  "Apa yang sedang kau pikirkan dengan wajah seperti itu?" tegur suara berat Takashi. Aku mengerling ke arahnya melalui cermin. Apakah isi otakku ketahuan?  "Apa maksudmu?" tanyaku balik dengan santai. Pura-pura tidak mengerti. Bagaimana mungkin aku menjawab hal itu dengan gamblang kan? Itu akan membuatku malu.  Takashi menghela napas, tangan kirinya di pinggang sedangkan tangan kanannya menyugar rambutnya. Sejenak membuat dia tampak memesona bak pahatan patung dewa Yunani. "Aku pinjam handukmu," pintanya.  Aku mendesau lega. Syukurlah dia tidak memperpanjang pertanyaan tadi. Kemudian, aku serahkan handuk kecil dari leherku. Tetapi bukan handuk yang Takashi pegang, aku terkejut ketika dia menggenggam pergelangan tanganku. "Ada apa Takashi?" kataku mengerjap polos.  Takashi mendekat. Sedikit membungkuk saat sebelah tangannya menopang di pinggiran meja rias. Dengan diriku mendongak, terpaku pada sepasang matanya yang tajam, mendadak jantungku berdegup kencang. Perlahan wajah Takashi kian dekat. Hingga kurasakan bibirku dikulum olehnya. Sejenak aku menutup mata menikmatinya. Hanya berlangsung singkat, karena setelahnya dia menyeringai sambil berkata. "Tolong keringkan rambutku." Entah mengapa aku jadi bingung sendiri. Di sisi lain aku merasa lega, di satu sisi aku merasa kecewa. Aku yakin, alasanku lega karena jantungku kembali aman. Namun, alasanku merasa kecewa karena apa? Apakah... Karena Takashi tidak melanjutkan aksinya ke tahap yang lebih intim? Sepertinya karena hal itu. Oh dasar Nami!  Takashi duduk di sofa panjang. Aku menghampirinya. Berdiri di hadapan dan mulai mengacak-acak rambut basahnya dengan handuk. "Apa kau tidak lelah bekerja siang malam?" kata Takashi tiba-tiba. Aku tertegun. Apa maksudnya siang-malam? Saat siang aku memang bekerja di kafe, dan saat malam aku menjadi pemburu aktif ghoul. Apakah dia tahu sesuatu?  "Demi bisa menghidupi diriku, aku akan bekerja untuk masa tuaku nanti," ucapku sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Aroma shampoo merebak menggoda di hidungku padahal dia memakai sampo milikku juga. "Tapi," gantungku berpikir. Aku tak ingin dia curiga padaku tentang pekerjaanku yang sebenarnya. Bukan bermaksud disembunyikan. "Bisakah kau sering meluangkan waktu setiap weekend untuk kita berdua?" Akhirnya hanya kata-kata tak singkron itu yang keluar dari bibirku.  "Tentu bisa, maduku," kata Takashi lembut. Pergelanganku tiba-tiba dipegang olehnya dan handuk perlahan terjatuh dari kepalanya. Menampilkan rambut acak-acakan Takashi yang membuatnya terlihat dua kali lipat lebih seksi. Dia mengangkat dagunya. Tatapannya begitu lembut menatapku. Ah, wanita mana yang tidak tersanjung karena sorot mata seperti itu?  Dan entah sejak kapan aku sudah berbaring di sofa dengan Takashi di atasku. Dia menopang tubuhnya dengan kedua lengannya. Apakah malam ini adalah saatnya? Aku menunggu dengan tenang saat wajah di atasku mendekat. Hingga kurasakan ciuman Takashi di bibirku. Ciumannya seperti sutera. Terasa lembut dan tidak banyak menuntut. Sementara aku mendukung aksinya dengan membalas ciumannya sambil menutup mata.  Dia pandai membuatku mabuk kepayang. Bahkan saat dia menguasai isi mulutku begitu lihai. Aku membelai d**a toplessnya dengan jari mengikuti bentuk otot tubuhnya yang kekar sebelum bibir Takashi berpindah ke ceruk leherku. Mengecup kulit leherku berkali-kali dengan lembut sambil membuka kancing piyamaku dan kemudian turun ke ceri kembarku. Biasanya tiap malam aku tak pernah mengenakan b*a. Sehingga tindakan ini memudahkan Takashi mendarat ke kedua ceriku tanpa halangan.  Sentuhan Takashi yang sehalus bulu bagai membakar seluruh tubuhku. Berikutnya hanya erangan e****s mengisi kamar kami sepanjang malam.  *** Aku terjaga ketika matahari bersinar terang memasuki jendela kamar kami. Ah, aku ingat semalam. Mendadak wajahku jadi panas. Terbayang lagi aksi semalam. Aku menoleh, tepat dihadapanku terpampang wajah Takashi yang sedang terlelap tenang. Aku sadar telah tidur tanpa busana di dalam selimut bersamanya.  Kubelai sisi wajah Takashi dengan sayang. Aku beranjak lebih dulu untuk membersihkan tubuh di kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat layar ponselku berkedip di atas nakas. Lantas aku meraihnya dan membaca sebuah pesan dari teman setimku. Bahwa mereka berencana makan malam bersama malam ini dan memintaku ikut datang. Aku mengukir senyum. Senang rasanya memiliki teman-teman seperti mereka. Duniaku menjadi lebih berwarna ditambah dengan kehadiran Takashi sebagai pengisi relung hatiku.  Kuletakan lagi ponsel di meja, lalu aku duduk di depan meja rias. Mengeringkan rambut basahku dengan hair dryer. Suara bising halus benda itu agaknya membangunkan tidur Takashi, karena kulihat melalui pantulan cermin, lelaki itu mulai terbangun. "Kau sudah bangun, sayang?" ucapku lalu mematikan hair dryer dan berganti menyisir rambutku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN