Tamu

1025 Kata
Aku terbangun ketika bahuku digoyangkan. Melenguh malas. Suara Takashi menegurku halus. "Nami-san, bangunlah. Sarapan sudah siap," kata Takashi.  "Jam berapa sekarang?" tanyaku dengan suara parau. Oh aku butuh air minum.  "Jam sembilan pagi." Jawaban Takashi menyentak seluruh kesadaranku. Aku bangkit terduduk. "Gawat! Aku akan terlambat!" panikku teringat bekerja di kafe pukul sepuluh pagi.  Aku bergegas pergi ke kamar mandi, mengganti pakaian dengan gaya casual. Kemudian ke luar kamar dan menemui Takashi. Tampak di meja makan telah tersaji makanan hangat. "Sepertinya enak," kataku.  "Kalau begitu makanlah," ujar Takashi.  "Terima kasih." Aku mulai mengangkat sumpit dan memasukkan nasi beserta lauk ke mulut. Aku mengunyahnya perlahan. Sementara Takashi menunggu diriku berkomentar. "Takashi-san," kataku sebelum menelan makanan ke tenggorokan. Kemudian kulanjutan. "Perkembangan memasakmu luar biasa. Hanya kurang dari seminggu, kau sudah berhasil membuat makanan enak." "Benarkah?" Aku mengangguk mantap. "Dari mana kau belajar memasak?" tanyaku seraya mengambil lauk.  "Dari temanku yang pandai memasak." "Sungguh? Wah, temanmu baik sekali mengajarimu memasak." Kulihat wajah Takashi memerah. Aku tersenyum senang. Takashi hanya memperhatikanku menghabiskan makanan ini sendiri. Sampai aku pamit pergi kerja, Takashi yang mencuci piring. "Hati-hati di jalan! Jangan tergesa-gesa!" peringatnya.  "Iya!" seruku sambil memakai sepatu. Lalu berderap membuka pintu, dan dunia yang cerah menyambutku.  *** "Selamat pagi!" sapaku riang setibanya di kafe.  "Selamat pagi, Nami-san!" Yuna menyahutku, disusul sahutan yang lain. Mereka sudah sibuk mempersiapkan kafe sebelum buka. Sebagian ada yang menyapu, hingga meracik biji kopi. Aku bergegas pergi ke belakang untuk mengganti pakaian dengan seragam pelayan. Tak lupa celemek kupakai. Lalu aku kembali lagi, langsung memosisikan diri di kaca: membersihkan kaca dengan kain lap.  "Nami-san, apa kau tidak lelah?" tanya Yuna.  "Hm? Lelah karena apa?" balasku menoleh singkat.  "Bekerja siang dan malam..." Aku pun langsung mengerti maksudnya. "Ini sudah kewajibanku bekerja. Kau tidak perlu khawatir, aku tetap akan bekerja dengan baik di sini." Kring!  "Selamat datang!" Bel pertama, pelanggan pertama hari ini. Selanjutnya aku sibuk melayani pelanggan yang berdatangan seperti biasa.  *** Ketika hari dipuncak, sudah waktunya istirahat siang bagi kami. Kami beristirahat bergantian. Kini aku duduk di sofa ruang istirahat, memakan bekal makan siangku, buatan Takashi. Aku senang sekali saat memakannya. Satu demi satu suapan. Lelaki itu memasaknya dengan sangat baik.  "Wah, sepertinya ada yang bahagia." Celetukan seseorang membuyarkan lamunanku tentang Takashi. Aku mendongak. "Oh, Bono-san?" kataku mendapati lelaki berisi itu di pintu.  "Dari siapa bekal makan siang itu? Sebelumnya kau jarang membawanya," ujar Bono.  Aku merasa bersemu. "Ini buatan kekasihku. Dia baru belajar memasak, tapi hasilnya benar-benar enak," jawabku.  "Duh romantisnya~" Yuna datang sambil menangkup kedua tangannya di d**a. Aku mendengus. "Kalau kau mau, maka minta kekasihmu untuk membawakan bekal makan siang," balasku, kemudian mengambil lauk dan dimasukkan ke mulut.  "Dia terlalu lama menjomblo, Nami-san," ejek Bono.  "Bagaimana denganmu sendiri?" timpal Yuna. Melirik tajam.  "Kalau kau mau denganku, tidak masalah," ucap Bono enteng. Kelihatan bercanda, dan aku hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan mereka berdua. Tampak akur.  "Kalian cocok kok!" komentarku yang seketika menghentikan adu mulut mereka. Sehingga kini aku diserbu tatapan memelotot mereka. Aku pun menyengir.  *** "Nami-san, kau mendapat surat," kata Yuna. Aku menatapnya dari balik meja bar. "Surat? Dari siapa?" sahutku mengerutkan kening.  "Entahlah, tidak ada namanya." Yuna kembali pergi ke meja pelanggan. Sedangkan aku membuka surat beramplop putih ini ke ruang istirahat.  'Jauhi Takashi mulai sekarang, jika tidak ingin terluka.' Begitulah yang tertulis di kertas putih ini. Aku terheran. Siapa dia? Aku tidak bisa mengingat siapa pun yang berkemungkinan membenciku. Pertama, aku tidak punya teman dekat, temanku hanya rekan kerja dari kafe dan White Knight. Tetapi mereka belum tahu tentang Takashi. Karena aku hampir tak pernah membahas sosok Takashi apalagi menunjukkan wajahnya. Jadi, siapa pengirim ini?  Seketika aku teringat seorang gadis pendek malam itu. Dia terlihat sangat membenciku, tanpa kutahu alasannya. Kenal saja tidak. Ya, Takashi kenal dengan gadis itu. Oh, bahkan dia tidak menjelaskan siapa sebenarnya dan apa hubungannya dengan Takashi.  Aku harus menanyakan hal ini kepadanya. Entah mengapa benakku yakin sekali kalau pengirim surat ini adalah gadis remaja itu. Dia terlihat seperti masih remaja. Di waktu sekarang sudah saatnya anak sekolahan pulang, bukan? Begitu pun denganku yang masa shiftku hampir berakhir.  Aku mendengus, tidak ada artinya dan hanya buang-buang waktu memikirkan ini tanpa bertindak mencari tahu. Pokoknya aku harus mendapat jawaban hari ini dari Takashi! Lantas, aku meraih ponsel di saku celana.  Setelah kubuka layarnya, wallpaper fotoku dan Takashi saat di taman bermain, memenuhi layar. Sejenak aku tersenyum. Ah, betapa aku menyukai lelaki penakut badut ini. Aku mengirim pesan pada Takashi. Apakah dia akan menjemputku atau tidak.  Seperti yang kuharapkan, balasan muncul cepat di layarku. 'Aku baru saja selesai. Tetaplah di kafe sampai aku datang.' Seperti itu kata-kata darinya. Usai kubalas 'baiklah' aku segera mengganti seragam kerjaku di ruang loker perempuan.  *** Aku ke luar dari ruang belakang ke ruangan pelanggan di depan. Saat itu sudah kudapati Takashi duduk di meja dekat jendela. Tampak berbicara dengan Juro, rekan kerjaku. Segera aku menghampirinya dengan langkah ringan.  "Takashi-san!" sapaku riang. Obrolan mereka seketika terhenti dengan Juro yang pamit pergi. Aku mengabaikan sikap lelaki itu seraya duduk di depan kekasihku. "Apa kalian saling kenal?" tanyaku pada Takashi.  "Ya, kami pernah bertemu tak sengaja di toko buku." Takashi menjawabku. Aku mengangguk dan melanjutkan berkata. "Apa kau memesan sesuatu di sini?" Kupikir dia menunggu pesanan sambil menungguku selesai shift.  "Tidak, ayo kita pulang." Takashi berdiri. Diikuti olehku. Segera kami meninggalkan kafe usai aku pamitan dengan rekan kerja.  *** Kami jalan berdua seraya bergandengan tangan. Sesekali angin dingin menyusup ke dalam mantelku. "Apakah dingin?" ujar Takashi.  "Ya. Apakah sudah akan memasuki musim dingin?" terkaku.  "Lebih tepatnya musim gugur, sayangku," kata Takashi lembut. Aku memeluk lengannya manja sambil bersandar ke pundak lebar lelaki ini. "Kalau bersama denganmu, rasa dingin ini mencair oleh kehangatanmu," ucapku dengan pipi yang kurasakan menghangat. Kemudian, rambutku diacak tangan Takashi saat berkata. "Kau membuatku ingin menerkammu malam ini." Pipiku jadi memanas. Diam-diam aku tersenyum. "Kenapa tidak?" balasku.  "Sayangnya, setelah mengantarmu, aku harus ke rumah untuk memenuhi panggilan ayah." Mendengarnya, aku menegakkan kepalaku dari posisi sandaran. "Apakah kau punya masalah serius?" penasaranku. Selama kami berpacaran, baik dirinya maupun diriku, belum pernah mengenalkan keluarga satu sama lain.  "Jangan khawatir, ini bukan masalah serius kok!" Takashi menunjukkan senyumannya. Senyuman yang menghipnotis mataku. Aku percaya padanya. "Kuharap begitu," ucapku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN