"Tetapi aku tidak seperti mereka yang bekerja sebagai Pemburu Ghoul demi menikmati uang. Aku... Harus mendapatkan banyak uang untuk ibuku yang sedang sakit parah di rumah sakit. Beliau harus dioperasi segera." Pernyataan Yuki adalah kabar mengejutkan yang membuatku tercengang. Gadis itu satu tahun lebih muda tapi memiliki keterampilan yang bagus dalam bertarung.
"Kau anak yang berbakti. Kuharap ibumu secepatnya sembuh," kataku prihatin ketika menurunkan cangkir ke pangkuan sembari tercenung. Tujuanku berada di Pemburu Ghoul tidak semulia gadis ini.
"Kalau kau sendiri bagaimana?" Yuki melempar tanya di mana aku harus sedikit bercerita mengenai diriku. "Orang tuaku tewas di tangan mereka tapi aku masih mempunyai nenek di Fukuoka. Aku... Ingin mencari pelakunya." Kisah ini kuungkap pertama kali pada seseorang. Bukan sebuah rahasia. Hanya saja gadis ini bertanya maka aku menjawabnya.
"Apa sudah tahu nama atau wajahnya?" Pertanyaan ini membuatku termenung diam. Bahkan setelah lima tahun aku bertarung melawan ghoul... Aku mempertaruhkan segalanya. "Sampai saat ini aku belum mengetahui ghoul itu. Tetapi aku memegang petunjuk yang akan membawaku pada kebenaran." Harta itu aku simpan dengan sangat apik seperti emas batangan di dalam brangkas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika sudah bertemu pelakunya? Bagaimana kalau dia sudah mati terbunuh?" Benar yang ditanyakan Yuki, kalau buruanku telah mati lantas usahaku selama bertahun-tahun ini akan menguap dan lenyap. "Dia masih hidup," tekanku muram seketika. "Aku percaya itu." Tentu saja aku percaya karena buruanku bukan dari kalangan biasa. Meskpun aku belum tahu identitas aslinya, di mana nama palsu ghoul itu adalah Hisuto, gelang langka sedikit mengungkap jati diri pemiliknya. Ya... Aku menyimpan gelang dengan ukiran rumit dan berlogo ekor ghoul.
Aku masih anak-anak sewaktu mendapat kabar bahwa orang tuaku meninggal dunia. Sejatinya mereka bukan Pemburu Ghoul melainkan warga sipil dari keluarga bahagia. Seorang rekan ayahku memberiku gelang. Katanya gelang itu milik pelaku ghoul karena ditemukan ditempat kejadian orang tuaku tewas mengenaskan. Beliau bilang kalau gelang itu sangat langka sebelum esok malam dia gugur dalam misinya sebagai Pemburu Ghoul. Dukaku bertambah untuk membalaskan dendam. Beban yang berat dipikul anak perempuan.
Ponselku berdering di meja. Kontak Ketua tertera di layar. Beliau pasti akan memberikan misi pada kami lagi. "Halo, Ketua," salamku. "Nanti malam kita berkumpul di markas. Beritahu yang lain." Suara Ketua segera berakhir di ponselku. Aku berganti menatap Yuki yang masih menikmati green tea-nya. "Misi baru lagi?" ujar gadis itu.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya kita akan bekerja malam ini." Jam menunjukkan pukul lima sore ketika tehku habis. "Aku tidak sabar menunggu malam. Akan kuremukkan tulang-tulang mereka." Oh ucapanku jadi terdengar mengerikan. Begitulah aku, aku akan bersemangat setiap kali ada misi memburu ghoul. Berniat menginterogasi mereka sendiri guna mencari pemilik gelang. Ah iya, haruskah aku membawa gelang itu dalam misi kali ini? Benar juga, selama ini yang kulakukan hanya mencecar dengan pertanyaan, bukan bukti nyata. Bodohnya aku. Saking rekan ayah bilang agar disimpan saja dan aku menurut. Lihat, apa aku setakut itu untuk mati muda? Huh!
"Ngomong-ngomong," celetuk Yuki. "Selama tiga tahun aku bekerja sebagai Pemburu Ghoul, total 42 aku membunuh mereka. Aku yakin jumlah ghoul yang kau bunuh lebih banyak dari aku," katanya. Aku tersenyum tenang lalu beranjak membawa cangkir menuju dapur. "Dua kali lipat kalau kau ingin tahu," jawabku sebelum mencuci cangkir teh.
"Wow! Kau memang senior!"
"Hah? Memangnya aku apa?"
"Pemburu Ghoul yang tidak membunuh ghoul," ucap Yuki. Heran di telingaku. "Memangnya ada yang seperti itu?" Yuki mengangkat bahu tanda tak tahu. "Kalau pun ada mungkin belum lama menjadi Pemburu Ghoul," pungkasku.
***
"Misi kita kali ini adalah mengetahui keberadaan ghoul Historic." Misi kemarin gagal karena kami belum mengetahui keberadaan Historic. Misi yang dipimpin Ketua sedang dilaksakan oleh kami. Seperti sebelumnya, kami berpencar sesuai arahan. Aku bersama Yuki dan Ketua, sisanya bertiga: si kembar Nesa-Nusa dan Orino. Sayangnya di tengah pencarian kami, kami harus bertempur dengan sekelompok ghoul bertopeng di gedung basement. Ada tiga ghoul, dan semuanya berjubah hitam dengan topeng yang sama. "Kalian tidak akan bisa mendapatkan apa yang ingin kalian dapatkan," kata salah satu ghoul.
"Hoo, kenapa tidak?" sahutku menyeringai saat melompat ke belakang. Kami berhenti sejenak dengan ancang-ancang siaga. "Tentu saja kalian akan mati untuk dijadikan santapan kami." Balasan tentang kematian membuatku muak. Gara-gara keberadaan mereka, orang tuaku harus jadi korban.
Aku mengencangkan genggaman pedang kaguneku sebagaimana kegeramanku, aku berlari menerjang. Terlalu menyakitkan untuk membalas perkataannya. Karena menurutku, dengan kewarasan otakku, kedua belah pihak pun mengalami hal serupa. Kami bertarung untuk melindungi orang terkasih. Berkorban dan ditinggalkan. Mau sampai kapan dunia seperti ini terus? Tapi, tugas sebagai Pemburu Ghoul mengharuskan kami membuang belaskasihan pada musuh.
ZRAT!
Sebuah tangan melayang dan jatuh ke tanah. Sabetan penuh pedang kaguneku berhasil memotong tangan seorang ghoul. Tanpa ampun, tanpa kasihan, malam ini emosiku sedang naik. Entah kenapa. Mungkin sudah akhir bulan. Emosiku akan tidak stabil. Hal wajar dialami setiap wanita dewasa. Huh, merepotkan, tapi membuatku lebih bersemangat.
Ghoul itu mundur. Mungkin wajahnya di dalam topeng tengah terkejut, tidak dia sangka kalau aku bisa memisahkan bagian tubuhnya. Sementara Yuki dan Ketua terlihat masih berjibaku menghadapi masing-masing ghoul. Jumlah yang seimbang membuat kami bertarung secara individu. Ghoul dihadapanku sepertinya tidak menyerah usai satu tangannya putus, karena dia menerjangku dengan berani. Datanglah!
Sebenarnya aku bukanlah wanita lemah yang harus dilindungi. Percayalah, kematian orang berharga akan membuatku jauh lebih kuat dari sekarang. Tidak dapat kusangka aku berada di titik sekarang, padahal dulu aku sangat penakut dan feminin sekali. Oh, aku begitu percaya diri malam ini.
Pertarunganku malam ini, kubawa ghoul itu ke tempat sepi. Aku terus melompat mundur, terkadang menghindar dengan kilah lihaiku, hingga saat kami hanya sedikit jauh dari mereka, aku melancarkan serangan kejutan. Satu tali meluncur cepat, menjerat leher ghoul itu, melemahkannya saat kilatan listrik mengalir di sepanjang tali. s*****a keduaku, warna talinya merupakan perwujudan kagune ghoul: merah-hitam. Aku menamainya, "Mengamuklah, Haru."
Dia masih benda baru yang kumiliki. Satu tahun lalu aku mendapatkannya dari mendiang rekan akademiku. Dia mewarisi s*****a ini kepadaku pada detik napas terakhirnya karena serangan mendadak ghoul. Sejak saat itu, baru tiga kali aku menggunakannya, karena aku lebih sering menggunakan pedang kaguneku. Bukan apa, tapi memang akan kugunakan jika kubutuhkan. Dan di pertarungan sebelumnya tidak membuatku harus mengeluarkan Haru.