"Apa kau sudah punya pacar?" Sontak aku menahan napas kaget. Segera aku menggeleng. Entah kenapa, secuil harapan terbit di benakku.
Hari itu juga dia mendapatkan nomor ponselku yang ku berikan dengan hati senang. Sejak hari itu kami mulai saling bertukar kabar. Awalnya hanya percakapan sekadar 'hai', 'selamat pagi', 'selamat tidur', namun aku sudah merasa berbunga-bunga. Hampir setiap hari aku menunggu pesan masuk, pesan masuk darinya. Dan ketika notifikasi menyala, aku langsung menyerbu ponselku. Yuki bilang bahwa aku sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta, ya? Dunia terlihat sangat indah... Andai saja semua orang memiliki rasa cinta, pastilah peperangan itu tidak mungkin terjadi.
Setelah satu bulanan aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta, di taman kota Takashi menyatakan cintanya kepadaku. Sebuah momen paling berharga datang dalam hidupku. Aku pun tidak bisa menolaknya.
Dan hari berlalu seperti musim semi yang menawan. Kami berkencan untuk kali pertama. Berbagi tawa dan canda. Perlahan-lahan hubungan kami semakin lengket. Takashi memperlakukanku seperti seorang ratu. Dia pria yang gentle dengan wajah kalemnya yang meneduhkan pandangan. Terlebih kami memiliki kesamaan dalam hal membaca buku.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan kami lalui bersama. Mulai mengenal satu sama lain seperti pekerjaan misalnya. Takashi mengatakan kalau dia bekerja di laboratorium farmasi. Sementara aku hanya bilang bahwa aku bekerja di kafe dekat persimpangan jalan. Identitasku sebagai Ksatria Putih (Pemburu Ghoul) tidak kuberitahu. Aku tidak punya alasannya. Hanya, lidahku seakan kelu untuk membicarakan pekerjaan utamaku.
Pekerjaan sebagai Pemburu Ghoul bukan pekerjaan yang aman. Aku khawatir Takashi akan mencemaskanku. Lebih baik tidak tahu daripada tahu sesuatu. Perihal lain seperti tujuanku hidup misalnya, aku tak pernah menceritakan balas dendamku terhadap ghoul pada pria itu.
Di malam hari yang damai, aku duduk di atas kasur. Menjejerkan foto polaroid aku dan Takashi. Hampir beberapa minggu ini, kebahagiaan yang meliputiku adalah berkat bersama Takashi. Lalu aku teringat pada ibuku. Foto tersenyumnya membuatku menyendu. Pandanganku mengabur. Seandainya kau masih hidup, ibu... Akan kuceritakan kalau aku menemukan seorang pria yang kucintai dengan tulus. Menunjukkan bahwa puterinya sudah tumbuh dewasa.
Tapi bayangan itu tidak dapat terwujudkan. Tidak dipungkiri bahwa niat balas dendamku berguncang dari kapal yang telah kubawa berlayar sejauh ini. Aku sering tergoda antara melupakan balas dendam dan Takashi. Karena kebimbangan ini memengaruhi pertarunganku secara tak sadar. Aku jadi mudah terkena serangan, terluka, dan tidak fokus. Ketua menyadari diriku sedang kacau, jadi aku diminta untuk cuti beberapa hari.
Hampir seminggu aku tidak bekerja sebagai Pemburu Ghoul dan di pelayan di kafe -aku perlu cuti dari semua kegiatan. Selama seminggu ini pula aku merenung. Ada dua jalan terbentang di depan mataku. Jalan yang satu merupakan jalan lurus nan mulus dengan dipenuhi jejeran bunga bermekaran. Sedangkan jalan lainnya adalah jalan berduri yang mengerikan. Lazimnya orang akan memilih jalan mulus berbunga itu.
Namun, setelah aku pikirkan secara mendalam dan matang, aku tetap akan berjalan pada jalanku. Jalan yang kupilih sebelum seseorang hadir dalam perjalananku. Biarlah aku berjalan di atas ribuan duri. Aku tidak tahu apakah aku sedang tersesat sekarang? Yang kulakukan hanya melangkah maju.
Raga lelah, jiwa juga lelah. Beginilah jalan berduri yang kulalui. Rasa ego memaksa ragaku terus menerjang badai, membantai jiwaku dengan sejuta anak panah tak kasat mata. Tidak ada tempat bagiku untuk bernaung. Semua terlihat kelam dan hitam.
