Pertemuan Kami

1150 Kata
"Bagaimana? Beritahu aku pemilik gelang ini, maka anak ini tidak akan kusentuh," ancamku. Bagus Nami. Berikan lawan pilihan. Jadikan dia tidak berdaya.  "Jangan konyol. Aku takkan bekerja sama dengan Pemburu Ghoul." Dia belum memercayaiku ternyata. Tentu tidak mudah percaya pada orang lain, terlebih musuhmu sendiri.  Jadi aku harus membuatnya percaya padaku dan menjawab setiap pertanyaanku. "Kau bisa memegang janjiku. Takkan ada yang melukai anakmu." "Bagaimana caranya?" Dia menantang. Tapi dengan tenang aku menjawabnya. "Aku memiliki orang-orang pengguna kagune. Mereka bukan Pemburu Ghoul atau pun mantan Pemburu Ghoul. Mereka sangat patuh pada perintahku." Kuharap ini bisa membuatnya sedikit terbuka.  "Kau harus menepati janjimu. Jika anakku sampai mati karena ulah kalian, kau akan tahu akibatnya." "Aku tidak pernah mengingkari janjiku." Kemudian, ghoul itu menarik tubuhnya maju. Menekan lengannya pada meja di sana saat mencondongkan tubuh. "Dia bukan ghoul yang bisa kau lukai," bisiknya misterius.  "Kenapa?"  "Berdasarkan ukiran gelang itu, hanya dimiliki ghoul bangsawan. Kau perlu membawa lebih dari satu tim untuk mengalahkan ghoul bangsawan." "Siapa dia?" Aku perlu namanya, atau bagaimana wajahnya. Dengan pelan Minato bersandar lagi ke kursi. "Sayangnya aku tidak pernah melihat dia. Keberadaannya sangat tersembunyi dan bersih dari mata siapa pun," katanya.  "Apa dia laki-laki? Atau perempuan?" Minato menggeleng. "Sudah kubilang aku tidak tahu siapa dia." Baiklah. Kupikir hanya sampai di sini interogasinya. Aku bangkit. Menatap dingin Minato sebelum berbalik acuh.  *** Mata Yuna terbelalak berbinar melihat gelang antik di pergelangan tanganku. Sengaja kupakai agar bisa tahu siapa yang sedang mencari gelang ini. "Woah! Gelang ini beli di mana??" pukau Yuna.  "Aku membelinya di lapak kaki lima saat malam festival kemarin," jawabku berdusta. Jangan bodoh untuk mengatakan kalau gelang ini milik ghoul bangsawan yang sedang kuburu.  Sementara Bono tampak sedang mengelap gelas di meja bar. Kafe kami sedang sepi pengunjung. Jadi kami dapat beristirahat sejenak sambil mengobrol. Seseorang datang dari pintu masuk kafe. Aku hampir menyambutnya seperti pelayan kepada pelanggan, sebelum kukenali siapa yang datang.  "Pemilik kafe!" Beliau seorang pria tua dengan wajah bersahaja.  "Anda datang? Bagaimana perjalanan bisnisnya?" ujar Yuna.  "Haha. Semua berjalan lancar. Bagaimana kabar kalian?" "Tidak ada masalah. Kami sering kali sibuk sepanjang siang," sahutku.  "Gelang yang bagus, nak," kata tuan Tokiomi saat melirik gelangku.  "Aku menyukainya," kataku.  "Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku mau ke ruanganku dulu." Beliau berlalu dari kami. Menaiki anak tangga dekat tembok yang mengarah ke ruang staff.  *** Ketika langit berwarna jingga, aku tidak langsung pulang ke apartemen. Langkahku berhenti di depan nisan kedua orang tua. Aku berdiri menatap mereka. Rindu dan terkenang tentang mereka seringkali membuatku jadi lemah. "Apa kabar, ayah, ibu..." Meratapi orang terkasih yang sudah meninggal adalah kegiatan yang tak bisa kuhentikan setiap bulannya. Meski aku sibuk bekerja, selalu kumanfaatkan waktu lengang untuk menyapa mereka.  Memberikan mereka bunga dan berdoa untuk kebahagiaan mereka di alam baka. Pula aku tidak mengharapkan mereka dapat melihatku dari dunia lain. Akan menyedihkan jika mereka melihat anaknya bertarung atas kematian mereka. Ini adalah jalan yang kupilih sendiri. Keletihan yang mendera, siksaan dunia yang mencambukku, takkan kuhentikan sampai di sini. Aku... Harus terus melangkah ke depan. Karena apa yang telah kumulai, harus kuakhiri dengan caraku sendiri.  "Ayah, ibu, maafkan aku." Keheningan makam, angin yang berembus dingin, dan langit yang mulai gelap. "Meskipun aku lelah dengan semua ini, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Karena aku memiliki seorang pria yang sangat kucintai." Aku tersenyum. Membayangkan hari-hari indahku saat bersama Takashi. Dia orang yang kucintai. Satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku setelah kedua orang tuaku. Mungkin kedatangan Takashi dalam hidupku dikirimkan oleh kalian agar aku tidak terlalu hidup sengsara di tengah kemelut api dunia ini.  