Kencan?

1071 Kata
Hari ini kota memasuki musim semi, semua yang terlihat telah berubah warna menjadi seperti pipi seorang wanita yang dipuji pria pujaan.  Aku menikmati perjalananku menuju kafe. Ada yang berbeda di pagi ini saat melewati keramaian ibu kota. Banyak umbul-umbul terpasang di sejauh mata memandang, wajah ceria orang-orang di sekitar membuatku bertanya-tanya sendiri. Ada apa dengan hari ini?  Setelah mengganti pakaianku dengan seragam kafe, aku kembali ke ruang pelanggan untuk bertemu rekan-rekan yang sudah datang lebih dulu. Rapat mengawali kegiatan kami sebelum kafe dibuka. Dan tepat pukul sepuluh siang tulisan di pintu kaca kubalik menjadi open.  Aku melayani pelanggan yang datang silih berganti seolah tanpa henti hingga siang menjelang sore. Yuna mendekatiku di dekat meja bar. Suasana kafe sedang sepi. "Apa hari ini kau berencana pergi ke festival topeng?" katanya.  Festival topeng? "Kapan itu?" Aku balas bertanya. Kemudian Yuna memberitahuku, dan dua rekan pria juga ikut menyahut. Mereka membicarakan rencana pergi bersama orang terkasih atau pun keluarga. Sedangkan aku hanya tercengang kaget, baru tahu kalau festival topeng jatuh pada hari ini. Ke mana saja aku? Saking sibuknya bekerja sampai lupa ada festival yang dinanti banyak orang.  "Kalau kau pasti akan pergi dengan kekasihmu, bukan?" Pertanyaan Yuna membuatku meringis terdiam. Mereka menatapku menunggu jawaban. "Aku tidak yakin. Takashi sibuk belakangan ini," ucapku. Sedih memang tapi mau bagaimana lagi. Aku tak bisa memaksa Takashi untuk menunda pekerjaannya. Dia orang yang workaholic.  "Heee? Tidak mungkin dia menolak ajakanmu, bukan?" sahut Yuna.  "Huh?" "Apa kau sudah mengajaknya ke festival nanti malam?"  "Aku belum mengabarinya..." "Telepon dia sekarang. Pasti akan langsung menyetujui ajakanmu." "Bagaimana kau bisa begitu yakin?" Aku heran.  Yuna tampak bingung. "Ya semua pasangan juga begitu, bukan? Kalau mereka saling mencintai pasti akan menuruti permintaan kekasih hati." Alasan Yuna masuk di akal. Aku berharap ponselnya diangkat. Nada dering masih terdengar di telingaku saat ini. Hingga suara klik dan seseorang menjawab panggilan teleponku, membuatku terkesiap seketika. "Takashi-san..." ucapku. "Ya?" "Apa malam ini kau bisa menemaniku ke festival topeng?" pintaku.  "Jam berapa? Aku akan jemput," ujar Takashi.  Senyumku mengembang. "Pukul tujuh malam ini," kataku mantap. Tentu saja aku berani pergi ke festival pada malam hari karena hari ini tim kami sedang mendapat libur satu hari. Jadi tidak ada ekspedisi terhadap makhluk ghoul. Momen yang tepat untuk dihabiskan bersama kekasih.  "Baiklah. Kita bertemu di depan stasiun." Kesepakatan kami buat. Aku menutup sambungan telepon dan segera dihujani wajah penasaran ketiga rekan kerjaku. "Bagaimana?" tanya Yuna antusias. Lalu aku mengangguk seraya mengatakan. "Kami akan pergi bersama malam ini pukul tujuh." Mereka bersorak senang. "Kita akan pergi bersama, ya!" *** Festival topeng untuk memperingati terbunuhnya raja iblis oleh dewa. Terdengar seperti cerita fiksi yang masih dipercaya manusia era modern. Aku bukan seseorang yang relijius. Jadi aku tak mempermasalahkan apa pun tentang keyakinan. Hanya menikmati setiap perayaan adalah caraku menikmati hidup yang Tuhan berikan.  Di sinilah aku berdiri menunggu. Di depan stasiun dengan berpakaian kimono perpaudan merah muda dan putih. Tidak sendirian, dua rekan kerjaku: Yuna dan Bono menemaniku menunggu Takashi. Janjian pukul tujuh malam, tapi sekarang sudah lewat sepuluh menit. Aku jadi gelisah.  "Nami-san, apa dia jadi datang?" tanya Yuna. "Mungkin dia masih sibuk atau lupa," sambung Bono.  "Aku akan meneleponnya," ucapku. Aku merogoh tas kecil berisi dompet dan ponsel. Pukul tujuh lebih lima belas menit sekarang tertera di layar ponselku sebelum aku mendial nomor kontaknya dan menunggu tersambung.  "Nami-san, ada apa?" kata Takashi. Kata-kata macam apa itu? Aku menggembungkan pipi mendengarnya. "Apa kau lupa? Sekarang aku sudah menunggumu di depan stasiun!" kesalku cemberut.  "Ah! Malam ini ya. Aku segera ke sana! Tunggu aku di sana." Sambungan langsung ditutup.  *** Setelah menutup telepon, Takashi beranjak tergesa-gesa meraih mantel cokelatnya di kursi lalu keluar ruangan dengan langkah cepat. Di lorong yang gelap dia berpapasan. "Takashi-san, kau mau pergi ke mana?" tanya pria itu. Siluetnya terlihat dalam jangkauan sinar rembulan. Seorang pria yang kurang lebih seumuran dengan Takashi.  "Aku ada janji." Takashi terburu-buru melewati temannya. "Bertemu kekasih manusia kah?" kata pria itu memperjelas alasan Takashi. Sehingga Takashi berhenti sejenak dengan memunggungi temannya. "Kalau iya kenapa?" balas Takashi sambil menoleh ke samping, tanpa melihat lawan bicara.  Bibir menyeringai miring di belakang punggung Takashi. "Hati-hati, jangan merepotkan banyak orang," kata pria ini yang maknanya dipahami Takashi. "Kau tak perlu ikut campur," tandas Takashi. Kemudian dia melanjutkan langkahnya.  *** Sepuluh menit sebelum pukul tujuh tiga puluh, aku dapat melihat Takashi berlari ke arahku dari seberang jalan. Kusambut dia dengan senyuman manisku. Akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. "Maafkan aku," desau Takashi dengan napas yang masih terputus-putus.  Aku menatapnya penuh kasih seperti biasa. "Asalkan kau tidak mengingkari janji," ucapku lembut. Lalu aku ingat harus memperkenalkan kedua rekan kerjaku pada Takashi. "Takashi-san, mereka berdua adalah rekan kerjaku di kafe. Dia adalah Yuna, dan Bono," kataku memberitahu keberadaan mereka.  Kemudian kuperhatikan lagi Takashi. Sekilas aku terheran aneh melihat raut wajahnya. Takashi seperti sedang terkejut, matanya terbuka lebih lebar menatap mereka. Sedangkan Yuna dan Bono mengulas senyum ramah. "Salam kenal, Takashi-san." Saat itulah aku mulai merasakan kejanggalan yang tak ingin kupahami apa pun itu.  *** Kami melangkah bersama ke lokasi perayaan. Bono dan Yuna berjalan di depan. Lampu hingga lampion mewarnai suasana malam ini. Tidak sedikit pengunjung yang menjelajahi jalan ini di mana sederet grobak kaki lima berjejer. Beragam makanan dipamerkan di setiap gerobak. "Kau terlihat sangat cantik dengan kimono itu," bisik suara Takashi. Sontak saja pipiku menghangat. Aku tersenyum malu mendapat pujian darinya.  Malam itu menjadi malam yang menyenangkan. Beberapa lapak kami kunjungi. Aku gagal menangkap ikan kecil dengan jaring kecil yang rapuh, sedangkan Yuna mendapatkan satu ikan hias kecil dari kolam kecil yang sama. Padahal dia menggunakan jaring kecil yang sepertiku dari pemilik lapak. Bermain menangkap ikan ini membutuhkan kesabaran. Sayang, aku terlalu bersemangat sehingga jaring -seukuran genggaman tangan- langsung robek sebelum berhasil meraih ikan hias itu.  Yuna tampak senang bersama Bono. Sementara aku menghela napas, dan tepukan di atas kepala membuatku berpaling ke arah Takashi. "Ayo kita coba permainan lainnya," ajaknya ramah. Lalu kami mencoba jajanan, bermain wahana ketangkasan berhadiah boneka. Takashi memainkannya dengan cara melempar gelang ke salah satu boneka. Satu bidikan meleset, dua terjatuh, dan ketiga aku memekik tertahan. Senang. Takashi berhasil mendapatkan boneka yang kuinginkan. Boneka beruang berbulu hitam-putih. Lantas aku memeluk boneka ini dengan nyaman. "Terima kasih!" ucapku. Takashi tersenyum lembut. "Apa saja, akan kulakukan untukmu." Sorot matanya yang hangat, aku menyukainya lebih dari apa pun. Sementara suara protes terdengar dari belakangku. Yuna tampak cemberut dan Bono kikuk di hadapannya. Setahuku mereka bukan sepasang kekasih, tapi dilihat dari mataku, mereka cocok jika menjadi pasangan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN