'Takashi, kau sedang apa?' Begitulah pesan singkat yang kukirim kepadanya. Tiba-tiba saja aku merindukan dia. Sebab dia jarang sekali menanyakan kabarku, apa sebegitu sibuknya bekerja sebagai kepala laboratorium? Mungkin. Aku hanya perlu bersabar.
Denting pesan masuk langsung membuatku mengecek ponsel. Balasan dari Takashi lebih cepat dari dugaanku. Aku tersenyum kecil. Kemudian k****a: aku merindukanmu. Kalau sudah mau pulang, kabari aku, ya.
Dia orang yang diluar dugaan. Takashi menjawab pesanku seperti yang kuharapkan. Lalu kubalas bahwa aku juga merindukannya. Setelah itu kusimpan ponselku sebelum kembali ke ruang depan kafe. Kali ini penghuni meja sudah mulai berkurang. Di luar jendela tampak mendung saat aku membersihkan meja pelanggan.
Suasana sepi dan tenang menyelimuti ruangan kafe. Sekarang, setelah tidak ada lagi pelanggan yang datang, aku duduk menganggur di salah satu kursi. Bono nampaknya hobi sekali mengelap gelas dibalik meja barnya. Sementara Matsumura dan Yuna juga sama sepertiku. Kami duduk kelelahan usai kesibukan menghabiskan separuh tenaga.
"Beberapa minggu lagi hari valentine..." desah Yuna dengan kepala berbaring di atas lengan di meja.
"Masih dua minggu lagi. Memangnya kenapa dengan hari valentine?" sahutku.
Yuna menumpukan dagunya menatapku. "Kau enak sudah punya kekasih. Beritahu aku bagaimana cara mendapatkan pacar dalam dua minggu?" katanya dengan muka cemberut.
Aku meringis. "Mmm, itu... Apa kau punya seseorang yang kau sukai?"
"Mmm..." Yuna tampak berpikir. "Tidak."
Aku menghela napas. "Kusarankan untuk liburan setidaknya sehari."
"Untuk apa aku liburan? Toh liburanku membosankan."
"Heish! Kau ini. Inilah yang membuatmu tidak punya pacar. Sifat acuhmu."
"Benarkah?" Yuna menegakkan tubuhnya, seakan tertarik dengan pembicaraan ini. "Apa yang harus kulakukan saat liburan?" lanjutnya.
"Cari pria, kencani pria yang pertama menarik perhatianmu," kataku.
"Apakah Takashi adalah pria pertama yang menarik perhatianmu?" tanya Yuna. Dia terlihat lebih bersemangat.
Aku menjadi kikuk. Ingatanku masih tajam tentang bagaimana kami bertemu lalu berkenalan. Lantas, aku mengangguk. "Tapi, karena aku bukan gadis agresif, jadi aku mengabaikan dia. Namun, takdir justru mempertemukan kami lagi hingga akhirnya kami mengetahui perasaan masing-masing, begitulah."
"Ughh!! So sweet! Aku tak tahu kalau dia seperti itu."
Bono menghampiri kami. Melempar buku besar sambil menatap Yuna. "Kau belum memeriksa pemasukan hari ini. Itu tugasmu, kerjakan sekarang atau tidak pulang," kata Bono dengan wajah seriusnya menatap tajam. Raut semringah Yuna mendadak muram. Dia cemberut lagi. "Kau itu pandai merusak suasana hati seseorang, ya?" keluhnya. Dengan terpaksa Yuna mengerjakan buku besar di meja.
"Oh iya," ucap Matsumura setelah lama mengunci mulutnya. "Aku menemukan buku di meja ini. Kupikir buku itu milik pria tadi," lanjutnya sembari menunjukkan sebuah buku.
"Pria tadi?" gumamku. Otakku langsung mengarah pada gambaran pria itu. "Buku apa itu?" tanyaku.
"Ini novel."
"Kurasa orangnya belum jauh dari sini. Nami, kejar orang itu. Mungkin saja buku ini penting baginya," kata Bono.
Aku ingat pria itu keluar kafe lima menit lalu. Kusambar buku itu dari tangan Bono dan melesat keluar kafe. Sejenak aku celingukan sebelum kutemukan visual belakang pria itu. Karena dari belakang terlihat mirip, berdasarkan pakaian yang dikenakannya, aku berlari kecil. Semakin dia berjalan maju, aku seakan tertinggal langkah. Jarakku agak jauh untuk menjangkau orang itu.
***
Aku mengikuti pria itu. Walau hampir kehilangan jejaknya, aku tetap berjalan maju mengikuti instingku. Berbelok dari g**g ke g**g. Hingga tiba sebuah basement gedung aku berhenti. Dapat kulihat pria itu sedang berbicara dengan orang lain yang terhalang pilar basement. Melihat mereka sedang berdebat membuatku mematung di tempat. Dilema, antara menunggu pria itu selesai berbicara, atau menghampirinya?
Aku memutuskan untuk diam sejenak menunggu sambil melangkah mundur. Sampai suara retakan menggema, dan aku terkesiap kaget. Pembicaraan mereka berhenti seketika. Pria itu menoleh kepadaku yang membeku gugup. Oh, demi seluruh dewa, aku tidak bermaksud menguping mereka. Jangan salah sangka.
"Kau... Pelayan kafe itu," kata pria itu mengenaliku.
"Maaf, aku menyusulmu untuk mengembalikan buku ini," kataku langsung membela diri. Walau sikapku mungkin terlihat gugup. Aku melangkah maju.
"Oh, terima kasih. Aku melupakannya begitu saja." Pria itu mengambil bukunya yang kusodorkan. Saat itu aku melirik ke lawan bicara pria ini. Dia tampak seakan berusaha menyembunyikan wajahnya dariku. Kuperhatikan lebih dekat lagi hingga aku langsung bisa mengenalinya. "Takashi??" panggilku dengan nada setengah tak percaya.
Takashi berbalik. "Ah..., Nami-san?"
Responnya membuatku terheran.
"Kalian saling kenal?" ujar pria asing itu.
"Dia kekasihku," jawabku.
"Wah!" Dia tercengang mendengar ucapanku. Aku berkata jujur, dan reaksi kedua pria ini terlihat aneh.
"Tak kusangka kau punya pacar secantik ini, Taka-can!" Perkataannya terdenga akrab. Apakah mereka teman dekat? "Perkenalkan, namaku Takio, kakak iparmu."
Aku terbengong. Kakaknya Takashi? Kini pertanyaan dibenakku sudah terjawab. Pantas saja wajahnya terlihat mirip dengan seseorang, dan ternyata saudara kekasihku?
***
"Aku menyukainya," tandas Takashi. Suaranya tegas. Menandakan tak main-main alias serius.
"Ya, kau menyukainya karena dia terlihat..." Takio menggantungkan kalimatnya. Dengan gaya seolah sedang membayangkan sesuatu yang nikmat.
"Jangan samakan aku dengan dirimu!" geram Takashi. "Ini adalah pertemuan terakhir kita. Jika kita bertemu berikutnya, kita akan bertarung saat itu juga." Peringatan dari Takashi ditanggapi senyuman sinis dari Takio.
Takio mundur. "Okey, sampai jumpa di medan perang." Dia menunjukkan smirk. Kemudian berbalik dan menghilang di kerumunan kota.
Takashi mendengus, menatap dingin kepergian saudaranya yang melenggang santai. Setelah pertemuan tak terduga mereka bertiga tadi siang, perasaan khawatir menyusup dibenak Takashi terhadap Nami. Takashi bergegas. Mengunjungi tempat kerja Nami di kafe untuk menjemputnya pulang. Sekaligus ada yang ingin dia bicarakan.
***
"Uwow..." pukau Yuna sebelum mencolek bahuku. "Ada apa?" tanyaku. Lalu Yuna mengedikkan dagu. Kuarahkan pandanganku ke arah tatapan Yuna. "Sana hampiri pelanggan spesialmu," kata Yuna menggodaku.
Di salah satu kursi itu, Takashi terlihat baru saja duduk. Seperti yang dikatakan Yuna, aku menghampiri dia. "Kau ke mari?" ucapku basa-basi.
"Ya. Aku ingin menunggumu selesai bekerja." Kalimat yang dikatakan langsung oleh mulut Takashi merupakan hal baru selama hubungan kami. Takashi, orang yang sangat sibuk itu, menungguku selesai bekerja? Apa itu artinya dia sedang tak ada kerjaan? Aku meragukannya. Tapi, bagaimana pun aku senang. "Jangan tersenyum terlalu lebar. Kau membuatku ingin memakanmu," ucap Takashi. Entah mengapa hari ini dia terlihat sedang menggodaku. Aku jadi tersipu malu.
"Tapi, aku selesai bekerja dua jam lagi." Aku menggigit bibir. Khawatir mengecewakan Takashi.
"Tidak masalah. Kau bisa menemaniku duduk di sini," kata pria itu. Melihat senyumannya, membuatku nyaris meleleh seperti lilin.
"Okey, sambil menungguku, kau mau pesan apa?"
"Kopi terenak di sini," jawab Takashi.
"Silakan ditunggu." Aku berbalik menuju meja bar. Menyebutkan pesanan pada Bono. Ketika itu Yuna duduk di kursi bar di dekatku dengan ekspresi tersenyumnya menatapku. "Sang pangeran rela menunggumu dua jam lagi huh?" goda Yuna.
Aku tersenyum malu. "Kau ini..."
