Informasi

1052 Kata
Di ruangan direktur, ketua tim melaporkan misi timnya kepada direktur. "Kami bertemu dengan kelompok ghoul dengan penyamaran kami. Mereka adalah pengikut Historic dan Hespaetia. Berdasarkan perkataan dari kelompok yang mengaku sebagai pengikut Hespaetia, bahwa mereka menawarkan kami untuk segera memilih kubu. Jika kami ikut kelompok Hespaetia, maka mereka akan melindungi kami dari Historic, begitu pula sebaliknya. Jadi, dapat saya simpulkan bahwa kedua kelompok ini sedang berselisih." "Bagaimana dengan Historic sendiri?" tanya direktur itu.  "Kami tidak mendapatkan satu informasi berguna pun dari ghoul yang kami temui." "Bagaimana kau bertemu dengan Hespaetia?" "Mereka menghampiri kami sendiri setelah kami berkeliling ke setiap ghoul untuk mencari tahu tentang Historic." "Baiklah. Kau boleh pergi." Ketua tim menutup pintu ruangannya, dan kemudian berjalan di lorong sepi. Baru beberapa langkah, dua orang berhenti di hadapannya yang membuat beliau harus berhenti juga. "Sepertinya timmu lumayan aktif, ya, Mitsuno-san," kata penyidik Oku, seorang pria sepantaran dengan ketua tim yang biasa dipanggil Mitsuno.  Mitsuno merasa tersinggung. Dahinya sampai mengerut halus dengan mata memicing sinis. Tapi, semua itu hilang ketika dia bersemringah ramah. "Waaah, seperti biasa ya ketua tim Dua terlalu banyak omong kosong," balasnya tak mau kalah. Seraya melangkah melewati pria tua berjas rapi tersebut. Beliau: penyidik Oku yang merupakan seorang ketua tim Dua juga merasakan hal serupa. Pipinya berkedut-kedut. Kesal.  *** "Haaah!" Yuki menghela napas panjang. Kami berasa di lobi luar gedung dan sedang melangkah bersama dibawah langit malam. "Hari ini aku belum tidur, kuharap bisa lebih bertenaga," keluhnya.  "Kenapa kau tidak tidur siang?" tanyaku.  "Aku tidak mengantuk. Tapi sekarang aku mulai merasakan lelah dan rasa ingin berbaring di kasur yang empuk." "Bagaiman kalau kita ke kafe?" usul Nusa.  "Kurasa itu ide bagus," kataku.  Setelah menempuh sepuluh menit jalan kaki, kami tiba di kafe yang dituju Nusa. Kafe bernama Sun with You. Kami masuk ke dalam yang rupanya kelihatan sepi. Seorang pelayan menghampiri kami yang sudah duduk. "Nami-san?" panggil suara feminin. Aku menyengir menatap rekan kerjaku. "Hai, Yuna-san," sapaku.  Wajah Yuna kelihatan tercengang menatapku. Wajar saja. Aku tidak pernah bercerita kalau aku seorang pemburu ghoul. Yang Yuna tahu mungkin hanya sebatas bahwa aku sebagai pelayan kafe saja. "Tolong kopi paling enak di sini," kataku memesan. "Dan juga waffle untukku." "Baiklah." Yuna segera pergi setelah kami memesan minuman.  Kami mengobrol ini dan itu. Kadang tertawa kecil mendengar lelucon Nesa yang disambut ejekan dari saudara kembarnya. Mereka saudara kembar yang ceria dan kompak, walau sering bertengkar. Pertengkaran antar lelaki merupakan bentuk kedekatan mereka.  Sampai kemudian pesanan kami datang diantarkan Yuna. Aku mengucapkan terima kasih padanya. "Uwaah waffle ini kelihatan lezat sekali. Aaah, aku lapar~" kataku bersemringah menatap waffle dengan tumpahan madu di atasnya, sehingga menggugah seleraku.  "Umm! Aku percaya kalau kopi di sini yang paling enak yang pernah kuminum!" ungkap Yuki.  Orino mendengus dengan wajah datar. Dia memang lelaki pendiam yang dingin. "Aku mungkin akan sering ke sini," katanya bersuara pelan, tapi dapat terdengar oleh kami.  "Benar kan??" sahut Nesa, si kembar itu merekomendasikan tempat tongkrongan ini pada mereka yang belum tahu. Sedangkan aku hanya diam-diam saja mengikuti mereka seakan belum pernah ke kafe ini.  Aku berani bertaruh kalau si kembar eksentrik itu belum pernah melihatku bekerja di sini. Aku tidak akan menjawab jika tidak ada yang bertanya. "Oh iya, kita menjadi White Knight kira-kira sampai kapan, ya?" celetukku.  "Sampai kau mati, mungkin. Kalau tidak mengundurkan diri." "Tapi mengundurkan diri itu merepotkan," sahut Orino. "Aku takan pernah mengundurkan diri." Orino menegaskan tekadnya.  "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Nami-san?" Nusa melempar tanya kepadaku.  "Aku hanya penasaran. Apakah aku akan berumur panjang atau tidak, dan sampai kapan peperangan ini berlangsung dari generasi ke generasi? Aku ingin melihat masa depan."  "Masa depan tidak akan terlihat. Gelap. Selama pertikaian antar spesies ini terus berlanjut." Orino menyambung dengan sikap tenangnya sebelum meminum kopinya.  "Hei, Orino, tujuanmu masuk ke White Knight itu apa?" tanya Yuki, yang duduk berhadapan dengan si dingin Orino. Pertanyaannya membuat kami menoleh kepada Orino. Aku juga penasaran untuk tahu jawabannya.  "Aku tidak memiliki pekerjaan. Hanya White Knight yang menerimaku dari sekian banyak pekerjaan normal," jawab lelaki ini. Kami terbengong sejenak. Orang sepintar Orino ditolak perusahaan? Aku hampir tidak memercayainya. "Orino-san, bagaimana bisa mereka menolak pria sepintar dirimu?" kataku.  "Pokoknya seperti itu," tandas Orino. Samar-samar aku melihat pipinya memerah dengan dia yang bersikap cool.  "Apakah karena tinggi badanmu kurang?" ujar Yuki.  "A-apa!" Orino tergagap. Kata-kata Yuki membuatku mengamati Orino sekali lagi. Dengan tinggi badan yang sejajar denganku yakni 160 cm, ucapan Yuki ada masuk akalnya.  "Aku hanya kurang tinggi saja!" dengus Orino cemberut.  Aku menyentuh pundaknya, karena dia duduk di sampingku. "Orino-san, mau kau kurang tinggi atau ketinggian, kau tetap orang yang berbakat. Perusahaan yang menolakmu pasti menyesal." Kuucapkan kata-kata manis untuknya. Aku mengatakannya dengan jujur.  Orino adalah pria berbakat, dan dia dua tahun lebih tua dariku. Kami satu kelas di sekolah khusus calon White Knight yang terdiri dari beragam usia. Saat itu usia Orino dua puluh dua, sedang aku dua puluh.  Sebagai teman sekelasnya, aku tahu tentang Orino yang dapat dibuktikan. Si peraih juara kelas salah satunya. Prestasi di kelas membuatnya mudah dikenali murid lain, termasuk guru. "Orino-san, saat aku tahu sekelompok denganmu, menjadi rekan timmu di White Knight ini, aku merasa senang. Dalam hati aku tergugah, waah, aku satu tim dengan si pintar Orino. Apa kau tahu? Aku mengagumimu," ungkapku.  Mereka terdiam. Menatapku tercengang. "Apa kau sedang mabuk, Nami-san?" kata Yuki.  "Tidak... Aku tidak mabuk." Aku menggeleng pelan.  "Tapi matamu sudah sayu. Sepertinya kau butuh istirahat," khawatir Yuki.  "Hahah!" Aku tergelak melihat wajah cemas gadis itu. "Ya, ya, baiklah." Terserah mereka saja. Kemudian aku menguap lebar, dan mataku berair segera.  "Tuh kan! Kau mengantuk! Jadi bicaramu ngelantur!" seru Yuki.  *** Tiba di rumah, aku menjatuhkan diri ke kasur yang empuk. Menggumam nyaman, dalam sedetik memejamkan mata, aku tidak ingat apa pun lagi setelahnya.  "Kurasa gadis itu yang sedang dibicarakan," kata suara seseorang.  "Dia hanya manusia. Tapi begitu lancang mendekati dia." Suara lain terdengar geram.  "Apa yang akan kau lakukan?" "Menunggu waktu bermain dimulai." Dingin suara itu berkata.  "Aku tak sabar menantikannya." Aku tertegun. Entah ini setengah sadar atau masih di alam mimpi, aku mendengar suara dua orang dari balkon luar kamar. Kuputuskan untuk membuka mataku perlahan. Terlihat dua bayangan terhalau tirai. Aku tidak dapat melihat jelas, dan tidak bertenaga juga untuk bergerak. Kalau saja aku tidak terlalu lelah hari ini...  Akhirnya aku kalah oleh rasa kantuk yang memberatkan kelopak mataku. Aku kembali terpejam nyenyak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN