"Kamu biasa masak?" Aku memilih mengganti topik, karena merasa malas kalau harus membicarakan perempuan itu lagi. "Hm ... sejak tinggal di Amerika untuk menempuh pendidikan, aku membiasakan diri untuk memasak." "Oh ... kamu lulusan luar negeri." "Kenapa?" Tidak kusangka, kali ini pak Aksara langsung menoleh padaku. Mungkin saja setelah mendengar kalimatku yang sedikit menggantung. Memang, ada sebagian kata yang urung kukeluarkan, hingga nadanya terasa sangat menggantung. "Kamu masih punya potensi besar. Umurmu hampir genap 26 tahun, sebentar lagi ulang tahun, 'kan?" "Kamu tahu kapan ulang tahunku?" Aku melihat sekilas senyuman tercetak di bibir pak Aksara, tetapi kini sepenuhnya wajah itu tidak bisa kulihat lagi, karena pak Aksara pindah posisi menjadi membelakangi aku. "Dua bulan

