Dia terlambat.
''Sial" Pikir Anindita saat dia berjuang untuk sampai di kantornya. Dengan mengenakan blouse tanpa lengan yang cukup sederhana dan rok di atas lutut, rambut cokelat panjang yang di ikat dengan gaya ekor kuda sudah membuat dirinya merasa percaya diri dan seksi untuk bertemu orang banyak. Bukan berarti dia haus perhatian dari orang-orang sekitar, hanya saja dia membutuhkan ini untuk pengakuaannya sebagai orang yang di hormati di pekerjaan.
Lalu kenapa dia bisa terlambat datang ke kantor?
Tadi malam, teman-temannya mengajak untuk bertemu di salah satu club, dimana yang dikatakan mereka seperti reuni mendadak yang satu kali putaran minum berubah menjadi beberapa putaran dan berakhir dengan dirinya yang mabuk lalu di jemput supir untuk pulang ke rumah. Bangun dengan sakit kepala, Anin panik setelah menyadari keterlambatannya lalu dengan tergesa-gesa dia langsung melompat ke kamar mandi dan berpakaian dengan cepat dan tidak lupa mengambil tas kesayangannya. Dia langsung berangkat ke kantor mengendarai mobil kesayangannya.
Saat keluar dari Lift, dia berhenti sebentar untuk menghembuskan nafas dan tersenyum manis sebelum bertemu dengan Assistennya, Gita Savitri - Ratu Gossip di perusahaan ini yang sudah menunggu dengan manis di meja kerjanya.
"Selamat siang, Bu Anin." Sapa Gita yang tersenyum lebar. Anin berhenti tepat di depan meja assistennya itu sebelum menatapnya dengan sengit.
Sialan assistennya mengejek.
"Bukannya ini masih jam sembilan pagi, Git?" Tanya Anin sudah berdiri di depan meja Gita. Mati kau..
"Aduh maaf ya, Bu? Saya tidak lihat jam. Tapi maaf, ibu sudah di tunggu di dalam." Jawabnya membela diri.
Sialan.
Andai saja assistennya ini tidak cekatan dan bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya, pasti sudah dia tendang sejak lama.
Anin sekali lagi menghembuskan nafas cukup panjang sebelum masuk.
Sialan.
Dia berusaha tersenyum saat membuka pintu dan di sambut seseorang yang sudah duduk manis.
"Tidak melihat jam tangan? Anindita Rahma Kausar? Apa saya harus membelikan jam tangan untuk anda sebagai pengingat waktu?" Sindir seseorang dengan sangat jelas.
"Selamat pagi, Pak Bara. Bisa langsung kita mulai?" Anindita tersenyum yang dia bisa berikan untuk menghindari masalah lebih lanjut dengan seorang Bara. Dia lebih baik langsung duduk di kursi kerjanya.
"Dan itu harusnya lima belas menit yang lalu."
"Dengar, anda sudah membuang waktu berharga saya. Bukannya anda sendiri yang meminta pertemuan ini?" Ejek Bara saat berjalan mendekat ke arah Anin.
Anindita menghela napas, bersandar ke kursinya dan mempelajari orang yang berdiri di depannya dengan gaya angkuhnya.
Aditya Bara.
Aditya Bara seorang b******n yang dikaruniai dengan wajah menggoda.
Anin sendiri sudah mengenal Bara sepanjang hidupnya, mereka tumbuh bersama, mempelajari hal baru bersama dan bahkan hidup bersama. Yang dia ingat, Bara banyak mengalami perubahan fisik dari yang bertubuh kurus menjadi pria berisi. Rambut dengan gaya berantakan seperti seorang badboy, alis tebal, mata cokelat, bibir merah dan rahang tegas. Oh sungguh menggoda..
Senyum profesional muncul di wajah Anin, "Dengan bertengkarnya kita, kita juga sudah membuang waktu secara percuma."
"Apa kita bertengkar? Saya merasa tidak bertengkar dengan anda. Saya hanya mengeluarkan ketidaksukaan pada kinerja anda yang seperti ini. Saya ragu bagaimana seorang seperti anda bisa menempati jabatan tinggi di perusahaan ini." Senyum menghina menempel di wajah Bara Aditya.
Anindita mengejang namun berusaha seolah-olah dia tidak pernah mendengar. "Perusahaan ini memang membutuhkan Investor seperti anda dan anda dapat mempertimbangkan berapa waktu anda yang berharga untuk membantu kami dalam proyek ini."
Bara menatap tajam.
Tiba-tiba dia mengambil langkah mundur, untuk duduk di kursi mewah di seberang meja menyilangkan kakinya. Lengannya di taruh di atas lengan kursi lalu sebuah seringai kecil menghiasi bibirnya saat menatap Anindita.
"Silakan, saya menunggu." Suara lembut dan Bara masih menyeringai.
Dua jam kemudian penjelasan Anindita telah selesai, proyek tentang pembangunan Mall yang mengedepankan konsep alam ini akan di bangun di pinggir kota. Jika Bara menyetujui investasi ini untuk mendanai proyek, dia akan menjadi investor utama dan menerima bagian terbesar.
"Apa anda memiliki pertanyaan?" Anindita mendongak dan tersenyum muram pada pria di hadapannya.
Selama persentasi, Bara tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak memperhatikan apapun. Dia hanya menatap Anindita.
Setelah beberapa detik, Bara berdiri dan mencodongkan tubuhnya ke depan, "Saya ingin tidur denganmu seperti dulu."
Anindita menjawab dengan gelengan kepala.
"Merasakan kelembutan kulitmu." Lanjut bara. "Mendengar desahanmu saat saya mendorong pen*s ke dalam lubang surgamu."
Anindita menutup kedua pasang matanya. Menggigit bibir bawahnya cukup keras.
"Nah.. Itu akan sangat mustahil.. " Ucapnya santai, "Jika anda ingin uang saya untuk mendanai proyek ini." Bara kembali bersandar ke kursinya dengan matanya berubah gelap dan seringai menggoda muncul lagi.
"Saya tahu." Anin merasa perutnya bergejolak.
"Tidak, anda tidak tahu. Biarkan ini menjadi sangat jelas, Anindita. Anda ingin uang saya? Saya akan memberi anda uang dengan jumlah tidak tidak terhingga asal anda mau tidur dengan saya lagi?"
"Dasar sialan.. Kau tidak pernah berubah, Aditya Bara. f**k! Aku akan melaporkanmu. Keluar dari ruanganku sialan!" Selesai mengumpat Anindita tertegun melihat Bara tersenyum tulus. Benar-benar tampak bahagia.
"Mulutmu masih saja mendengkur seperti dulu," Suara Bara terdengar rendah menggoda.
"Keluar dari sini." Teriak Anin.
"Dan jangan harap akan ada Investor untuk proyek ini!" Ancam Bara sambil memiringkan kepalanya.
"Keluar!"
Melangkah penuh percaya diri ke pintu dan berhenti. Bara melihat ke belakang dan menyeringai dengan suara santai berkata, "Payudaramu bertambah besar, bagus. Tidak seperti dulu."
Bara mengedipkan mata, tersenyum dan pergi.
*
Kenapa semua menjadi berantakan? Dari yang sudah di rencanakan dengan baik selama berbulan-bulan untuk proyek besar ini dan sekarang di ambang kehancuran karena ulah Aditya Bara yang mengancam tidak akan memberi dana. Sialan hidup ini berubah dalam sehari.
"Bagaiman bisa?" Suara Ahmad Faisal begitu tinggi. Bergema di ruangan kerjanya.
"Bisa saja pak. Pihak A tidak ingin berinvestasi dalam proyek ini." Anin membuat jawaban jujur.
"Dan itu karena..?"
Aku tidak ingin tidur dengannya lagi, pikir Anin.
"Mungkin tidak ada kecocokkan, kita bisa mencari investor lain, Pak." Mungkin. Dia sendiri tidak yakin apa bisa menemukan investor yang mau menanamkan uangnya untuk proyek ini apalagi setelah mendengar ancaman dari Bara.
"Dan waktumu sebulan atau semuanya di ambil suka tidak suka." Ancam Ahmad Kausar meninggalkan ruangan kerja bawahannya yang sekaligus merangkap menjadi putri tunggalnya.
Dimana dia harus menemukan investor dalam sebulan ini? Apa Aditya Bara saja? Arghh.
Drtz.. Drtz.. Drtz..
"Ada apa?" Suara kentus Anin memulai percakapan.
"Apartemen ini sepi tanpamu, ada bra mu yang merah di atas meja dapur," b*****t.
Apa dia tidak sedang dalam keadaan normal? Seenaknya saja bicara seperti itu?
"Cuci mulut busukmu!" Teriak Anin kesal.
"Begitu juga dengan daum telinganmu. Setiap aku menjilat pasti rasanya asin."
"Aditya Bara.." Anin ingin teriak sampai telinganya mendengung. Dia merasa sangat menyesal harus mengenal pria ini sedari kecil. Mereka tumbuh bersama dengan terpaut usia tiga tahun. Bara selalu menjadi bayangan Anin di manapun, mengatur hidupnya dan merebut keperawanannya. Dan dia menyesal tidak bisa mengenal pria lain selain Aditya Bara.
"Anin, kembali lagi ke sisiku, apartemen ini butuh perhatianmu." Pinta Bara terdengar lemah. Oke. Anin, jangan sampai tertipu lagi, kau sudah mengenal dia sejak lahir. Ini hanya akal busuknya untuk menaikkimu di ranjang besarnya.
"Suruh para gadismu saja," Berjalan ke dekat jendela. Anin memperhatikan jalanan yang macet di bawah sana.
"Gadis apa?" Tanya Bara.
"Gadis yang sudah menempelkan bekas Lipstiknya ke kemejamu,"
Terdengar tawa dari sana dan Anin mengertakkan giginya menahan kesal.
"Itu bekasmu,"
Apa?
Bekas apa? Perasaan dia tidak memiliki Lipstik bewarna Orange. Semuanya Lipstiknya bewarna merah. Ini hanya alasan saja, Anin. Bara terkenal orang yang licik dan kejam.
"Berhenti, Setan. Aku tidak punya Lipstik berwarna norak seperti itu, jelas-jelas itu dari bibir wanita murahanmu!" Anin menutup sambungan telepon lalu melempar ponselnya ke sudut ruangan tidak peduli dengan harganya.
*
"Pagi, Gita?" Sapa Anin pada karyawan telandangnya. Gita yang memeriksa beberapa dokumen langsung mendongak dan balik menyapa atasannya.
"Tepat waktu sekali, Bu." Ck. Pujian yang bernada menyindir. Anin ingin menampar muka songongnya.
."Terima kasih, apa ada jadwal pertemuan dengan perusahaan yang kemarin sudah kita kirimmi email?" Berdiri di meja kerja Gita. Anin berharap usahanya selama seminggu ini memberikan hasil.
"Tidak ada, Bu. Semua perusahaan tidak merespon sama sekali bahkan yang saya dengar beberapa perusahaan mulai bergabung di bawah Pak Aditya Bara."
Anjing. Argh. Bara lagi.
Kepalanya akan meledak sekarang ini.
"Batalkan semua jadwal hari ini," Mengatur napas, Anin berbalik ke arah pintu luar. Auranya menakutkan. Dia harus membuat perhitungan dengan Orang itu.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Anin memasuki kawasan apartemen mewah. Dia benci tempat ini.
"Apa kabar, Bu? Sudah lama anda tidak kelihatan." Petugas keamanan yang sudah setengah abad ini tersenyum ramah.
Tersenyum kembali, "Sangat baik."
Menekan angka paling atas untuk sampai di apartemen sialan itu. Anin harus menyiapakan segala emosinya untuk tidak mengamuk di jalan.
Ting.
Tinggal berjalan beberapa langkah dia sudah sampai di depan pintunya.
Duk.. Duk.. Duk..
"Yang sop-"
"Aku tidak ada waktu untuk bersikap sopan padamu," Melempar tas tepat ke muka Bara yang kelihatan sangat segar. Dia mungkin habis mandi.
"Pada dasarnya kau tidak bisa bersikap sopan pada siapapun," Kata Bara sinis. Ya Tuhan, Anin ingin sekali membunuh orang ini sekarang juga di tempat ini.
"Aku lelah, biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang, Bara." Anin menunduk. Dia benar-benar lelah.
"Tidak bisa. Hidupmu sudah menjadj bagian dari hidupku. Aku minta maaf, Anindita Rahma Kausar?" Merengkuh tubuh Anin ke dalam pelukannya. Bara merasa dia terlalu keras pada Anin.
"Aku tidak percaya, kau selalu mengulanginya lagi." Kata Anin di sela-sela isakkan kecilnya.
"Janji. Aku tidak akan membentakmu atau memarahimu lagi." Senyum bahagia terlihat di wajah tampan Bara. "Aku Aditya Bara tidak akan membentakmu lagi dan jika sampai aku melanggar aku akan memotong penisku." Teriak Bara.
Anin hanya cekikikan tidak jelas.
"Dan jangan selingkuh," Ancam Anin sambil mencubit p****t Bara.
"Tidak akan, Dan soal Lipstik itu, itu benar milikmu."
Masih keras kepala, sudah di bilang dia tidak punya Lipstik warna Orange, kecuali Gita yang selalu memakainya.
Sebentar, Anin ingat sesuatu.
Dia pernah meminjam Lipstik Gita saat ada rapat mendadak karena dia lupa tidak membawa Lipstiknya.
Sialan.
"Kau sudah ingat?" Bara menyentil hidung Anin untuk menyadarkannya kembali ke dunia nyatanya.
Menggeleng "Tidak."
"Bohong, kau pasti ingat ya?"
"Aku lapar" Berlari kearah dapur, Anin mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu!" Bara mengejarnya.
Tidak jauh dari sana, lebih tepatnya di dinding sebelah kanan terdapat foto pernikahan berukuran besar yang di ambil tiga bulan lalu.