"Apa saja, akan kulakukan untukmu." Sorot matanya yang hangat, aku menyukainya lebih dari apa pun. Sementara suara protes terdengar dari belakangku. Yuna tampak cemberut dan Bono kikuk di hadapannya. Setahuku mereka bukan sepasang kekasih, tapi dilihat dari mataku, mereka cocok jika menjadi pasangan.
Tiba-tiba tanganku ditarik lembut olehnya. Berpisah dari Bono dan Yuna yang tak menyadarinya, Takashi membawaku ke jalan lain. "Kita mau ke mana?" kataku menatapnya yang terus menggenggam tangan kurusku. "Ke tempat yang indah." Takashi menyunggingkan senyum kepadaku. Sementara aku hanya terbengong menunggu apa yang direncakan Takashi. Keramaian semakin tertinggal di belakang saat kami menaiki bukit.
Setelah berada di atas bukit, Takashi duduk. Aku mengikutinya tepat di sisi kirinya. Tampak di hadapan kami lautan cahaya oranye memanjakan mata. Di bawah sana adalah tempat acara itu diadakan. Indah. Untungnya langit malam ini sedang sangat bersahabat. Kami membisu menikmati pemandangan. Sampai suara Takashi mengalihkan perhatianku. "Apa kau pernah melihat bintang jatuh?" tanyanya.
"Bintang jatuh, ya? Aku belum pernah melihatnya, dan aku berharap bisa melihat bintang jatuh meski hanya sekali dalam hidupku." Aku menjawab.
"Untuk apa kau melihat bintang jatuh?"
Aku mengerjap kaget. Menatap Takashi, yang juga menoleh kepadaku. "Kalau bintang jatuh itu ada di hadapanmu?" lanjut pria ini. Aku melongo sampai kemudian aku baru paham, dan tersenyum jahil. "Ya, kaulah bintang jatuhku." Lantas kupeluk lengannya seraya menyandarkan kepalaku ke bahu lebar Takashi. Sekelebat ingatan dalam mimpi melintas di kepalaku. Aku dan Takashi saling berpelukan seakan kami sedang ditimpa masalah pelik. Aku khawatir. Apa arti mimpi itu sebenarnya?
"Takashi-san..." panggilku. "Apakah momen seperti ini bisa kita jaga lebih lama lagi?" Aku mencintainya dan tidak ingin kami berpisah, untuk saat ini mungkin. Aku tidak tahu bagaimana kami ke depannya apakah kami akan berpisah karena konflik? Sungguh, aku mencintainya lebih dari apa pun.
"Aku harap kita dapat menjaga kebahagiaan kita untuk masa depan," ucap Takashi. "Akan kulindungi dirimu apa pun yang terjadi." Dia selalu bisa membuatku merasa semakin lemah, seperti gadis tak berdaya yang harus dilindungi. Walau sebenarnya aku adalah pemburu ghoul yang sering bertempur secara fisik.
Dan malam ini menjadi momen indah yang kulalui bersama seorang kekasih hati. Memandang langit malam yang saat itu bertabur bintang serta suasana keramaian festival di bawah bukit. Aku harap malam ini tidak berakhir ketika pagi melelehkannya dengan sejuta kejutan.
Setelah hampir larut malam, Takashi mengantarku pulang ke apartemenku. Sebelum kami tiba di depan apartemen lima lantai itu, aku tiba-tiba teringat dengan surat misterius di apartemenku. Apa aku bilang saja pada Takashi, ya? "Takashi-san... Em... Sebenarnya ada yang mau aku ceritakan padamu..."
"Tempo hari aku menemukan surat tanpa nama di dalam apartemenku. Itu menakutkan. Pertama, bagaimana bisa surat itu ada di dalam apartemenku yang dikunci? Kedua, isinya adalah untukku agar menjauhimu. Takashi, apa maksudnya itu?" desakku. "Apa kau kenal seseorang, ada seseorang yang membencimu misalnya?" Takashi diam sementara aku sadar telah memberondongnya dengan pertanyaan. Sudah reflek aku mengatakannya karena merasa diriku sedang diintai mungkin.
"Apa kau sudah lapor polisi?" Aku menggeleng. Lupa sebenarnya untuk lapor polisi saking sibuk diriku bekerja siang dan malam. "Tapi aku menduga tidak ada gunanya lapor polisi karena teror ini baru terjadi sekali. Biasanya kan mereka baru akan bertindak kalau sudah ada korban..." Kesal sebetulnya pada kinerja kepolisian yang sering kali menganggap enteng sebuah perkara kecil. Aku tak bisa memercayai mereka sebagai penjaga keamanan warga.
Malam itu juga kutunjukkan surat misterius yang masih kusimpan, pada Takashi. Dia melihatnya sejenak sebelum dimasukkan ke kantong pakaian dan pamit. "Kau tak perlu khawatir. Pegang janjiku." Begitulah yang dia katakan beberapa menit lalu. Dan karena aku tak mau merusak suasana hati yang sempat mengembang, teh camomile akan menenangkanku malam ini bersama janji yang diucapkan Takashi.
***
Membicarakan tentang ghoul, mereka masih menjadi misterius bagi pengetahuan kami. Ghoul muncul. Ghoul ada. Ghoul memakan manusia. Makhluk mengerikan seperti mereka hidup di tengah umat manusia yang menguasai dunia. Atau jangan-jangan merekalah yang mendominasi jumlah? Wujud mereka yang tidak mudah dideteksi oleh alat canggih di jaman sekarang, memanipulasi mata t*******g manusia seperti dibodohi dan mereka tertawa puas.
Kejahatan dan kebaikan mengisi setiap insan kehidupan. Mungkin ada beberapa ghoul baik yang tidak menyerang manusia hidup: mereka memakan mayat. Sebagai pemburu ghoul resmi dari pemerintah, aku telah mendengar banyak hal dari ghoul tawanan yang pernah kuinterogasi. Mereka hidup seperti manusia bahkan sampai menjalin kasih terlarang. Kasus ini menjadi pembicaraan kami, aku dan Yuki, di apartemenku minggu siang.
"Aku tidak mengerti pada dunia ini," kataku prihatin. "Kalau sudah mencintai, tidak ada hal apa pun yang dapat memisahkan mereka meski mereka tahu berbeda ras. Mungkin mendingan kalau salah satunya bukan pemakan manusia kan?"
"Dunia sedang mengajarkan kita arti perbedaan. Tetapi, apakah kita bisa menanganinya dengan baik? Ouh! Aku jadi teringat sesuatu. Aku bertarung untuk menangkap ibu ghoul yang sedang mati-matian melindungi anaknya. Itu menyakitkan, tapi mereka adalah pembunuh, pemakan manusia yang berbahaya!" Cerita Yuki menaburkan pilu jika kau berada di posisi ibu ghoul atau pun anaknya tersebut.
"Kita sudah menjadi pembunuh semenjak masuk ke akademi Pemburu Ghoul." Aku menekankan diriku bahwa inilah kenyataan. Tidak dapat kuhitung sudah berapa ghoul yang terbunuh karena misiku. Aku bertarung seperti mempertahankan keyakinan, menghabisi mereka seperti kucing dan tikus. Berkali-kali terjatuh, luka fisik bukan jawaban untuk mengakhiri perang ini.
Perang? Huh. Benar, kami sedang berperang. Manusia dan ghoul.
"Dan, apa kau tahu? Rasa bersalah itu hilang dari diriku karena yang kubunuh bukan manusia," sahut Yuki saat aku berjalan membawa dua cangkir green tea dari dapur. "Apa tujuanmu menjadi Pemburu Ghoul?" tanyaku meletakkan green tea di hadapannya kemudian aku duduk di satu sofa dengannya.
"Kurasa hampir tujuh puluh persen anggota Pemburu Ghoul bekerja demi uang." Yuki mengatakannya seraya meraih telinga cangkir dari meja.
"Manusia sebetulnya diperbudak oleh uang. Tanpa uang, mereka tidak bisa hidup," sambungku sebelum menyesap teh di tanganku dengan perlahan. Kami bicara realita. Tidak perlu bersikap munafik kalau uang bukan segalanya. Apa kau tahu berapa gaji kami? Sangat menjanjikan. Belum termasuk berbagai tunjangan.
Tapi aku merasakan hidup ironis sebagai Pemburu Ghoul. Masa depan finansial kami terjamin akan tetapi nyawa kami menjadi taruhan. Ditambah pula kami telah disumpah untuk tidak resign sampai usia pensiun, atau paling buruknya ketika maut datang karena jika risain semua yang kami perjuangkan akan sia-sia. Ya skenario terburuknya tidak mendapat pesangon dari tunjangan maupun fasilitas. Benar-benar kejam.
"Tetapi aku tidak seperti mereka yang bekerja sebagai Pemburu Ghoul demi menikmati uang. Aku... Harus mendapatkan banyak uang untuk ibuku yang sedang sakit parah di rumah sakit. Beliau harus dioperasi segera." Pernyataan Yuki adalah kabar mengejutkan yang membuatku tercengang. Gadis itu satu tahun lebih muda tapi memiliki keterampilan yang bagus dalam bertarung.