Gelang Misterius

1009 Kata
Aku menjerat leher ghoul itu, lebih kuat lagi. Tapi tidak kubiarkan dia mati. Saat kuperkirakan dia tidak dapat melawan lagi, inilah saatnya aku bicara. "Apa kau tahu siapa pemilik gelang ini?" tanyaku, menunjukkan gelang dari kantongku. Ghoul itu tidak segera bicara. Aku butuh jawaban sekarang. "Jawab aku, maka kematianmu akan lebih mudah." Kalau saja topeng itu dapat kubuka, pasti bisa terlihat ekspresi wajahnya sekarang. Aku menjaga jarak sepanjang tali ini terulur. Bagaimana pun, ghoul ini memiliki ekor. Sehingga harus diwaspadai. Bisa-bisa saat aku mendekat, ekor satu itu terjulur kepadaku dan cengkraman Haru reflek terlepas untuk menghindar.  "Terkutuklah kau!" Suaranya menggeram. Dia seperti sedang marah. Tapi, apa yang membuatku harus geram padaku? "Jadi, kau mengenali pemilik gelang ini?" tebakku setelah menilai reaksinya.  "Kau akan mati. Mereka mencari gelang itu sampai keujun dunia. Tapi, tak kusangka yang menyimpannya adalah Pemburu Ghoul. Hahah!" Ghoul itu masih bisa tertawa rupanya meski lehernya diancam. Ya, biarlah tertawa sepuasnya. "Siapa pemilik gelang ini!" Yang kupedulikan saat ini hanyalah mencari tahu pemilik gelang di sela-sela misiku.  "Aku tidak tahu." Jawaban ghoul itu tidak memuaskanku. Kucengkram lebih kuat tali ini di lehernya, dan dia seketika menegang. Entah sampai mana napasnya tertahan. "Jawab aku, akan kupermudah kematianmu." Sebagian diriku tidak ingin membiarkan dia mati begitu saja setelah percakapan ini. Aku mengira, dia tahu sesuatu mengenai gelang misterius ini. Mungkin membawanya ke penjara ghoul sedikit lebih baik. Karena aku akan menginterogasinya lebih lama dan lebih dalam sebagai penyidik ghoul.   Walau aku tahu rencana tidak akan berjalan mulus. Biasanya mereka tidak mudah untuk buka suara: menjawab setiap pertanyaan dari penyidik ghoul. Di momen itulah yang mengesalkan.  Tiba-tiba getaran halus kurasakan dari atas. Debu-debu turun seperti hujan. Apa yang sedang terjadi di basement atas? Naluriku merasakan hal ganjil. Seakan menyuruhku harus pergi dari lantai ini. Hingga aku tersentak saat ekor ghoul muncul dari atas kepala sangat cepat dan aku sontak melompat. Aku merasa beruntung memiliki reflek tubuh yang bagus. Rupanya di lantai atas ada ghoul lain. Sialnya, tali kekangku terlepas dari leher ghoul itu. Dan semua terjadi seperkian detik saat tubuhku melayang terlempar. Ghoul itu menghempaskanku.  Aku menubruk dinding dengan keras. Terjatuh bersama debu yang menghalau pandangan. Aku terbatuk. Lontaran yang buruk. Tenagaku sudah hampir mencapai limit ketika kulihat ghoul itu berjalan mendekat. Atap di atasku segera dilubangi, dan satu ghoul melompat turun. Ah, aku dikepung dua ghoul dalam kondisi terpojok begini?  Tunggu, gelang di tanganku hilang! Sedetik kemudian kutemukan tergeletak dua meter di seberangku. Aku harus mengambilnya! Aku tidak akan menyerah sebelum tujuanku tercapai! Mereka tidak bisa mencabut nyawaku jika pemiliknya tidak menghendaki, yaitu aku! Perlahan, aku bangkit ke posisi berdiri dengan tertatih. Rasa sakit di tubuh ini tidak boleh melemahkanku.  Satu pedang kagune di tangan kanan, satu tali kekang ghoul di tangan kiri. Setidaknya aku masih beruntung memegang s*****a. Ketika angin berembus cepat, detik itu pula aku berguling ke arah gelang itu berada. Berhasil berkilah dari dua ekor ghoul itu.  Mengeroyokku. Dua lawan satu. Jumlah tidak memengaruhi kekalahan. Karena aku tidak selemah itu!  