Kemudian, permintaan Takashi untuk menemaninya mengobrol di meja, tidak bisa kulakukan selama masih dalam jam kerja. Bisa-bisa aku kena marah manajer nanti. Aku letakkan secangkir kopi ke mejanya. Melihat dia meminum kopi, aku menunggu komentarnya. "Aku akan jadi langganan di sini," tukas Takashi dengan senyum terkembang.
Aku senang mendengarnya. "Bagaimana kalau kau coba spaghetti sauce kami? Menu ini banyak diminati pelanggan kami," kataku.
"Oh ya? Apa ada menu makanan lainnya?" Takashi melempar tanya.
"Menu makanan andalan kami hanya spaghetti sauce dan sandwich," jawabku. Sejenak raut Takashi tampak menimbang. "Kupikir aku masih belum lapar, jadi aku akan menikmati kopi ini sambil menuntaskan laporanku," kata Takashi. Aku kira dia akan menunggu nganggur. Rupanya tidak, oh syukurlah. Aku tak tega bila meninggalkannya menganggur di tempat kerjaku. "Okey, selamat menikmati." Lalu aku undur diri dan kembali ke meja bar ketika Yuna menyambut tamu di depan pintu, dan pesanan kembali datang kepada kami.
Ketika aku sudah tidak sibuk usai melayani beberapa pelanggan, kusadari Takashi tidak sendirian di mejanya. Manajer tampak duduk menemani berhadapan. Entah apa yang mereka obrolkan. Kelihatan sefrekuensi. Hingga celetukan Bono seakan menjawab benakku. "Mereka pecinta kopi. Manajer selalu antuasias jika sudah membahas tentang kopi."
Aku menoleh kepada Bono. "Benarkah?" tanyaku seakan salah dengar. Tunggu dulu, aku menyadari sesuatu. "Katamu, mereka pecinta kopi, dari mana kau tahu kalau Takashi -kekasihku- mencintai kopi?" Ya, aku saja tidak tahu kalau kopi adalah minuman favoritnya. Selama kami berpacaran, Takashi terlihat bukan orang yang pilih-pilih minuman. Kecuali alkohol. Dia tidak suka. Oleh sebab itu dia hampir tak pernah mabuk. Katanya, minum alkohol bisa memengaruhi kinerja otaknya. Sebagai seorang peneliti di laboratorium, Takashi sangat membutuhkan otak cerdasnya.
Pertanyaanku membuat Bono malah terdiam. Kuperhatikan dia untuk menunggu jawaban. Hanya kami berdua yang bicara, sedangkan Yuna dan Matsumura tengah melayani pelanggan.
"Hanya insting seorang lelaki. Kekasihmu tak pernah menyisakan kopi dicangkirnya, bukan?" ujar Bono. Aku mengingatnya. Saat Takashi mampir untuk minum kopi di sini, cangkirnya bersih sebelum dicuci. Aku sendiri yang membereskan mejanya waktu itu.
Aku mengangguk-angguk setuju. "Kini aku yakin apa minuman favoritnya."
***
Kami melangkah bersama. Jalan pulang yang kulalui tidak sepi lagi ketika Takashi menemaniku. "Aku baru tahu kalau kau punya saudara," celetukku teringat pada kejadian tadi siang.
"Kami tidak memiliki hubungan yang bagus," balas Takashi.
"Kalian bertengkar?" tanyaku.
"Bisa dibilang begitu. Sejak kapan kau bertemu dengan dia?"
"Tadi siang adalah pertemuan pertama kami. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Ngomong-ngomong, gelangmu beli di mana? Aku baru melihatnya," ucap Takashi. Aku mengangkat sebelah tanganku, memperlihatkan gelang antik yang melingkari pergelangan. "Aku membelinya di toko barang antik. Bagaimana menurutmu?"
"Itu terlihat cocok untukmu." Takashi tersenyum. Terlihat manis di mataku. Sehingga aku hanya bisa menunduk tersipu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sebuah permasalahan di apartemenku. "Takashi, mampirlah dulu di apartemenku. Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu," kataku serius.
***
Setibanya di apartemen, aku menunjukkan surat misterius itu lagi. "Ah benar, sewaktu itu aku sudah memberitahu tentang surat sebelumnya kan? Bagaimana? Apa kau sudah tahu siapa pengirimnya?" tuntutku penasaran.
"Aku tidak bisa mengetahuinya. Apa dia mengirimimu surat yang sama lagi?"
"Ya. Dan dia menghilangkan jejaknya. Saat aku memeriksa CCTV, dia telah menghapus datanya. Pintu apartemenku tidak rusak. Dari mana dia masuk ke apartemenku?" anehku memikirkan semua ini.
"Apakah ada barang yang hilang?" Takashi melempar tanya. Aku melihat ke sekeliling. "Seingatku tidak ada." Apartemen kecilku ini tidak mungkin dapat menyimpan barang berharga layaknya emas. Aku tidak sekaya itu sampai punya barang mahal. Palingan hanya laptop dan telepon genggam sebagai harta mahal yang kumiliki. Selebihnya, fasilitas rumah tangga.
Takashi memindai pandangannya. Lalu berhenti pada satu titik. Dia mendekati jendela. "Apa jendelamu pernah tidak dikunci?" ujarnya.
"Semua jendela di ruangan ini jarang sekali dibuka, kecuali jendela kamarku," ungkapku. Yang seketika otakku merespon tuduhan. "Apa mungkin dia masuk dari jendela kamarku??" simpulku.
Takashi berderap masuk ke kamarku. Dia membuka pintu kamar dengan lebar, dan jendela langsung terpampang. Semilir angin menerbangkan tirainya. Jendela itu terbuka lebar. Takashi berdiri di balkon. Melihatnya yang meneliti sekitar membuat dia seperti seorang detektif.
"Apa kau menemukan sesuatu?"
"Kemungkinan besar dia keluar masuk lewat jendela," pungkas Takashi. "Dengan ketinggian tidak seberapa, walau cuma dua lantai, dia pasti bisa memanjat."
"Kalau dia lewat jendela, kenapa file CCTV di lorong pada saat kejadian malah hilang?"
Kali ini Takashi diam berpikir. Terasa janggal sekaligus membingungkan. Terlebih, apa motifnya? "Takashi, apa kau pernah menolak seorang wanita?" tanyaku, mungkin saja terdengar konyol. Tapi perlu ditanyakan apa pun itu.
"Aku tidak tahu. Apa kau bermaksud ingin mengatakan kalau seseorang dendam dan tidak ingin kau menjadi kekasihku?" Kesimpulan Takashi tepat sekali. Aku mengangguk mantap. "Dan, siapa gadis muda sewaktu malam itu? Sampai sekarang kau belum menjelaskan tentang dia," ucapku, tidak dapat menahan diri lagi untuk menunggu dia bercerita sendiri.
"Dia adik sepupuku. Namanya, Mina." Sekilas raut muka Takashi murung.
"Ada apa?" Aku bertanya menyelidik. Meskipun aku tidak tahu kehidupan pribadi kekasihku, kami saling menyimpan rahasia. Tetapi, melihat dia tertekan entah karena apa, membuatku tidak bisa berdiam diri. Aku peduli padanya. "Kau bisa bercerita denganku jika itu dapat meringankan bebanmu," ucapku lembut.
Aku menyadari perubahan ketika matanya menatapku dengan lembut sementara bibirnya memaksakan senyum. "Maaf, Nami. Aku belum bisa mengatakannya kepadamu," kata Takashi. Kuraih dan kupegang tangannya. Aku ingin menjadi kekasih yang pantas untuk dia. "Aku tidak akan memaksamu untuk mengungkap tentang dirimu yang sebenarnya. Tapi, bisakah kita tetap seperti ini sampai di antara kita merasa bosan?" ucapku mencoba mengerti.
Segaris senyum di bibir Takashi tertarik lebih lebar lagi. "Bagaimana aku bisa bosan kepadamu? Kalau kau saja punya pemikiran yang dewasa dan mengerti aku? Aku akan jadi pria bodoh yang menyianyiakanmu." Dia berkata seraya membelai pipiku, dan aku memejamkan mata menikmatinya.
***
Usai pergi dari apartemen Nami, di g**g yang sepi, langkah Takashi berhenti. "Berhenti menerornya!" tegas Takashi. Seorang wanita bersandar di tembok g**g sambil bersidekap. "Aku hanya memberinya peringatan kecil," balas wanita itu dingin. Lalu beranjak memunggungi Takashi. "Dan dia bukan wanita biasa." Pergi meninggalkan Takashi dengan kalimat bernada misterius.
Takashi terdiam di tempat sampai punggung wanita itu hilang dari jangkauan pandangnya. Ucapan tadi membuat Takashi sedikit goyah. Apa yang wanita itu ketahui tentang kekasihnya? Benar juga, dia terlalu sibuk untuk memperhatikan Nami, sehingga hal terkecil pun dia tidak tahu. Kekasih macam apa kau, Takashi?
Beberapa orang menyambut kedatangan Takashi di salah satu gedung. "Akhirnya kau datang," ucap salah satu pria di sana.
"Ada apa dengan wajah lesumu?" kata yang lain melihat muka lemas Takashi.
"Kami melihat gelang itu."
Satu kalimat mereka langsung menghentikan langkah Takashi.
"Gelang itu dipakai seorang gadis. Dia bekerja di kafe bersama Yuna," jelasnya lagi.