It's Okay, That's Love

1782 Kata
Aku bersandar pada dinding, menatap lemah pada pria yang duduk di ujung sofa berwarna putih. Ia membeli sofa Itu lima bulan lalu setelah tidak sengaja melihatnya di salah satu mall. "Aku sudah tidak bisa menanganinya setiap kali kau marah." Suara pelanku memecah kesunyian. "Kau tidak akan terus aman dengan amarahmu yang meledak-ledak seperti sekarang ini, Mas." Sambungku, menghembuskan napas beberapa kali. Aku mungkin lelah dengan keadaan ini tapi aku tidak bisa pergi darinya begitu saja. "Orang itu menyentuhmu." Desisnya dengan gigi terkatup. "Aku tidak suka kau disentuh orang lain." Lanjutnya sedikit gemetar. Aku tahu dia sedang menahan amarahnya, kedua telapak tangannya mengepal kuat diatas lututnya yang gemetar. "Mas, dr. Dimas tidak menyentuhku dengan sengaja. Dia mencoba membantuku yang hampir jatuh." Tadi siang setelah selesai praktek, aku bertemu dr. Dimas di lorong rumah sakit. Dan terjadilah bencana Itu. Seseorang berlarian di lorong dan menabrak bahuku dengan tidak sengaja dan membuatku hampir jatuh tersungkur. Namun dengan cepat dr. Dimas menarik tanganku sebelum seluruh tubuhku jatuh ke lantai. Dan saat itu pula, Bayu datang membawa bogem mentahnya pada rahang Dimas. "Sebaiknya kita menjauh untuk sementara waktu." Aku melirik untuk terakhir kalinya kearah sofa sebelum berbalik. Mungkin ini keputusan yang harus kuambil sejak awal, kita ada perbedaan yang sampai saat ini belum mendapat jawaban untuk menyelesaikannya. "Sekali kau melangkah keluar dari rumah ini. Kau tidak akan bisa masuk lagi." Tanganku berhenti di kenop pintu. Suara Bayu tenang dan itu menyakitkan. "Kau sudah berbohong padaku. Kau selalu berbohong, Aramita Shala Kusuma." Bayu berdiri menatap tajam padaku. "Mas-" "Diam." Teriak Bayu melempar remote ac ke dinding. "Kau selalu bilang tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Sekarang mana buktinya?" d**a Bayu bergemuruh. "Ak-" "Aku belum selesai. Sialan! Kau sudah berjanji mau menerima segala kekuranganku. Tapi sekarang? Hanya karena aku melukai teman kerjamu yang mencoba masuk kedalam celanamu." "dr. Dimas tidak seperti Itu." Kataku pelan. "Kau tidak tahu. Semua pria diluar sana yang melihatmu, mereka ingin masuk kedalam celanamu." Teriak Bayu yang cukup membuatku kaget. Menangis. "Aku Bukan wanita seperti Itu!" "Aku tahu." Mas Bayu melangkah lebih dekat padaku. "Karena aku yang pertama bagimu dan terakhir." Telapak tangannya yang besar dan sedikit kasar sudah memegang pipiku cukup ketat. "Kita tidak bisa seperti ini terus." Aku menggeleng lemah. "Aku mencintaimu dengan cara normal." Lanjutku bersandar pada sentuhan Bayu. "Dan aku menginginkanmu dengan cara tidak normal."Bibir Bayu menyentuh kelopak mataku yang tertutup. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi." "Mas -" "Apa yang sudah menjadi milikku tidak bisa kulepas lagi." Itu janji yang sudah dikatakan Bayu sejak awal bersama. * "Siapa yang mengantarmu?" Pertanyaan Mbak Rena sudah mengusik ketenanganku. Aku mampir kerumah Mbak Rena untuk mengantar pesanan kue dari salah satu toko langganan keluarga. Mas Bayu mengantarku kesini, setelah Itu dia kembali ke lapangan untuk memantau proyek besarnya. "Salah satu teman." Jawabku pelan. "Mbak tidak bisa di bohongi lagi, Mit." Mbak Rena menarik salah satu majalah yang menampilkan beberapa interior rumah yang sedang naik daun. "Memang dalam keluarga kita, kamu yang paling pendiam seperti ayah. Tapi Mbak tahu siapa kamu." Apa yang dikatakan Mbak Rena Memang benar, aku anggota keluarga yang paling pendiam dan tertutup. "Kapan kalian akan mengumunkannya secara resmi?" Tanya Mbak Rena. Aku menunduk, mencoba menahan air mataku yang akan jatuh. "Mit, kita masih memiliki keluarga besar yang peduli sama kita. Mbak tidak marah atau kecewa dengan keputusanmu, karena Mbak tahu kamu sudah memikirkannya dengan matang." Mbak Rena menaruh majalah lalu mendekat ke arahku. "Mbak yakin keputusanmu yang terbaik untukmu." Dan saat itu pula aku tidak bisa menahan tangisku yang pecah. Mbak Rena dengan cepat menarikku kedalam pelukannya yang hangat. "Sejak kapan?" Bisik Mbak Rena diatas rambutku. "Enam bulan." Jawabku pelan. Aku tidak yakin apa suaraku bisa terdengar oleh Mbak Rena. "Mit -" "Maaf." "Tidak apa-apa bagi, Mbak." Belaian pelan dirambutku cukup membuatku tenang. * "Bagaimana tadi?" Aku menoleh kesamping untuk melihatnya yang fokus menyetir. "Mbak Rena tahu tentang kita." Tubuh Mas Bayu tegang seketika. Dan Itu cukup baik ketimbang melihatnya marah. "Dia tanya kapan kita akan meresmikan secara hukum?" Wajah Mas Bayu mengeras. "Kamu yakin ingin meresmikannya secara hukum dan semua orang tahu tentang kita? Karirmu, keluargamu. Apa kamu tidak takut kehilangan mereka?" Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya untuk sekarang. Aku terlalu bingung dan takut dengan semua ini untuk saat ini. Hubunganku dengan Mas Bayu bukanlah sesuatu yang ingin kusembunyikan. Bayuwangi Anggara bukanlah orang baik. Itu dulu. Pecandu alkohol dan mengalami gangguan bipolar. Pertama kali bertemu dengan Bayu adalah setahun yang lalu di rumah sakit. Dia hampir mati karena overdosis pada minuman keras. Dan bukan itu saja. Bayu pernah masuk penjara karena terlibat perkelahian yang menyebabkan kematian. "Setidaknya mereka tahu tentang kita." Aku sudah menikah dengan Mas Bayu secara siri selama Enam bulan setelah pertekaran besar kami. Semua persiapan pernikahan dilakukan dari pihak Mas Bayu. "Mit, aku bekas pencandu dan nama aku ada di daftar hitam polisi. Keluarga kamu tidak akan menerima keadaanku." Mas Bayu orang yang percaya diri bahkan terlalu percaya diri dengan keadaannya. Tapi jika menyangkut keluarga besarku, rasa percaya dirinya akan hilang. "Aku yang menikah dan aku yang menjalaninya, mereka hanya mendukung dari belakang tanpa perlu ikut campur." Mas Bayu mendesah. Dia sudah memakirkan mobil didepan rumah yang sengaja dirancangnya untuk kami tinggali. "Kita bisa memberi dulu penampilan langsung pada Mbak Rena dan Shalum." "Jika Itu memang pilihan terbaik." Aku mengikuti langkah suamiku kedalam rumah kami. * "Mit, dokter Rudi minta nomor." Anggita mampir keruang praktekku hanya sekedar memberitahu berita tidak penting. "Kasih aja nomor suster Ayu. Dia pasti demen." Aku membereskan beberapa barangku diatas meja. Sore ini aku dan Mas Bayu kerumah Mbak Rena untuk membuat penampilan publik Pertama. Disana akan ada Shalum. Shalum adalah adik kecilku yang menjadi penerang bagi keluarga besar Kusuma. "Sepertinya ada acara penting?" Aku sudah selesai merapikan meja kerjaku. "Keluarga." Langkah kakiku cukup cepat untuk sampai tempat parkir rumah sakit. Mas Bayu sudah menunggu di parkiran ketika dia meneleponku di lift rumah sakit. Aku sedikit gugup untuk mempertemukan Mas Bayu secara langsung pada kakak dan adikku. "Hai." Sapaku mencium sudut bibirnya yang kasar. Sudah beberapa hari dia tidak mencukur wajahnya. "Langsung berangkat?" Tanyanya tersenyum. Kita berdua tidak banyak bicara, bukan berarti tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Aku tahu Mas Bayu terlalu takut untuk memulai lebih dulu, ini mengingatkanku beberapa waktu yang lalu. "Selamat pagi?" Sapa pembantu rumah. Aku merasa malu dengan keadaanku sekarang. Aku terlihat seperti seorang wanita yang sudah melakukan hubungan seks. Kemeja hitam kebesaran millik Mas Bayu menempel ditubuhku, hanya Itu yang kupakai. Ini kali pertama aku menginap dirumah Mas Bayu setelah perkenalan kita lima bulan lalu. "Mas Bayu kemana?" Aku berdiri gugup. "Den Bayu keluar sebentar. Katanya nona sarapan duluan." "Terima kasih." Aku duduk di ujung kursi meja makan, memperhatikan ruang dapur yang terlihat bersih. "Apa ini hasil karya nya?" "Den Bayu merancang dan membangunnya sendiri untuk hadiah ulang tahun, Ibu." Jawabnya tampak sedih. "Tapi Ibu belum sempat melihat hasil karya, Den Bayu. Ibu meninggal tepat seminggu setelah rumah ini selesai dibangun." "Maaf." Aku sekarang mulai mengerti mengapa kondisi Mas Bayu seperti Itu. "Tidak apa-apa." Katanya dengan tersenyum hangat. "Terima kasih banyak, Nona sudah menemani Den Bayu dalam keadaan sulit seperti ini." Air matanya jatuh tepat didepanku. "Terima kasih banyak." Aku menghampiri dan memeluknya erat. "Apa ini reuni keluarga?" Aku melepaskan pelukanku pada wanita yang mengetahui semua rahasia keluarga, Mas Bayu. "Mau ikutan, Mas?" Kulihat dia tegang dari tempat berdirinya. "Silakan lanjutkan." Mas Bayu berbalik dan meninggalkan kami. Aku sudah menyakiti perasaan Mas Bayu secara tidak langsung. Dia begitu rapuh didalam dan diluar begitu dingin. Aku segera mencarinya untuk meminta maaf. Mas Bayu duduk tegak diujung tempat tidur, melihat kearah jendela yang langsung mengarah pada taman. "Hei." Aku duduk disampingnya, untuk waktu yang cukup lama. Tidak Ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. "Aku bukan anak kandung mereka." Ucapnya pelan. "Tapi mereka sangat baik dan membuatku menjadi orang. Lalu mereka pergi begitu saja dan aku berakhir dengan alkohol." "Mas ma -" "Terima kasih." Dia menarikku kedalam pelukannya. * Kami berpegangan tangan saat berdiri didepan pintu rumah Mbak Rena. Pegangan tangan Mas Bayu cukup membuatku meringis, dia terlalu erat. Aku tahu dia sangat takut. "Hei." Mbak Rena membuka pintu dengan tersenyum. Matanya turun kearah tangan kami yang saling berpegangan. "Ayo masuk?" Kami berdua mengikuti Mbak Rena kedalam rumahnya. "Mbak Mita!" Pekik suara Shalum dari arah tangga. Dia meloncat dua anak tangga sekaligus dan berlari kearahku. "Mbak, aku kangen." Aku tertawa melihat tingkahnya yang masih seperti anak kecil. "Ya walaupun baru kemarin kita ketemu." Shalum mundur dan menyadari ada seseorang di sampingku. "Pacar?" Tanyanya menyelidik, memperhatikan Mas Bayu. "Shalum, jangan seperti Itu." Mbak Rena menarik mundur Shalum lalu tersenyum padaku. Aku harus memberitahu mereka. "Maaf sedikit terlambat, jalanan sedikit macet." Aku tahu suara Itu milik siapa. Mas Indra berjalan dengan bantuan tongkatnya kearah kami. "Tidak apa-apa, Mas." Mbak Rena menghampiri suaminya dan membantunya berjalan. Aku terpesona melihat mereka berdua, begitu saling mencintai dan tidak peduli pandangan orang. Lebih tepatnya pada Mbak Rena. Orang-orang yang mengenal Mbak Rena sangat terkejut dengan keputusannya menikah dengan seseorang seperti Mas Indra. Tapi kami semua tahu dan yakin kalau Mas Indra bisa membahagiakan Mbak Rena, maka kami semua tidak menolak atau mempertanyakan keputusan Mbak Rena lagi. "Kalian semua punya pasangan dan aku?" Ucap shalum kesal. "Lalu siapa yang kemarin Mbak lihat di cafe kemang?" Wajah Shalum langsung putih. "Pelukan sampai cium-ciuman segala." "Mbak, jangan bilang ayah." Pinta Shalum menarik tangan Mbak Rena. "Please." Rengeknya. Mas Bayu terkekeh pelan melihat Shalum. Aku cukup senang dia bisa bersantai sejak tadi tegang. Pegangan di tangannya sedikit lebih santai. "Aku cinta kamu." Sedikit berjinjit, aku mencium rahangnya yang kasar. Wajah Mas Bayu menunduk untuk menatap langsung kedua mataku. Aku sudah tahu dengan melihat matanya saja yang berbinar saat menatapku. Dia juga mencintaiku. Mas Indra sudah bergabung dengan kami semua diruang keluarga setelah meminta ijin untuk berganti baju. "Sepertinya ini sangat serius." Celetuk Shalum melihat ketegangan diantara aku dan Mas Bayu. "Shalum." Tegur Mbak Rena. "Mit, ada apa?" Mas Indra selalu menjadi seorang kakak yang penuh perhatian sejak aku mengenalnya. "Aku sudah menikah." Kuperhatikan Wajah setiap orang di sekelilingku. Mbak Rena tersenyum, memberiku semangat. Mas Indra menegang dan dengan cepat kembali bersantai sedangkan Shalum, dia melotot dengan mulut terbuka lebar. "Enam bulan lalu." Lanjutku. "Kita berdua menikah secara agama." "Mbak!!!" * "Apa kita baik-baik saja?" Tanya Mas Bayu suatu malam saat kita berdua berbaring diranjang. "Hmm." Jawabku sambil mencium bahunya yang telanjang. "Aku rasa semua baik-baik saja." Untuk saat ini. Aku tidak bisa menjanjikan apapun karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Dengan Mbak Rena dan Shalum yang sudah mengetahui tentang pernikahanku, itu sudah lebih dari cukup saat ini. "Kapan kita memberitahu orangtuamu?" Aku tidak tahu. Aku takut menghadapi mereka. "Mas, kita nikmati saja waktu kita saat ini." Bisikku. Bersandar lebih dekat kearahnya. "Tentu." Ujarnya tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN