Sharon berdiri dengan memakai gaun pengantin berwarna putih yang di pesannya dari salah satu desainer terkenal ibukota. Dia seharusnya merasakan bahagia bisa memakai gaun pernikahan yang di impikan oleh sebagian wanita, dimana ini menjadi pertanda akhir perjalanan untuk sebuah kisah percintaan. Sebuah pernikahan.
Namun sayang, saat dirinya menatap pantulan cermin besar yang tergantung di sudut kamar. Perasaannya tidak senang dan gaun itu terasa semakin berat di tubuhnya. Dia merasa kalau momen yang sebentar lagi ini tidak berarti apa-apa.
Dalam pantulan cermin itu bisa di lihat bagaimana dirinya begitu cantik dan mempesona, seperti para pengantin baru lainnya. Sharon memakai gaun cukup sederhana namun elegan yang mencerminkan sosok dirinya, dia tidak ingin memakai sesuatu yang mewah. Namun sekali lagi untuk kesekian kalinya dia menatap lagi di depan cermin, mencari tahu bagaimana perasaannya saat ini. Hanya saja.. tidak ada yang berubah, kosong dan menghilang dan itu entah mengapa.
Dia tahu kalau tunangannya sedang menunggu di lantai bawah bersama dengan teman-teman dan keluarga besarnya yang sudah menantikan pernikahan ini. Seharusnya hari ini menjadi hari bahagia dan terindah untuknya dan seluruh orang yang mengenalnya.
Tapi pertanyaannya, apa dia ingin atau tidak, dalam pernikahan ini? Banyak orang yang terlalu mengharap dalam pernikahan ini.
Sharon dan Askara, begitu isi pujian dan harapan yang selalu mereka ucap dalam setiap acara keluarga. Pernikahan ini suatu keharusan untuk terjadi di mata orang-orang yang mengenalnya;
Hanya Askara yang terbaik..
Sharon wanita yang paling cocok untuk Askara..
Mereka cocok sekali..
Dia memejamkan mata lalu menghirup udara yang tersisa di ruangan ini sebanyak mungkin untuk mencari ketenangan diri dan mencoba menghilangkan rasa ketidaksukaannya untuk pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi.
Tuhan, bagaimana ini? Kenapa perasaannya semakin tidak menentu. Jika ini perasaan gugup, bagaimana dia bisa melewatinya dan terus bergerak untuk pernikahan ini.
Banyak pikiran yang bergelembung di kepalanya. Saling membentur untuk mencari yang terbaik.
Sebentar. Apa ini alasannya saja untuk menghindari dari pernikahan ini? Lari dari pernikahan. Meninggalkan semua orang yang begitu mengharapkan pernikahan ini terjadi. Berdosalah dirinya jika sampai membuat banyak orang kecewa.
Namun Sharon merasa seperti seorang tersangka di keadaan seperti ini, dimana dia merasa di rantai kedua tangan dan kakinya secara ilusi, ilusi pernikahan dengan Askara. Dia terperangkap dari orang-orang yang mengharuskan pernikahan ini terjadi tanpa menanyakan perasaannya terlebih dahulu. Mungkin orang-orang berpikir jika dia sudah bahagia bersama Askara, tapi mengapa dia semakin ragu untuk melangkah lebih jauh.
Sharon menggigit bibir bawahnya sambil terus melihat pantulan cermin untuk terakhir kali sebelum keputusannya. Tangan kirinya secara tidak sadar menyentuh pipinya dan sebuah senyuman muncul di wajahnya.
Dimana dia dan tunangannya akan bahagia.
Itu sebabnya dia bertekad untuk pergi turun ke bawah dan mengahadapi pernikahan ini. Tapi sebentar semakin dia memperhatikan bayangannya sendiri di cermin, semakin dia yakin mempertanyakan mengapa dia ingin berada di pernikahan?
Hanya ketakutan dan keputusasaan yang terlihat di wajah cantiknya. Bohong untuk semua orang yang bilang dia terlihat cantik bahkan bahagia. Dia tidak terlihat sama sekali bahagia. Dia terlihat bodoh. Seperti badut yang memakai gaun pengantin.
Sharon Adeline tersenyum..
Baru saja menyadari sesuatu.
Mengambil secarik tisu dan di tulis lah sebuah pesan untuk tunangannya. Ini bukan keputusan terbaik dalam hidupnya tapi setidaknya dia tidak akan terjebak dalam hubungan ini.
*
Askara Pradana berdiri di sana, di dalam kamar yang setengah redup lampunya. Tatapannya begitu tajam pada jendela yang menghadap langsung ke arah taman belakang keluarga Pradana. Di sana sudah berkumpul semua anggota keluarga Pradana dan beberapa teman dan sahabat.
Askara melihat kebahagiaan jelas yang terpancar dari wajah mereka, tersenyum dan tertawa menimbulkan sebuah pertanyaan di d**a. Apa pernikahan ini harus terjadi? Dia mencoba merasakan atmosfer kebahagiaan hari ini seperti yang dirasakan keluarga besarnya. Pernikahannya memang harus terjadi untuk membuat senyum-senyum itu terus ada. Askara menghela napas lalu bergerak kearah pintu, saatnya membuat semua orang bahagia.
Di angkat tangannya yang sedikit gemetar, lalu segera di turunkan kembali untuk mencoba membuka knop pintu. Ini bukan seperti dirinya, Askara tidak harus takut bahkan menunjukkan rasa gemetar untuk pernikahan ini. Dia putra keluarga Pradana yang hebat, maka dia harus berani menghadapi semua ini bukan? Bukankah dia yang pertama kali memulai ini semua?
"As, are you ok?" Suara Jian dari luar pintu tampak khawatir. Sudah setengah jam lebih dia menghabiskan waktu di ruangan favoritnya untuk sekarang. Memikirkan nasib untuk kedepannya.
"Fine." Suara Askara berupa bisikan yang tenggelam dalam keraguan.
Jian merasa jika sahabat tidak baik-baik saja, dengan tiba-tiba dia masuk ke dalam kamar.
"As?"
*
Tisa juga sangat cantik mengenakan gaun sederhana berwarna merah yang menjadi warna favorit suaminya, Jian. Gaun ini dia beli bersama Sharon dua minggu lalu. Gaun yang sebatas lutut dengan aksen bunga kecil. Elegan dan sederhana seperti pernikahan sahabat sekaligus kakaknya.
Tisa sudah menantikan acara pernikahan ini sejak lama, bahkan saat masih berada di sekolah. Dia berpikir, apa yang membuat pernikahan ini harus menunggu begitu lama? Bukannya mereka sudah saling mengenal selama hidup mereka, apalagi Sharon yang terlihat begitu mencintai kakaknya, Askara. Begitu juga sebaliknya, Askara, yang memujanya.
"Tis, sebentar lagi acaranya." Ibunya mengingatkan.
Tisa mengangguk tanda mengerti. Dia berjalan perlahan masuk ke dalam rumah untuk menjemput, Sharon, di lantai atas. Sesampainya di depan pintu kamar, Tisa merasakan perasaan aneh dan ketegangan secara bersamaan. Akan ada sesuatu yang terjadi..
Dia dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin itu perasaan yang terbentuk dari rasa gugupnya karena terlalu senang dengan pernikahan Sharon dan kakaknya.
Tisa menarik napas dan mencoba mengusir pikiran buruk itu, dia cepat mengetuk pintu kamar yang selalu di huni Sharon jika menginap di rumah ini.
Satu ketukan.
Sharon tidak membuka pintu.
Satu panggilan.
Sharon tidak menjawab.
Dua ketukan lagi.
Dia sangat tahu sekarang apa artinya dari perasaan buruk yang muncul beberapa saat yang lalu. Dengan pelan dia membuka pintu lalu melihat sekeliling ruangan.
Tidak ada Sharon Adeline di kamar ini, hanya ada..
Kosong
Hampa
Dan kesedihan
Dan selembar tisu di atas bantal yang sudah tercoreng tinta hitam. Tulisan tangan yang begitu rapi dan elegan, begitulah Sharon.