Peperangan manusia dan ghoul harus diakhiri. Apakah yang terbaik? Kematian atau genggeman tangan?  Historic dan ghoul bangsawan yang identitasnya masih tanda tanya. Apakah mereka saling terhubung?  Tiba-tiba aku teringat lagi pada cerita sejarah tentang ghoul. Jika aku memercayai cerita itu, tentu saja aku akan menyalahkan salah satu ghoul bangsawan itu yang memulai pertarungan. Menebar teror dan kebencian. Terbunuhnya sang kekasih memetik api peperangan di antara dua ras ini. Sungguh berbahaya jika cinta sudah dilukai.  *** Pemandangan yang terlihat tampak berwarna oranye. Daun-daun berguguran, dan jalanan dibanjiri dedaunan kecokelatan. Meski mereka berjatuhan, itu tidak menghilangkan kesan keindahan yang begitu anggun. Seperti halnya ketiadaan seseorang di dalam tanah.  Aku mengiringi jasad temanku di awal minggu musim gugur. Dia seorang teman akademi Pemburu Ghoul yang cukup akrab denganku. Beberapa rekan dan keluarga menyayangkan kepergian dia. Pakaian serba hitam dengan wajah sendu tidak ubahnya kenangan yang terpanjat. Salah satu dari kami menangis, tak tahan harus kehilangan orang terkasih.  Serangan tiba-tiba menyerbu kami pada malam di akademi. Ghoul menjarah semua tempat di gedung akademi, sebuah sekolahan khusus untuk mendidik calon Pemburu Ghoul. Kami berbeda tim. Dan bertemu secara tak sengaja di lokasi kejadian. Namanya Haru. Seorang pemuda ceria. Kami telah mengenal sejak duduk di bangku akademi Pemburu Ghoul. Aku tidak ada disisinya saat pertarungan berlangsung.  Namun, kutemukan dia tergeletak di lorong yang telah kacau balau. Terluka sangat parah. "Nami..." Bahkan dia bersusah payah bicara. "Jangan bicara, aku akan membawamu ke rumah sakit!" panikku.  Haru menggeleng lemah. "Gunakan kaguneku bersama pedang kagunemu." "Haru..."  "Aku tak ingin orang lain menggunakan kaguneku. Kecuali kau," katanya lirih. "Kuharap dia dapat melindungimu." Haru tidak bicara lagi. Itu adalah kalimat terakhirnya.  Aku menatap kosong nisan Haru. Di bawah langit mendung, dan angin bertiup dingin. Kematian di antara kami silih berganti. Yang gugur akan dikenang oleh orang terdekatnya. Yang hidup akan terus berjuang mempertahankan kehidupannya. Setiap langkahku berjalan menjauhi pemakaman. Galau hari ini ditemani musim gugur yang indah. Oh sayang sekali. Padahal di musim gugur ini Haru berencana ingin kencan buta. "Haah." Satu embusan napas mengudara. Ketika aku sudah berada di dalam bus, aku tidak mendapat tempat duduk. Terpaksa harus berdesakan dengan penumpang lain. Dan begitu bus mengerem mendadak, keseimbanganku nyaris tersungkur ke depan kalau sebuah lengan tidak menahan perutku. Aku menoleh, sepasang mata berwarna cokelat hazel menawanku. Diriku seakan terhipnotis oleh tatapannya. Bahkan dunia tidak terdengar berisik lagi saat jiwa ini tenggelam di sana. Namun, aku segera mengendalikan diri seraya mengatakan terima kasih. Memalingkan wajah yang menahan malu.  Kupikir pertemuan aku dan pria itu hanya berhenti sampai di bus saja. Hari itu aku membutuhkan baterai untuk remot televisi sehingga aku pergi ke minimarket terdekat walau harus berjalan lima ratus meter. Di luar dugaan, baterai yang hendak kuambil malah memegang tangan seseorang. Aku tersentak menarik tangan. Seolah benang merah mulai terajut, kami bertemu lagi. Setelah itu kami tidak berpisah di minimarket. Obrolan ringan darinya mengajakku berbicara selama langkah beriringan.  Pria itu mengenalkan dirinya sebagai Takashi. Orang yang membayangi pikiranku setelah kejadian di bus waktu itu. Betapa sedang berpesta benakku saat kami bertemu lagi dan terlibat obrolan dengannya. "Apa kau tinggal di dekat sini?" tanya Takashi.  "Kurasa sedikit jauh," jawabku. Kami melewati deretan pohon yang berguguran daunnya. Suara daun bergesekan dengan sepatu bootsku. Suasana yang canggung. Aku yang masih malu di dekatnya, sementara dia mencoba mencari topik pembicaraan. "Apa kau sudah punya pacar?" Sontak aku menahan napas kaget. Segera aku menggeleng. Entah kenapa, secuil harapan terbit di benakku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN