"Hai Will?"
"Halo ayah, apa kabar?"
"Aku baik-baik saja dan ibumu sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu."
"Tolong bilang pada ibu beberapa hari lagi aku sudah dirumah." Aku sedang mengemasi barang-barangku saat panggilan telepon ini berlangsung.
"Ibumu ingin segera mengenalkan Luciana. Kau ingat Julian Elmer?"
"Tidak terlalu. Tunggu, kalian berencana menjodohkanku dengan putrinya?" Tanyaku penasaran.
"Tentu saja tidak. Luciana terlalu muda untukmu, dia masih tujuh belas tahun." Terang ayahku bersemangat.
"Ugh, dia sangat muda."
Ayah tertawa di sana. "Luci, akan tinggal dengan kita untuk sementara sampai urusan Julian selesai. Aku hanya ingin memberitahumu agar tidak kaget dan satu hal lagi, ibumu sangat menyukai Luciana."
"Ibu menginginkan anak perempuan dan kita para pria harus menerima." Aku ingat bagaimana ibu mengeluh saat aku dan adik-adikku nakal dan dia sering berkata 'Jika kalian anak perempuan tidak akan senakal kalian semua.'
"Aku sering mendengarnya." Ayah terkekeh. "Tapi Luciana itu gadis yang mandiri dan juga hebat. Kupikir kau akan menyukainya."
"Terima kasih," Ledekku. "Kalau begitu sampai jumpa dirumah." Aku harus segera membereskan semuanya.
"Sampai jumpa, Willard."
Seminggu kemudian aku terbangun dengan lelah dan jet lag di rumah orangtuaku. Saaat aku butuh air putih dan berjalan ke dapur. Dia membungkuk di depan lemari es dengan celana pendek yang hampir tidak menutupi pantatnya. Gadis yang memiliki rambut cokelat bergelombang itu berdiri lalu berbalik sambil memegang kotak s**u.
Dia tampak terkejut.
"Hai, aku tidak mendengarmu masuk. Pasti kau Willard. Aku Luciana."
Dia berdiri dengan gugup. Dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang aku bisa melihat bagaimana wajahnya yang cantik. Bibir merah muda, alis tebal dan mata besar. Dia sangat cantik.
"Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari orangtuaku." Aku bersandar pada dinding dekat dengan pintu.
"Semoga itu hal baik." Katanya sambil tersenyum. Luciana memiliki lesung pipi di sebelah kiri.
Sebelum aku sempat membalas. Ibuku masuk lalu mencium kening Luciana, tidak menyadari jika aku berdiri disini.
"Selamat pagi Luci."
"Selamat pagi bu." Aku berdiri tegak lalu mendekat pada mereka berdua.
"Oh Will, kau sudah bangun? dan ini Luciana.. Kau sudah bertemu."
"Ya, kami sudah perkenalan bu."
''Senang melihatmu pulang setelah tujuh belas tahun." Ibu mendekat padaku lalu menciumku.
"Senang bisa kembali bu." Kataku sambil menatap Luciana.
"Maaf meninggalkan kalian, tapi aku harus segera pergi."
"Oke sayang dan hati-hati."
"Terima kasih dan Willard senang bertemu denganmu. " Dia tersenyum padaku. Matanya menyala dengan rasa penasaran. Rasanya aku tertarik dengan Luciana dan aku harus memilikinya karena aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Jangan ganggu dia." Ibuku mencubit pinggangku. "Luciana terlalu muda untukmu." Dia membuka lemari es lalu mengambil bahan-bahan untuk sarapan.
"Kita lihat saja." Jawabku sambil menyeringai.
Ibu yang sedang membuat pancake langsung berhenti lalu memandangku dan menggeleng. "Willard, ibu serius. Jangan membuat dia tidak nyaman disini." Dia berkacak pinggang dengan tatapan tajam. "Luciana sudah banyak mengalami hal buruk untuk usianya yang baru tujuh belas tahun. Terlalu muda."
"Apa yang sudah terjadi padanya?'' Tanyaku penasaran.