"Terserah yang kamu pikirkan, Irma. Yang kamu lakukan ini nggak akan mengubah kenyataan bahwa kamu udah berselingkuh dengan Arman. Dan lagi ... jangan kira aku seperti dirimu!" tegasku padanya. "Oya?" komentarnya sambil menertawaiku. Aku tidak membalasnya lagi. Rasanya seperti berbicara pada dinding, tak ada gunanya. Apalagi Irma telah memutuskan siapa aku di matanya sejak pertama kali dia terlibat dalam kehidupan Arman. Sejak mengetahui bahwa aku adalah calon istri yang dia khianati dengan bermain di belakangku. Aku memilih bungkam. Tidak ada gunanya memperdebatkan ini lebih jauh. "Varuna ... apa benar yang dikatakan Irma?" Aku langsung menatap tajam ke arah Arman begitu pria itu ikut menyela. Dia sama sekali tidak punya hak untuk mempertanyakan ini, setelah tempo hari mengatakan deng

