emosi yang akhirnya dia luapkan. Aku hanya bisa tertawa kecil di sela-sela protesku, menyadari betapa seriusnya dia dalam menunjukkan rasa cemburunya. Malam itu, emosi yang tadinya meluap berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam dan intens. Namun, di balik semua itu, pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikiranku masih belum terjawab. Setelah semua reda, aku duduk di sisi tempat tidur, membiarkan keheningan menggantung di antara kami. Aksara terbaring di sampingku, matanya tertutup, seolah tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Namun, aku tidak bisa menahan diri lagi. "Pak Aksara ...." Suaraku terdengar pelan, tapi penuh tekad. "Bagaimana mungkin kamu bisa menyiapkan berkas pernikahan tepat pada hari itu? Bagaimana bisa kamu datang tepat waktu saat calon suamiku nggak

