Aroma makanan yang baru saja masuk ke ruangan ini lebih menggoda daripada bubur yang ada di depanku ini. Aromanya semakin kuat saat yang membawanya datang mendekati diriku. “Dia enggak bakalan mau makan makanan yang ada brokolinya seperti itu. Apalagi di dalam bubur. Saat ditumis saja, dia akan sangat terpaksa memakannya,” kata perempuan yang membawakan makanan dengan aroma sangat sedap itu. “Tapi, brokoli kan sehat,” kata Ken tidak mau kalah. “Iya, sehat. Tapi, Cahaya tidak terlalu menyukai makanan itu. Benar kan Cahaya?” tanya Vina yang sudah duduk di dekatku. “Trus kamu bawa apa?” Ken bertanya tentang sesuatu yang ada di tangannya itu. “Cuma bubur biasa. Tapi, setiap sakit Cahaya pasti memilih untuk makan makanan seperti ini,” jelas Vina. Memang yang dia bawakan hanyalah bubur ay