Tidak ingin munafik, aku membutuhkan seseorang yang dapat menarikku keluar dari jalur ini.
***
Pertarungan tak terelakkan. Malam itu Ketua Mitsuno mengerahkan segenap kemampuan bertarungnya untuk melawan satu ghoul. Ghoul itu mengaku sebagai Historic. Ghoul yang sedang diincar timnya. "Kembalikan gelang itu, Mitsuno!" geram suara sintetis itu -karena teredam oleh topeng tebalnya.
"Tunjukkan wajahmu, wahai pengecut!" Mereka bertarung sengit. Pembicaraan jadi tidak berarti apa-apa. Ketua Mitsuno yang tetap kekeh sementara musuh terus menggempurnya. Ghoul itu tiba-tiba datang kepadanya, -mengikuti Ketua Mitsuno di jalanan sepi yang membawa mereka pada gedung terbengkalai. Cocok untuk pertarungan mereka tanpa mengorbankan orang luar. Ketua Mitsuno sudah tahu kalau tadi dia diikuti. Awalnya dia hendak dalam perjalanan ke kantor, tapi harus urung karena penguntit di belakangnya.
Dalam pertarungan keduanya, Ketua Mitsuno terpental dan membentur rangka besi dengan keras. Dia terbatuk berdarah. Entah sudah berapa jam dia bertarung mempertahankan hidup dan melawan demi hidup. Karena kini tenaganya hampir terkuras habis. Terluka di mana-mana. Pada saat itu ekor merah gelap terjulur cepat ke arahnya.
***
Aku mendengar petir di siang bolong. Bukan petir dari langit melainkan kabar yang menyebar telingaku dari suara di ponsel. Ketua sedang berada di rumah sakit. Aku bergegas memakai mantelku. Seharusnya sekarang aku pergi ke kafe, tapi kabar itu tidak bisa kuabaikan. Dengan mendadak aku minta cuti satu hari melalui Yuna lewat telepon. Aku beruntung tidak perlu repot membuat surat resmi untuk mengajukan cuti. Kami adalah keluarga di kafe. Dan Yuna adalah ponakan manajer kafe.
Aku berlari agak tergesa menuju halte sampai menabrak seorang nenek dan menjatuhkan barang bawaannya. Aku meminta maaf padanya sambil memunguti tas pakaian tersebut yang sering kulihat untuk bepergian ke luar kota jika tak punya koper. Setelah itu aku berlari ke arah bus yang hendak pergi. Satu langkah naik, aku berhasil masuk ke dalam bus. Bus langsung pergi dari halte.
Napasku masih terengah-engah. Capek juga berlari dari apartemen ke halte lantaran tak mau ketinggalan bus yang lewat sesuai jadwal. Kali ini aku mendapat kursi untuk duduk di dalam bus. Penumpang siang ini sedikit. Biasa, weekend membuat mereka beristirahat di rumah.
Setengah jam kemudian aku tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang rawat Ketua Mitsuno setelah kutanyakan pada perawat di meja administrasi. Lift yang kunaiki ke lantai empat segera terbuka, dan aku bergegas keluar menyisiri lorong berpintu. Lalu nama Ketua Mitsuno kutemukan tertera di dekat pintu. Aku menggeser pintu cokelat itu.
Ruangannya sepi. Kupikir sudah ada teman-teman timku. Di mana mereka? Apa belum datang? Aku menghampiri beliau yang sedang terbaring dengan alat medisnya. "Nami-san, kau datang?" katanya bersuara lemah.
"Ya, Ketua. Aku datang menjenguk anda," jawabku prihatin. "Bagaimana kondisi anda sekarang?"
"Aku diserang ghoul yang mengaku sebagai Historic," katanya. Aku memang diberitahu kalau orang yang meneleponku: Nesa, kalau beliau terluka karena ghoul. Tapi, ghoul sebagai Historic baru kuketahui. Tak pelak membuatku tertarik mendengarnya. "Dia mencari sebuah benda yang berharga," lanjut Ketua Mitsuno.
Aku mengeryit. Benda berharga? Apa? "Apa yang dia cari?" tanyaku.
"Sebuah pusaka keluarga bangsawan ghoul. Dulu temanku memegangnya, dia menemukan benda itu di lokasi kejadian orang tuamu meninggal dunia."
Deg!