Pria Yang Mirip Takashi

2092 Kata
"Sebuah pusaka keluarga bangsawan ghoul. Dulu temanku memegangnya, dia menemukan benda itu di lokasi kejadian orang tuamu meninggal dunia." Deg!  Sekarang aku tahu. Secepat ini ya mereka bergerak? Hah, tidak kusangka karena benda ini membuat orang terdekatku terluka. Oh, aku tidak bisa membiarkannya. "Apa yang Ketua maksud adalah gelang ini?" Kutunjukkan gelang itu dari pergelangan tangan kiriku yang tertutupi lengan mantel. Ketua Mitsuno memelotot. Melihat reaksinya yang kaget sudah menjadi jawaban atas pertanyaanku. "Gelang itu adalah pusaka salah satu keluarga bangsawan ghoul. Nami, demi keselamatanmu, kau simpan gelang itu atau buang jauh-jauh!"  Aku tercengang mendengarnya. Sebegitu pentingnya kah gelang ini?  "Sejak berapa lama kau memakainya? Dengan sengaja?" ucapnya. Aku tertegun. Dia menyadari apa yang kulakukan? "Baru dua hari setelah misi mencari Historic," jawabku jujur.  "Apa kau berniat mencari pelaku yang membunuh orang tuamu dengan tragis itu?" Ketua Mitsuno sekali lagi dapat menebak jalanku. "Benar. Aku sengaja memakai gelang ini agar menarik perhatian ghoul. Dengan begitu langkahku semakin dekat untuk bertemu dengan pemilik gelang ini." "Tindakan yang gegabah! Kau bisa menyulut api peperangan. Tidak ada waktu lagi. Mungkin mereka sedang menyusun rencana untuk menyerang manusia tanpa pandang bulu lagi." Perkataan Ketua Mitsuno terdengar khawatir. Aku masih terdiam mencerna maksudnya. "Kenapa harus berperang? Itu hal yang merepotkan bagi kedua belah pihak. Kenapa tidak menemuiku langsung untuk meminta gelang ini?" elakku. Tidak mungkin kubiarkan perang meletus di kota indah ini. Warga sipil akan tewas.  "Karena gelang itu adalah pusaka leluhur mereka yang terhubung pada pemiliknya. Jika gelang itu dipakai makhluk selain ghoul, pemiliknya akan jatuh sakit hingga meninggal." "Bukankah itu jauh lebih baik?" "Tidak. Kita tidak tahu siapa pewaris pusaka itu. Bisa gawat kalau ghoul itu adalah keturunan raja mereka. Kau akan dicari oleh pengikutnya sampai ke ujung dunia sekali pun. Lepas gelang itu, maka mereka takkan bisa mendeteksi keberadaanmu," jelas Ketua Mitsuno tegas. Tubuhku gemetar. Apa aku takut? Bukan, tubuhku bukan gemetar karena takut. Melainkan sebaliknya. Benakku menyeringai memikirkan rencana bagus.  Suara pintu digeser pun menghentikan percakapan kami berdua. Ketiga teman se-timku akhirnya datang juga. Salah satunya membawa bunga dan sekeranjang buah. Saat itu aku tersentak. Aku datang kemari tidak membawa buah tangan apa pun untuk Ketua Mitsuno? Sungguh, tidak terpikirkan saking fokusnya pikiranku mengkhawatirkan Ketua Mitsuno.  *** Langit sore berada di atas kepalaku ketika aku duduk termenung di kursi taman rumah sakit. Mempertimbangkan perkataan Ketua Mitsuno sambil memegang pergelangan tangan kiriku di mana gelang itu berada. Sudah berapa orang yang melihat gelang ini, ya? Apa sekarang ada seseorang sedang mengintaiku? Mungkin saja atau belum ada satu ghoul pun melihat gelang ini padaku.  Aku menemukan sebuah rencana. Rencana ini memiliki resiko tinggi terhadap keselamatan diriku sendiri. Pertumpahan darah akan terjadi. Aku yang akan mati lebih dulu mungkin. Ini adalah masalahku. Jadi aku pikir tidak boleh melibatkan teman-teman dalam bahaya.  Sontak aku berdiri. Aku harus membicarakan hal ini dengan Ketua Mitsuno sekarang.  Lorongl lantai empat menuju kamar rawat beliau. Beberapa perawat tampak terlihat dari kejauhan, sedang mendorong ranjang pasien terburu-buru ke arahku. Aku menyingkir, dan ketika mereka melewatiku, dapat kulihat wajah yang kukenali. Ketua Mitsuno! Antara percaya dan tidak percaya, aku berlari mengikuti para perawat itu. "Apa yang terjadi pada Ketua Mitsuno?" tanyaku gusar. Beliau tidak sadarkan diri. Kecemasan melandaku ketika mereka memblokir jalanku agar tidak masuk ke ruang operasi.  Terlalu cepat jika beliau harus kritis. Aku seperti kehilangan tenaga dan ambruk perlahan di kursi. Duduk dengan lemas selagi menunggu kabar baik dari dokter di dalam.  *** Keselamatan Ketua Mitsuno tidak bisa dipertahankan lagi. Setelah menunggu berjam-jam di depan ruang operasi, kami -aku, dan ketiga teman se-tim yang segera datang- mendapat kabar buruk. Paginya kami mengantar jenazah beliau ke peristirahatan terakhirnya. Banyak dari kami yang merasa kehilangan. Tapi itu adalah resiko sebagai Ksatria Putih. Kematian rekan seperjuangan merupakan bumbu pahit yang harus kami rasakan.  Usai dari pemakaman, kami dipanggil oleh Kepala Penyidik ke kantor. Aku ditunjuk sebagai ketua tim, menggantikan Ketua Mitsuno. Aku terkejut karenanya. "Boleh kutahu alasannya?" tanyaku.  "Ini sudah ketentuan dari direktur," tegas Kepala Penyidik. Aku tak bisa membantah apa pun lagi. Dengan tanggung jawab baru yang bertambah ini aku menerima tugas dengan bangga. "Baiklah. Saya terima tugas ini."  *** Keempat rekan timku ingin merayakan kenaikan jabatanku. Tapi kupikir hal itu tidak seharusnya dirayakan dengan suka cita. "Kenapa?" ujar Nesa.  "Apa yang kalian rayakan dari kesengsaraan seseorang?" kataku. Heran sekali dengan pemikiran mereka. Aku sangat tidak suka. Mungkin akan lain cerita jika aku naik jabatan dalam perkantoran negara. Tetapi pekerjaanku bukan sebagai karyawan perusahaan yang selalu berjibaku dengan tumpukan laporan dan layar komputer. Tidak hanya itu, ketua kami baru saja berpulang, bagaimana bisa kami bersenang-senang?  Pertanyaanku membuat mereka terdiam beberapa saat. Entah apa mereka mengerti maksudku atau memikirkan hal lain. Sampai salah satu si kembar itu bersuara lagi. "Dia guruku sewaktu di akademi dulu. Aku masih tidak percaya dia pergi secepat ini."  Kami pun berjalan bersama dengan muka murung. Aku rasa harus menyelesaikan penyelidikan ini. Aku mulai berpikir untuk menghentikan perang antara manusia dan ghoul selamanya. Kupikir ghoul Historic memiliki benang merah dalam tujuanku. Ya! Aku harus memulainya dari Historic dulu... dan gelang ini... pastilah bukan gelang yang tidak mendatangkan kegemparan.  Aku menyeringai dalam hati. Semua kerangka misiku sudah saling terhubung. Tinggal menjalankan tugasnya saja untuk mencapai ke garis finish.  Mendadak, ekor mataku menangkap bayangan hitam melintas cepat di antara banyak pejalan kaki di sini. Aku melirik ke kanan dan kiri. Kutemukan seseorang yang kuduga sedang mengikuti kami. Tapi, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.  *** Tiba di apartemen untuk melepas lelah, malah mendapati surat di meja. Aku membeku seketika. Lalu meraihnya ragu-ragu. Kubuka suratnya dan aku baca: jauhi Takashi jika tidak ingin hal buruk terjadi.  Lagi, surat ini datang kepadaku tanpa alamat pengirim. Dari nada kalimatnya, aku menduga dikirim dari orang yang sama. Surat kaleng yang hanya dikirim oleh pengecut! Benar! Pengecut seperti tikus di gorong-gorong. "Keluar kau!" geramku. Namun hanya keheningan di setiap sudut apartemenku. Aku kesal! Dia pikir aku bisa dipermainkan begini? Huh!  Aku melangkah lebar ke luar apartemen. Menengok CCTV disudut plafon, lalu kuputuskan untuk turun ke lobi. Menanyakan satpam soal CCTV. Apa kau tahu jawabannya? "Maaf, CCTV itu sudah lama mati," katanya. Darahku semakin naik. "Kenapa tidak cepat diganti?" tuntutku. Bodohnya aku yang baru sadar tentang adanya CCTV. Kalau surat pertama, memang aku abaikan. Tapi ini sudah kedua kalinya. Kalau dibiarkan, pelaku itu akan semakin angkuh.  Oh tunggu dulu... "Sejak kapan CCTV itu rusak?" tanyaku, sedikit tenang.  "Dua hari lalu," jawab satpam. Gotcha! Itu artinya kamera itu masih berfungsi saat seseorang masuk ke apartemenku -entah dengan cara apa- dan merekam seluruh kegiatan di lorong tersebut dengan begitu pelakunya akan terlihat!  Aku berlalu pergi. Menuju ruang operator keamanan. Mereka pasti punya salinan data kamera itu. Kuharap.  "Permisi?" sapaku sembari menyapu seluruh yang ada di dalam ruangan. Kosong. Dua kursi menghadap layar komputer itu kosong. Komputernya menyala, menunjukkan suasana di setiap lorong oleh rekaman kamera. Lalu di mana penjaga ruang keamanan? Begini jadinya jika keamanan di suatu tempat kendor. Seseorang bisa saja membobol hunian. Contohnya saja apartemenku yang berhasil dimasuki orang misterius.  Kemudian aku berbalik. Seketika aku menarik napas tajam. Kaget saat seorang kakek berdiri tepat di depan mukaku. Hiih menyeramkan. Beberapa detik tubuhku terpaku kaget. Hingga kakek itu berlalu melewatiku dan duduk di salah satu kursi putar. Aku menghela napas lega. "Ada perlu apa ke mari?" tanya suara seraknya. Kusadari dia mengenakan seragam serba hitam. Apa dia penjaga keamanan CCTV di sini?  "Aku ingin melihat rekaman CCTV di lantai dua saat seminggu yang lalu," kataku.  Kakek itu melirik tajam kepadaku. Aku jadi tegang. Mengapa wajahnya seram sekali? Tidak bersahabat seperti kakek-kakek dalam film horror yang pernah kutonton.  "Hmm, CCTV lantai dua?" Kakek itu mulai membuka folder dan mencarinya di komputer. Sementara aku menunggu penuh harap.  "Oh! Aku menemukannya!" pekik kakek itu senang. Aku juga jadi senang. Lantas mendekat padanya dari belakang.  "Apa yang kau cari?" tanya kakek.  "Tanggal 21," kataku.  Beliau menggulir-gulir kursornya. Pandanganku juga tertuju pada layar. Memperhatikan dengan cermat tulisan kecil di sana. "Berhenti!" ucapku saat menemukan kejanggalan. "Ini folder tanggal 20 dan 22. Ke mana tanggal 21-nya?" Aku menemukannya! Tapi tanggal tersebut justru tidak ada dalam deretan folder.  "Hmm aku juga tidak tahu." "Apa ada yang sengaja menghapusnya?" gumamku berpikir curiga. Lalu aku merogoh saku. Ponselku berdering. Yuna menelepon.  Aku menjawab panggilan telepon itu. "Ada apa Yuna-san?" kataku.  "Apa besok kau akan bekerja?" tanya Yuna.  "Hmm, ya. Kupikir begitu," jawabku.  "Oh baguslah. Kami kerepotan tanpamu di sini," ujar Yuna.  Aku tertawa kecil. "Aku akan datang kok!" "Okey, sampai ketemu besok." Lalu sambungan telepon diputus. Aku memasukkan ponselku ke saku. "Terima kasih, Kek." Aku pamit keluar. Lelah. Mungkin lain hari aku akan mengurus si pengirim surat ini. Huh! Untuk sementara dia bisa bernapas tenang.  Kembali masuk ke apartemen, aku berjalan lunglai dengan letih. Kemudian ambruk di kasur dan berbaring telentang. Aku menatap langit kamar beberapa detik, sebelum kutoleh ke arah nakas. Menatap bingkai foto diriku dan Takashi. Tiba-tiba saja aku jadi rindu pria itu. Sedang apa dia sekarang, ya?  *** Gelang misterius ini masih kupakai. Biar banyak orang tahu. Akan lebih baik pemiliknya sendiri yang mengetahuinya lalu mencari diriku. Aku yakin sekali, sangat mudah mencari diriku. Karena aku tinggal di kota ini, sering berkeliaran di kota, pelayan kafe yang melayani berbagai pelanggan, termasuk tugas sebagai Ksatria Putih alias Pemburu Ghoul.  Aku membuka pintu kafe tempatku bekerja -masih tutup, dan menyapa rekan-rekan kerjaku. "Selamat siang semuanya!" seruku senang. Tampak kegiatan bebersih mereka berhenti sejenak dan menatapku serempak. "Selamat siang, Nami!" Aku senang bekerja di sini. Orang-orangnya ramah. Ada tiga pelayan di sini, empat termasuk aku. Dua laki-laki dan dua perempuan. Bono seperti biasa sudah ada dibalik meja bar, mengurus kopi. Matsumura bagian cleaning services. Dan aku tak melihat Yuna di sini. "Ke mana Yuna? Apa dia belum datang?" tanyaku.  "Yuna sedang bersama manajer," jawab Matsumura.  Aku manggut-manggut, dan kemudian mengganti pakaianku dengan seragam kafe di ruang loker. Tepat setelah aku selesai berpakaian, Yuna datang di pintu. "Nami-san, akhirnya kau bekerja lagi. Hari ini bersiap untuk sangat sibuk!" katanya bersemangat.  "Bukankah setiap hari kita selalu sibuk?" Aku tertawa kecil. Yuna tersenyum. "Manajer ingin bertemu denganmu," katanya.  "Okay." Aku berlalu darinya sambil bertanya-tanya soal manajer. Ada perlu apa ya ingin bertemu denganku?  Lantas aku mengetuk pintu ruangannya. Ketika suara dari dalam mengizinkanku masuk, aku membuka pintu dan melangkah ke dalam. Manajer telah duduk di sofa single. Aku dipersilakan duduk di hadapannya.  "Senang kau bekerja lagi, Nami," kata manajer.  "Aku pun merasa begitu. Bekerja di sini sangat menyenangkan." Aku tidak bermaksud m******t manajer. Begitulah yang kurasakan sejujurnya.  "Bagaimana liburanmu kemarin?" tanya manajer.  Aku tidak mungkin mengatakan kalau masa cutiku adalah untuk liburan dan relaksasi. Bukan apa, aku merasa sungkan berbicara jujur tentang pekerjaan lainku dengan orang-orang di sini. Entah kenapa alasannya. "Yah, lumayan menghiburku sampai Yuna meneleponku kapan cutiku berakhir. Hahah, aku jadi tak tega meninggalkan mereka bekerja di sini," ucapku. Kurasa aku pandai berakting. Kuharap kebohonganku tidak terlihat sedikit pun dari cara bicara maupun ekspresiku oleh pria tua di hadapan.  Manajer mengangguk kalem. "Syukurlah kau dapat kembali bekerja di sini. Kau boleh kembali bekerja," katanya. Aku pun berdiri dan pamit kepadanya dengan sopan. Pintu ruangan kututup pelan, dan aku berjalan di lorong menuju lantai satu. Sesaat aku berpikir bahwa manajer tadi melirik ke arah gelangku.  Pelanggan pertama sudah datang. Seperti biasa aku mengantarkan pesanan ke meja-meja. Ketika hari semakin siang dan kafe kian ramai, seseorang datang dengan gaya eksentrik. Sekilas dia terlihat mirip dengan seseorang yang kukenal. Tersadar cepat dari lamunan, aku bergegas menghampirinya untuk menanyakan pesanan. Karena rekan-rekanku tampak sedang sibuk masing-masing.  "Apa yang ingin anda pesan, tuan?" kataku ramah.  Pria itu terlihat masih muda dan dewasa, mungkin beberapa tahun lebih tua dariku. Dengan wajah yang segar, cukup tampan dan tentu saja penampilannya bak aktor, pasti dapat menarik perhatian para gadis remaja.  "Satu kopi biasa dengan es," katanya, tersenyum. Sejenak aku terpana. Oh sadarlah Nami! Senyumannya begitu berkilau di mataku. Setelah mencatat pesanannya, aku buru-buru berlalu darinya dengan perasaan janggal. Entah mengapa melihat pria itu, sosok Takashi justru terlintas diingatanku.  Aku ke meja Bono untuk membuatkan pesanan kopi. Bono dengan cekatan membuat kopi dibalik meja bar. Sedangkan aku menunggu sambil melihat sekeliling. Hampir semua meja sudah penuh. Yuna yang sedang melayani pelanggan, dan Matsumura begitu sibuk di wastafel mencuci alat makan.  Tidak berselang lama Bono selesai membuat pesanan kopi, dan aku segera mengantarkannya ke meja pelanggan tadi. Ketika aku menaruh kopi ke meja, pria itu berbicara. "Gelang yang cantik, seperti yang memakainya." Aku tersenyum. "Terima kasih." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku berlalu dari hadapannya. Senyuman yang manis. Namun, hatiku tetap merasa aneh saat pertama melihatnya di tempat ini.  Oh ayolah, Nami. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Jatuh cinta? Hey! Kurasa bukan, sama sekali bukan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN