"Apakah kau punya masalah serius?" penasaranku. Selama kami berpacaran, baik dirinya maupun diriku, belum pernah mengenalkan keluarga satu sama lain.
"Jangan khawatir, ini bukan masalah serius kok!" Takashi menunjukkan senyumannya. Senyuman yang menghipnotis mataku. Aku percaya padanya. "Kuharap begitu," ucapku.
Obrolan ringan kami tak terasa telah membawa kami tiba di gedung apartemen tempatku tinggal. Aku tinggal di lantai dua, jendela kamarku terlihat sangat jelas dari bawah. "Baiklah, kita sudah sampai," kata Takashi. Aku setengah hati jika harus berpisah darinya. "Aku masih ingin bersama denganmu sedikit lebih lama...." rengekku memanyunkan bibir.
"Akhir pekan bisa kita rencanakan," kata Takashi. Aku merasa tertarik, sehingga menatapnya antusias. "Benarkah? Aku ingin jalan-jalan ke pasar bersamamu!" seruku senang sambil memegang tangannya.
Takashi tersenyum lembut. "Baiklah, tunggu akhir pekan, ya..." ucapnya dengan mengusap pipi kananku. Aku mengangguk seperti bocah yang penurut. "Aku tunggu!"
"Masuklah, aku akan melihatmu dari sini."
Aku melambaikan tangan, kemudian berbalik masuk ke gedung. Berjalan menaiki anak tangga sebentar, lalu aku menekan pin pintu hingga terbuka otomatis. Masuk ke dalam ruangan, aku menyalakan lampu di dekat pintu. Melepas sepatuku dan menyimpannya di rak sepatu. Berjalan tiga langkah, aku mengambil segelas air mineral di dapur untuk meneguknya.
Berpindah ke dalam kamar, lampu dinyalakan, aku meletakkan tas dan terduduk lelah di pinggir kasur. Ketika itu, pandanganku menemukan sebuah amplop di atas nakas. Aku terdiam sejenak. Berpikir dengan memutar momen yang telah berlalu.
Sejak kapan aku meletakkan amplop putih di situ? Lantas aku meraihnya. Terdapat secarik kertas di dalamnya. Aku membuka untuk membaca isinya.
"Jauhilah Takashi, jika ingin nyawamu selamat."
Demikianlah kata-kata yang tertulis besar di kertas putih. Aku tertegun. Seluruh tubuhku membeku seketika. Seperti patung aku terdiam. Ruangan ini sangat sepi dan hening. Sehingga suara serangga pun akan terdengar. Jika surat asing ini berada di kamarku, itu artinya seseorang berhasil masuk ke dalam apartemenku? Memikirkan hal ini membuat jantungku berdegup pelan. Nyaris tidak bisa bernapas dengan bebas.
Aku sontak beranjak, bersikap waspada seraya mengambil tongkat bisbol di pojok pintu. Aku berjalan ke luar. Memeriksa satu per satu ruangan dengan perasaan cemas. Barangkali pelaku penyusupan itu masih bersembunyi di rumahku. Setelah membuka setiap pintu hingga pintu lemari, aku tidak menemukan keberadaan seseorang.
Aku menghela napas. Memutar otak tentang cara pelaku itu masuk ke rumah yang dikunci dengan password. Jika masuk lewat jendela, jendela apartemenku selalu dalam keadaan terkunci sebelum pergi bekerja. Satu-satunya akses masuk hanya dari pintu. Tapi, bagaimana orang itu bisa mengetahui password pintu apartemenku?
"Aneh..."
Aku bergegas menyegarkan diri di kamar mandi dengan air hangat. Berharap setelah mandi ini, otakku dapat berpikir jernih lagi. Lalu, sekitar pukul delapan malam, aku bersiap keluar rumah untuk bekerja sebagai White Knight.
Sampai di gedung Hunter, aku segera bertemu dengan Yuki. "Yuki-san!" panggilku. Gadis itu tampak menoleh, wajahnya tersenyum lebar menatapku. "Nami-san!" balasnya.
"Di mana yang lain?" tanyaku saat tidak melihat si kembar dan lelaki tsundere itu.
"Aku belum melihat mereka---nah itu si saudara kembar!" tunjuk Yuki. Aku berbalik. Melihat dua lelaki muda nampak memasuki lobi.
"Kurasa kita sudah berkumpul," komentarku.
"Si tsun-tsun belum kelihatan, Nami-san," timpal Yuki.
"Dia sedang berjalan dari arah selatan," kataku.
"Ah! Benar!"
Akhirnya tim kami berkumpul di tengah lobi. "Kita dapat tugas baru malam ini," buka Orino dengan wajah coolnya.
"Hmm, sudah kuduga," bisikku.
***
Aku menatap datar. Tugas baru katanya? Kupikir tugas seperti biasanya: memburu ghoul, kegiatan yang membuatku bersemangat. Tapi pemikiran itu diluar ekspektasi.
Karena aku dan teman satu tim, mendapat tugas untuk menginterogasi tahanan ghoul. Kami berpisah tempat di mana tiap seorang menginterogasi satu ghoul. Aku memasuki lorong panjang. Lorong dengan dinding abu-abu metalik yang dilengkapi kamera di setiap sisi. Pintu terbuka otomatis hingga ke ujung lorong. Lampu menyala seiring pintu otomatis terbuka.
Setelah tiba di pintu paling ujung, dan aku membuka pintu biasa, sebuah kaca tebal berada di seberang langkahku. Aku duduk di depan kaca besar itu, di mana sudah ada seorang wanita ghoul dengan dress tahanan telah duduk di dalam kaca. Aku menatap datar, tidak ada ekspresi di wajahku saat ini.
Wanita ghoul itu pernah kuketahui. Namanya adalah Maki. Seorang ghoul yang sempat kuburu beberapa hari lalu. "Maki-san, bagaimana kabarmu di sini?" Bodoh kau Nami! Kenapa yang keluar malah basabasi yang mungkin dianggap sebagai sindirian halus. Bukannya sudah jelas terlihat, penampilan Maki yang kurus dan lusuh itu? Baiklah, kalimat itu sudah terlanjur meluncur.
"Tidak ada pertanyaan yang harus kujawab," ujar Maki datar.
Aku membenahi sikapku dengan lebih berwibawa. "Apa kau mengenal Historic?" kataku mulai serius.
"Tidak."
Aku tidak percaya begitu saja. "Informasi darimu sangat kubutuhkan. Jadi, tolong jawab aku," kataku tegas.
"Tidak ada yang harus kukatakan," ulang Maki.
Aku terdiam merenung. Hening sesaat di antara kami. "Tidakkah kau berpikir bahwa informasimu bisa menyelamatkan semua pihak?" kataku.
"Tidak ada yang bisa diselamatkan di dunia ini," balas Maki.
"Ada! Aku butuh info tentang Historic untuk bertemu dengannya!" sahutku antusias.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Aku ingin... Bicara dengannya dari hati ke hati..." ucapku bersuara pelan.
"Apa kau pernah membunuh kami?" tanya Maki. Segera aku meluruskan pandangan untuk menatapnya. Pertanyaan yang berat kujawab. Kuputuskan untuk berdiri. "Aku akan mendapatkan Historic!" mantapku. Kemudian berbalik, melangkah ke arah pintu hingga menutupnya lagi.
***
Aku berjalan di koridor kantor yang terang benderang karena lampu. Banyak hal berputar-putar di kepalaku. Sehingga aku merasa penat.
Kafe kantor di lobi pun kumasuki. Mereka buka 24 jam karena kantor hampir tidak pernah tutup. Setiap pegawainya bekerja sesuai shift mereka. Aku memesan di meja kasir. "Cappucino dan waffle," ucapku. Beberapa lembar uang kukeluarkan dari dompet.
"Cappucino dan waffle," ulang pelayan di hadapanku. Tidak lama, pesananku selesai dibuat. Aku segera membawa nampan pesananku ke meja. Banyak meja yang kosong. Tapi aku memilih meja dekat kaca. Tempat favorit ketika duduk di kafe. Makan sambil melihat pemandangan di luar merupakan momen melankolis bagiku.
Ponsel pintarku, kuletakkan di meja. Tampak pukul sepuluh malam jam di touchscreen. Gambar diriku dan wajah Takashi selalu menghiasi layar ponsel. Aku tersenyum melihat wajah Takashi. Sedang apa ya dia sekarang?
Aku membuka aplikasi chatting. Menuju ke kontak namanya. Tidak kulihat tulisan online di ruang percakapan Takashi. Apa dia sudah tidur? Aku pun mengetikkan beberapa kalimat.
'Takashi-san, apa kau sudah tidur?'
'Selamat tidur...!' Disertai emoticon bulan, sebelum berhasil terkirim pesanku. Lalu kuletakkan lagi, dan melempar pandanganku ke luar kaca.
Jam setengah sebelas aku beranjak dari tempat duduk. Keluar kantor sambil merapatkan mantelku. Udara malam terasa jauh lebih dingin dari siang. Tidak ada kendaraan umum beroperasi di jam segini, tentu saja. Beruntungnya jarak kantor ke rumah hanya sepuluh menit jalan kaki.
Jalanan yang kulewati sudah nampak sepi. Aku melewati g**g-g**g perumahan. Dalam langkah-langkahku menuju rumah. Aku kembali teringat akan surat di rumah. Membayangkannya jadi terkesan horror. Apa aku telepon Takashi saja? Kuharap dia belum tidur.