Haru memecut satu ghoul pendatang, aliran listrik menyambar setiap tubuhnya. Sementara ghoul satunya menyerangku dari arah lain. Aku harus mencuri kesempatan untuk meraih gelang itu. Tanganku hanya ada dua. Dan keduanya sibuk mengendalikan s*****a. Ayo berpikirlah!  Aku melepas pecutan dari ghoul pendatang itu. Dia menangkis serangan Haru, dan ketika melihat peluang, aku menjejalkan ujung pecutan ini ke mulutnya (karena dia tidak mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajah, melainkan hanya menutupi bagian hidung ke mata saja). Pada detik itu cahaya meluap dari mulutnya, sebelum meledakkan ghoul itu. Lalu aku menarik Haru lagi, dan dengan lihai kuarahkan Haru ke belakangku. Akhirnya aku mendapatkan gelang itu kembali.  Sekarang, giliran ghoul yang satunya. Tapi, dia malah bergerak mundur dan semakin mundur. Mau kabur heh? Takkan kubiarkan. Langsung saja aku melemparkan pedang kaguneku ke punggungnya. Seketika menancap telak. Ghoul itu tertelungkup jatuh. Aku mendekat. Usahaku tidak akan menjadi sia-sia.  *** Setelah pertarungan sengitku melawan dua ghoul sendirian, energiku tidak terbuang percuma. Karena, satu ghoul itu berhasil kubawa pulang. Dia kini berada di penjara isolasi. Selesai dalam misi, aku segera pergi ke ruang perawatan. Benturan keras di punggungku harus dipulihkan. Tidak butuh waktu lama, dokter hanya memberikan suntikan pada tubuhku, dan aku bisa bergerak normal lagi.  Esok paginya aku kembali ke markas, melewati lift, lorong panjang menuju penjara ghoul. Sebuah penjara yang hanya dihuni satu ghoul di setiap selnya. Sel kami tidak sembarangan sel. Dibuat dengan teknologi paling mutahir untuk menahan mereka dari usaha meloloskan diri. Setiap dindingnya akan mengalirkan listrik jika mereka memaksa menerobos. Tentu saja dibuat aman untuk manusia.  Di sinilah aku duduk sekarang. Di hadapan seorang ghoul dengan kaca tebal sebagai penghalang kami. Oh, kini wajahnya dapat kulihat sangat jelas setelah topeng jelek itu dilepas. "Jadi inilah wajah pengecut itu?" sinisku. Dia seorang pria. Menurut data yang kuperoleh dari petugas, namanya adalah. "Minato. Seorang pedagang ikan di pasar. Berusia 40 tahun.... Apa kau sudah memiliki istri?" tanyaku datar.  "Apa kau ke sini untuk menanyakan gelang itu?" Ooh, dia to the point. Baiklah, kita akan membicarakan hal penting. Aku pun menutup map berisi informasi data diri ghoul ini. "Pertanyaanku masih sama," ucapku serius.  "Dan jawabaku masih sama." Dia mengubah kalimatku. "Aku tidak percaya jika kau tidak mengetahuinya. Siapa pemilik gelang ini dan di mana dia berada?" Kutekankan dengan tegas.  Kulihat dia tersenyum. Senyum yang melecehkan. "Hanya waktu yang akan memberitahumu, nona," ujarnya. Lalu dia bersandar ke sandaran kursi. Duduk dengan santai. "Kau takkan mendapatkan apa pun dariku. Ah..., wajahmu mengingatkanku pada teman lamaku. Apa kau puteri Kazuki Yoma?"  "Itu adalah nama ibuku," kataku datar. Bagaimana dia bisa mengenal ibuku?  "Aah begitu ya? Kazuki Yoma... Dia adalah cinta pertamaku. Bukankah dia tewas bersama suaminya?" Suaranya merendahkan. Dia menatapku kasihan.  Aku mengepalkan tangan. Tidak terima ibuku dilecehkan begitu. Namun, aku tetap tenang. "Seorang anak bernama Hori berusia 12 tahun yang kini tinggal di Shizuka bersama neneknya. Apa aku perlu mengurus anak itu?" balasku memicingkan mata. Minato muram. Di saat seperti ini aku merasa sedang berdebat dan menang satu poin darinya.  "Bagaimana? Beritahu aku pemilik gelang ini, maka anak ini tidak akan kusentuh," ancamku. Bagus Nami. Berikan lawan pilihan. Jadikan dia tidak berdaya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN