Aku tidak lagi mempedulikan kedua orang ini. Aku sudah biasa mendengar perdebatan mereka berdua. Namun yang kini mulai mengganggu pikiranku adalah perkataan Vina itu. Aku jadi teringat tentang sesuatu yang selalu aku alami di kamar klinik itu. Awalnya, aku pikir aku hanya sedang bermimpi. Setiap malam, aku memang merasakan sebuah sentuhan hangat di pipiku ini. Tetapi, aku tidak mau membuka mata ini untuk melihat siapakah orang itu. Selain, aku baru saja memasuki tahapan pertama di dalam sebuah tidur. Aku juga masih di bawah pengaruh obat yang selama ini dimasukan oleh Umelni ke dalam tubuhku ini. Tetapi, jika semua yang dikatakan Vina ini memang benar. Berarti, perasaan hangat yang aku rasakan itu bukanlah mimpi. Namun, belaian lembut dari seseorang. Dan tidak mungkin, orang itu adalah l

