Pelukan Takashi 1

1224 Kata
"Wanita yang mana?" kata Takashi.  "Wanita yang---" Kata-kataku terhenti diujung lidah ketika sekali lagi aku melihat ke seberang sana, dan tidak menemukan keberadaan wanita itu. Ke mana dia? Tatapanku memilah setiap orang di depan. Tapi, tidak satu pun kutemukan ciri-cirinya. Aku menghela napas. "Bukan apa-apa." Akhirnya aku hanya memendamnya sendiri.  Setelah menyebrang jalan, berjalan melewati jalanan perumahan yang sepi, hingga menaiki anak tangga, sebuah suara menghentikan langkah kami. "Takashi-san!" Seruan milik suara wanita membuat kami berbalik ke belakang perlahan. Barulah dapat kutemukan wanita yang kulihat tadi.  "Takashi-san!" Wanita itu melangkah maju. Lampu dari tiang listrik menerangi kami bertiga. Wanita itu tampak sedikit lebih pendek dariku. Mengenakan legging dan hotpants, berikut jaket terbuka yang menutupi tanktop hitamnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan dari Takashi memalingkan wajahku kepadanya. Menatap Takashi dengan pandangan seakan 'kalian saling kenal?' Takashi tidak pernah mengenalkan satu orang teman atau kerabat pun padaku. Jadi, wajarlah aku terkejut.  "Justru aku yang bertanya begitu? Sakura membutuhkanmu, tapi kau malah bersama wanita lain!" tekan wanita itu menahan geram.  Takashi kelihatan gusar, seolah bingung mau melakukan apa. "Apa yang kau bicarakan? Pulanglah!" usir Takashi. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi, sebagai wanita hatiku lumayan sensitif mendengar perkataan wanita itu. Siapa Sakura? "Takashi-san, aku tidak apa-apa. Kau bisa pergi bersamanya." Napasku mendadak tercekat di tenggorokan usai mengatakan itu. Jangan sampai terdengar bergetar.  "Nami-san, jangan berpikiran yang negatif. Anak ini tidak pandai bicara, jadi abaikan saja," kata Takashi berusaha menenangkan.  "Lagipula rumahku sudah dekat dari sini. Pergilah bersamanya," kataku lagi.  "Nami-san..." lirih Takashi memelas.  "Sampai ketemu lagi." Aku mengucapkan salam perpisahan untuk hari ini. Kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua.  Sampai sepuluh langkah hitungan, aku tersenyum kecut. Lihat? Takashi bahkan tidak berusaha menahanku. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentangnya, sebelum tahu tentang dia. Ya, berpikirlah positif Nami! Takashi bukan pria seperti itu kok!  Ayo! Malam ini kau ada pekerjaan! Jadi, tetap semangat Nami! Aku terus menyemangati perasaanku sendiri. Hal sepele sekali pun bisa mengubah moodku jadi anjlok. Aku sangat tidak suka perasaanku yang begini!  *** Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Aku memercayai hal itu. Ghoul, entah sejak abad ke berapa mereka muncul di muka publik. Sosok mereka masih misterius, dan misteri ini belum terpecahkan meski zaman sudah modern.  Aku telah kembali di gedung Ksatria Putih. Berkumpul bersama timku dan juga ketua tim, yang kini sedang mempresentasikan misi kami berikutnya. Sebuah gambaran jalan yang rusak ditampilkan dalam layar. "Misi kita kali ini adalah ghoul yang menamainya Historic." Aku terkejut mendengar tingkatan level tersebut. Nesa mengacungkan tangan. "Pak, siapa ghoul Historic ini? Apa itu tidak beresiko?" tanyanya heran.  "Dia ghoul level SSS, Nesa-san," kata ketua tim. "Operasi penyidikan ini akan dipimpin olehku. Atasan memercayai tim kita, itu sudah menjadi kehormatan." Hanya berlima... Kupikir ini terlalu beresiko untuk menjalankan misi tanpa membentuk pasukan gabungan. Aku mengangkat tangan kanan. "Pak, apakah tim kita dijadikan bahan percobaan?" ujarku bertanya.  Ketua tim menghela napas pelan. "Separuh benar dan separuh salah," jawabnya yang membuatku bingung. "Kalian jangan dulu bertanya sebelum aku selesai menjelaskan." Kami pun terdiam. Di ruang rapat yang sedikit gelap ini, karena proyektor dinyalakan, beliau mulai menjelaskan. "Misi kita adalah menyusup ke dunia ghoul untuk mengetahui tentang ghoul bernama Historic. Itu tujuan utama kita. Anggota kelompoknya sering terlihat di distrik empat. Kita hanya perlu mewawancarai ghoul untuk mendapat informasi tentangnya." "Bagaimana kita bisa masuk ke dunia ghoul?" tanya Orino.  "Kita akan menyamar." *** Kami sudah berkumpul di basement gedung lantai tiga. Ketua tim telah menyiapkan semua kostum untuk kami. Jubah hitam dan topeng beragam gambar. Nesa mendapat topeng kelinci, Nusa mendapat topeng wajah marmut, Yuki menggunakan topeng rubah, sedangkan Orino topeng masker dan aku mendapat topeng berwajah kucing.  "Kenapa hanya Orino-san yang tidak mendapat topeng hewan?" protes Nesa.  "Sudah jangan banyak protes. Topengnya terlihat cocok dengan kepribadian dia," timpal Yuki.  "Kita akan berpencar. Nesa dan Nusa, kalian akan pergi ke barat. Orino, pergilah ke utara dengan Yuki. Lalu Nami cari tahu di bawah gedung ini. Jika selesai, kita bertemu lagi di sini." "Baik!" ucap kami serempak dengan tegas. Kami pun berlari dengan berpisah arah. Aku harus menaiki lift yang seketika membawaku turun ke lantai bawah tanah. Gedung ini adalah gedung perkantoran yang masih berfungsi dengan baik.  Pintu lift terbuka di bawah tanah. Tepatnya basement tiga. Aku melangkah ke luar dengan perlahan. Sepi. Aku tidak melihat keberadaan seorang pun di sekitar. Tapi aku terus melangkah maju. Hingga tiba di luar basement, melewati g**g kecil, di sanalah aku melihat bayangan di tengah kegelapan tanpa lampu disusul suara obrolan seseorang.  Aku berjalan ke arah mereka. Terdapat tiga orang yang kupercaya adalah ghoul, karena wajah mereka ditutupi topeng. Aku menghampiri mereka untuk menanyakan sesuatu. "Anoo," ucapku menengahi percakapan mereka. Mereka menoleh kepadaku. "Apa kalian tahu Historic?" kataku.  "Apa yang kau butuhkan darinya?" tanya mereka membalasku.  "Nngg apa kalian mengenalnya?" "Kami adalah pengikutnya." Kalau aku bertanya siapa sebenarnya Historic itu, apakah mereka tidak akan curiga? Aku menelan saliva sedikit gugup. "Bagaimana menurut kalian tentang bos kalian?" Kuputuskan untuk mengubah pertanyaan, walau maksudnya tetap pada satu fokus.  "Dia adalah pemimpin yang adil dan bijaksana." "Untuk apa kau mengetahui tentang dia? Dari mana asalmu?" Aku merasa terpojok dengan tuntutannya. Cepat-cepat aku hendak permisi pergi. "Tidak, bukan apa-apa. Hanya tertarik kepadanya. Maaf mengganggu waktu kalian." Mereka tidak mencegahku. Akhirnya aku menghilang di kegelapan. Sedikit kecewa, aku tidak mendapat banyak informasi dari mereka.  Aku kembali ke tempat pertemuan. Di tempat ini aku datang pertama, dan langsung melaporkan hasilnya pada ketua tim. "Ada tiga ghoul yang kutemukan di sana. Mereka adalah pengikut Historic. Tetapi sulit untuk membuat mereka bicara leluasa. Jadi, kuputuskan untuk ke sini daripada membuat keributan." Begitulah yang kukatakan kepada beliau.  "Begitu, ya? Kita harus bekerja lebih keras lagi," komentar ketua tim.  "Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" "Apa itu?" "Kenapa kita mengincar ghoul level tertinggi ini? Apa dia telah membuat kehebohan?" "Ini masih rumor, bahwa dia adalah ghoul paling berpengaruh di dunia ghoul. Rencana sebenarnya hanya atasan yang tahu." Lalu tidak lama rekan-rekanku datang satu per satu.  "Aku bertemu dengan ghoul yang mengaku sebagai pengikut Historic, tapi mereka tidak memberitahukan apa pun," kata Nesa yang diangguki saudaranya.  "Kalau kami, ghoul yang kami temui justru tidak mengenal Historic. Hanya itu, ketua," kata Yuki.  "Organisasi mereka masih rahasia rupanya." Ketua tim menyimpulkan dengan nada menggumam.  Duar!  Kami terkejut seketika mendengar suara ledakan. Terdengar dekat. Aku memindai tatapan, memperhatikan ke sekitar gedung. "Kurasa di gedung itu sumber ledakannya," kataku mengarah pada gedung baru setengah jadi. "Apa sebaiknya kita ke sana?" Aku bertanya.  "Di sana adalah tempat tim delapan menjalankan tugasnya," ucap ketua tim.  "Apa kalian yang mencari Historic?" Suara asing itu menengahi kami. Kami berbalik ke arah yang sama. Terlihat rombongan orang berjubah dan bertopeng sudah ada di hadapan kami. Siapa mereka? Ghoul?  "Siapa kalian?" tanya ketua tim.  "Apa yang kalian inginkan dari Historic?" balas seorang yang berdiri memimpin. Orang itu mengenakan topeng parade.  Gawat. Kalau sampai mereka tahu kami adalah pemburu ghoul...  "Kami ingin bergabung dengannya," sahut ketua tim.  "Sayangnya, kami adalah penentang Historic." Ungkapan yang kurang menguntungkan menurutku. Bagaimana ini?  "Kalian bermaksud menghentikan kami?" geram Yuki dengan suara sintetiknya.  "Pilihlah di antara kedua organisasi ini. Historic atau Hespaetia? Jika kalian bergabung bersama kami, kalian akan terlindungi. Tetapi jika sebaliknya, saat ini juga kita akan bertarung," ucap orang itu.  "Aku mengerti." Kami terdiam beberapa saat. "Ayo!" kata orang itu berbalik pergi, dan melesat hilang.  "Ini sudah cukup menjadi informasi baru," ujar ketua tim. Kami pun meninggalkan gedung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN