Mimpi Buruk?

1067 Kata
Jam setengah sebelas aku beranjak dari tempat duduk. Keluar kantor sambil merapatkan mantelku. Udara malam terasa jauh lebih dingin dari siang. Tidak ada kendaraan umum beroperasi di jam segini, tentu saja. Beruntungnya jarak kantor ke rumah hanya sepuluh menit jalan kaki.  Jalanan yang kulewati sudah nampak sepi. Aku melewati g**g-g**g perumahan. Dalam langkah-langkahku menuju rumah. Aku kembali teringat akan surat di rumah. Membayangkannya jadi terkesan horror. Apa aku telepon Takashi saja? Kuharap dia belum tidur.  Aku merogoh saku mantel. Mencari ponselku. Dan... Saku pakaianku kosong! Aku panik. Di mana ponselku?  Di tengah sepinya suasana sekitar, mendadak naluriku merasa seperti ada langkah mengikuti di belakang. Siapa? Apakah ada orang di belakangku? Napasku tertahan perlahan.  Mengapa aku jadi takut begini? Aah, apa karena aku tidak membawa s*****a ghoul ya? Huh! Seorang manusia biasa sepertiku tanpa s*****a, melawan ghoul bukanlah perlawanan yang bagus. Tapi! Aku seorang pemburu. Seorang pemburu ghoul tidak boleh takut pada musuh walau tidak membawa s*****a. Kuatkan mentalmu, Nami! Kau sudah banyak latihan beladiri tangan kosong.  Puk!  Aku tersentak horror ketika sesuatu menyentuh pundakku. Aku menoleh perlahan ke belakang. Bayangan negatif dipikiranku langsung sirna begitu saja, ketika kuketahui yang menepuk pundakku adalah seorang pelayan wanita di kafe kantor. Aku menghela napas lega.  "Anda meninggalkan ponsel di kafe," katanya menyodorkan ponsel. Aku melihatnya, dan kaget. "Oh astaga... Terima kasih banyak!" Aku terharu. Untunglah ponselku ditemukan secepat ini!  "Aku hampir kehilangan jejak anda. Tapi syukurlah aku bisa mengantarkan ponsel ini pada pemiliknya." Pelayan itu tersenyum ramah. Lalu berputar balik, begitu juga denganku.  *** Sesuatu mengejarku. Aku berlari ketakutan. Lorong gelap yang seharusnya tidak bisa kulalui, kini aku memacu langkah dengan tanpa hambatan. Berlari ke mana saja asalkan terbebas dari sesuatu di belakangku.  Aku tak berani menengok. Naluriku merasakan kalau sosok itu ada di sana, mengikutiku. Aku takut. Lidahku kelu sehingga tidak mampu bersuara apalagi berteriak minta tolong. Yang ada dipikiranku hanyalah terus berlari. Meski napas mulai terputus-putus.  "Nami!" Tiba-tiba saja sosok Takashi muncul di hadapanku. Dia berdiri, dengan senyum menenangkan. Perasaanku jadi lega. Seperti melihat sudah lama tak bertemu, aku menerjang ke arah Takashi. "Takashi-san!" seruku dengan tangan terulur padanya.  Bruk!  Aku berhasil memeluk tubuhnya. Kupeluk dia dengan erat. Menyalurkan betapa aku butuh perlindungan dirinya. Sesaat kemudian kurasakan pelukan balasan dari lengan Takashi di punggungku. Pria ini memelukku sama eratnya. "Aku akhirnya bertemu denganmu..." bisik Takashi lemah.  *** Aku terbangun seketika dari tempat tidur. Segera aku menyadari kalau semua itu hanya mimpi aneh yang telah melelehkan air mataku. Kuraba pipiku. Apa ini? Aku betulan menangis dalam tidur? Sungguh tidak dapat dipercaya. Baru kali ini selama aku hidup, aku menangis saat terbangun dari tidur.  Masih ingat dengan jelas di mimpi itu aku memeluk Takashi dengan erat. Sepertinya Takashi juga merasakan hal yang serupa. Namun, aku tidak tahu apa yang membuat Takashi seperti itu. Bagaimana pun, aku bersyukur jika semua momen tadi hanya mimpi anehku.  Aku menengok jam. Ternyata sudah hampir tengah hari. Aku beringsut membuka selimut dan berjalan keluar kamar. Di dapur itu, kulihat Takashi sedang berkutat dengan perkakas dapur. Aku tersenyum tipis, seiring langkah mendekati pria itu.  Langkahku yang kian mendekati belum dia sadar sepertinya. Lantas aku melingkarkan lenganku ke depan perutnya. Sejenak kurasakan kegiatan Takashi terhenti. "Nami-san," katanya. Aku bersandar nyaman di punggung lebarnya. "Aku hanya ingin memelukmu sebentar." "Apa kau bermimpi buruk?" ujar Takashi. Perlahan aku melepas pelukanku, dan Takashi berputar badan. Sehingga kini kami berdiri saling berhadapan. Aku tercengang dengan tebakannya yang benar. "Ya, aku bermimpi tentang kita berdua. Aku tidak tahu apakah mimpi ini terbilang buruk atau sebaliknya," jawabku dengan mata berpendar resah.  Telapak tangan Takashi menangkup kedua pipiku. Mataku langsung terpaku pada mata Takashi. "Jangan khawatir, Nami-san," ujar Takashi. "Aku akan berada di sampingmu." Dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya.  "Bisakah aku memegang kata-katamu?" harapku.  "Airnya sudah mendidih," kata Takashi. Topik kami pun terputus sampai di sini ketika Takashi kembali pada kegiatannya. Aku tidak bisa melanjutkan atau pun menuntut jawaban darinya. Akhirnya percakapan ini kulupakan sejenak untuk memulai aktivitas seperti biasa.  Ngomong-ngomong soal masakan Takashi, dia sudah mengalami kemajuan yang bagus seiring bertambahnya hari. Aku bangga kepadanya. Tentu saja berterimakasih karena telah repot-repot memasak hampir tiap pagi untukku walau aku tidak memintanya. Betapa perhatian kekasihku ini. Tidak salah aku menaruh hati pada Takashi.  "Aku harus pergi sekarang. Sudah ada janji makan dengan Profesor," kata Takashi melihat jam tangannya. Lagi, aku tidak berkesempatan makan bersama hasil masakannya denganku. Aku kecewa. "Baiklah," desauku. Karena aku tidak bisa menahannya di sini.  Suara pintu yang ditutup pun meninggalkan keheningan di rumah ini. Aku duduk sendirian dengan perasaan yang mendung. Aku menghela napas. Mungkin bisa lain hari makan bersama Takashi. Aku memberi harapan pada diri sendiri untuk ke sekian kali. Aku harus melakukan apa agar kami bisa makan bersama? Memesan restoran untuk makan malam romantis? Oh tidak, budgetku tidak sebagus angan-angan.  *** Aku dibangunkan oleh rutinitas. Namun, pagi ini ada yang berbeda. Aku tidak melihat Takashi di dapur seperti biasanya. Ke mana dia? Kami memang tidak tinggal bersama, tapi pria itu hampir setiap hari memasak sarapan untukku dalam sebulan ini. Meski pada masa awal dia mencoba memasak, tidak sebagus kemampuan memasaknya yang sekarang.  Aku menghela napas. Sebenarnya aku tidak mau merepotkan dia dengan bolak-balik ke rumahku hanya untuk memasakkan sarapan. Aku harus bicara lagi padanya. Kuraih ponsel, layar ini tidak memunculkan pemberitahuan apa-apa. Lalu kuletakkan lagi dan beranjak membawa piring. Mencucinya sampai bersih sebelum kusimpan di atas kabinet.  Air mineral segera kutuangkan ke gelas. Aku menenggaknya sampai habis. Ketika itu lirikan mataku menangkap layar ponsel yang berkedip tiba-tiba. Aku berpindah tempat dari balik meja bar ke meja makan. Mengambil gawaiku dan melihat sebuah pesan masuk dari Takashi terpampang di mataku.  'Maaf, aku tidak bisa mampir ke rumahmu pagi ini. Mungkin sepanjang hari ini aku akan sangat sibuk. Jaga dirimu.' Aku mencibir dalam hati. Apakah hanya kata-kata ini yang dapat dia kirimkan kepadaku? Padahal aku mengharapkan sebuah kalimat 'aku mencintaimu' diakhir pesannya. Haahh! Dasar makhluk tidak peka.  Kota Tokyo menjadi kota tersibuk di Jepang. Setiap paginya semua orang diburu waktu, berdesakan di tempat umum adalah kelelahan yang akan kuterima setelahnya. Beruntung aku tidak perlu menggunakan transportasi umum ketika jaraknya hanya tujuh ratus meter. Hari ini kota memasuki musim semi, semua yang terlihat telah berubah warna menjadi seperti pipi seorang wanita yang dipuji pria pujaan.  Aku menikmati perjalananku menuju kafe. Ada yang berbeda di pagi ini saat melewati keramaian ibu kota. Banyak umbul-umbul terpasang di sejauh mata memandang, wajah ceria orang-orang di sekitar membuatku bertanya-tanya sendiri. Ada apa dengan hari ini? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN