"Kenapa Shalum? Apa ada yang ingin ditanyakan? Aku masih free lho.. Sebelum jam praktekku." Shalum mengajakku bertemu di Cafe yang tidak jauh dari rumah sakit.
Aku tahu banyak pertanyaan dikepalanya mengenai status tentang pernikahanku dengan Mas Bayu.
"Silakan puaskan rasa penasaranmu. Sebelum ini berbayar lho.. " Candaku tersenyum. Aku tidak ingin membuat Shalum terlalu memikirkan urusanku.
Shalum yang terlihat tegang semenjak kedatangannya sekarang lebih santai. Dia tersenyum.
"Kenapa Mbak tidak jujur dengan kita semua?" Tanyanya pelan, menggigit bibir bawahnya. Itu pertanyaan yang akan sering kudengar dari orang-orang sekitarku jika mereka tahu aku sudah menikah.
Karena aku sendiri tidak yakin- "Ini terlalu rumit." Jawabku berbisik. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Wajah shalum meringis. "Tapi sekarang semakin rumit, Mbak. Jika sampai ayah tahu -"
"Maka ini masih rahasia." Potongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi Jika ayah sampai mengetahuinya. Ayah bukanlah orang yang jahat dia hanya seorang ayah yang sangat tegas dengan setiap keputusannya.
"Berapa lama? Mbak akan menyimpan ini?" Tanyanya sepelan mungkin.
"Menurutmu?" Aku balik bertanya.
Shalum menggeleng.
"Jadi biarkan saja. Aku yakin akan ada jalan keluar lebih baik." Shalum tersenyum. Aku menghela napas. Apa memang benar akan ada jalan keluar jika menyangkut Ayah?
"Semoga." Harapnya dengan tulus.
*
"Mit, aku harus keluar kota beberapa hari." Mas Bayu memberitahuku sore itu. Pekerjaannya sebagai seorang arsitek, membuatnya beberapa kali harus keluar kota bahkan luar negeri. "Kamu mau ikut?"
"Aku nggak bisa ikut, Mas." Semenjak kita mulai bersama. Aku selalu berusaha menemaninya pergi di sela-sela jam kerjaku. Dan seminggu ini jam kerjaku tak bisa memberi ruang untuk bersantai.
"Iya nggak papa," Aku sedikit heran. Mas Bayu akan selalu mencari tahu alasan dibalik setiap jawaban yang kuberikan padanya jikalau itu kurang menguntungkan baginya.
Mata Mas Bayu fokus ke kertas yang berisi desain yang membentang di meja kerjanya. Tatapannya begitu tajam pada setiap desain yang dirancangnya. Dia tidak menyadari keberadaanku yang sudah dibelakangnya.
Mencium lehernya yang tegang. "Ada yang salah." Bisikku menghirup aroma Cologne nya. Bibirku sudah membelai leher Mas Bayu dengan kecupan ringan. Lehernya sudah menegang karena gesekan bibirku diarea lehernya.
"Mas tidak menuntut jawaban seperti biasanya." Lidahku sudah sampai di telinganya. Mengecap rasanya.
"Aku ingin jadi suami baik untukmu." Jawaban sederhana yang ku yakin semua pria selalu berkata seperti itu untuk pada istrinya. Tapi jawaban yang keluar dari seorang Bayuwangi sudah membuatku bergetar. Ia membalikan kursinya dan menarikku kedalam pangkuannya.
"Terima kasih." Ucapku dengan bersandar pada d**a bidangnya.
Keheningan membentang diantara kita setelah itu. Aku lebih fokus pada perasaan tubuhnya yang hangat dibelakang dan Mas Bayu menginginkan hal yang sama pula. Ia tidak banyak bicara atau mencoba menjadi pembicara yang baik untuk membuatku nyaman bersamanya. Kita lebih sering menghabiskan waktu seperti ini dan itu lebih dari cukup untuk kita berdua.
"Mas, Mbak Rena mengundang kita makan malam." Bisa kurasakan tubuhnya menegang sebentar sebelum menarik napas yang membuat telingaku merinding. "Dan Shalum juga akan ada disana."
Aku tahu Mas Bayu belum terbiasa dengan keluargaku yang mulai masuk kedalam kehidupan kita. Terakhir bertemu mereka untuk makan malam sebulan yang lalu Ia tidak banyak membicarakan dan aku juga tidak mau memaksa.
"Apa yang harus kita bawa untuk mereka? " Tanyanya. Kepalaku berbalik kearahnya dan dia tersenyum lembut.
"Biar kupikirkan dulu." Aku cukup bahagia dengan perubahan kecil ini.
*
Sebelum menikah dengan Mas Bayu. Aku tinggal di sebuah apartemen milik orangtuaku yang tentu saja ku sewa dengan harga miring perbulan. Dibanding dengan anak mereka yang lain, aku termasuk yang tidak pernah meminta lebih bahkan cenderung menerima apa yang dipilih orangtuaku. Maka saat meminta mereka untuk menyewakan salah satu apartemen nya yang dekat dengan tempat kerjaku, mereka memilih untuk tersenyum dan mengganguk.
Jadi saat Ibuku, Alana, menelepon untuk mampir ke apartemenku sore ini. Aku tidak banyak berpikir untuk segera ke apartemen. Dan terima kasih kepada orang yang ku sewa untuk membersihkan semua ruang di apartemenku seminggu sekali untuk membuat bersih dan jauh dari debu. Seakan-akan ruangan itu selalu terisi kehidupan manusia.
Aku sudah siap didalam apartemen dengan pakaian santai ku saat bel pintu berbunyi.
Ibu berdiri dengan Shalum.
"Bu." Mencium telapak tangannya yang lembut.
"Sudah lama aku tidak melihat anak gadisku yang satu ini." Aku membeku sebentar sebelum kembali ke realita saat Shalum mencubit punggungku dari belakang.
"Maaf. Maaf, terlalu sibuk akhir-akhir ini." Pintaku pelan dan bersalah disaat bersamaan. "Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?"
"Aku baik-baik saja tapi Ayahmu sedikit cengeng saat putri keduanya jarang datang kerumah." Ibu menoleh kearahku dengan senyum khasnya.
"Setelah sedikit longgar dengan jam kerjaku. Aku pasti mampir kerumah."
Dari sudut mataku yang kanan bisa kulihat kalau Shalum menatapku lekat-lekat dengan mata indahnya.
"Bu, bilang pada ayah. Aku selalu ada dirumah lho." Shalum menimpali dari belakang dengan nada cemberut.
"Iya buat ngegangguin ayahmu main catur."
"Biar asyik bu."
Shalum menyeringai padaku dengan bangganya. Aku tahu dia pasti meminta imbalan setelah menyelamatkanku dari keadaan seperti ini.
Setelah menghabiskan beberapa jam untuk mengobrol. Ibu dan Shalum pulang kerumah. Aku menghabiskan malam itu memikirkan masa depan ku dengan Mas Bayu.
"
"Hei." Ciuman lembut mengelilingi wajahku. Mas Bayu sudah berbaring disebelahku dengan wajah lelah. Rahangnya dipehuni janggut tipis dan lingkaran hitam dibawah matanya.
"Aku merindukanmu." Wajahnya meringkuk di lekukan leherku. Memeluk sangat erat.
"Aku tau dan aku juga merindukan, Mas Bayu. Jadi cepat tidur untuk mendapat stamina buat nanti." Dia tahu kemana arah pembicaraanku.
Mas Bayu menyeringai sebelum menutup matanya.
Saling memeluk dengar erat dalam keadaan tidur adalah hobi lama dalam hubungan kita. Sebenarnya ini bermula dari pertama kali aku menginap dirumah nya. Dia berteriak tengah malam saat aku tertidur di kamar lain. Takut terjadi hal yang buruk dengan cepat ku buka kamarnya dan melihat Mas Bayu meronta-ronta dalam tidurnya.
"Bangun. Mas, bangun." Tanganku sudah mengguncang pelan tangan nya yang terasa dingin.
"Ayo, Mas, bangun. Tidak apa-apa." Suaraku setenang mungkin.
Dengan secepat kilat keduanya matanya terbuka dan rasa takut terlihat jelas dari sorot matanya. Ia menatap sekeliling ruangan sebelum pandangannya mendarat padaku.
"Hanya mimpi buruk." Telapak tanganku mengenggam tangannya yang kasar. "Tidak apa-apa" Bisikku berusaha menenangkannya yang masih linglung.
"Maaf, mengganggu tidurmu." Kepalan tangannya terasa berbeda di tanganku.
"Sudah berapa lama seperti ini?" Aku tahu ini langkah yang berani untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang tempat tidurnya.
"Sejak lama." Jawabnya pelan. Perlahan Mas Bayu duduk disebelahku. "Tapi tidak terlalu sering."
"Apa sudah menemui dokter?" Aku tahu ini bukan sekedar mimpi buruk. Ada hal lain yang disembunyikannya.
"Sudah empat bulan lalu." Jawabnya menoleh padaku.
"Itu pertama kali kita bertemu." Aku terkekeh. "Ayo tidur lagi." Bujukku mengusap rambutnya yang basah oleh keringat.
"Jangan pergi sebelum aku tertidur." Pintanya meringkuk di lenganku.
"Tentu." Tanganku tidak pernah berhenti mengusap rambutnya.
*
Kita berdua sudah berdiri didepan pintu rumah Mbak Rena dengan membawa beberapa kue dan mainan untuk para keponakanku. Mas Bayu tegang disebelahku sejak memasuki komplek rumah Mbak Rena.
"Tidak apa-apa." Bisikku mencium atas telapak tangannya yang terjalin dengan tanganku. Bibirku berlama-lama di atas kulitnya. "Aku mencintaimu."
"Tubuhnya perlahan rileks. "Aku lebih mecintaimu."
Pintu rumah terbuka tiba-tiba dan Mbak Rena sudah berdiri di depan kami dengan matanya yang terarah ke bibirku yang masih mencium tangan Mas Bayu.
"Ayo masuk." Mbak Rena tersenyum.
Kita mengekor Mbak Rena dari belakang. Didalam sudah ada Shalum dan Mas Indra yang sedang berdebat tentang tayangan di televisi.
"Hei, Mbak." Shalum melambai padaku dan tidak pada Mas Bayu.
"Ayo duduk." Mas Indra bangkit dengan bantuan tongkat nya untuk menyapa kami.
"Kabar kalian bagaimana?"
"Baik, Mas." Jawabku tersenyum. Mas Bayu masih membisu seperti biasanya.
Mbak Rena datang dari arah dapur dan memanggil kita berdua untuk membantu menyiapkan makanan.
"Tunggu sebentar." Bisikku pada Mas Bayu yang kembali tegang. Dia pasti tidak suka di tinggal sendirian dengan Mas Indra.
"Mit, aku tidak akan menggigit suamimu. Cepet bantu Mbak mu di dapur." Mas Indra terkekeh.
"Titip, ya, Mas."
Di dapur Mbak Rena sedang masukkan bumbu terakhir pada sup nya. Sedangkan Shalum duduk dengan malas di kursi.
"Ya ela, Mbak, kenapa nggak minta Mbok Iyan yang masak." Keluh Shalum
"Karena Mbak mau yang masak." Jawab Mbak Rena.
"Mit, suruh adikmu belajar masak gih. Biar nanti di calon suaminya nggak ngomel." Canda Mbak Rena saat melihatku mendekat kearah mereka.
"Mbak Mita juga nggak pinter masak." Aku melempar daun bawang kearah Shalum.
"Tapi suamiku jago masak." Aku langsung menutup mulutku saaat kata-kata itu keluar tanpa sadar. Keheningan seperkian detik terasa begitu mengganggu.
"Bagus dong, giliran kita yang diundang makan di rumahmu." Mbak Rena tahu betul untuk memperbaiki suasana yang sempat terasa aneh.
"Tentu, Mbak."
"Mbak Mita, aku minta maaf soal tadi." Shalum menggigit bibir bawahnya. Dia gugup. "Aku tidak bermasuk bersikap tidak baik pada, Mas Bayu. Hanya saja aku belum terbiasa dengan kehadiran Mas Bayu pada kehidupan kita." Pengakuan Shalum menyadarkan ku. Aku tidak berhak meminta lebih pada keluarga untuk mengakui keberadaan Mas Bayu yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Shalum-"
"Jadi, kapan aku dapat keponakan?" Cengiran gila muncul dari wajahnya yang cantik.
Sekali lagi ku lempar daun bawang kearahnya yang di ikuti tawa Mbak Rena.