Bab 38. Tiga Puluh Delapan

1168 Kata

"Ya, siapa yang mengira." Senyuman pak Aksara terbit, dan itu begitu indah sejak pertama kali aku melihatnya. Cara pandangku padanya, ternyata sanggup mengubah keseluruhan rupa pak Aksara, karena semakin kekesalanku mulai pudar, saat itu pula aku bisa melihat kebaikannya. "Tapi ... bukankah kamu terluka parah. Tapi lukamu?" "Lukaku paling parah hanya di bagian rusuk sini. Kamu pasti bisa melihat jejaknya, bila aku sedang menanggalkan pakaianku. Dan jejak di dalam rambut sini, beberapa mendapat jahitan. Syukurlah, semua pulih dengan baik dan ... yang pasti wajahku aman, itulah kenapa nggak ada satupun yang tahu kalau dulu aku pernah berada dalam kondisi itu." "Syukurlah. Aku ikut senang kalau kabarmu baik." Aku tersenyum lega, lebih dari perasaan biasa setelah aku tahu, bahwa hidupku ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN