segera kembali ke kantor. Nyatanya kini dia malah ikut mengambil gelas lalu meminta jatah air dari dalam botol minumku. "Kamu nggak balik ke kantor? Ada nafkah yang harus kamu bayarkan untuk istrimu." Aku sengaja meledeknya, sambil menuangkan air minum ke dalam gelasnya. "Kalau kamu mau menuntut nafkah batinmu sekarang pun, kamu kira aku nggak sanggup?" "Haish!" Aku mendesis, sambil melayangkan tatapan sengitku padanya. Mulai ... sifat tengilnya akan muncul, sesekali, dan itu sanggup membuatku ketar-ketir. Aku segera beringsut menjauh, meninggalkannya menuju ke kulkas. Dering ponsel yang berada di sakunya membuat langkah pak Aksara saat hendak mengejarku menjadi terhenti. Saat itu juga, aku terdiam saat dia mulai mengangkat panggilan itu sambil duduk di kursi, sedangkan aku mencuci be

