mengambil tempat duduk tepat di seberangku dan akhirnya kami dalam posisi berhadap-hadapan. Alunan musik piano pun mengiringi suasana resto. Seorang pianis berwajah oriental memainkan melodi yang indah. Aku menyukainya, meski jujur saja aku tidak tahu judul lagunya. "Kamu mau request lagu? Sambil menunggu menu pesanan kita," tawar pak Aksara, kemungkinan besar karena aku terus saja menoleh ke arah pianis muda itu. Kalau boleh aku tebak, pria itu seusia dengan pak Aksara. Atau malah bisa jadi lebih muda. Seumuran Wildan mungkin. Pak Aksara tidak sampai menungguku menjawab, dia segera mengulurkan tangannya agar aku segera berdiri dan menyambut. Tidak ingin membuatnya malu di hadapan beberapa tamu yang memandang ke arah kami, aku segera meraih jemari itu lalu berjalan meninggalkan meja k

