tidak bersuara untuk membela diri. "Kamu melakukannya di mobil. Lampu merah dan aku melihatnya!" "Yah, mana aku tahu kalau di sekitarku sedang ada jomblo," sahutku sambil melipat bibir, agar tawaku tidak jadi terbit dan menyinggung perasaannya. "Aku langsung iya-iya saja saat ayahku menawarkan untuk berkenalan dan menjalin hubungan dengan Bella. Jangankan cinta, yang ada di pikiranku ... aku pengen banget nyekek kamu." Begitu bersemangat pak Aksara mempraktekkan tangan satunya dengan menyentuh leherku. Kontan saja aku segera menghindar. Ekspresinya yang kelewat lucu membuat aku tidak mampu lagi menahan agar tidak sampai tertawa. Ternyata usia memang tidak bisa membohongi. Sedewasa apapun pak Aksara, dia masih memunculkan kelucuan yang menghibur. Seru juga bersama dengan pemuda. Setida

